Kamis, 07 Mei 2026

Video-video Panjang yang Tamat Disimak Selama April 2026

Dengan adanya Instagram, menamatkan video panjang di YouTube jadi memerlukan ketabahan sebagaimana dalam menamatkan buku, kecuali kalau isinya benar-benar menarik/mengalir, atau lagi ada energi lebih untuk fokus sampai tuntas. Sebagaimana waktu membaca buku, kadang-kadang pikiran dengan sendirinya merumuskan isi video dan timbul kesan-kesan tertentu.

Film King of Comedy


Dari cuplikan-cuplikan Shaolin of Soccer, jadi menonton satu film full Stephen Chow, King of Comedy. Dari segi alur cerita, film ini banyak naik-turunnya; kayak, dikira setelah ini situasi tokohnya bakal membaik, ternyata enggak jadi, terus membaik lagi, begitu seterusnya. Romance berlangsung terlalu cepat dengan pemeran perempuan yang sangat cantik sekali banget. Yah, namanya juga film: durasi terbatas, harus menjual visual, sekaligus relatable bagi banyak pejuang kehidupan.

Dokumenter Sahara: Wilayah Para Jin


Menonton ini atas rekomendasi seseorang. Sepanjang menonton, saya bertanya-tanya, Mana penampakan jinnya? Jin itu sepertinya mewujud dalam kepercayaan warga lokal yang akan menemani si pembuat dokumenter melintasi Sahara. Kendati rajin salat dan berzikir, anak-anaknya pun penghafal Al-Quran, ia membawa si pembuat film ke "orang pintar" untuk meminta semacam pelindung sebelum memulai perjalanan.

Dokumenter ini lebih merupakan rekaman perjalanan melintasi Sahara, persisnya rute yang hampir-hampir tidak pernah dilalui manusia. Sebenarnya ada satu perhentian di mana mereka menemukan jejak manusia berupa lukisan gua. 

Dokumenter ini juga mengenai keajaiban unta yang di samping kerelaannya melayani manusia menanggung banyak beban berat dalam perjalanan panjang, juga bisa mencari makan sendiri dan tahan tidak minum sampai sebulan lebih. 

Tentunya dokumenter ini membawa kita mengalami (meski secara virtual saja) suasana di gurun pasir yang betapa luas tetapi juga serba terbatas dan sering amat sangat panas. Panorama di sekitar Ka'bah boleh jadi berubah-ubah seiring dengan waktu bertambah-tambah mewah, tapi di gurun pasir serupa ini, agaknya begitu-begitu saja sedari masa nabi-nabi (enggak tahu deh waktu Sahara katanya pernah berupa hutan)--tempat mereka menerima wahyu dari Penguasa Semesta Alam. Dalam kekosongan yang mahaluas di gurun pasir, Yang Maha Esa mengumumkan keberadaan diri-Nya; sedangkan dalam hutan tropis yang rimbun penuh distraksi aneka rupa flora dan suara satwa, tumbuh kepercayaan terhadap berbagai entitas gaib. Yang di gurun mengangankan surga sebagaimana alam tropis, sedangkan yang di kawasan tropis mesti menempuh perjalanan sebegitu jauh dan mahal untuk sampai ke titik syiar wakil-wakil Yang Maha Esa.

Perjalanan di kawasan gurun ini membuat saya ingin mendengarkan lagi lagu-lagu dari album Putumayo Presents Mali. Sedikitnya ada dua lagu favorit saya dari album tersebut, yaitu 

"Bana" (Issa Bagayogo) 


dan "Amassakoul 'N'Tenere" (Tinariwen). 


Kedua lagu ini vibe ngegurunnya kerasa banget, membawa seolah-olah lagi naik jip melintasi perkampungan di Afrika, persisnya Mali kali ya. 

Kebetulan saya lagi membaca buku Mansa Musa: The Most Famous African Traveler to Mecca, sambil googling-googling karena sedikitnya yang saya ketahui mengenai peradaban yang pernah ada di sana. Ternyata kawasan tersebut tidak hanya memiliki raja paling kaya, tetapi juga pernah menjadi pusat keilmuan paling maju, dan sampai sekarang masih ada beberapa penyalin yang berusaha melestarikan naskah-naskah kuno dari masa kejayaan Islam itu.


Dokumenter Business Insider


Berbagai produk makanan yang beredar di pasaran, contohnya madu, vanila, wasabi, sirup mapel, keju, kaviar, dan lain-lain, ternyata banyak yang bukan 100% asli. Soalnya, produk-produk tersebut sulit dihasilkan dalam skala besar, antara lain karena sumber dayanya dari alam kurang, sementara permintaan banyak, maka dibikinlah produk buatan yang kadar keasliannya cuma sekian persen.


Masih terkait sumber daya alam sebagai bahan baku produk-produk keperluan manusia, dokumenter dari seri World Wide Waste ini meliput berbagai usaha pengolahan sampah di India menjadi produk baru, walaupun tampaknya sampah sumbernya itu mengandung racun atau logam berat berbahaya, contohnya: dupa dari limbah bunga yang disemprot pestisida, boneka yang kapas isiannya dari bekas puntung rokok, dan seterusnya. Di satu sisi, ini riskan. Di sisi lain, ini tampak sebagai solusi sementara atas permasalahan sampah sekaligus membuka lapangan pekerjaan; lagi pula, kalau bahan baku harus 100% baru dan aman, sebagaimana yang ditunjukkan pada dokumenter pertama, ketersediaannya di alam mungkin terbatas, atau dapat menjadi eksploitasi baru sementara alam yang tersisa mungkin tinggal yang harus dipreservasi saja. Jadi, manfaatkan yang ada dulu, risikonya tanggung sendiri-sendiri nanti-nanti 🫤

Novel Bentang Lapangan


Melihat dari kovernya saja, saya menduga ini novel untuk anak remaja, mungkin tentang anak remaja yang berbakat bermain sepak bola kemudian menjadi juara, semacam Kapten Tsubasa versi Sunda. Ternyata, memang di dalamnya ada tokoh anak remaja berbakat, tapi bukan dia tokoh utamanya. Naratornya sudah bapak-bapak, adapun tokoh utamanya sepertinya adalah Basri yang usianya sudah sekitar seperempat abad, mempunyai istri, dan bekerja di kantor, sedangkan bermain sepak bola profesional adalah sampingan. Rupanya novel ini menceritakan dunia sepak bola profesional dan pengarangnya sendiri--yakni Rachmatullah Ading Affandie-- berpengalaman menjadi komentator siaran sepak bola di RRI serta Ketua Komisi Teknik Persib. Ceritanya, selain kental dengan sudut pandang dan istilah persepakbolaan, juga menyoroti kejiwaan para pemain, seperti kepercayaan diri, kemampuan bekerja sebagai tim, kesombongan, hingga integritas, yang sepertinya bisa ditarik ke ranah apa saja. Itu kondisi-kondisi yang mungkin berkembang dalam jiwa setiap manusia di mana pun ia berkiprah.

Banyak lagi video yang diputar sampai selesai, tapi hanya didengar sambil mengerjakan hal lain, dengan konsentrasi timbul tenggelam, dan tidak selalu mengenai topik yang benar-benar diminati atau dipahami, sehingga tidak terumuskan isinya juga kurang menimbulkan kesan tertentu.

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain