Kamis, 04 April 2013

Catatan Pembacaan 2012 (3-6)


Putu Wijaya, Sang Teroris Mental: Pertanggungjawaban Proses Kreatif  – ed. Sigit B. Kresna (Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2001)

Aku terpikat dengan Putu Wijaya karena novel-dua-jilidnya, Putri. Mengalir banget dan banyak kejutan, sampai-sampai aku enggak bisa berhenti membacanya. Kontennya pun menyentil permasalahan yang luas, misal dalam dwilogi Putri adalah tentang kebudayaan Bali. Walaupun demikian aku enggak ingat cerpen Putu Wijaya yang meninggalkan kesan bagiku, mungkin karena yang baru aku baca masih amat sedikit.

Konsep kepengarangan Putu Wijaya dijelaskan dalam buku ini. Teror mental, katanya, yang bertujuan untuk… membangun mental. Dengan konsep tersebut ia menyentil mental pembaca, membuat mereka mengolok-olok diri sendiri. Barangkali seperti satir ya. Tapi ia lebih suka menyebutnya anekdot, yang di dalamnya kita menemukan ironi.

Gaya bercerita Putu Wijaya menurutku to the point, tanpa harus mengeksplorasi detail dalam deskripsi suatu hal, melainkan langsung pada apa yang mau disampaikan walau dengan cara yang berputar-putar. Namun dengan cara yang berputar-putar itulah, sentilan-sentilan dimasukkan. Tokoh-tokohnya berdialog semaunya, yang justru menyegarkan karena enggak terduga-duga.

Salah satu bagian dalam buku ini memuat contoh beberapa karya Putu Wijaya yang berupa fiksi. Dua di antaranya disertai dengan alternatif alur, sehingga kita tahu bahwa pengarang sekaliber Putu Wijaya pun menulis enggak sekali. Ia memiliki beberapa alternatif alur untuk satu cerita, memodifikasi alur yang satu hingga muncul alur yang baru. Entah mana yang mau dipakai.

Cerita yang paling “meneror”ku adalah yang berjudul Teror Buku-buku Sang Profesor. Profesor dalam cerita ini ditinggalkan keluarganya karena kegilaannya terhadap buku, bahkan ia semaput ketika buku-bukunya dijual. Tapi mendadak ia sehat kembali. Ia enggak lagi menjadi kutu buku, melainkan pedagang makmur. Padahal sebenarnya ia masih menyimpan buku-buku tentang berdagang. Jadi intinya adalah bagaimana ilmu yang ada di dalam buku kita aplikasikan.

The History of Love  – Nicole Krauss terj. Tanti Lesmana (PT Gramedia Pustaka Utama, 2006)

Leo Gursky pernah menulis sebuah buku dan memberikannya pada seorang teman, Zvi Litvinoff. Mereka berpisah. Masa berlalu. Litvinoff menyangka Gursky telah tiada. Ia menyalin buku Gursky, The History of Love, dari bahasa Yiddish ke bahasa Spanyol dan mengganti semua nama kecuali satu, Alma Mereminski. Istri Litvinoff, Rosa, ingin agar buku itu diterbitkan. Tidak menjadi buku terkenal memang, tapi David Singer membelinya. Ia menamai putrinya sesuai nama wanita dalam buku itu, Alma. Setelah David Singer meninggal sedang Alma berusia 15 tahun, seseorang bernama Jacob Marcus meminta ibunya Alma untuk menerjemahkan sebuah buku berjudul The History of Love. Alma semula tertarik untuk menghubungkan pria tersebut dengan ibunya, namun kemudian ia menjadi lebih tertarik untuk melacak salah satu tokoh dalam buku itu yang sepertinya benar-benar ada. Tokoh yang bernama sama dengannya. Hanya itu satu-satunya nama yang tidak bernuansa Spanyol dalam buku itu. Alma Mereminski.

Wanita itu memang pernah hidup. Ia menikah dengan Mordecai Moritz, sehingga namanya kemudian menjadi Alma Moritz. Ia juga memiliki seorang anak yang bernama Isaac Moritz, seorang pengarang terkenal. Jacob Marcus adalah nama sang tokoh dalam cerita Isaac. Alma kemudian melacak Isaac sampai ke tempat tinggalnya. Pria tersebut tidak di rumah, Alma meninggalkan pesan. Bernard Moritz, saudara Isaac, menemukan pesan tersebut. Ia menghubungi Alma, namun Bird, adik Alma, yang menerima. Bird, yang membaca catatan Alma secara diam-diam, mengira kakaknya tersebut bukanlah saudara kandungnya melainkan anak dari seseorang bernama Mereminski atau Moritz. Bernard memberitahu Bird bahwa Isaac pun tengah mencari tahu tentang ayah kandungnya yang bernama Leo Gursky, namun Isaac keburu meninggal. Bird mengirim pesan “pura-pura” untuk Leo Gursky dan Alma agar keduanya dapat bertemu.

Di masa mudanya, Leo Gursky mencintai seorang wanita bernama Alma Mereminski. Alma kemudian hijrah ke Amerika Serikat dengan mengandung anak Gursky. Sementara itu, Gursky berpisah dengan keluarganya karena invasi Nazi. Ia selamat lalu merantau ke Amerika Serikat. Gursky dapat bertemu dengan Alma lagi, yang telah menikah dengan M. Moritz, dan mengetahui bahwa ia memiliki seorang anak dari wanita tersebut. Gursky tidak pernah jatuh cinta lagi. Ia memantau perkembangan anaknya dari jauh, namun mereka tidak pernah bertemu secara langsung. Alma tidak pernah memberitahu Isaac tentang Gursky. Sayangnya Isaac mendahului ayah kandungnya meninggal dunia. Gursky tidak pernah mengira bahwa Isaac mengenalnya, berkat surat-surat Gursky untuk sang ibu, yang merupakan cuplikan dari buku The History of Love.

Setelah menulis garis besar cerita dalam novel ini, aku memahami manent­-nya scripta. Kalau saja Gursky enggak menulis The History of Love, Isaac enggak akan mengetahui sejarah orangtuanya. Kalau saja Rosa enggak mendesak Litvinoff untuk menerbitkan salinan The History of Love, buku itu belum tentu membuat Alma menjadi penghubung antara Gursky dan Isaac. Kecuali kalau takdir berkata lain. Berlika-liku, atau berbelit-belit. Segumpal kesedihan di dadaku ketika menamatkan novel ini. Menyesakkan, bahwa kita enggak bisa tahu bagaimana kita sesungguhnya saling terhubung dan hanya bisa menanti takdir menguakkan kenyataan itu. Atau mungkin kita terlalu acuh pada kesendirian kita.

Novel yang meresapkan depresi, hingga aku harus mencari novel dengan nuansa lain ketika ke perpustakaan lagi.

Novel ini membuatku terkesima sejak halaman awal, takjub dengan bagaimana Gursky menjalani hari-harinya. Bukan karena ia melakukan hal yang luar biasa, bukan, melainkan pada bagaimana detail kehidupan dituliskan. Kadang, hanya itu hal yang ingin aku tuliskan dalam catatan harian. Bagaimana aku menghabiskan hari. Apa yang aku makan siang ini. Mengapa pertemuan dengan teman sore tadi begitu menyenangkan. Ke mana pikiranku bakal mengembara malam ini. Di mana aku meletakkan mimpi-mimpi. Siapa yang telah membuatku terkesan hari ini. Tidak hanya Gursky, tokoh-tokoh lain pun mendapatkan ruang untuk menampilkan kehidupan masing-masing. Apa yang dicari. Apa yang ada dalam pikiran, kenangan. Apa yang mendominasi dalam hidup. Bagaimana orang lain bagimu dan dirimu bagi orang lain. Apa yang penting dalam hidup. Nama orang, nama tempat, nama benda, nama rasa, jangan dilupakan sebab mereka juga mengisi indra. Begitu intens, namun enggak membosankan.

Aku menyadari kalau agaknya novel Barat yang pernah aku baca umumnya bercerita dengan gaya serupa. Novel bukan sekadar rangkaian adegan. Novel adalah penggalan gambar-gambar yang berkelebat dalam benak, yang seolah-olah enggak berhubungan satu sama lain, padahal selalu ada alasan—cerita—mengapa “itu” ada: sebagaimana kita bisa menjelaskan mengapa botol bertutup hijau ada di meja kita, mengapa kita memilih warna hijau, mengapa ukurannya 1 L, mengapa kita membelinya; yang rupa-rupanya mampu menjelaskan seperti apa diri kita—kehidupan kita.

3 komentar:

  1. Si siapa itu tetangga kamarnya Leo Gursky--aku lupa namanya. Dia ternyata seseorang yang ... aku nggak nyangka.

    Aku suka penjelasan di paragraf terakhirmu di jurnal ini.

    BalasHapus
  2. Namanya Bruno! Aku setuju The History of Love sedih banget, tapi juga banyak bagian lucunya. Dan meskipun tokoh-tokohnya nggak selalu mendapat apa yang mereka inginkan, tapi ada saat di mana mereka bahagia. Pergantian sudut pandang di bagian menjelang akhir sempet juga bikin aku nggak sabar, tapi terbayar sama akhiran yang juara banget. Sukaaa! Kebetulan aku udah baca juga Great House, yang ini lebih depresi lagi.

    BalasHapus
  3. Pergantian sudut pandang di bagian menjelang akhir sempet juga bikin aku nggak sabar, tapi terbayar sama akhiran yang juara banget.

    setuju. banget.

    BalasHapus

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain