Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 September 2025

POEISI LAMA

dikumpulkan dan diuraikan oleh S. Takdir Alisyahbana

diterbitkan oleh Balai Pustaka, Batavia, 1940


Menurut "PENDAHOELOEAN", buku ini ditujukan untuk murid AMS, Afd. Al, HIK, atau yang sederajat, yang sudah paham bahasa Melayu sekalian dengan ejaannya. Persisnya, ada dua jenis ejaan dalam buku ini. Ejaan pertama, seperti yang tampak pada kover dan isi selebihnya, menggunakan "oe" untuk "u", "j" untuk "y", dan seterusnya. Ejaan kedua, yang disebut sebagai ejaan "Semenandjoeng" (Malaysia?), terdapat pada beberapa contoh puisi, lebih mendekati ejaan bahasa Indonesia yang dipakai sekarang karena menggunakan "u" untuk "u", "y" untuk "y" dan seterusnya, tapi ada juga beberapa perbedaannya, salah satunya yaitu ada ceruk di atas "e" yang dibaca pepet. 

Penulis kerap memberikan catatan kaki berisi pengertian kata. Ada kata-kata yang bagi orang Indonesia zaman sekarang sudah umum diketahui, contohnya "bentuk" dan "penyair" (halaman 5). Adanya catatan kaki yang menerangkan pengertian kata-kata tersebut seperti menunjukkan bahwa kata-kata tersebut masih asing bagi pembaca sasarannya. Malah, untuk kata "bentuk" disertakan padanan dalam bahasa Belanda, "vorm", seolah-olah pembaca lebih tahu bahasa Belanda daripada Melayu. 

Ada enam bab dalam buku ini.

Bab pertama, "POEISI LAMA SEBAGAI PANTJARAN MASJARAKAT LAMA", mula-mula menerangkan perbedaan antara puisi lama dan puisi baru, yang pendeknya ada pada bentuk maupun isi. Perlu dipahami bahwa puisi adalah hasil jiwa penyair yang dibentuk oleh masyarakat pada tempat dan zamannya. Maka puisi lama merupakan pancaran dari masyarakat lama. Mengenali puisi lama berarti juga mengenali kebudayaan dan masyarakat lama itu. Nah, masyarakat modern yang dimaksud oleh buku ini berarti masyarakat sekitar tahun 1940, tapi esensinya kurang lebih masih sama dengan sekira 80 tahun kemudian (yaitu pada waktu saya membacanya): sudah bersekolah, berdiam di kota besar, dan banyak bergaul dengan bangsa asing. Untuk bergaul dengan bangsa asing ini, dalam konteks era 2020-an, sudah dibantu dengan kehadiran internet, sehingga sepertinya tidak mesti selalu diartikan dengan bergaul secara langsung, tetapi bisa juga hanya melalui pertukaran pesan di dunia maya, akses terhadap konten-konten asing, dan lain-lain.

Sebagaimana ciri pada masyarakat lama yang cenderung homogen, puisi lama juga cenderung sama baik bentuk maupun isinya. Khususnya mengenai kepercayaan terhadap mantra (salah satu bentuk puisi lama), kalau tidak persis sebagaimana yang diajarkan, maka hilang juga kekuatannya, sehingga mungkin itu sebabnya puisi lama cenderung sama turun-temurun. Maka bungai rampai ini disusun menurut bentuknya, yaitu jenis-jenis ikatan puisi. Jadi buku ini mengingatkan pada buku Poem-Making: Ways to Begin Making Poetry, karena sama-sama menjelaskan tentang puisi menurut bentuknya, tapi bedanya, buku ini versi puisi lama Melayu dan ada juga dari Minangkabau.

Bab-bab berikutnya dijuduli menurut jenis-jenis ikatan puisi lama, yaitu pantun (bab 2), syair (bab 3), dan gurindam (bab 4). Pantun satu baitnya tidak mesti hanya empat baris, tetapi ada juga yang enam bahkan delapan, sehingga sajaknya bisa ab-ab, abc-abc, abcd-abcd, dengan separuh baris yang pertama adalah sampiran. Syair bersajak a-a-a-a, dan contoh dalam buku ini satu baitnya pada empat baris. Gurindam bersajak a-a terdiri dari dua baris. 

Dalam bab lima, "BAHASA BERIRAMA", diberikan nasihat kepada pengarang-pengarang muda untuk memperhatikan bahasa berirama baik-baik. Bukan untuk menirunya, melainkan mempelajari betapa cakap orang dahulu memakai tenaga-tenaga yang tersembunyi dalam kata dan kalimat, dalam bunyi dan arti, dan betapa teliti mereka memperhatikan alam sekelilingnya--keduanya adalah syarat yang sampai sekarang (1940 atau 2025 atau sepanjang masa?) masih menjadi ukuran bagi segala seni bahasa yang agak berarti (halaman 91).

Bab enam, "LAIN-LAIN", menyuguhkan contoh-contoh ikatan puisi dari buku Makota Radja atau Tad'joe'ssalatin bertahun 1630, karangan Boechari al Djauhari, yang dinamai masnawi, roebai, kit'ah, gazal, dan nazam--nama-nama ini diambil dari bahasa Parsi dan Arab. Namun, di samping jumlahnya terlalu sedikit, perbedaan antara berbagai jenis ikatan itu kurang terang, sehingga tidak dapat diuraikan secara memadai dalam buku ini. 

Dari segi isi, rata-rata mengandung nasihat atau cerita. Unsur keislaman mewarnai, termasuk dalam "Mantera menangkap buaya" (halaman 101-2) yang ditujukan kepada orang halus penjaga buaya, ujungnya menyebut nama "Allah", "Mohamad", "Baginda Rasulallah"; bahkan dalam catatan kaki diterangkan cerita tentang buaya yang pertama adalah permainan Fatimah, anak Nabi Muhammad, tulangnya dari tebu, dagingnya dari tanah liat, dan sebagainya. Terlepas dari kepercayaan terhadap makhluk halus yang kiranya makin memudar dewasa ini, ada nasihat yang tampak relevan sepanjang zaman. 

Dalam contoh-contoh yang ditampilkan, banyak lagi kata yang tidak umum dipakai dalam bahasa Indonesia sekarang. Beberapa kata memang tidak ada artinya, karena sekadar supaya bersajak saja (halaman 46). Dalam buku Poem-Making, menciptakan kata sendiri sekadar untuk menghasilkan rima justru dilarang.

Di halaman 13 (bab 2), disorot pentingnya irama daripada arti kata, seumpama bayi dininabobokan ibunya, yang membuai adalah irama lagu sedangkan kata-katanya sendiri si bayi kemungkinan belum mengerti. Maka dalam pantun, separuh baris pertama atau sampiran itu seperti tiada arti karena yang dipentingkan adalah iramanya, sebagai pemikat perhatian kiranya.

Penulis sempat menilik penjualan buku dalam 10-20 tahun ke belakang (berarti tahun 1920-1930-an), trennya syair terdesak oleh roman dan puisi modern. Sebabnya, "sesungguhnya kebanyakan syair tidak seberapa harganya sebagai buah seni. Kebanyakan hanya permainan kata yang tiada berisi, ulangan baris bersajak yang tidak mengharu hati, sedangkan ceritanya pun bagi orang sekarang tidak menarik hati, karena banyak cacat-celanya dan jauh dari soal-soal penghidupan zaman sekarang." (halaman 47, ejaan sudah disesuaikan) Penulis menyalahkan semata-mata penyair, karena picik pengetahuannya, lemah getar jiwanya, sehingga tidak dapat membuat syair yang "hidup" dan "berjiwa" supaya dapat mengikat hati orang zaman sekarang. Kurang lebih seabad kemudian, roman dan puisi modern pun sudah terdesak oleh YouTube agaknya :v

Senin, 11 November 2024

Investigasi Pohon-pohon: 100 Puisi tentang Kerusakan Lingkungan Hidup

Gambar dari Tonggak Pustaka.
Penulis : Chairul Anwar
Edisi buku cetak I, September 2009
Edisi buku digital II, November 2022
ISBN : 978-623-91272-2-0 (E-) 978-623-361-000-0
Penerbit : Tonggak Pustaka dan Amongkarta, Yogyakarta

Saya menemukan buku ini di Ipusnas waktu iseng mencari buku puisi terkait alam dan sebagainya, langsung memulai membacanya, seperti membaca buku biasa. (Sampai titik ini, saya berpikiran bahwa membaca puisi sebagaimana yang diajarkan buku-buku teori terlalu memakan waktu, mungkin hanya bisa diterapkan oleh yang mempelajari puisi secara serius, bukan pembaca kasual :-/). 

Banyak puisi dalam buku ini mengulang-ulang celaan terhadap cukong, politikus, siapa-siapa yang terang berperan dalam perusakan hutan, yang demi dolar tidak saja menzalimi aneka ragam flora fauna, tetapi juga suka menzinai "asisten wanita berwajah kemilau". 

Karena kerap terasa bagai sambatan, buku ini mengingatkan pada buku Masuk Surga Karena Memungut Sampah (yang dalam waktu ini masih dibaca). Hanya saja, karena bentuknya puisi ketimbang esai, buku ini relatif lebih lancar dibaca. 

Sebagian puisi diakhiri dengan ketidakberdayaan penulis, kadang pula seperti mengakui bahwa yang diurainya hanya racauan. Contohnya dalam pernyataan-pernyataan berikut.
Rasanya tulisan ini harus menepi deh sebab hanya bikinan orang sedih berlarat-larat (halaman 127, "Kabar Pohon dan Semak-semak Dilumat Api")
Aku hanya pengembara yang kantongnya kosong perut juga keroncongan dan tulis puisi walau tak ada yang baca (halaman 129, "Puisi Iseng Semak-semak Pakis Tak Terbaca")
Sebaiknya kata-kata dalam puisi ini jangan dibiarkan mengalir deras ke hulu. Kesasar kau nanti. Sebab hanya ditulis orang yang hidup sepi sendiri di hilir berteman gerimis (halaman 135, "Pesan Ikan Mujair kepada Jeram")
Agaknya tak penting dilanjutkan keluh peyair yang cuma keturunan anak buaya (halaman 144, "Keluhan Keturunan Buaya")
Setelah banyaknya puisi yang cenderung seragam, jadi timbul gagasan bahwa kuantitas bisa saja diimbangi dengan perluasan atau pendalaman kualitas. 

Misal, dalam isu lingkungan hidup, sesungguhnya bukan cuma cukong/politikus saja yang bisa dipersalahkan, melainkan setiap manusia termasuk orang biasa pun berperan. Individu dapat mengambil tanggung jawab terhadap apa pun yang ia konsumsi, dengan melacak mulai dari bagaimana barang itu diproduksi, didistribusikan, sampai setelah menjadi sampah. Apalagi dalam kaitannya dengan keperempuanan, jenisnya bukan cuma "asisten wanita berwajah kemilau" melulu yang bisa diungkit, sebab dalam urusan belanja kerumahtanggaan yang biasanya dipercayakan kepada perempuan, kaum ini memiliki peran tak kalah penting dalam menentukan timbunan sampah yang berakhir di TPA. 

Selain itu, melihat dari judul-judulnya saja dalam daftar isi yang menyebut beragam spesies (: pinang, angsoka, mahoni, ular sanca, sonokeling, akasia, cocorbebek, burung murai, kuping gajah, kayu ulin, kerbau, lebah, kucing hutan, semut, burung parkit, babi hutan, burung merak, siamang, landak, kumbang, harimau belang, dan banyak lagi), jadi timbul ekspektasi puisi-puisi ini akan memberikan kekayaan wawasan sebagaimana dalam buku Pohon-pohon Sahabat Kita: Sajak Anak-anak. Namun, isinya lagi-lagi tentang cukong dan "asisten wanita wajah kemilau", alih-alih mengeksplorasi lebih jauh atau spesifik mengenai spesies yang disebut pada judul.

Kesan seragam itu mengemuka kiranya karena puisi-puisi ini dibaca secara terusan. Sebetulnya ada saja sepilihan puisi yang kena dalam menggugat kepedulian pembaca agar berempati terhadap makhluk-makhluk selainnya, menempatkan mereka dalam posisi yang sejajar. Puisi dalam buku ini pun mungkin akan lebih seru bila dibacakan keras-keras sebagai pengisi acara lingkungan hidup. 

Berikut salinan utuh satu puisi sebagai contoh.
Air Mata di Pipi Pohon-pohon Pinang

Kini aku pohon-pohon pinang di hutan-hutan yang tak lagi perawan
mustahil bisa menatap sinar matahari menerobos dari daun-daun dan ranting-ranting
Simak setiap bunyi yang keluar dari siul burung-burung tentang kedamaian
Dari azan subuh berkumandang hingga isya menyapa yang tersisa hanya udara kering
Doa-doa untuk kebahagiaan terjepit di geladak kapal mengangkut kayu gelondongan
Orang-orang yang senantiasa mengisi hidupnya degan mulut madu kebohongan

Engkau tidak seksama melihat pohon meranti meneteskan air mata
Pernahkah engkau punya niat menghapus air mata di pipi pohon keruing?
Apakah engkau pernah membandingkan air mata bahagia keluargamu bergelimang harta
dengan air mata pohon-pohon pinang di hutan yang terluka parah karena hangus?
Banyak yang kita tidak tahu apa yang dirasakan tanaman di hutan dan binatang melata
Tetapi engkau juga tidak tahu apa yang engkau dan keluargamu rasakan itu semacam rakus
Sadar atau tidak, kalau berbulan-bulan kayu gelondongan diseret liar ke mana-mana
Selama itu pula orang-orang telah melukai tubuhnya dan sungai meminum darahnya
Tetapi pernahkah terpikir olehmu suatu ketika mereka meminta engkau tetap jadi tikus?
Tidak, tidak sama sekali, katamu dengan tubuh terguncang dan mulut terbata-bata
Tetapi tetap saja engkau riang gembira meminum darahnya tak putus dirundung haus

Engkau senang membawa ke mana-mana kepala kosong lantaran enggan merenung
betapa berharga darah dan nyawa, meskipun itu hanya sebatang pohon dan seekor capung
Kebahagiaanmu, kebahagiaan keluargamu, kolegamu adalah kolaborasi membagi untung
tinggal menyisakan korban diiringi penyesalan, apa guna untung jika kepala buntung?

Yogyakarta, 18 Juli 2014

(halaman 11-12)
Kutipan favorit:
Kesendirian adalah jalan terbaik yang harus ditempuh agar kau luruh
bersemayam dalam sepi berkerumun sunyi agar jiwamu mudah tersentuh
menyaksikan harimau belang berlarian dikepung lidah api tubuh melepuh
(halaman 149, "Harimau Belang dan Beruang Madu")

Jumat, 23 Februari 2024

Kopi Ini Pahit Sekali

Penulis : Gol A Gong
Penerbit : Gong Publishing, Banten
ISBN : 978-602-9117-24-0 (kover), 978-602-9117-25-7 (KDT)
Cetakan pertama dan kedua, Juni 2013
Royalti dari buku ini disumbangkan untuk operasional Rumah Dunia

Buku ini saya pinjam dari teman dalam rangka Ray-Bradbury-Challenge-tapi-dimodifikasi-:p

Melihat Daftar Isi, isi buku ini dibagi menjadi enam yang dijuduli secara unik.

Secangkir Kopi: Ini Tidak Sekadar Kopi Arabica atau Robusta (pengantar dari penulis)
Dua Cangkir Kopi: Perjalanan Kopi Gol A Gong (pengantar dari Fikar W. Eda)
Tiga Cangkir Kopi: MENANAM KOPI (9 puisi)
Empat Cangkir Kopi: MEMANEN KOPI (9 puisi)
Lima Cangkir Kopi: MENUMBUK KOPI (9 puisi)
Enam Cangkir Kopi: MENYEDUH KOPI (9 puisi)

Membaca pengantar dari penulis, timbul anggapan bahwa buku ini merupakan catatan perjalanan yang ditulis dalam bentuk serangkaian puisi. Perjalanan itu tepatnya tur kota-kota di Sumatra mulai 1 Mei sampai 23 Juni 2013, dari Nol Kilometer di Pulau Weh hingga Bangka Belitung, dengan menghampiri kedai-kedai kopinya, menikmati cita rasa dan menghayati kisah di balik kopi.

Di antara nama-nama yang disebut penulis dalam pengantar ini ada L. K. Ara, yang kumpulan puisinya tentang pengenalan pohon saya pernah baca. Penulis juga menghampiri teman-teman FLP di beberapa tempat. (Apa teman saya yang mantan ketua FLP cabang itu membeli buku ini ketika ada acara FLP pada 29/Juni/13?)

Di sini penulis mengatakan, "Aku sebetulnya tidak maniak kopi ..... tak lebih antara 1 hingga 2 cangkir sehari." Can relate. Tapi saya sendiri yang minum rata-rata cuma 1 cangkir/hari, hampir setiap hari, dan rasanya mager berat sebelum mendapat sentakan kafein (dan gula), merasa kebiasaan ini sudah termasuk kecanduan. Mungkin yang dimaksud dengan "maniak" itu yang minum lebih dari 2 cangkir/hari? 

Jangan-jangan "maniak kopi" juga yang dapat mengetahui sedikit saja perbedaan antara kopi jenis satu dan jenis yang lain, entahkah rasanya ataupun aromanya. Sedangkan saya tidak begitu dapat--atau lebih tepatnya tidak peduli--dengan perbedaan itu. Kopi yang dibelikan dari kafe rasanya tidak lebih enak daripada kopi sachet yang diseduh di rumah dengan cuma-cuma, kadang rasanya sama-sama kayak bajigur saking manisnya. Saya baru merasa sedikit peka akan perbedaan rasa kopi sejak papa membeli dari Toko Kopi Makmur Jalan Gatot Subroto (bukan promosi), di bungkusnya tertera nama varian kopi yang biasanya berupa nama daerah di Indonesia, misalnya Gayo atau Toraja. Kesukaan saya kopi yang berwarna terang dan rasanya asam kayak Coca Cola, tapi saya masih belum cukup peduli untuk mengingat namanya. Kadang-kadang ada juga kopi yang bila sudah dingin rasanya seperti kecap atau jigong.

Bagaimanapun, kalau saya sendiri yang melakukan tur selama hampir 2 bulan dan setiap hari itu minum 1-2 cangkir kopi di daerah yang berbeda-beda sekalian dengan mendengarkan kisah-kisah di baliknya, kiranya bakal jadi sensitif dengan perbedaan tiap-tiap kopi.

Pengantar dari Fikar W. Eda menyadarkan bahwa di balik kopi yang telah menjadi gaya hidup kota besar ada petani yang kurang sejahtera, karena di"asing"kan oleh "modal besar" dan "terjerembab sangkar ijon kontemporer yang telah memberangus kemerdekaan". (Menurut aplikasi KBBI, ijon adalah pembelian padi dan sebagainya sebelum masak dan diambil oleh pembeli sesudah masak; kredit yang diberikan kepada petani, nelayan, atau pengusaha kecil, yang pembayarannya dilakukan dengan hasil panen atau produksi berdasarkan harga jual yang rendah.)

Karena singkatnya, pengantar ini kurang menerangkan realita di balik kopi dan ada suatu pertentangan. Dikatakan bahwa berkat kopi, petani Gayo dapat menyekolahkan anak sampai naik haji, yang sepertinya merupakan petunjuk kesejahteraan. Di paragraf berikutnya, ada "tetap terbelenggu kemiskinan". Bagaimana bisa menempuh pendidikan sampai naik haji kalau benar miskin? Apa karena keuntungan dari kopi masih lebih besar yang diperoleh tangan-tangan berikutnya ketimbang tangan pertama (petani)? Setidaknya, pengantar ini membangkitkan rasa penasaran dengan kekaburannya ini.

Nah, sekarang bagian paling sulitnya.

Setelah membaca buku-buku petunjuk membaca puisi, saya belajar bahwa untuk membaca puisi dengan sebenar-benarnya itu memerlukan perangkat tertentu yang berarti pembaca mesti bekerja lebih keras daripada ketika membaca tulisan biasa yang bersifat uraian dan dengan begitu memakan waktu lama juga. Untuk membaca buku puisi ini misalnya, saya jadi merasa perlu paham terlebih dahulu mengenai realita kopi yang dimaksudkan oleh penulisnya, tetapi tidak diuraikannya di sini, melainkan hanya menyuguhkan puncak-puncak ekspresi saja dari pengalamannya itu. Saya masih lebih nyaman dengan bacaan yang bersifat uraian, sehingga sepertinya akan lebih puas jika realita kopi ini dijabarkan dalam bentuk catatan perjalanan, cerita pendek, atau reportase, misalnya, yang tentunya tidak sesuai dengan maksud penulis sehingga yang dibuatnya adalah puisi bukannya yang lain-lain itu :v Selain itu, saya membaca buku ini lebih karena penasaran akan "puisi" ketimbang "kopi"; maksudnya, lumrahnya, saya tidak akan sengaja mencari bacaan tentang kopi. Jadi inilah yang saya dapatkan. Ketika mencoba membacanya seperti biasa, dengan menyapu kata demi kata syukur-syukur ada yang kena atau menimbulkan kesan/pikiran/perasaan apa, rupanya tidak ada apa-apa. (Dengan cara membaca biasa itu, buku yang tebalnya hanya 43 halaman ini dapat dituntaskan dalam kurang dari 1 jam.)

Alhasil, saya mencari tentang kopi di Ipusnas. Ketika sedang melihat-lihat, saya menemukan bahwa buku ini diterbitkan ulang oleh PT Gramedia Pustaka Utama, cetakan pertama September 2014, dengan judul Air Mata Kopi. Dalam rentang antara buku ini dan buku itu, penulis telah berkelana lagi "di beberapa kota di Asia dan di nusantara". Di dalam buku itu ada lebih banyak puisi (49 puisi) dan tanpa pembagian menurut jumlah cangkir sebagaimana dalam buku ini. 

Rabu, 08 November 2023

Pohon-pohon Sahabat Kita: Sajak Anak-anak

Gambar di-screenshot
dari Ipusnas.
Penulis : L. K. Ara
ISBN : 979-407-483-7, 978-979-407-483-1
Penerbit : Balai Pustaka, Jakarta
Cetakan pertama : 1983
Edisi elektronik : 2021

Buku ini isinya pengenalan pohon-pohon yang dikemas dalam bentuk sajak anak-anak. Semuanya ada 20 pohon, yaitu: jengkol, meranti rambai, mara, jabon, mindi, kayu bapa, kedawung, petai, binong, kayu raden, kayu raja, akasia, cempaka, simpur, kenanga, turi, tengkawang kijang, kedondong, bintaro, dan tusam. 

Tiap sajak umumnya mengandung informasi sebagai berikut:
  • fungsi, manfaat,
  • ciri atau karakteristik fiksi yang menonjol atau terkenal,
  • tempat tumbuh/penyebaran,
  • dan pastinya nama pohon, yang diulang-ulang seakan-akan yang baca kemungkinan pelupa :v
Sebagai contoh, saya salinkan satu puisi yang judulnya sama dengan nama daerah di dekat tempat tinggal saya.
BINONG

kalian ingin membuat perahu?
ambillah pohonku
batangku bulat dan lurus amat bagus
namaku?
panggil saja: Binong

kayuku bisa juga 
untuk peti
dan batang korek api

aku ada di Sri Lanka
Muangthai dan India
Malaysia, Sumatra
dan Irian Jaya

aku suka hidup
di tanah liat
atau tanah berpasir
lihatlah diriku berdiri terpaku
di tanah datar
di pinggir sungai
daunku gugur
bila datang musim kemarau
bungaku tumbuh
bila datang musim hujan

aku sendiri hidup senang
biar datang kemarau panjang
Satu lagi deh, jenis yang konon katanya sangat digemari masyarakat Sunda. 
JENGKOL

aku tanaman asli Indonesia
lalu tersebar ke Malaysia
Muangthai, Birma
Laos dan Filipina
jauh juga perjalananku
tapi aku gembira selalu

di tepi hutan aku disenangi 
di tepi sungai aku disukai
di ladang aku disayangi
di kampung aku dicintai

buahku enak dimakan
tapi, wow
baunya sangat tajam

kalian berketombe?
bersihkan pelan-pelan
dengan kulit polongku

kalian belum lupa kan?
Jengkol namaku
Menurut saya, buku ini baik dimiliki orang tua untuk anak berlatih membaca sekalian berkenalan dengan jenis-jenis pohon. Sebagai sajak anak-anak, tentu saja bahasanya sederhana. Halamannya penuh warna-warni, sudah begitu ada ilustrasinya walaupun sayangnya tidak untuk setiap pohon. Bagus lagi apabila membaca sajak sambil mengunjungi tempat pohon yang diterangkannya berada sehingga bisa berkenalan secara langsung, entahkah itu di halaman, pinggir jalan, taman, atau hutan terdekat, sambil meraba-raba permukaan batangnya, mengamati bentuk daun dan bunganya, memunguti buahnya kalau ada, membandingkannya dengan yang tertulis dalam sajak, sembari menghayati kegunaannya--suatu pendidikan literasi alam. 

Bagi saya sendiri, terus terang, banyak pohon dalam buku ini yang masih asing atau cuma tahu nama tapi tidak kenal bentuk-rupanya. Memang saya tumbuh di kota besar dalam lingkungan yang lebih mengakrabkan saya dengan produk-produk rekayasa manusia ketimbang yang langsung dari Sang Maha Pencipta. Memang manusia itu sendiri produk langsung Sang Maha Pencipta, begitu pula kucing-kucing yang berkeliaran di jalanan serta tanaman-tanaman ala kadarnya di halaman. Namun, itu saja tidak cukup, mengerti, kan? Sering kali semua itu sekadar latar. Implikasinya, saya termasuk golongan yang masih lebih tertarik "dicuci-otak" konten-konten digital yang di baliknya ada pembakaran batu bara pencemar udara, ketimbang berusaha mengenali dan memanfaatkan tetumbuhan di sekitar yang dengan itu secara langsung memuji dan mensyukuri kebesaran Yang Maha Kuasa.

Hidup di kota besar bukan berarti tidak ada alam sama sekali. Bisa dimulai dari halaman rumah: taruh ponselmu, keluarlah, dan pegang daun-daun, amati serangga, dan seterusnya, kehidupan yang biasanya seakan-akan tak kasatmata. Saya yakin bukan saya seorang yang perlu begini, dan buku ini pun hanya satu dari sekian banyak buku untuk menginsafkan kita agar menjadi khalifah yang adil di muka bumi, rahmat bagi segenap alam bukan hanya bagi golongannya sendiri. 

Jumat, 30 September 2022

#20031010 Jum'at

Ini hari Jum'at
Ketika aku bermain di atas
Mengacak-acak tikar
Dan duduk di atas tangga
Atau masuk ke dalam lukisan, siluet pohon-pohon besar

Ini hari Jum'at
Hari yang cukup sial, pikirku
Aku selalu berkhayal
Karena aku tak mendapat pasangan
Namun, apapun, suatu saat pasti berubah

Ini hari Jum'at
Setahun lalu, kuning, kuning, menutupi jalanan
Sekarang, kejutan.
Aku rindu. Aku rindu hujan
Ingin kesunyian sesaat

Ini hari Jum'at 
Ingin kunikmati
Ingin kuresapi
Saat-saat bahagia, berlari bersama, menunggu, dimarahi
Saat-saat hatiku terasa panas, hangat, atau kelabu

Ini hari Jum'at
Kenangan kunanti
Dalam syahdu ini,
Ketika mereka usai mengadu pada-Mu
Tuhan, yang mengatur suka duka, di hari Jum'at



mlm pnh
krndun
101003



Selasa, 27 September 2022

#20031005 (puisi tanpa judul)

Kuharap ku tak kecewakan temanku
Kuharap aku tak kehilangan teman
sekaligus sahabat

Selalu saja ada problema dalam persahabatan
Kadang-kadang kita yang harus mengalah
Atau kita yang terlalu egois

Sahabat, teman, 
apa yang paling mempengaruhimu
apa yang membuatmu berubah, berpikir tuk mengalah
Atau yang menjadi sasaran keegoisan kita
Kata orang (ada yang mengatakan), mereka itu tong sampah

Senin, 26 September 2022

#20030929 (puisi tanpa judul dan beberapa lagu favorit waktu itu)

Mungkin itu sudah berlalu.
Saat-saat susah yang ingin kutemui kembali.
Yang terekam dalam pita kaset abu-abu.
Buram. Ingin kunikmati lagi.


Minggu, 25 September 2022

Memulai dari Apresiasi untuk Memantik Kreativitas Agar Terus Berproses dan Turut Mencipta

Apresiasi & Proses Kreatif Menulis Puisi

Soni Farid Maulana

Cetakan II (Edisi Revisi), April 2015

Penerbit Nuansa Cendekia, Bandung

ISBN: 978-602-350-002-4

E-ISBN: 978-602-350-226-4


(Buku yang berjudul sama dari penulis yang sama sebetulnya tersedia di Goodreads, tapi bukan dalam edisi dan dengan kover yang sama dengan yang saya baca yang saya temukan di Ipusnas. Karena di Goodreads sudah tidak bisa manually add book, maka saya tuliskan pembacaannya di sini.)

Di buku ini terdapat 19 judul kritik populer dari penulis yang selanjutnya akan saya sebut dengan inisialnya, yaitu Pak SFM. "Kritik populer", demikianlah pemberi pengantar untuk buku ini menyebutnya, lantaran tidak menggunakan teori-teori ilmiah dan sebagainya. Dengan begitu, kiranya isi buku ini relatif mudah dipahami oleh masyarakat nonakademis.

Pak SFM mengawali dengan memperkenalkan "sonet" (di KBBI adanya "soneta"). Kemudian beliau membahas Amir Hamzah, Chairil Anwar, Ramadhan KH, Rendra, Saini KM, Remy Sylado, Jeihan, Wing Kardjo, Arifin C. Noer, dan Acep Zamzam Noer. Penyair perempuan ditempatkan belakangan, beberapa sekaligus dalam satu bab dan hanya Oka Rusmini yang mendapat bab tersendiri. Selanjutya beliau menguraikan lebih lanjut soal apresiasi dan proses kreatif dalam menulis puisi.

Salah satu bab paling menarik dalam buku ini menceritakan tentang proses kreatif Pak SFM sendiri dalam menulis puisi. Beliau mulai menulis puisi saat duduk di bangku SMP, sangat dipengaruhi oleh sosok neneknya yang pada waktu itu baru meninggal dunia. Selanjutnya beliau getol menulis dan mengirimkan puisi ke media, sering mendapat kritik tetapi akhirnya mendapatkan pengakuan yang selayaknya. Berkali-kali beliau menghadiri forum-forum dan festival-festival sastra baik di dalam maupun di luar negeri, berinteraksi dengan para penyair kenamaan. Sebagian penyair yang dibahasnya dalam buku ini pun dikenalnya secara langsung, sehingga beliau dapat membeberkan proses di balik penciptaan karya mereka menurut penuturan mereka sendiri. Tentunya nama-nama yang diangkatnya dalam buku ini juuga memberikan pengaruh bagi proses kreatif beliau sendiri sebagai penyair.

Membaca proses dan karya beliau sempat membuat saya merasa berkecil hati untuk terus mencoba "bermain-main dengan kata". Lantaran beliau bilang menulis puisi itu susah dan dalam mengapresiasi pun tidak boleh asal. Namun selanjutnya beliau mengatakan, "Jangan takut salah menulis puisi," di samping mencontohkan puisi-puisi yang sangat sederhana sekali baik dari segi diksi mapun isi.

Selengkapnya, "... bagus dan tidaknya puisi bukan disebabkan oleh rumit dan tidaknya sebuah kalimat ditulis dalam puisi, akan tetapi lebih disebabkan oleh kemampuan mengelola daya ungkap, yang titik pijaknya berdasar pada pengetahuan sang penyair yang mendalam akan makna setiap kata yang dipilih dan digunakannya dalam sebuah puisi yang ditulisnya." (halaman 230) "Dalam dan tidaknya sebuah puisi mengandung makna tertentu, pada satu sisi, bukan hanya ditentukan oleh sungguh-sungguh dan tidaknya kita menghayati sebuah pengalaman, akan tetapi, di sisi lain, juga sangat ditentukan pula oleh 'jam terbang' menulis dan mengapresiasi (membaca) puisi karya penyair lainnya, baik tingkat lokal maupun dunia." (halaman 232)

Dalam tulisan-tulisan di buku ini terselip pengajaran mengenai puisi. Berkali-kali beliau menyebut soal teknik, simbol, metaforaa, gaya bahasa, teks-konteks, dan sebagai-bagainya. Namun saya rasa buku ini lebih merupakan ajakan untuk menelusuri lebih jauh para penyair yang diangkatnya, untuk membaca lebih banyak karya puisi terutama yang dicipta oleh mereka. 

Memang selagi membaca, saya jadi meng-googling apakah sebenarnya "sonet" atau "soneta"dan dari mana asalnya dan kenapa Rhoma Irama menggunakan istilah itu untuk menamai grup musiknya, siapakah Jacques Perk dan kenapa ia mati muda, tertarik dengan kisah hidup Hartojo Andangdjaya sebagaimana yang dipaparkan di halaman Wikipedia, dan seterusnya. Dari rujukan dalam buku ini pun, di Ipusnas saya menemukan tiga buku gemuk antologi prosa dan puisi Indonesia zadul yang membuat saya bertanya-tanya, Kenapa enggak sedari kuliah dulu saya mencarinya di perpustakaan pusat kampus dan membacanya???, yaitu Gema Tanah Air (HB Jassin, 1948), Pujangga Baru (HB Jassin, 1963), dan Laut Biru Langit Biru (Ajip Rosidi, 1977). Sayangnya Ipusnas tidak menyediakan juga Puisi dan Permasalahannya oleh Saini KM sehingga saya hanya bisa berharap kelak berjodoh dengan buku itu.

Ada juga yang sudah saya telusuri sebelumnya berkat membaca buku Bimbingan Apresiasi Puisi (Dr. S. Effendi) seperti Amir Hamzah, Ramadhan KH, dan Wing Kardjo. Ramadhan KH dengan puisinya dalam Priangan Si Jelita sudah habis-habisan dikupas dalam Bimbingan Apresiasi Puisi. Dalam buku apresiasinya ini, Pak SFM mengangkatnya kembali secara meluas dengan mengaitkannya dengan persoalan lingkungan hidup di tanah Priangan. Mengenai Wing Kardjo, saya sudah melihat-lihat beberapa bukunya yang tersedia di Ipusnas tapi ada sesuatu hal yang membuat saya merasa kurang sreg. Barulah di buku ini saya mengetahui bahwa penyair tersebut memang memiliki gaya hidup yang khas. 

Kalau Chairil Anwar, siapa sih yang tidak tahu? :v Remy Sylado, sebetulnya saya tertarik membaca buku kumpulan puisi mbeling-nya--mudah-mudahan kelak berjodoh juga. Jeihan dengan puisi-puisinya yang berbentuk unik dan ternyata mengandung makna yang sangat religius itu pernah saya kunjungi studionya di Padasuka dalam rangka buka puasa bareng komunitas, seingat saya ada musala panggung yang cukup luas di halaman belakangnya.

Soal pengajaran puisi, saya masih lebih mengandalkan buku-buku yang telah saya temukan seperti Pengajaran Gaya Bahasa (Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan) dan Bimbingan Apresiasi Puisi (Dr. S. Effendi) serta buku-buku petunjuk menulis puisi juvenil yang telah dibahas dalam blog ini, karena cara penyampaiannya yang to the point dan runut. Atau, mungkinkah ada buku petunjuk menulis puisi kelas advance yang membahas secara lebih menjelimet--tapi pastinya to the point dan runut--mengenai teknik-teknik mengolah pengalaman, mencipta simbol dan gaya bahasa, menghubungkan teks dengan konteks, dan sebagai-bagainya biar estetik sebagaimana yang dimaksud dalam buku ini?

Sabtu, 24 September 2022

koleksi kakak

kakakku mengoleksi

album rhythm and blues

ketika menyanyi

yang keluar malah rock melayu


kakakku mengoleksi

berkotak-kotak gundam kit

memang dia itu hobinya merakit

kalau diganggu tangannya menyambit


kakakku mengoleksi 

banyak figurine seksi

dalam kotak ditutup kain

baru kemudian aku mengerti


kakakku mengoleksi

komik manca dan dalam negeri

dia sendiri suka menggambar robot dan jagoan tivi

dan gadis-gadis tanpa baju yang dia kurung dalam lemari


kakakku mengoleksi

berkeping-keping vcd dan dvd

tatkala menonton sendiri

yang diputarnya adalah film ... mana kutahu, pintunya dikunci


kakakku kini pria bergaji

di luar kota perusahaan asing

pulangnya belum tentu seminggu sekali

kamarnya kukuasai


koleksinya bertambah terus dari waktu ke waktu

sebagian kutemu dan nikmati bersama kawan-kawanku

tanpa lupa mengunci pintu

dia tak perlu tahu

Jumat, 23 September 2022

Revolusi Dansa Dansa

Mau main "Paranoia"
Lagu tersusah di arkada
Revolusi Dansa Dansa

Ketemu cici-cici
Mainnya jago sekali
Jadi bikin sakit hati

Dimarahi sama kakak
Karena enggak mau pulang
Sebelum kalahkan si lawan

Main Revolusi Dansa Dansa
Harus tajam penglihatan
Dan banyak uang

Apalagi sudah bukan jamannya
Tantrum di lantai mal
Minta kasih orang tua

Malu pun sama pacar
Yang suka enggak sabar
Menonton orang joget dengan barbar

Revolusi Dansa Dansa
Bukan sekadar injak-injakan
Ada harga diri yang dipertaruhkan

Kamis, 22 September 2022

#20030806 (puisi tanpa judul)

Mengembara di atas bumi.
DIpermainkan. Tanpa makan atau
minum. Sendirian. Sepi. Lama kelamaan
habislah badanmu ....
Oh, kucing jalanan
terimalah, pasrahlah.
Kumohon Tuhan kan lindungi tubuh kecilmu, 
tubuh rapuhmu.
Jagalah. Tuhan, 
jaga dan lindungi

Rabu, 21 September 2022

#20030721 (puisi tanpa judul dan beberapa lagu favorit waktu itu)



Kenang lagu kenangan
Lagu lama,
Lagu ingat masa lalu
Banyak sekali
Betapa semuanya membekas dan berlalu
Mengapa terasa cepat sekali


Selasa, 20 September 2022

Soneta Kebokekan

(Seorang siswa kelas 2 SLTP baru saja disemprot pacarnya gara-gara suka ngutip jajan.)

O kekasihku
Mengertilah keuanganku lagi kusut
Tapi bagaimana kau mengerti problemku
Sebab aku tak bisa bilang kepadamu

Papaku pelit
Kasih uang jajan cuma sedikit
Dan sekarang 'ku tak lagi diberi
Karena dia pikir sudah kukibuli

Salahnya sendiri
Suka kasih syarat begitu begini
Terpaksa kugunakan akal ini

O kekasihku
Mengertilah selama kau isi perutku
Aku tak akan mendekati cewek-cewek kelas satu

Senin, 19 September 2022

#20030627 (puisi tanpa judul)

Ku ingin mengelilingi dunia dengan sepeda
Melayang di atas awan
Terbang tinggi di langit

Ku bertemu kakek baik hati
Dari Lembah Ciwi-Ciwi
Ingin ku cari jati diriku

La la la
Kakek ku ingin berguna
Dariku untukku dan olehku

Kayuh cepat sepedaku
Andai kutahu diriku
Andai kita saling mengerti
Andai kita saling menyayangi
Andai kita tahu arti cinta

Selasa, 13 September 2022

#20030618 (puisi tanpa judul)

Ada gadis kecil
Kan menghadapi ujian
Para remaja
Pun berpusing ria
Mereka berkata
"Pasrah deh!"
Sebagian lagi bilang
"Aku sudah siap!"

Hei, hei, mau tambah wawasan?
Apa boleh buat, hendak dikata pula
Akal pun sudah tak bisa diajak bicara
Mata, mata
Jangan dulu tertutup!
Stres yang dirasa,
Akankah terganti dengan kepuasan?
Oke, S-K-S, yo!

Jumat, 09 September 2022

#20030522 (puisi tanpa judul), BALADA MASUK SEKOLAH KEMBALI

#1
Bel istirahat berdendang riang
Perutku ikut berbunyi semerdu musik keroncong
Tapi kakiku enggan menari
Berdiri pun tak sudi
Melangkah apalagi
Kayaknya kakiku prihatin sama kocekku yang kurus kerempeng
Pertunjukan musik pun selesai sudah

(dikarang sekitar asar dalam Katana di perjalanan beli raket di Kosambi)


#2
BALADA MASUK SEKOLAH KEMBALI

Besok masuk sekolah
Ada Toir* menyambut
Teror dimulai lagi
Yah, seperti biasa

Besok masuk sekolah 
Sekolah berarti masalah
Apalagi murid-muridnya
Bisa nggak diubah

Ya Allah, ya Tuhanku
Semua jadi serba salah
Andai saja dulu aku lihai
Aku takkan menyesal

*julukan populer (entah siapa yang memulai yang jelas bukan saya ._.v) untuk bapak ketua yayasan

Jumat, 19 Agustus 2022

Petunjuk Teknis Menulis Puisi yang Lebih Sederhana

Seri Asyiknya Berbahasa: Ayo Menulis Puisi
Penulis: Suryaning Wulan
Cetakan pertama: Februari 2009
Penerbit PT Mediantara Semesta, Jakarta
Tahun Terbit Digital: 2018
ISBN: 978-979-1276-75-7
E-ISBN: 978-623-7023-03-6

Semestinya saya membaca yang ini terlebih dahulu baru buku Ayo Menulis Puisi yang satunya. Soalnya yang ini lebih tipis, cuma 42 halaman. Apa boleh buat, yang sebelumnya itu di hasil pencarian di Ipusnas muncul yang paling atas sih.

Seperti pada catatan yang sebelumnya, saya akan merangkumkan setiap bab.

1. Menulis Puisi Itu Mudah
Yang membuat puisi itu tampak mudah atau sederhana adalah kalimatnya bisa pendek-pendek dan tidak perlu lengkap. Kalau untuk mengarang cerita, kita perlu memikirkan karakter, plot, dan banyak hal lain, sedangkan puisi isinya bisa sekadar ungkapan perasaan. 

2. Jenis Puisi
Ada "puisi lama" dan ada "puisi baru". Puisi lama sangat terikat oleh aturan, contohnya yaitu mantra, pantun, syair, dan gurindam. Adapun puisi baru lebih bebas, tidak terikat oleh aturan. Buku ini menerangkan berbagai jenis puisi itu, tapi belum semuanya. Pembaca diminta agar mencari sendiri selebihnya jenis puisi yang tidak disertakan dalam buku ini.

Jenis puisi yang diterangkan dalam buku ini yaitu: mantra, pantun, karmina (pantun kilat), seloka (pantun berkait), talibun (pantun yang lebih dari empat baris), syair, gurindam, puisi naratif, puisi lirik, haiku, dan puisi bebas. Sayang, tidak semuanya dilengkapi dengan contoh.

3. Sumber Ide Menulis Puisi
Yaitu dari pengalaman dan perasaan.

4. Kembangkan Imajinasimu
Bab ini menjabarkan langkah-langkah menulis puisi yang persis dengan yang ada di buku satunya, yaitu dengan mengumpulkan kata yang berhubungan dengan tema kemudian mengembangkannya jadi beberapa kalimat pendek yang saling berhubungan. 

5. Unsur Pembangun Puisi
Terdiri dari unsur isi (tema, rasa, nada, amanat) dan unsur bentuk (perwajahan puisi/tipografi, pilihan kata/diksi, gaya bahasa/majas, rima dan irama, pengimajian). 

6. Saatnya Menulis Puisi
Kembali ke teknik menulis puisi, yang persis dengan isi bab empat. Namun bab ini menambahkan bantuan gambar serta petunjuk mengoreksi puisi yaitu dengan memeriksa kebenaran makna dan pilihan kata.

7. Memublikasikan Puisi
Bab ini memberikan ide-ide untuk memajang puisi. 

8. Mengatasi Hambatan dalam Menulis Puisi
Bab ini berisi cara-cara mengatasi writer's block, di antaranya dengan mencari inspirasi, menyegarkan diri, hingga bertanya kepada ahli.

9. Membacakan Puisi Karya Sendiri
Bab ini berisi cara-cara membacakan puisi dengan lafal, intonasi, penghayatan, dan seterusnya. Hendaknya penulis puisi memperhatikan pilihan kata dan kepaduan bunyi.

10. Puisi-puisi Karya Sahabatmu
Bab ini menyajikan contoh-contoh puisi anak.

.

Walau tampak lebih sederhana, buku ini memberikan hal-hal yang tidak ada di buku sebelumnya. Buku satunya itu cenderung to the point pada eksekusi menulis puisi. Adapun buku ini dilengkapi dengan teori dan tips-tips sedangkan petunjuk teknis menulis puisinya sangat simpel, tidak semenjelimet buku satunya yang sampai memberikan contoh membuat kalimat-kalimat indrawi. Selain itu, buku ini juga kerap kali menyediakan kotak "Ayo Mencoba", semacam PR kecil-kecilan bagi pembaca.

Senin, 15 Agustus 2022

Petunjuk Teknis Menulis Puisi

Menulis novel itu makan waktu yang lama. Apalagi kalau kita mau maju, memperbaiki dan meningkatkan dari cara-cara sebelumnya. Apalagi kalau novel itu memerlukan materi tertentu. Maka selagi mengumpulkan bahan, sebaiknya sambil diiringi latihan menulis kecil-kecilan entahkah berupa puisi, joke, vinyet, sketsa, flash fiction, dan lain sebagainya. Ada beragam pilihan sampai-sampai jadi bingung. 

Baru belakangan ini saya terbuka hatinya untuk mencoba puisi saja. Puisi bisa menjadi latihan untuk belajar lagi mengurai kata dan membentuk kesan, atau nuansa, atau suasana, apalah yang semacam itu. Selain itu, kalau diingat-diingat, yang bikin menulis fiksi dulu terasa asyik itu karena sambil main kata dan gaya. Saya ingin bisa kembali menghasilkan narasi yang bergaya dan berirama, untuk dapat mengemas ide-ide nan semenjana sehingga bisa terasa asyik baik dalam penulisannya maupun pembacaannya walaupun cuma bagi saya seorang :v 

Lagi pula awal saya suka menulis, sebutlah waktu SMP, terpikirkan cukup banyak puisi yang lalu tercatat di diary. Jadi pada awalnya adalah puisi. Eh, enggak juga sih, sebenarnya pada awalnya adalah diary, esai, cerpen, gambar-gambar enggak jelas ... termasuk puisi dan barulah novel. 

Di samping itu, menulis puisi adalah sarana ekspresi jiwa yang tampaknya lebih mudah dan murah daripada mengisi buku sketsa dengan gambar-gambar a e s t h e t i c atau bermusik. 

Puisi itu singkat, padat, dan bermakna. Dari puisi lama-lama terkembang jadi prosa. Harapannya begitu, mudah-mudahan. Maka tujuan dari berlatih dengan menulis puisi bukanlah untuk menjadi penyair avant garde atau apa, melainkan sekadar untuk memulihkan keluwesan dan mengasah ketajaman dalam mempergunakan kata sehingga ketika nanti waktunya membuat prosa kalimat-kalimat dapat mengalir dengan indahnya~

Tampaknya periode saya bermain-main sudah berlalu atau saya sudah jenuh dengan yang asal-asalan, sekarang waktunya mencari dan mengikuti petunjuk kalaulah ada. Ternyata buku petunjuk menulis puisi itu memang dapat saya temukan di Ipusnas. Buku ini ada di posisi teratas hasil pencarian.

Ayo Menulis Puisi
Penulis: Herwan FR
Edisi Revisi Pertama Tahun 2021
Penerbit Subha Mandiri Jaya, Bandung
ISBN: 978-602-72666-3-6 (cetak), 978-602-72666-6-7 (PDF)

Okay, without further ado (berasa YouTuber euy), let's get into it ....

Saya buatkan saja rangkuman per bab, sekalian pikiran-pikiran saya yang timbul ketika membacanya.

Bab 1. Karena Puisi Itu Indah, Menulis Puisi Itu Mudah
Bab pertama mengajak pembaca untuk mulai menulis puisi dengan bahasa yang sederhana dan mengambil dari pengalaman hidup sendiri. Bagi yang berjiwa penyair, pengalaman hidup apa pun, kesan baik atau buruk, dapat menjadi sumber inspirasi. Penulis mencontohkan sosok Chairil Anwar yang memiliki tabiat "unik". Puisi-puisinya pada bernada pesimistis dalam percintaan dan kehidupan yang rupanya berkaitan dengan pengalamannya sendiri.

Kata-kata yang sederhana dapat dibuat menarik dengan menggunakan gaya bahasa, misalnya saja personifikasi dan metafora. Baiklah, mudah-mudahan dalam waktu dekat saya berkesempatan mendalaminya lewat buku Pengajaran Gaya Bahasa Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan :v

Selain itu, dalam memadumadankan kata demi menciptakan gaya bahasa itu juga hasilnya mesti terasa "pas" dan "masuk akal".

Bab ini juga menekankan pentingnya orisinalitas, bahwa kata-kata itu mesti keluar dari jiwa sendiri. Jangan sampai menjiplak karya orang lain alias plagiat.

Bab 2. Mengolah Rasa, Mengasah "Mata" Hati 
Modal dasar menulis puisi adalah memiliki kepekaan perasaan, yang bisa dikembangkan melalui sikap peduli terhadap sesama, sensitif terhadap pengalaman, suka mengingat-ingatnya (oh, tentu saja, apalagi pengalaman-pengalaman buruk memalukan yang cringe abis :v) dan merenungkannya. Kalau kata anak sekarang mah, jadi penulis puisi memang kudu baperan :v

Bab 3. Mengendapkan Pengalaman, Menjadikannya "Kristal" Kata
Dalam puisi, ada kata-kata yang bisa diindrakan (pengalaman empiris) ada pula yang hanya bisa dirasakan oleh batin (pengalaman spiritual). Mungkin kalau dalam buku Bimbingan Apresiasi Puisi (selanjutnya BAP) oleh Dr. S. Effendi, itulah yang dinamakan dengan "sajak indrawi" dan "sajak nalar". Ini ada hubungannya dengan pemilihan kata. Kalau dalam buku BAP sendiri, ada kata abstrak dan kata konkret serta makna jelas dan makna kabur. 

Menulis puisi itu sebaiknya berasal dari pengalaman sendiri supaya lebih menghayati dan hasilnya pun be-"rasa". Padahal saya lagi kepikiran untuk mengandalkan pemantik ide dari luar, misalnya dari kata yang disediakan oleh aplikasi Daily Word atau Word of the Day dan kemudian saya cari gambar terkait di Google untuk saya tangkap suasananya dan lukis ulang dengan kata-kata saya sendiri yang membentuk puisi.

Bab 4. Mengolah Imajinasi, "Menghidupkan" Panca Indera
Berimajinasi tidaklah sama dengan berkhayal (yang berarti berangan-angan sesukanya) apalagi melamun (pikiran kosong). Kekuatan imajinasi dapat menghasilkan pilihan kata yang baru dan segar walaupun temanya itu-itu melulu.

Bab ini memberikan ide untuk mengembangkan tema puisi yang telah kita pilih. Caranya bisa dimulai dengan membuat masing-masing satu kalimat menurut tema tersebut yang terkait dengan panca indra. Contohnya seperti di halaman 40 sebagai berikut.

Tema: Sehabis hujan
penglihatan -> pohonan basah dan lumutan menjadi lebih hijau
penciuman -> ada aroma tanah yang meruap
perabaan (kulit) -> dingin seperti merembet di sekujur tubuh
pendengaran -> suara burung sesekali terdengar dari ranting ke ranting
pengecapan (indera rasa/batin): seperti menyanyikan manisnya kehidupan

Bab 5. Memadukan Imajinasi, Membidik Tema Utama
Dalam menulis puisi, harus ada tema atau satu gagasan pokok yang jelas dan terarah. Selanjutnya adalah memilih kata yang berkaitan dengan tema. Dari situ, kita menciptakan bayangan-bayangan yang terkait dengan tema. Bayangan-bayangan itu harus membentuk kesatuan ide yang terasa utuh dan bulat, jangan sampai kabur ke mana-mana.

Bab 6. Mencipta Pilihan Kata, Puisi Sederhana dan Cerdas
Bab ini memaparkan langkah teknis menulis puisi yang bisa ditinjau dari judul subbab-subbabnya, yaitu:
a. Carilah kata-kata yang berkaitan dengan tema
b. Menggabungkan kata-kata yang membentuk arti
c. Menciptakan pilihan kata yang masuk akal

Jadi, setelah mengumpulkan kata-kata yang berkaitan dengan tema, kembangkanlah dengan mencari kata-kata lain yang berhubungan dengan kata-kata tersebut kemudian sambung-sambungkanlah. Contohnya ada di halaman 65 sebagai berikut.

sunset = indah, merah, barat
Sunset yang muncul di Barat, berwarna merah dan indah

mercusuar = tinggi, berlampu, cahaya, menara
Mercusuar yang tinggi, berlampu dan menyorotkan cahaya bila malam dari atas menaranya

Yang dimaksud dengan "masuk akal" contohnya adalah senja tidak mungkin disandingkan dengan warna hijau dan apakah kepiting dapat melompat?

Bab 7. Memperluas Gagasan, Menjadikan Puisi "Universal"
Supaya tidak jenuh karena menulis tentang soal yang itu melulu, carilah gagasan sebanyak-banyaknya yang orang bisa relate misalnya tentang kehidupan, kematian, kampung halaman, dan sebagainya.

Bab 8. Memoles Kata, Menjadikannya Bermakna dan "Bermata
(Pikiran yang muncul dari bab ini sudah saya padukan dengan gagasan di paragraf lain. Jadi saya sematkan saja sebuah lagu yang sangat mendukung semangat menulis puisi :v)


Bab 9. Meredam Emosi, Membuat Kata Sesejuk "Embun"
Menulis puisi itu mesti dengan emosi yang terkendali, bukan yang masih mentah meledak-ledak.
.
Bab 10. Sebab Puisi "Anak Kita", Biarkan Ia "Bicara"
Bab ini berisi dorongan agar setelah menulis puisi pembaca mengirimkannya ke media massa bahkan penerbit. Sebaiknya sih menerbitkan puisi di media massa terlebih dahulu. Tampaknya penerbit bakal lebih yakin untuk memproduksi sebuah buku kumpulan puisi apabila penulisnya sudah memiliki portofolio berupa karya-karya-karya yang terbit di media massa. Kalau dulu media massa berupa koran, majalah, tabloid, dan sebagainya, sekarang adalah platform-platform kepenulisan seperti Wattpad dkk. Kalau dulu karya disaring oleh redaktur yang memiliki standar dan selera tertentu, sekarang oleh banyaknya viewer, voter, follower ....

.

Tiap bab buku ini diakhiri dengan menampilkan contoh puisi. Kebanyakan adalah puisi-puisi dunia dari berabad-abad silam dan khusus di Bab 10 adalah puisi-puisi karya penulis sendiri. Kebanyakan dari puisi-puisi dunia itu ditulis oleh penyair Tiongkok. Saya berpikir menyertakan nama penerjemah itu penting sebagai penghargaan. Walaupun kata-katanya adalah pinjaman dari penyair luar, penerjemah mesti memeras otak untuk menemukan padanannya yang dapat menampilkan nuansa mendekati aslinya setepat mungkin belum lagi menyesuaikan dengan gaya irama yang ada. Sayang sekali hanya sedikit puisi yang dicantumkan nama penerjemahnya (yaitu Soeria Disastra), hingga saya menduga apakah puisi-puisi selainnya itu diterjemahkan sendiri oleh penulis dan beliau dengan rendah hati tidak hendak menonjolkan namanya sendiri? Selain itu, saya hampir-hampir tidak menemukan adanya catatan kaki, daftar pustaka, atau halaman referensi yang menyebutkan sumber dari puisi-puisi itu.

Dari contoh-contoh puisi yang ada, saya merasa kurang terkesan. Tampaknya untuk memperoleh kesan itu diperlukan pembacaan yang lambat dan dalam, suatu kerja tersendiri (uh, nambah kerjaan lagi!). Sepertinya cerpen dapat lebih menimbulkan kesan. Dalam cerpen, pembaca seperti dimanjakan; penulis sudah menghamburkan kata-kata sehingga pembaca enggak perlu memberdayakan imajinasinya lebih keras. Sedangkan untuk puisi, pembaca seperti perlu "bekerja" lebih keras mengisi ruang-ruang kosong yang disediakan penulis dengan memberdayakan imajinasinya sendiri. Memang demikianlah petunjuk yang diberikan dalam buku BAP, ada sederet langkah yang perlu ditempuh seorang pembaca dalam upaya memahami puisi seutuhnya.

Melihat kover depan dan belakang, buku ini sepertinya ditujukan kepada pelajar. Tebalnya hanya 130 halaman dan layout-nya pun terasa lapang di mata. Cara penyampaiannya secara umum mudah atau sederhana, tapi adakalanya terasa tinggi misalnya pada Bab 9 ketika menjelaskan tentang kecerdasan emosional. Di samping itu, di Bab 10, penulis mempertunjukkan karya-karyanya sendiri yang tampak rumit dibandingkan dengan contoh puisi di bab-bab awal yang sangat sederhana baik dari segi bahasa maupun tema, sangat sesuai jika pelajar yang dimaksudkan adalah yang tingkat SD. (Malah vibe kover depan buku ini pun seperti ditujukan kepada pelajar SD). Namun puisi-puisi di bab terakhir itu mengandung diksi yang vulgar seperti "selangkangan", "payudara", "menyetubuhi" ("Perempuan dengan Bibir Tak Berkulit, halaman 107), dan "kelamin" ("Kuda Putih Rusia", halaman 110). Maka saya berasumsi pelajar yang dimaksud di kover belakang itu mungkin yang tingkat SMA. Pelajar SMP juga sudah ada yang "dewasa" sih, cuma, ya, sepertinya puisi-puisi tersebut tidak bertemakan sex education juga ...? Errr. Kesimpulannya, susunan buku ini ibarat menggambarkan tahapan coming of age yang dilalui seorang pelajar dalam masa sekolahnya yang terentang mulai dari SD sampai SMA.

Kalau di Goodreads (yang sudah tidak bisa manually add book lagi, huh!), saya akan memberikan buku ini empat bintang. Dengan banyaknya tipo (seperti yang tidak diedit lagi), buku ini tidak begitu amazing tapi sangat berguna karena telah menjabarkan langkah-langkah teknis dalam menulis puisi. 

Malah saya jadi merasa agak "rumit" kalau mau benar-benar menulis puisi secara berkelanjutan. Gagasan daily poem jadi terasa bakal bikin kewalahan jika tiap hari mesti menyediakan waktu beberapa lama untuk duduk mencari dan mengumpulkan kata-kata, mengembangkannya, mengutak-atiknya, memadumadankannya, memberdayakan imajinasi, dan seterusnya, apalagi dengan stamina yang sudah tipis karena ada berbagai aktivitas lainnya yang mesti diprioritaskan. Jadi andai bisa seminggu sekali saja melakukan itu, the first thing in the morning, atau ketika lagi enggak capek amat, sepertinya sudah cukup. Atau, bisa saja menulis puisi harian, tapi kayak sekadar menulis diary gitu. Lepas. Enggak harus mengikuti langkah-langkah di atas, repot-repot situs membuka tesaurus kemendikbud dan rimakata.com mencari referensi untuk meluaskan imajinasi. Barulah di akhir pekan atau ketika dapat meluangkan waktu, pilih di antara puisi-puisi harian itu yang paling menarik untuk dikembangkan atau dipoles lagi sebelum dipajang di manalah.

Rabu, 10 Agustus 2022

balas/ikhlas

dunia nyata adalah tempat yang buas
bagimu setiap orang beringas
hati mereka keras
omong mereka pedas
mukamu pias
nyalimu kandas
perutmu mulas

sudah lama ingin engkau membalas
s'gala kezaliman yang masih membekas

tapi, awas oh awas
otakmu tak cerdas
gerakmu tak tangkas
cacatmu pun tak dapat kau rias

malah, awas oh awas
engkau s'orang pemalas
'bentar-'bentar cemas
'dikit-'dikit lemas

daripada was-was
akhirnya engkau jadi orang yang ikhlas

(
biarlah ikhlas
tak usah balas
jadilah bernas
maaf yang luas
ketimbang panas
hadapi ganas

nasibmu ngenas
hidup 'gak jelas
)

semoga selalu waras
sampai nyawamu bablas

(sumber gambar)

Selasa, 09 Agustus 2022

mampat

senja kelam
malam kusam
temaram membayang
angan-angan merambang
diam-diam mengambang
tembangkan terawang rawan
timbul dari peraman

senyampang petang memanjang
engkau kian usang
melebam oleh lembam
membenam dalam-dalam

gumam-gumam kalam
lama tertanam tambah teranyam
menjelma ancam 'tuk penghidupan
awam tak berkesudahan
harap pun t'lah masam
kembalilah 'kau pendam
sampai mata memejam

(sumber gambar)

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain