Tampilkan postingan dengan label liTERASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label liTERASI. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Mei 2026

Catatan Diskusi Buku Hernadi Tanzil

Sebagai pengguna Goodreads yang mewajibkan diri untuk menulis review setamat membaca buku, saya melihat akun htanzil sebagai sosok legendaris. Jadi saya datang ke acara peluncuran buku kumpulan resensi beliau, (R)esensi Maniak.

"Hernadi Tanzil adalah peresensi yang disukai penulis, disayangi penerbit," demikian kata Muhidin M. Dahlan. Resensi Pak Tanzil merupakan contoh yang baik dan sopan karena tidak pernah menyinggung siapa-siapa, padahal kata Anwar Holid--pembahas dalam acara ini--kebanggaan peresensi adalah bila menemukan bahan untuk dikritik. Resensi Pak Tanzil juga terasa santai, tidak ada kesan tergesa-gesa, seakan-akan ditulis oleh yang sungguh menikmati dan memuliakan buku. Tapi resensinya juga bukan yang teramat serius hingga menyertakan teori-teori. Beliau tidak memiliki latar belakang tulis-menulis. Kemampuannya menulis resensi diperbaiki sambil jalan. 

Ada ratusan resensi yang telah ditulis Pak Tanzil. Selain Goodreads, resensinya terdapat di blog: https://bukuygkubaca.blogspot.com/. Resensi yang dipilih untuk diterbitkan dalam (R)esensi Maniak ini ditulis dalam rentang 2005-2019, mencakup buku dari tiga kategori: buku tentang buku/metabuku (8), sastra Indonesia (7), dan sastra terjemahan (22). Tujuh resensi pernah dimuat di media massa, antara lain Ruang Baca Koran Tempo

Saya belum membaca benar-benar buku (R)esensi Maniak, baru melihat-lihat isinya. Dari pemindaian sekilas, tampak bahwa resensi yang dibuat Pak Tanzil merupakan artikel utuh, yang menyarikan buku secara menyeluruh. Resensi yang sungguh-sungguh ini dibandingkan dengan "resensi" lainnya yang banyak terdapat di Goodreads, serta "resensi" yang dewasa ini populer di media sosial. Kebanyakan "resensi" di Goodreads mungkin bukan benar-benar resensi, melainkan hanya komentar. Hanya sedikit yang membuat ulasan panjang mencakup keseluruhan buku, selebihnya hanya satu-dua paragraf. Sedangkan "resensi" di media sosial berkesan tergesa-gesa, kurang kedalaman, kadang-kadang lebai, tapi justru itu yang efektif bagi generasi muda kiwari yang suka apa-apa serbacepat. Sementara generasi lama yang tumbuh bersama media cetak, blog, dan Goodreads yang mungkin lebih bisa menikmati resensi berupa tulisan panjang.

Tidak semua buku layak atau sempat dibaca. Harga buku bisa terasa mahal, waktu untuk membacanya pun terbatas. Maka peran peresensi bagi calon pembaca atau pembeli adalah membantu supaya lebih selektif dalam menentukan buku yang betul-betul perlu dibaca atau dibeli. Bagi penerbit, lebih baik buku dijelek-jelekkan oleh peresensi daripada tidak ada resensi sama sekali. Demikian pentingnya peran resensi dalam industri penerbitan dan ekosistem literasi. 

Minggu, 14 Desember 2025

Menulis Secara Populer

Penulis : Ismail Marahimin
Penerbit : PT Dunia Pustaka Jaya, Jakarta
Edisi Revisi, Cetakan ketiga, 2001
ISBN : 979-419-126-4
"... orang yang belajar menulis itu memang harus rela dipermalukan. Tidak ada jalan lain." (halaman 6)
Dipermalukan, atau mempermalukan diri dengan membiarkan dibaca orang.

Katanya, dalam menuntut ilmu, yang mula-mula harus dipelajari adalah adab. Demikian halnya dengan menulis. Buku panduan menulis ini diawali dengan semacam "pelajaran adab sebagai penulis", antara lain harus rela dipermalukan, sabar, rendah hati, dan rajin berlatih.

Ini asumsi pribadi saja yang mungkin berubah: tampaknya tradisi/tren/seni tulis-menulis itu mencapai puncaknya pada era blog. Setelah itu, sejak internet makin mudah diakses dan bermunculan platform-platform audio-visual seperti Instagram, YouTube dan lain-lain, banyak yang beralih media. Konten atau vlog di IG/YT yang berwarna-warni, bergerak cepat, diiringi musik yang asyik, lebih memanjakan indra daripada dinding-teks. Tentu masih ada saja yang suka menulis dan suka membaca. Masih banyak media yang mempublikasikan tulisan. Saya pun masih berusaha untuk mempertahankan kegiatan ini, walau lebih untuk pribadi, dan sudah tidak mengikuti perkembangan dunia tersebut.

Karena itu, buku ini saya pandang lebih sebagai bunga rampai ragam bentuk tulisan yang dilengkapi dengan penjelasan. Bentuk-bentuk tulisan yang disertakan dalam buku ini adalah: deskripsi, narasi, eksposisi, dan artikel. Tiap-tiap bentuk itu ada lagi jenis-jenisnya. Deskripsi bisa dikembangkan menurut tempat, waktu, dan kesan. Narasi bisa berupa dongeng, cerpen, dan novel. Eksposisi bisa menjadi dasar untuk menulis pidato dan karya ilmiah, atau sekadar latihan berpikir logis dan sistematis. Artikel ada banyak lagi ragamnya. Kendati ada nama untuk berbagai bentuk tulisan, dalam penerapannya tidak mesti baku. Contohnya, narasi tidak hanya berupa karya fiksi, tetapi dapat ditemukan juga dalam artikel nonfiksi. 

Beberapa tulisan mengandung ide yang sama, tapi dikembangkan secara berbeda-beda oleh tiap-tiap penulis. Sebagian penulis adalah peserta mata kuliah Penulisan Populer yang diampu oleh penulis buku ini (Ismail Marahimin). Ada pula karya yang sudah diterbitkan dalam buku berjudul Jejak Langkah Anak Kuliah (Gramedia, 1989). Itu mengingatkan pada masa kuliah saya sendiri, ketika lagi ranjing-ranjingnya menulis, dan saya bersyukur telah mempergunakan masa itu untuk berkreasi, ketika baik otak maupun fisik masih lincah dan banyak energi. Seandainya saya membaca buku ini semasa kuliah, sepertinya semangat saya akan bertambah-tambah lagi. Buku ini mengingatkan saya bahwa menulis pernah begitu mengasyikkan, terutama dalam bentuk cerpen dan satire.

Ada beberapa model tulisan dalam buku ini yang memancing komentar agak panjang. (Memang jauh lebih gampang sekadar mengomentari tulisan daripada mengerjakan latihan-latihan menulis itu sendiri heuheuheu.)

MODEL 6: DESKRIPSI BANYAK PERISTIWA DALAM WAKTU YANG LAMA (I) "GEMPA BUMI" (Jack London)

Deskripsi ini mengenai gempa dan kebakaran yang melanda San Fransisco, 18-20 April 1906. Pada waktu saya membaca tulisan ini, sedang ramai berita kebakaran di perumahan selebritas Hollywood. Banyak yang menganggap itu sebagai azab atas dukungan Amerika Serikat terhadap Israel. Terlepas dari soal azab yang sejatinya sekehendak Tuhan mau menimpakannya ke manusia mana, kapan dan di mana, rupanya kawasan barat Amerika Serikat situ memang rawan bencana dari masa ke masa. Pada saat terjadinya bencana di San Fransisco, 1906 ini, perumahan orang kaya juga terkena, meskipun ada juga yang buruh.

MODEL 15: DIA TERAMAT MALANG II "IBU" (Tina Savitri)

Mengenai tulisan ini, Pak IM mengkritisi adanya kejanggalan dalam usia para tokoh yang berkaitan dengan latar masa pendudukan Belanda persis sebelum Jepang masuk (halaman 151). Menurut saya, tidak ada yang salah. Selisih usia antara kakak dan adik bisa sampai hampir 20 tahun (contohnya antara bapak saya dan kakak pertamanya), dan perempuan masih bisa melahirkan pada usia 40-an tahun. Jadi seandainya tokoh utama berusia 20-an tahun pada 1980-an, maka dia lahir pada 1960-an, sehingga ibunya mungkin lahir pada 1920-an, sedangkan Jepang masuk pada 1940-an. Jadi mungkin saja ibunya masih sempat bersekolah di MULO persis sebelum Jepang masuk.

MODEL 26: EKSPOSISI IV "ADOPSI ANAK INDONESIA OLEH ORANG ASING, MENGAPA TIDAK?" (Suryanti Winata)

Sepertinya gara-gara model ini saya akhirnya terpantik untuk mengeklik satu dokumenter Al-Jazeera English yang terkait (sudah beberapa lama muncul terus thumbnail-nya di beranda), ”Adopted from Indonesia to the Netherlands: A Dutch family's reckoning”, tentang satu anak Jawa yang diadopsi orang tua Belanda tapi malah problematik. Sebagai model eksposisi, tulisan ini berargumen membela praktik adopsi, membuat saya berpikir, benar juga, itu mengurangi beban negara mengurus rakyat yang sudah terlalu banyak. Namun dokumenter Al-Jazeera tersebut justru membukakan mata bahwa anak adopsi yang dibesarkan di negara yang tampak lebih sejahtera itu ternyata belum tentu bahagia, malah menyimpan luka mendalam. 

Ada hal-hal yang kalau dipikir secara rasional saja, kenapa tidak? Satu contoh lain adalah soal poligami. Kenapa itu tidak dilihat sebagai keuntungan bagi perempuan? Berkurang beban kewajiban terhadap suami; kalau lagi malas melayani, suruh saja dia pergi ke istri lainnya. Lebih banyak me-time. Beban pertanggungjawaban suami justru makin banyak, baik di dunia maupun di akhirat. Kalau dipikir secara rasional, poligami justru meringankan perempuan dan memberatkan laki-laki dong. Tapi, kenyataannya, kalau dilihat dari kacamata syahwat, poligami itu malah pencapaian bagi laki-laki. Kalau pakai perasaan, ikut perih dan sesak  mendengar suara hati istri-istri yang suaminya berpaling ke pelukan wanita lain, risih juga bila ustad-ustad menjadikan poligami sebagai bahan candaan di majelis pengajian.

Maka soal adopsi juga, bila dipikir saja, tanpa dirasakan sendiri, sekilas tampak sebagai solusi bagi masalah demografi. Padahal dari sudut pandang anak adopsi sendiri, alih-alih senang dengan segala fasilitas negara "maju", malah terus bergulat dengan kebingungan, keterasingan, yang tidak enak juga. Pada waktu membaca/menonton soal adopsi internasional ini, saya juga lagi membaca novel Robert Anak Surapati, tentang keturunan pribumi nusantara yang diadopsi pasangan Belanda. Walau orang tua Belanda itu amat memanjakannya, pada akhirnya, Robert tak terhindarkan juga dari masalah kebingungan/keterasingan antara beralih ke pihak ayahnya yang pribumi atau tetap bersama Belanda sekalipun sudah jahat kepadanya.

Ibarat kata, pikiran bilang kenapa tidak, sedangkan perasaan lain lagi. Perasaan tidak suka/tidak enak itu pun dapat bertumpuk-tumpuk hingga lama-kelamaan tak terbendung lagi, menggelapkan pikiran dan mendorong pada perbuatan reaktif, atau menjadi penyakit.

Begitulah hidup. Orang bisa saja dibesarkan orang tua kandung di negeri sendiri, tidak pula dipoligami, dan tetap tertimpa oleh berbagai masalah jenis lainnya :v

MODEL 27: EKSPOSISI V "TINJU PROFESIONAL: PERWUJUDAN NALURI PRIMORDIAL MANUSIA" (Tina Savitri)

Sebagaimana disinggung dalam paragraf pembuka analisis mengenai tulisan ini, dari waktu ke waktu, ada saja yang anti pertandingan tinju dan menyampaikannya lewat tulisan, baik itu surat pembaca, artikel, maupun puisi seperti yang pernah dibuat oleh Taufiq Ismail dan terdapat dalam bukunya Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia. Yang anti-tinju memandang pertandingan itu tidak ubahnya menyabung ayam, seperti gladiator versi modern, di mana orang senang melihat orang lain menyakiti sesamanya. 

MODEL 30: ARTIKEL III "PERAN GANDA ATAU BEBAN GANDA?" (Avianti) & MODEL 31: ARTIKEL IV "INI CITA-CITA KARTINI?" (Najah Farhati)

Keduanya sama-sama ditulis oleh pengikut mata kuliah Penulisan Populer, 1989/90, menunjukkan bahwa masalah wanita karier yang tetap harus menjalani peran ibu rumah tangga sepenuhnya, suami yang tidak mau membantu, perempuan yang enggan menikah karena tahu betapa beratnya beban ganda itu dan lebih penting mencari uang untuk diri sendiri, laki-laki yang ingin agar perempuan dapat mengerjakan segala-gala tapi tetap tunduk kepadanya, sudah dipersoalkan sejak era generasi milenial baru lahir. Tentunya perlu diingat bahwa bukan berarti sama sekali tidak ada laki-laki yang mengerjakan segala-gala dan lebih banyak berkorban daripada istrinya, ataupun pasangan-pasangan yang mampu saling pengertian. 

MODEL 46: FEATURE/FICER II "DUNIA DALAM TAHUN 1986" (Aldous Huxley)

Ramalan Huxley dari tahun 1961 yang memproyeksikan tahun 1986 ini kalau menurut Pak IM banyak yang tidak menjadi kenyataan. Saya yang membacanya pada 2025 justru merasa relevan. Barangkali ramalan itu belum relevan 25 tahun setelah ditulis, tapi baru pada 60-an tahun kemudian, persisnya mengenai pengembangan obat-obat kejiwaan, banyaknya waktu luang, gerakan DIY, dan automasi. 

Pengembangan obat kejiwaan telah mewujud dengan membesarnya industri kesehatan mental, barangkali perlu ditunjang oleh industri media sosial/digital yang pada 1986 belum sampai pada taraf sedemikian rupa. Orang-orang perlu terlebih dahulu dibuat kacau kejiwaannya dengan media sosial/digital, agar membutuhkan produk dan jasa yang disediakan industri kesehatan mental. 

Memang ada sejumlah pekerjaan yang tidak dapat digantikan oleh robot, tapi sebagian lagi sudah dengan banyaknya PHK di mana-mana. Akibatnya banyak orang memiliki banyak waktu luang, sehingga pelariannya entahkah ke obat kejiwaan/industri kesehatan mental (karena stres menganggur), atau ke candu digital (scrolling media sosial untuk melupakan beban), atau ke kegiatan produktif (DIY, mendayagunakan apa pun yang tersedia di sekitar).

Selasa, 13 Februari 2024

Ihwal Perklipingan (2)

Gambar dari Instagram.
Ada motivasi kuat untuk menghadiri acara workshop kliping beberapa waktu lalu (Minggu, 11 Februari 2024, lantai 3 Perpustakaan Ajip Rosidi, Bandung). Soalnya, di rumah ada koleksi kliping artikel sejarah milik Mama yang banyaknya lumayan. Selain itu, ada bertumpuk-tumpuk majalah lawas dsb yang kadang-kadang memuat artikel menarik lainnya. Karena hobi Mama mengkliping itu, selazimnya anak suka meniru perilaku orang tua, saya pun punya hasrat untuk menyimpan/merekam dan mengelompokkan apa-apa--salah satunya teks--yang menarik, apalagi kini ketika terbitan lawas sudah menjadi semacam barang langka, unik, bahkan antik. Timbul keinginan untuk berbagi dengan siapa saja, walaupun tidak secara fisik tapi melalui layar saja. Satu inisiatif yang saya coba adalah mendigitalisasikannya di blog, mana tahu ada yang mau ikut baca. Namun sepertinya istilah "mendigitalisasikan" terlalu keren. Sebab, yang saya lakukan sebetulnya hanyalah mengetik ulang artikel-artikel itu, sekalian membacanya secara lambat (dengan asumsi pengetahuan di dalamnya bakal rada menempel ketimbang kalau membaca secara biasa--yang, setelah bertahun-tahun melakukannya, ternyata enggak juga sih ... :p). 

Workshop kliping kemarin menunjukkan bahwa mengkliping secara digital rupanya tidak sesederhana itu, mengkliping ternyata dapat dilakukan secara profesional, dan mengkliping memang memiliki arti penting. 

Workshop ini menunjukkan hal-hal teknis, langkah-langkah yang dilakukan untuk mengkliping secara digital. Halaman yang mau dikliping di-scan lalu di-crop dan diberi nama. Dalam penamaan, yang pasti harus ada tanggal, bulan, dan tahun. Nomor halaman diperlukan bagi yang mau membuat tulisan ilmiah. Tentukan kategorinya. Lalu, buat metadata yang isinya di samping data artikel juga paragraf yang berupa intisari artikel mengandung kata-kata kunci agar kelak mudah dicari ketika dibutuhkan. 

Secara sederhana, ini dapat dilakukan dengan mengandalkan HP sebagai pengganti gunting dan scanner. Demikianlah yang dilakukan para peserta kemarin. 

Pekerjaan ini dapat melatih cara berpikir supaya rapi dan sistematis. Pekerjaan ini juga memerlukan stamina fisik sehingga mengimbanginya dengan olahraga itu penting.

Gus Muh sendiri, alias Muhidin M. Dahlan selaku pengampu workshop, mengerjakan kliping secara profesional, melakukannya seharian setiap hari, dan menjadikannya usaha komersial di antaranya berupa warungarsip.co

Artikel-artikel yang diklipingnya, yang berhubungan dengan tema acara selanjutnya, ada pula yang dipamerkan kala itu, dicetak pada kertas-kertas panjang yang berjuntaian mengitari ruangan. Di antara kertas panjang itu ada yang menyatakan fungsi dari kliping: "merawat ingatan, memperdalam pemahaman tentang hal-hal lampau, agar hari ini tidak mengalami amnesia". 

Gambar dari Instagram.
Hasil lain dari pekerjaannya mengkliping adalah buku Kronik Penculikan Aktivis dan Kekerasan Negara 1998. Buku tebal seharga Rp 150.000 ini (didiskon jadi Rp 120.000 selama acara) adalah kliping yang dibukukan, berisi artikel-artikel dalam tema sebagaimana judulnya. Acara berikutnya, setelah workshop, membicarakan isu-isu yang diangkat dalam buku tersebut, dengan menghadirkan lebih banyak pembicara yang keren-keren pesertanya pun membeludak. Arti penting kliping diuraikan lebih lanjut dalam acara ini. 

Sebetulnya, dalam acara ini tersirat suatu maksud sehubungan dengan agenda politik yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Malah judul dari workshop kliping itu sendiri adalah: "Kliping sebagai Kerja Politik di Zaman Digital". Demikian acara ini memberikan konteks khusus akan guna dari kliping, yaitu memulihkan ingatan masyarakat akan sesuatu hal yang imbasnya dapat membantu mereka membuat keputusan yang akan menentukan masa depan bangsa (ih, dahshiaaat~). Cara efisien dalam pendokumentasian sebagaimana ditunjukkan Gus Muh dalam workshop di muka adalah untuk memudahkan dalam memanggil artikel-artikel terkait jika sewaktu-waktu diperlukan dalam momen seperti ini. Dengan begitu, kliping adalah kerja untuk kepentingan publik.

Walau demikian, yang menjadi inspirasi Gus Muh justru kerja individual sebagaimana dilakukan oleh Pramoedya Ananta Toer (selanjutnya Pram). Gus Muh membuka workshop dengan menceritakan kegiatan mengkliping Pram, terutama selama menjadi tahanan rumah. Pram sang "pendekar gunting" tiap hari membeli 6 surat kabar. Namun, yang diklipingnya hanya 2 tema: desa dan dirinya sendiri. Hasil mengkliping selama 30 tahun itu disusun dalam jilid-jilid berukuran A5 bersampul oranye yang seluruhnya mencapai 17 meter (Gus Muh mengukurnya sendiri pakai penggaris 30 cm). Sepintas, pekerjaan ini tampak untuk kepentingan pribadi (kalaupun ada Pusat Dokumentasi Arsip Pramoedya Ananta Toer atau semacamnya, saya belum dengar sebagaimana halnya dengan Pusat Dokumentasi Sastra H. B. Jassin yang kerap diberitakan itu). Namun, sepertinya ini juga yang menyokong Pram sehingga dapat menghasilkan karya-karya sastra yang begitu berharga. Ujungnya untuk khalayak juga.

Mengkliping sebagaimana yang dilakukan Gus Muh adalah usaha mengumpulkan dan merapikan informasi, menyediakannya kepada siapa saja yang berkepentingan untuk mengolahnya. Seiring dengan kemajuan zaman dan pengarsipan yang makin baik ini, penulis sekarang mesti berhadapan dengan makin banyak data, sehingga makin dituntut untuk memiliki daya analitis yang makin tinggi pula sembari menghadirkan kebaruan--kerja yang makin pelik. Di kubu lain, orang makin tak peduli, makin tak membaca, makin tak beraturan, terhanyut dalam cara pikir yang makin-instan/mau-cepat saja; atau, kalaupun masih ada kepedulian, keinginan, kurang ada keleluasaan untuk melakukannya secara berkelanjutan. Di antara dua kubu itu, ada pula yang berusaha agar aktivitas membaca dan menulis senantiasa tertahankan meskipun ....

Minggu, 14 Januari 2024

Meresensi Buku dari Masa ke Masa

Kalau sengaja mencari referensi tentang menulis resensi buku, sepertinya kita akan menemukan banyak. Catatan ini mengenai referensi yang sampai kepada saya tanpa sengaja mencarinya, sampai titik ini. Ada tiga referensi utama yang antara masing-masingnya terentang jarak sekitar 20 tahun. 

Yang pertama adalah buku Teknik Penulisan Timbangan Buku oleh P. K. Poerwantana terbitan CV. Aneka Ilmu, Semarang, cetakan pertama 1984 (dan baru dibeli ibu saya pada 18 April 1986). Buku ini tipis saja, cuma 19 halaman. Saya sudah membaca tuntas buku ini belasan tahun lalu, catatannya ada blog ini.

Yang kedua adalah buku Kiat Sukses Meresensi Buku di Media Massa oleh Nurudin terbitan CESPUR, Malang, cetakan pertama 2003. Tebalnya 159 halaman. Saya sudah menamatkannya belum lama ini, catatannya ada di Goodreads.

Gambar screenshot dari Instagram.
Yang ketiga adalah "Workshop Menulis Resensi Buku" yang diadakan Klub Buku Laswi, Bandung, baru saja kemarin, 13 Januari 2024, dengan tutor Iman Herdi, editor Bandung Bergerak dengan pengalaman menulis di berbagai media dan sudah pula menerbitkan buku karyanya sendiri. Dalam workshop ini, Kang Iman memberikan materi tertulis sepanjang sekitar 3,5 halaman. 

Bagi saya, workshop ini berat secara teori tetapi "ringan" dalam praktik. 

Secara teori, berat, karena materinya menuntut agar resensi tidak sekadar menyampaikan isi buku tetapi juga dikaitkan dengan berbagai isu. Oleh karena itu, ada berbagai hal yang mesti turut diperhatikan oleh peresensi agar tulisannya berbobot dan aktual. Entahkah itu fenomena/peristiwa yang sedang menjadi sorotan publik, atau buku-buku yang relevan dengan buku yang diresensi, termasuk riwayat penulis, latar diterbitkannya buku, dan lain-lain. Resensi buku yang dimaksud adalah juga suatu karya jurnalistik ala feature atau esai-opini, yang memerlukan riset, data, argumentasi, alur tertentu, dan lain-lain.

Secara praktik, "ringan", karena tugasnya "hanya" menuliskan satu demi satu kalimat tunggal baik perorangan maupun berkelompok. Saya tambahkan tanda kutip karena praktik ini gampang-gampang-susah buat saya yang terbiasa menulis semengalirnya saja, cenderung memasukkan terlalu banyak informasi dalam satu kalimat sehingga campur-aduk antara tunggal dan majemuk. Praktik ini melemparkan saya kembali ke masa skripsi, kala diingatkan dosen pembimbing agar belajar lagi menulis dengan memperhatikan S-P-O-K wkwkwk. Gunanya kalimat tunggal adalah supaya gagasannya mudah tersampaikan kepada pembaca umum.

Ketika meninjau lagi buku-buku tentang menulis resensi yang sudah saya baca, sebetulnya masukan dari workshop itu ada pula di dalamnya. Namun, mungkin, justru karena pemaparannya yang lebih panjang lebar, serta proses membacanya yang terputus-putus, maka saya kurang dapat menangkap yang pokok. Sementara, dalam workshop, karena waktu yang terbatas, pemateri langsung menyampaikan hal-hal yang paling perlu diperhatikan--yang membedakan resensi buku di media massa dari catatan pengalaman membaca buku di platform pribadi. Keduanya sama-sama bertujuan untuk mendalami dan menempatkan sebuah buku dalam suatu konteks, yang pertama dalam konteks publik sedangkan yang kedua konteks personal. Keduanya baik dilakukan, hanya saja untuk publik ada banyak persyaratan. Karena itulah, saya mau tetap menulis catatan pembacaan sebagaimana biasanya hahaha~ karena kerakusan dalam membaca, kebutuhan untuk merekam yang sudah dibaca, serta keleluasan untuk membagikan apa saja di internet mana tahu dapat berguna bagi yang baca. Dengan mempelajari cara menulis resensi buku untuk media massa dari masa ke masa, mudah-mudahan merangsang kepekaan agar dapat melihat suatu isu secara lebih luas sekaligus tajam serta menuangkannya secara lebih tertata.

Dalam pelaksanaan acara kupas buku di klub--mengikuti kaidah resensi--buku dapat menjadi pemantik dalam forum untuk memperbincangkan isu-isu yang lebih luas senyampang relevan.

Minggu, 31 Desember 2023

Catatan Pembacaan 2023

Membandingkan dengan tahun sebelumnya, pada tahun ini ada peningkatan. Dari 79 buku, 3 majalah, dan 1 skripsi atau taruhlah 83 jadi 86. Jumlah ini termasuk majalah (cuma 3 biji) dan draf tulisan sendiri (catatan harian dan novel). Di Goodreads ada 45 buku, selebihnya di blog ini dan blog satunya (khusus majalah dan draf fiksi karangan sendiri). Ketika mulai merekap, tak terduga ternyata jumlahnya sudah sebanyak itu. Soalnya, sebagaimana yang dikeluhkan di catatan pembacaan tahun sebelumnya, saya merasakan stamina baca sudah turun. Saya sudah tak kuat membaca 1 buku saja selama 1 jam nonstop. Pola membaca pun jadi terasa acak-acakan, tak seteratur tahun-tahun sebelumnya. Pada 2023 ini, ada beberapa cara yang dilakukan untuk mengatasi atau mengakali supaya habit ini bertahan.

Klub buku

Awalnya, saya meminta seorang teman untuk mengabari saya bila ada acara menarik lagi. Ia menanggapi dengan memberi tahu tentang adanya klub buku yang kebetulan banget lokasinya tidak jauh dari rumah saya—kurang dari setengah jam bersepeda. Klub buku ini diselenggarakan oleh seorang akang yang saya kenal sudah dari lama (tapi entah apa selama itu beliau ingat saya hahaha) bekerja sama dengan seorang lainnya yang sedang jadi ketua komunitas kepenulisan yang pernah saya ikuti. Ketika itu klub telah berjalan selama sebulan, mulai Februari 2023. Saya pertama kali datang pada pertemuan kelima yang sudah memasuki Maret, kala itu membahas buku Orang dan Bambu Jepang (Ajip Rosidi) yang, lagi-lagi kebetulan banget, sudah pernah saya baca. Sejak itu, saya pun mendatangi pertemuan mingguan ini walaupun sesekali rehat. Kerap kali buku yang akan dibahas sudah saya miliki atau ada di Ipusnas, sehingga menggenjot semangat saya untuk ikut membacanya. Sampai akhir Desember 2023, klub sudah mengadakan 44 pertemuan yang berarti membahas lebih dari 44 buku (soalnya ada pertemuan yang membahas lebih dari satu buku). Dari jumlah itu hampir separuhnya, yaitu 21 buku, saya ikut baca. Kalau bukan karena klub ini juga saya tidak akan menamatkan beberapa buku sastra Sunda.

20 Minute Rule

Kemudian saya keranjingan untuk menerapkan 20 Minute Rule dalam berbagai kegiatan, termasuk membaca buku. Saya mendapatkan angka 20 dari filter YouTube. Ketika mau mencari video dengan topik tertentu tapi tetap random, biasanya saya memasang filter penelusuran dengan durasi 4 – 20 menit. Kalau kurang dari 4 menit, terlalu pendek. Lebih dari 20 menit, kepanjangan. Dua puluh menit terasa pas, tidak singkat amat tapi juga tidak begitu lama. Jadi, setelah membaca 1 buku selama 20 menit—kecuali buku itu benar-benar menarik sehingga saya tidak mau menjedanya—saya beralih ke buku lain selama 20 menit berikutnya, dan seterusnya tergantung keleluasaan.

Ray Bradbury Challenge

Saya mengetahui challenge ini sudah dari lama, tahun ini baru tergerak menerapkannya tapi cuma untuk membaca 1 esai, 1 cerpen, dan 1 puisi per hari, sedang untuk menulis 1 cerpen/minggu, entar dulu lah ya. Ada berbagai sensasi ketika mencoba cara ini, tetapi ujungnya saya kewalahan karena jadi menambah kategori bacaan. Sudah begitu, panjang esai/cerpen/puisi kan tidak menentu: ada yang rata-rata, sangat singkat, atau panjang sekali.

Setelah telanjur menamatkan dua buku kumpulan puisi, saya skip dulu challenge ini dan menentukan jalan tengahnya adalah dengan membuat kategori baru di tabel rekap pembacaan. Jadi, sudah bertahun-tahun ini, saya menggunakan tabel rekap pembacaan. Mulanya sih untuk menyeimbangkan jumlah buku cetak dan buku digital yang dibaca. Soalnya buku digital sering kali lebih menggoda untuk dibaca, sementara buku cetak (termasuk majalah) yang untuk memilikinya harus ditebus dengan uang itu malah jadi pajangan saja di dalam lemari. Tabel ini kemudian berkembang sehingga kategorinya bukan cuma cetak dan digital, melainkan juga nonfiksi dan fiksi serta tema umum dan tema khusus. Tema umum adalah yang bersangkutan dengan kehidupan saya sehari-sehari, sedangkan tema khusus katakanlah yang berhubungan dengan kehidupan imajiner dalam kepala saya. Dari tabel ini, saya mendapati telah membaca jauh lebih banyak buku digital khususnya dari Ipusnas. (Kadang itu tak terhindarkan, kalau mau mengikuti rencana buku yang akan dibahas di klub.) Karena itulah, selama beberapa bulan pertama pada 2024, saya ingin berfokus untuk mengisi gap di tabel lama (alias mengutamakan-baca buku cetak) sebelum berlanjut ke tabel baru yang mana sudah ditambahkan kategorinya sehingga di samping nonfiksi dan fiksi (yang mana di dalamnya termasuk esai dan cerpen yang sudah dibukukan tentu saja), ada puisi. Selain untuk mengikuti Ray Bradbury Challenge (dengan penyesuaian), membaca puisi rasa-rasanya perlu juga supaya mana tahu saya bisa lebih ekspresif dan kreatif dalam berkata-kata(?). Entahlah, seumur hidup saya belum pernah menekuni-baca buku kumpulan puisi—selama ini random saja lagi jarang.

Jalan tengah lainnya adalah stick to 20 Minute Rule, alias targetnya bukan 1 esai, 1 cerpen, dan 1 puisi per hari melainkan ikuti saja pergiliran di tabel. Ketika gilirannya buku kumpulan puisi, baca selama 20 menit lalu pindah ke buku lain yang entahkah nonfiksi atau fiksi, kumpulan esai atau majalah, kumpulan cerpen atau novel ….

Selain tabel, tahun ini juga saya mulai membuat daftar buku yang telah tuntas tiap bulannya. Karena ingin tahu saja. Itu mempermudah untuk melihat tren dan menghitung, misalnya, ternyata saya masih membaca lebih banyak nonfiksi (44) daripada fiksi (40).

Buku-buku yang cepat dituntaskan

Buku-buku tersebut ibarat seteguk air segar di sela-sela maraton (kayak yang pernah ikut saja) membaca buku tebal yang seakan tak selesai-selesai. Contohnya adalah buku kumpulan artikel (misalnya dari Tempo dan Trubus) yang terdapat di Ipusnas, buku komik, buku anak-anak, dan lain-lain yang tebalnya tidak sampai 100 halaman.

Goodreads

Seperti biasanya, pada awal tahun saya pasang target 52 buku dengan perkiraan selesai 1 buku/minggu. Namun, setelah beberapa bulan, saya mendapati bahwa target itu sepertinya tidak akan tercapai karena bukan berarti saya tidak sanggup menyelesaikan 1 buku/minggu, melainkan sebagian buku yang saya baca tidak ada di Goodreads sedang sekarang sudah tidak bisa lagi manually add book. Maka saya turunkan target jadi 36 saja, alias 3 buku/bulan—3 buku yang ada di Goodreads, maksudnya. Ini tercapai, bahkan terlampaui (125%) tapi memang tidak sampai 52.

Penilaian

Karena saya membaca bukan untuk kepentingan akademis/profesional/dsb melainkan sebagai penikmat saja, 86 buku tahun ini atau 1 – 2 buku/minggu sudah bagus banget. Itu saja saya masih ada perasaan bersalah karena memang hobi saya bukan cuma membaca, melainkan juga berbagai turunannya yang mau sekalian saya bicarakan di bawah, sehingga mesti ada waktu juga buat yang lain-lainnya itu. Kalau sampai tembus lebih dari 2 buku/minggu, rasa-rasanya sudah berlebihan. Malah terpikir setelah sampai di angka 78 (dari 52 + 26 alias pas 1,5 buku/minggu), mungkin saya setop saja dan beralih ke hal lain misalnya menulis novel? (hahahaha~) kemudian baru mulai membaca buku lagi setelah masuk tahun berikutnya. Entahlah.

TURUNAN DARI MEMBACA

Menulis

Yang rutin adalah menulis review tiap kali menamatkan satu buku (atau majalah kadang juga karya lainnya yang benar-benar menarik), alhamdulillah berhasil dipertahankan sejak 2019. Tahun ini saya menambahkan rutin baru, dengan menerapkan 20 Minute Rule itu, yaitu menulis catatan harian. Sebetulnya ini tidak sama sekali baru. Sejak SD saya suka menulis catatan harian. Tiap ada pikiran, segera saya tuliskan. Pada satu titik, saya mengira kebiasaan ini mengembangkan sifat overthinking. Maka itu saya berhenti. Yah, tidak sama sekali sih (memang bisa?) tapi mengurangi, sampai-sampai menurut catatan harian tahun kemarin saja, saya menulisnya tidak sampai setengah halaman F4 per hari. Namun, setelah membaca semua diary semasa SMP, saya justru mendapatkan pandangan lain. Menulis catatan harian justru merupakan suatu coping. Dengan itu saya mengatasi kesepian, menghibur dan menyemangati diri, serta menghargai kehidupan yang acap kali tak mengenakkan. Saya yang sekarang pun jadi sangat mengapresiasi saya yang dulu. Kenapa tidak melakukannya lagi? Namun kali ini secara teratur dan terbatas, agar tak merasa berlebih-lebihan lagi. Lalu saya mulai begitu saja, tak ingat dari tanggal berapa pokoknya enggak persis 1 Januari 2022. Ada hari-hari yang bolong, tak apa.

Setelah berhasil melakukan rutin itu beberapa lama, timbul pikiran: kenapa tidak melakukan ini juga untuk menulis fiksi? Saya sudah mencobanya, mempertahankannya beberapa lama tapi menulis kehidupan imajiner tetap saja tak seenteng menuliskan pengalaman pribadi yang nyata. Saya tak berhasil mempertahankannya. Percobaan-percobaan lainnya untuk kembali menulis fiksi juga belum ada yang persisten lagi seperti semasa kuliah. Entahlah. Pelik sih. Keadaannya sudah beda. Maka status masih “pura-puranya mau menulis novel”.

Menerjemahkan

Pada 2023 ini saya menyadari bahwa sudah 1 dekade saya menerjemahkan. Jejaknya terekam di blog ini, sebelum dibuat blog lain khusus untuk terjemahan dengan tujuan menjaga kesinambungan, yang dijadwalkan mulai 2014, yang berarti blog itu akan genap 1 dekade juga. Sampai sekarang saya masih menikmati menerjemahkan sebagai hobi saja. Malah tahun-tahun belakangan terjadi penurunan aktivitas sebenarnya. Pernah ada target ambisius untuk memosting mingguan, tapi yang realistis sebulan sekali saja lah ya. Sedang mencoba menerapkan 20 Minute Rule juga untuk kegiatan ini, lebih banyak bolongnya daripada menulis catatan harian wkwkwk. Sebenarnya lagi mau mengukur sih: kalau bisa rutin 20 menit/hari tanpa banyak bolong, akan ada rata-rata berapa judul yang bisa dihasilkan dalam sebulan.

Mengkliping

Ini biasanya saya lakukan sekalian dengan menerjemahkan. Mengkliping dulu, baru menerjemahkan. Keduanya sama-sama soal menyalin. Mengkliping adalah menyalin teks dari cetak ke digital tanpa perubahan berarti (paling-paling menyesuaikan ejaan atau tanda baca yang biasanya refleks saja), sedangkan menerjemahkan juga menyalin tetapi dengan mengubah bahasa yang sering kali memerlukan berpikir, mengecek arti ke beberapa kamus sekaligus, googling, dan Google Translate hihihi. Baru mulai menerapkan 20 Minute Rule juga untuk ini, dari yang tadinya menarget 1 artikel/hari (menginsafi panjang artikel yang berbeda-beda).

Bahasa-bahasa

Pelajaran bahasa Arab di Duolingo sudah tamat. Bukan karena saya begitu rajin, melainkan karena itu termasuk bahasa yang baru ditambahkan sehingga pelajarannya belum banyak dan cepat dituntaskan asal rutin. Karena itu saya merasa perlu move on ke sumber belajar lain, seperti buku dan video. Ada satu buku pelajaran bahasa Arab yang sudah saya mulai, tapi tersendat-sendat. Begitu pula dengan bahasa Jerman. Saya telah mengumpulkan buku-buku berbahasa Jerman yang saya ingin baca, kalau bisa menjadikannya bahan latihan menerjemahkan. Namun itu muluk-muluk banget sih. Kalau bukan karena Duolingo, aslinya saya belum betah belajar bahasa asing. Selain Arab dan Jerman, di Duolingo saya juga belajar bahasa Jepang dan Belanda. Biar apa? Biar menghayati perjuangan bangsa selama masa penjajahan dan lebih menghargai kemerdekaan(?) Sudah, empat itu sajalah.

REAL LyFE

Setelah menonton beberapa video ‘cleaning’, saya mendapat pencerahan bahwa DECLUTTERING adalah kunci. Itu yang harus saya fokuskan pada 2024 ini. DECLUTERING yang ORGANIC maupun yang ANORGANIC. DECLUTTERING ORGANIC untuk menghasilkan ecoenzyme dan kompos, yang kemudian berguna untuk bebersih dan berkebun. DECLUTTERING ANORGANIC dengan menggunakan panduan dari bank sampah. (Untuk sementara ini, panduan dari Bank Sampah Bersinar di Bojongsoang tampak yang paling bisa diandalkan; bisa cek di situs webnya). Barulah sisanya—baik karena tidak ditampung bank sampah maupun yang sengaja disisihkan—disyukuri sebagai sarana berkreasi dan berusaha. Cita-citaku sekarang tak muluk-muluk, sekadar ingin membangun sistem sirkular skala rumah tangga agar meninggalkan sesedikit mungkin kerusakan di dunia dan meringankan hisab di akhirat. Bismillah.

Minggu, 26 November 2023

Pelajaran Mengarang Cerpen dari Us Tiarsa

Gambar screenshot dari Instagram.
"Perkenalan" saya dengan penulis Us Tiarsa ternyata sudah dimulai sejak cukup lama, yaitu ketika mengikuti acara tapak tilas buku Basa Bandung Halimunan. Hampir sepuluh tahun setelah itu, perkenalan baru dilanjutkan dengan membaca sendiri kumpulan cerpen beliau, Halis Pasir, alhamdulillah sampai tuntas dan dapat menangkap isinya secara garis besar sekalipun saya tidak menguasai bahasa Sunda XD Jadi kuat motivasi saya untuk turut beranjangsana ke rumah beliau bersama Klub Buku Laswi. Posternya menampilkan kedua buku tersebut. Versi cetak Halis Pasir masih tersedia di Toko Buku Bandung depan Perpustakaan Ajip Rosidi, sedangkan Basa Buku Halimunan sudah tidak ada; tapi di Ipusnas keduanya bisa ditemukan.

Beliau bermukim di komplek perumahan wartawan yang ada di Baleendah. Kami bertolak dari Perpustakaan Ajip Rosidi selepas zuhur, merayap dalam kemacetan selama sekitar 1,5 jam; katanya hari itu ada 7 universitas sedang menyelenggarakan wisuda, salah satunya Telkom University yang berlokasi kurang lebih di tengah-tengah perjalanan. Tiba menjelang pukul 2 siang, kami baru kembali dari sana setelah azan magrib. Acara utamanya sendiri hanya sekitar 2 jam, setelah itu keramahan tuan rumah menjamu kami dengan yamin manis. 

Acara berlangsung dalam bahasa Sunda, yang secara umum masih bisa saya pahami walau adakalanya menanyakan arti kata kepada teman di sebelah. Dalam 2 jam itu, tentu banyak poin yang disampaikan oleh Abah Us Tiarsa; beberapa di antaranya dipantik oleh pertanyaan dari kawan-kawan peserta. Kami mendengar tentang riwayat kepenulisan/kewartawanan beliau, proses di balik buku-bukunya, perkara bahasa jurnalistik, anekdot mengenai tokoh-tokoh yang dikenal, masukan dalam menulis, dan sebagainya. 

Poin yang paling menarik bagi saya adalah proses kreatif di balik Halis Pasir, kumpulan cerpen yang sudah dibaca-tuntas-dan-ulas itu. Kebetulan, saya sendiri dalam pergulatan untuk menulis cerpen (atau karangan fiksi apapun) lagi. Berikut beberapa masukan beliau yang tercatat.

Ketika penulis menganggap karyanya yang terdahulu jelek tapi toh diakui media, itu berarti ia telah mengalami kemajuan.

Cerpen-cerpen di Halis Pasir pernah dimuat di Mangle dan mendapat penghargaan. Namun, dengan menyatakan yang di atas itu, apakah beliau punya anggapan sendiri mengenai cerpen-cerpennya itu? Sepertinya saya kurang menangkap penjelasan beliau soal ini. Kalau boleh saya kaitkan dengan pengalaman saya sendiri, selama saya masih menganggap karangan-karangan yang terdahulu rada-rada lumayan, itu berarti saya masih mandek atau bahkan mengalami kemunduran XD

Cerita yang isinya kebetulan belaka tidak bernilai sastra.

Beliau mencontohkan dengan menceritakan suatu kejadian yang menimpa seorang pedagang di pinggir jalan. Pedagang itu diminta pindah lapak ke tanah kosong, karena tempatnya semula dianggap dapat membahayakan. Namun, setelah pindah ke tanah kosong itu, pedagang tersebut malah tewas ditabrak kendaraan yang entah bagaimana menyelonong ke sana. Itu suatu kejadian menarik, tapi berunsur kebetulan yang jika dituliskan menjadi cerpen menurut Abah Tiarsa teu nyastra

Masukkan elemen kejutan (plot twist).

Dapat dilihat contohnya dalam Halis Pasir, banyak cerpen beliau dalam buku tersebut yang mengandung unsur kejutan. 

Setiap unsur dalam cerita harus ada alasannya.

Ini pun dapat dilihat contohnya dalam cerpen-cerpen di Halis Pasir. Dalam cerpen pertama yang sekaligus menjadi judul buku tersebut, "Halis Pasir", diceritakan mengenai seorang ibu yang bungkuk. Ibu tersebut bungkuk bukan asal bungkuk, melainkan akibat dari pekerjaannya membuat batu bata; pekerjaan itu pun punya peran yang kuat dalam menentukan jalan cerita. Dalam "Diantos di Sarayevo", tokoh utama bertemu dengan sesosok "hantu". Namun, hantu itu sebetulnya halusinasi belaka, yang kerap dialami orang dari iklim tropis kala pergi ke tempat dengan iklim ekstrem (dalam cerita ini adalah orang Sunda yang sedang ada hajat ke negara Eropa bersalju). 

Mahasiswa bertanya kepada Abah.
Gunakan kata arkais.

Contohnya, dalam cerpen "Incok", terdapat kata "enggah" yang jadi pertanyaan salah satu peserta yang notabene mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Sunda. Kata ini digunakan oleh kalangan menak untuk menyebut "kakek". Kata ini sudah tidak digunakan karena sejak zaman Revolusi sudah tidak ada kaum menak (kurang lebih begitulah yang saya tangkap). Sisi positif dari penggunaan kata arkais adalah untuk menunjukkan dan melestarikan kekayaan bahasa. Pembaca yang berdedikasi akan menelusuri arti kata yang sebetulnya kuno tapi terasa baru itu untuk menambah perbendaharaannya; apalagi kalau ia sekaligus penulis yang berdedikasi, mungkin akan tergerak untuk menggunakan juga kata tersebut dalam karangannya sendiri.

Dalam mengarang tidak harus menggunakan pengalaman pribadi, tapi lebih mengandalkan pengalaman batin.

Yang dimaksud dengan pengalaman batin sepertinya adalah imajinasi. Pengarang tidak harus mengalami sendiri yang ia tuliskan dalam cerpennya. Maka untuk bisa mengarang imajinasi harus kuat dan kaya, yang itulah problem saya sekarang sehingga susah mengarang fiksi lagi XD Ketika imajinasi tidak lagi muncul secara intuitif, bagaimana memulihkannya? Saya mendengar Abah Tiarsa memberi masukan agar terus membaca dan tidak berhenti menulis. Abah Tiarsa sendiri semasa mudanya giat membaca, menjadi anggota berbagai perpustakaan termasuk perpustakaan keliling. Pekerjaannya sebagai wartawan pun menuntut beliau untuk selalu menulis. Malah sejak kelas 4 SD (tahun 1950-an) beliau sudah menjadi "wartawan" dengan melaporkan suatu peristiwa di tempat tinggalnya (tepatnya, kedatangan pengungsi dari Tasikmalaya ke Kebon Kawung) dalam kartu pos ke Pikiran Rakyat, yang setelah itu menurunkan wartawannya sendiri untuk meliput secara langsung. Buku Basa Bandung Halimunan pun dikatakannya bukan merupakan kumpulan esai atau autobiografi, melainkan suatu karya jurnalistik. 

Tidak ada kata ketuaan.

Ini bukan masukan langsung dari Abah Tiarsa, melainkan saya tarik sendiri dari beberapa cerpennya yang dalam buku Halis Pasir bertanda "2007". Jika beliau lahir pada 1943 (yang sebetulnya 1942, ungkap beliau), itu berarti cerpen-cerpen tersebut ditulis ketika beliau sudah berusia 60-an tahun. Enam puluhan tahun dan imajinasi masih mengalir, bagaimana dengan yang usianya baru sekitar separuh usia Abah Tiarsa waktu itu? XD

(Catatan untuk diri sendiri: Untuk membaca, alhamdulillah sudah bertahun-tahun cukup intens dan konsisten dijalankan; insya Allah ingin dipertahankan sampai akhir hayat. Untuk menulis, mengingat pengalaman selama ini, sepertinya tidak cukup dengan catatan harian, ulasan, dan terjemahan tapi perlu ada sesi khusus membangkitkan imajinasi alias menulis yang semata khayalan yang tidak terputus-putus. Ada olah raga, ada pula olah imajinasi. Olah raga yang terputus-putus kurang efektif, begitu pula dengan olah imajinasi. Stay creative!)

Kamis, 23 November 2023

Jiwa Bahari dan Jiwa Pelaut

Kalau kita telusuri nama "Moerwanto" di Ipusnas, akan keluar 5 judul buku. Empat di antaranya mungkin boleh dianggap sebagai satu serial, yang judulnya sama-sama diawali dengan "Jiwa"--The Jiwa Series. Melihat tahun cetakan pertama dan akhir cerita, urutannya kira-kira begini:
  1. Jiwa Bahari, cetakan 1, 1985, 66 halaman,
  2. Jiwa Patriot: Pertempuran Lima Hari di Semarang, cetakan 1, 1992, 130 halaman,
  3. Jiwa Pejuang: Para Pelaut Remaja Membentuk Armada, cetakan 1, 1992, 126 halaman,
  4. Jiwa Pelaut, cetakan 1, 1995, 130 halaman.
Gambar screenshot dari Instagram.
Yang dikupas di Klub Buku Laswi pada 22 November 2023 hanya dua buku, yang pertama dan terakhir, yaitu Jiwa Bahari dan Jiwa Pelaut. Buku-buku ini berisikan kenang-kenangan Anto (nama kecil penulis) kala menjadi pelaut remaja pada masa seputaran proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, mulai dari masuknya Jepang sampai mempertahankan kemerdekaan dari Belanda. 

Dalam Jiwa Bahari, cerita dimulai dengan peristiwa penyerahan kekuasaan dari Belanda ke Jepang. Jepang kemudian mendirikan sekolah-sekolah yang mendidik pemuda untuk membantu angkatan perangnya, di antaranya adalah sekolah pelayaran yang terdiri dari Sekolah Pelayaran Rendah (SPR) dan Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT). Siswa SPR berasal dari lulusan Sekolah Dasar. Di SPT ada dua jurusan, yaitu Bagian Dek untuk mendidik calon mualim, serta Bagian Mesin untuk mendidik calon ahli mesin kapal. Siswa Bagian Dek berasal dari lulusan SMP atau MULO (sekolah menengah pada zaman Belanda), sedang Bagian Mesin kebanyakan dari Ambachtschool yaitu sekolah pertukangan pada zaman Belanda. Lama belajarnya hanya 6 bulan karena tuntutan kebutuhan pada masa perang (halaman 8). Sekolah Pelayaran ini rupanya cikal-bakal Angkatan Laut Republik Indonesia, lulusannya banyak yang menjadi tokoh sebut saja Laksamana Martadinata, Letnan Jenderal Marinir Ali Sadikin, Laksamana Sudomo, Letnan Kolonel Slamet Riyadi (kemudian Brigjen Anumerta), dan Yos Sudarso (halaman 9).

Anto sendiri masuk ke SPT. Dalam Jiwa Bahari, masa pendidikannya kira-kira hanya 2 bab sedang selebihnya ia berikut siswa-siswa lainnya langsung diterjunkan ke lapangan--maksudnya, ke lautan--menggunakan kapal kayu sederhana dengan mesin yang juga sederhana menghadapi kapal selam canggih milik musuh Jepang. Selama itu, terdapat kisah-kisah lucu (misalnya ketika mengakali sensei Jepang yang lagi mabuk) dan kisah-kisah tragis (ada di antara rekan mereka yang tewas). Pada akhirnya, para remaja ini menyadari posisi mereka; pekerjaan ini mengorbankan nyawa dan mereka melakukannya pun untuk bangsa lain yang sedang menjajah. Memang sedari awal cerita sudah ditampakkan keengganan tokoh utama dan kawan-kawannya dalam mengikuti aturan Jepang yang sangat keras dan main kasar. Maka terjadilah rapat sembunyi-sembunyi yang berujung pada aksi "pemberontakan" berupa sabotase kapal supaya tidak bisa jalan. Namun ketika pihak Jepang mulai curiga akan adanya sabotase itu dan para awak kapal terutama ahli mesin selalu dibayangi ketakutan, keburu bom atom meledak di Hiroshima dan Nagasaki sehingga mengakhiri perang. 

Entah apa saja yang terjadi dalam Jiwa Patriot dan Jiwa Pejuang, loncat dulu ke Jiwa Pelaut. Dalam buku ini, cerita terjadi pada awal 1946 ketika Indonesia belum lama merdeka. Anto dkk mendapat misi mengantarkan anak-anak Ambon petugas khusus didikan Badan Rahasia Negara (halaman 33) dalam dua buah kapal yang dinamai "Semeru" dan "Sindoro". Kapal ini masih kapal kayu yang sebelumnya dimiliki tentara Jepang, dengan keadaan mesin yang memprihatinkan. Dalam buku ini kembali Anto menunjukkan kecerdikannya yaitu menggunakan ganjalan kayu untuk mengatasi suatu masalah mesin.

Dalam menceritakan perjalanan ini berikut tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa-peristiwa di dalamnya, Jiwa Pelaut menggunakan diorama di Museum Satria Mandala (dulunya Wisma Yaso yang ditempati Bung Karno) sebagai suatu bingkai. Cerita ini seperti hendak mengklarifikasi diorama tersebut, misalnya dengan menerangkan adanya tokoh-tokoh yang juga memiliki peran penting tetapi namanya tidak turut diangkat. Maka buku ini merupakan tribute terhadap para pahlawan yang tak tercatat itu. 

Dalam pembahasan di Klub Buku Laswi, Kang Deni selaku pemantik membuat perbandingan bacaan anak antara dulu dan sekarang dari aspek penulis, tampilan, dan konten. Yang dimaksud dengan dulu ialah masa ketika buku-buku ini diterbitkan pertama kali, sekitar 20-30 tahun lalu. Dari aspek penulis, bacaan anak dulu ditulis oleh orang dewasa sehingga bisa jadi cenderung menggurui sedangkan bacaan anak sekarang ditulis oleh anak-anak sendiri sehingga pastinya lebih mewakili perspektif anak-anak. Dari aspek tampilan, bacaan anak sekarang jelas tampak lebih menarik dengan banyak gambar yang berwarna-warni sedangkan bacaan anak dulu hampir-hampir teks melulu yang sesekali saja disisipi gambar hitam-putih ala kadarnya. Dari aspek konten, bacaan anak dulu pun sepertinya belum mengenal "sensor" yang ketat; mungkin karena ditulis orang dewasa maka sesekali terselip adegan "dewasa" contohnya dalam Jiwa Bahari dan Jiwa Pelaut ini beberapa kali disebutkan adanya tokoh remaja yang mabuk oleh minuman keras juga ada yang merokok kretek. 

Saya sendiri ketika membaca buku-buku ini dalam usia yang tidak boleh disebut anak remaja lagi merasakannya sebagai bacaan yang cukup memusingkan. Alur ceritanya kurang lancar saya ikuti. Nama tokoh-tokoh beserta detail-detail sejarah dan mesin kapal seperti diserakkan penulis begitu saja sembari bercerita, seakan-akan tanpa perhatian bahwa pembaca (apalagi usia anak remaja!) mungkin belum memiliki banyak wawasan sejarah khususnya kemaritiman apalagi soal permesinan.

Untuk tokoh, tidak memungkiri bahwa dalam membaca buku-buku ini membekas kesan beberapa di antaranya. Sebut saja Mursid yang suka bolos jaga mesin dengan alasan mabuk laut, Yos Sudarso yang walau Katolik kerap mengingatkan salat, Anna Luhukay yang satu-satunya perempuan di kapal, lalu ada yang tidak pernah lepas dari kretek dan ada pula yang keturunan Tiongkok, tidak lupa Anto yang cerdik, suka membaca, dan ingin jadi pengarang kelak, dan lain-lainnya. Belum lagi karena tokoh utama dkk pada dasarnya masih remaja adakalanya mereka bertingkah slengean, suka saling mengejek bahkan beberapa suka mangkir tugas. Namun kesan-kesan itu tertangkap secara acak, seiring dengan mengalirnya cerita saja alih-alih melalui perkenalan yang rapi perlahan-lahan.

Mengingat para tokoh yang hampir semuanya lelaki berikut adanya adegan-adegan "dewasa", sepertinya bacaan ini lebih tepat bagi remaja pria atau laki-laki muda yang mulai beranjak dewasa. Terlebih kalau mereka punya minat khusus terhadap sejarah, mesin, kapal, perang, dan sebagainya. Karena sebagai bacaan relatif berat oleh detail-detail yang cenderung segmented itulah, untuk menjangkau khalayak yang lebih luas, saya setuju andaikan saja buku ini dialihwahanakan, misalnya sebagai film, yang lebih mengedepankan alur, misi, petualangan, pengembangan karakter, diselipi kejadian-kejadian jenaka maupun tragis.

Minggu, 19 November 2023

Mengenal Rumphius di Jante

Gambar screenshot dari Instagram.
Baru pada H-2 saya mengetahui telah terbit terjemahan buku Rumphius oleh Komunitas Bambu yang harganya hampir 800K, dan akan diperbincangkan di Kedai Jante. Bukannya saya tahu benar tentang Rumphius, sebetulnya hanya samar-samar dari bacaan sana-sini bahwa ia seorang penulis alam di suatu kawasan nusantara berabad-abad silam yang mengalami berkali-kali tragedi dalam hidupnya seperti kebutaan dan kebakaran. Samar-samar wawasan itu kiranya saya dapatkan dari buku Kepulauan Nusantara Alfred Russel Wallace yang juga diterbitkan oleh Komunitas Bambu (yang saya sudah baca tapi terhenti dan itu sudah bertahun-tahun lalu entah kapan akan lanjut mungkin bakal mengulang dari awal :v). Rumphius menarik karena saya ada sedikit ketertarikan sama alam; kebetulan pula baru menamatkan Priangan Andries de Wilde. Kalau de Wilde menulis tentang alam Priangan, maka Rumphius mengenai Ambon. Ingin saja meraup khazanah alam nusantara sebelum negara api datang menyerang. Tapi, aduh, harga buku Rumphius itu bisa untuk memberi makan kucing-kucing kelaparan di sekitar rumah selama beberapa bulan, atau menabung 1 batang emas Antam 0,5 gram dan sisanya untuk pecahan yang lebih mungil dari Galeri 24 :')

Karena penasaran, setidaknya datang dahulu ke acara bincang-bincangnya untuk mendapat gambaran mengenai buku itu. Acaranya pada Jumat, 18 November 2023, dari jam 16.00 sampai sekitar magrib WIB. Pembicara utama adalah Pak T. Bachtiar dan Pak JJ Rizal. Pak Bachtiar saya baru "kenal" dari bukunya, Menjelajah Taman Nasional Ujung Kulon, sedangkan Pak Rizal yang punya Komunitas Bambu.

Gambar dokumentasi Nurul Maria Sisilia.

Sebelum menyoal buku, Pak Bachtiar mengantar dengan membagikan pengalamannya pada 2016 ketika melawat ke Ambon khususnya ke tempat-tempat yang berhubungan dengan Rumphius. Ada foto-foto pemandangan yang sangat cerah sekali. Nantinya beliau bilang bahwa di Indonesia belahan timur sana pada jam-jam tertentu (kalau tidak salah, sekitar siang sampai sore) sinar mataharinya sangat baik menampakkan pemandangan alam yang indah. Beliau juga menerangkan bahwa pembentukan alam di Indonesia timur lebih rumit makanya hasilnya "aneh-aneh", lautnya pun dalam-dalam. Dari pemaparan beliau, saya menangkap bahwa Rumphius bukan hanya menulis tentang flora dan fauna tetapi juga bencana alam yang pernah terjadi seperti gempa dan tsunami. Tulisannya itu mengandung informasi yang dapat dikembangkan untuk mitigasi, agar kelak tidak kaget ketika terjadi lagi lazimnya suatu siklus. Dari Rumphius kita dapat belajar pentingnya mencatat; ia teladan dalam menuliskan kebanggaan alam dan budaya. Tak luput Pak Bachtiar menampilkan serangkaian tragedi yang menimpa Rumphius dalam usahanya itu (disalin dari slide beliau dengan sedikit penyesuaian):

  • Naskah bukunya dicekal untuk terbit oleh VOC karena memuat hal yang dipandang dapat mempengaruhi persaingan dagang.
  • Kapal yang mengirim naskah bukunya ke Belanda ditenggelamkan Perancis pada 1692.
  • Kantong pemukiman orang Belanda terbakar sehingga menghanguskan semua catatan, naskah, dan gambar; ia pun mengulang pekerjaan menulis dan membuat gambar.
  • Terjadi gempa dan tsunami yang dahsyat yang merenggut nyawa istri dan putri bungsunya.
  • Pada usia 43 tahun, matanya terkena glaukoma sehingga pandangannya buram.
Pantaslah buku ini dibanderol begitu mahal, toh baik naskah maupun penulisnya telah mengalami banyak tragedi! 

Penampakan buku 
Rumphius terbitan 
Komunitas Bambu.
Gambar dokumentasi
Nurul Maria Sisilia.
Bagaimana dengan penerbitan buku ini sendiri khususnya untuk terjemahan bahasa Indonesia? Selanjutnya Pak Rizal menceritakan perburuannya mendapatkan buku Rumphius. Beliau mencari ke sana kemari, sampai mendatangi rumah tokoh-tokoh yang katanya punya buku tersebut, dan akhirnya menemukan edisi berbahasa Inggris di museum depan Kebun Raya Bogor sebelum kemudian membeli hak ciptanya. Rupanya buku terjemahan yang diterbitkan Komunitas Bambu ini tidak mencakup semua karya Rumphius karena kalau selengkapnya itu banyak sekali. Buku terjemahan ini saja sudah cukup besar dan tebal dengan harga yang kalau menurut kebanyakan orang "mahal". Kalau boleh saya bandingkan buku ini hampir-hampir seukuran dengan terjemahan The History of Java yang diterbitkan Narasi. 

Pak Rizal menambahkan hal lain yang patut diapresiasi dari Rumphius yaitu sangat menghargai "scientist" lokal. Mereka membantu Rumphius mencarikan bahan dan memberitahukan segala pengetahuan lokal untuk dicatatnya. Karyanya tidak akan jadi tanpa peranan masyarakat setempat, belum lagi orang-orang Belanda yang membantu membuatkan gambar. Rumphius juga punya jaringan yang sangat luas. Ia mengaku diri sebagai amatir dan menganggap kerja sunyi menuliskan sejarah alam ini suatu labour of love, tetapi cintanya ini didukung oleh banyak orang beragam bangsa. Makanya, terlepas dari berbagai tragedi yang menimpa, ia tak putus asa mengulang-ulang pembuatan karya ini. Walaupun berasal dari Jerman, bisa dikatakan ia cuma menumpang lahir di sana tetapi jiwanya anak Ambon. Sikap Rumphius ini tidak seperti naturalis lain contohnya yang disebut-sebut yaitu Junghuhn dan Wallace, yang katanya rasis terhadap pribumi sudah begitu mendukung tanam paksa.

Dalam acara ini saya perhatikan beberapa kali Pak Rizal "diolok" bahwa buku ini tak akan laku. Dilempar pertanyaan seperti, "Pernahkah memikirkan pengaruh nyata buku yang diterbitkan?' Kasarnya kurang lebih kayak: "Memangnya bakal ada yang baca?" Yang saya kagumi dari beliau adalah dengan tegasnya menyatakan, "Tidak memikirkan! Bukan urusan!" Beliau sudah kebal dengan usikan macam itu, termasuk soal pembajakan. Penerbit hanya memproduksi dan ide itu macam punya "kaki" sendiri, setelah dilepas biar saja berjalan-jalan entah ke mana menjadi apa. "Kalau memikirkan entar jadi putus asa. Realitanya bikin gila." Demikian saya kutip sepatah-sepatah dari beliau. Sikap "ikhlas" begini yang saya pribadi lagi berusaha miliki, relevan jika kita punya kebutuhan menulis; kegalauan bakal ada yang baca atau tidak itu tidaklah perlu. Apalagi bila ada cita-cita yang diperjuangkan, yang bagi Pak Rizal berupa kepentingan sains dan budaya.

Pak Rizal mengakui bahwa Komunitas Bambu punya reputasi menerbitkan buku tebal dan enggak laku. Salah satunya buku Kepulauan Nusantara yang katanya baru terjual habis dalam sepuluh tahun (memang itu buku sangat besar dan hard cover). Namun ada juga buku-buku terbitan Komunitas Bambu yang populer, laris (bajakannya), bahkan diadaptasi jadi suatu program, di antaranya Mustikarasa dan Sejarah Rempah. Beliau tidak pesimistis soal minat baca masyarakat, bahkan menemukan bahwa minat baca generasi muda sebetulnya tinggi; akses terhadap bacaan yang tidak selalu mudah. Pak Bachtiar pun di awal sempat mengungkit bahwa beliau melihat di toko buku anak muda membeli buku tebal sehingga optimistis pula soal minat baca masyarakat. Lagi pula ada sebagian masyarakat yang beli sepatu seharga jutaan saja mampu (belum lagi tiket konser dsb you name it), masak untuk pengetahuan yang "cuma" ratusan ribu sungkan? 

Kamis, 29 Juni 2023

Hiji Tanggal nu Dipasinikeun, dalam Pembahasan Klub Buku Laswi

Menyambung pembacaan Hiji Tanggal nu Dipasinikeun, buku ini telah dibahas di klub.

Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan
Klub Buku Laswi dapat dilihat di Instagram
biblioforum atau lawangbuku.

Pertemuan ini menjadi kesempatan untuk memperjelas hal-hal yang tidak jelas bagi saya ketika membaca sendiri kumpulan cerpen berbahasa Sunda tersebut, dengan menanyakan langsung kepada yang membahas.

Yang membahas, Erlangga, adalah mahasiswa jurusan Bahasa Sunda UPI. Ia tidak mengalami kendala bahasa dalam membaca kumpulan cerpen ini. Yang menjadi kendalanya hanyalah memahami logika pengarang cerpen yang kadang-kadang ajaib, misalkan ada serabut akar pohon yang dapat berbicara. Mengetahui itu, berarti saya sendiri mengalami dua kendala: 1) bahasa, 2) logika.

Dalam tulisan ini, saya akan mengangkat beberapa cerpen yang tadinya tidak jelas bagi saya tapi sekarang menjadi jelas atau sudah cukup jelas lalu menjadi makin jelas. Sayangnya, saya akan membocorkan jalan cerita karena untuk sambil dipikirkan maksudnya.

Katumbiri (Mangle, April 1959)

Dalam pembacaan saya sendiri, yang saya dapat tangkap dari cerita ini adalah mengenai kenangan akan masa kecil yang awalnya suci tetapi mulai berdosa sejak mengintip bidadari waktu turun mandi. Ia mengintip bidadari dengan maksud mencuri kainnya. Terpengaruh oleh dongeng yang diceritakan padanya, ia percaya bidadari bisa terbang dan dengan begitu ia bisa minta diambilkan layangan putus sebagai syarat mengembalikan kain. 

Karena pemahaman yang terbatas, saya kira ceritanya cuma itu. Ia merenungkan perbuatan itu yang dijadikannya rahasia, sedang yang ditampakkannya kepada orang lain yang baik-baik saja. (Bagian ini terasa menyindir perilaku manusia pada umumnya).

Setelah dijelaskan Erlangga, ternyata konsekuensi dari perbuatan si tokoh utama sangatlah serius. Yang dianggapnya sebagai bidadari sebenarnya merupakan manusia perempuan biasa yang lagi mandi di kali. Ketika ada banjir, teman-temannya segera beranjak dari kali. Namun perempuan itu tidak bisa pergi karena kebingungan mencari kain penutup tubuhnya. Akibatnya, ia pun keburu terbawa hanyut oleh air bah. 

Mengetahui ceritanya ternyata seperti itu, saya sendiri jadi terkejut. Bisa dibayangkan dampak kejiwaan yang dialami si tokoh utama setelah menyadari perbuatannya itu setelah ia dewasa. Bisa dikatakan, secara tidak langsung, ia telah menghilangkan nyawa orang sekalipun pada waktu itu ia masih kecil--belum mengerti bahwa perbuatannya dapat mengakibatkan konsekuensi tertentu bahkan fatal.

Kawung Ratu (Mangle, Mei 1963)

Secara keseluruhan, alur cerpen ini dapat saya tangkap. Namun ada beberapa hal yang terlewatkan oleh saya karena kendala bahasa itu. 

Yang pertama menyangkut kepercayaan. Sewaktu menanam kawung, orang mesti hafal melakukannya sambil menghadap ke mana dan arah tersebut mesti selalu jadi patokannya ketika merawat tumbuhan itu. Kemudian jimat yang diberikan menak kepada si Aki kemudian ia masukkan ke dalam batang kawungnya.

Yang kedua menyangkut latar cerita yang sempat menjadi topik di antara pembahas dan teman-temannya sesama mahasiswa Bahasa Sunda. Cerita ini diperkirakan terjadi dari sebelum sampai sesudah Kemerdekaan. Ketika ada menak yang meminta produk kawung Aki, kemungkinan peristiwa itu terjadi sebelum Kemerdekaan. Namun setelah Kemerdekaan, pemimpin Aki bukan cuma sang menak melainkan ada pula dari Desa. Ketika keduanya sama-sama meminta Aki melakukan hal yang berbeda pada kawungnya, ia menjadi bingung dan tidak bisa memutuskan mana yang harus dituruti sehingga memutuskan untuk menggantung diri saja.

Dari cerpen ini juga kita dapat mempelajari sebentuk kearifan lokal. Aki memperlakukan kawungnya sebagai bukan sekadar komoditas untuk dimanfaatkan, melainkan sebagai sesama makhluk yang juga patut dihargai.

Dehem (Mangle, Februari 1964)

Dalam pembacaan saya sendiri, yang saya tangkap cuma ada lelaki yang mau ke dukun beranak karena istrinya akan melahirkan sehingga ia harus melewati hutan bambu pakai obor. Tahu-tahu ada kekasihnya dahulu yang kini sudah jadi janda sehingga tebersit CLBK tetapi sepanjang jalan mereka cuma saling berdeham.

Rupanya dukun beranak itulah mantan kekasih si suami. Karena istrinya akan segera melahirkan, si lelaki mencari dukun beranak. Kebetulan dukun beranak yang ditemukannya itu adalah mantan kekasihnya. Ketika ia hendak mengantar pulang sang dukun, keduanya melewati hutan bambu yang dahulu menjadi tempat pacaran mereka sehingga teringatlah segala kenangan bersama tetapi hanya dapat mengutarakannya dengan berbalas deham ... =_=;

Kuncen (Wangsit, 1966)

Cerita ini dapat saya ikuti, tapi memang ada yang kurang jelas mengenai "kandil emas". 

Rupanya Aki Ja'i sang kuncen "menjual" kepercayaan mengenai berkat berupa "kandil emas". Saya kira triknya seperti undian berhadiah. Dengan pergi ke makam dan melakukan berbagai ritual, para peziarah seperti sedang mengajukan undian. Barangsiapa yang beruntung akan memenangkan lotre berupa "kandil emas" yang berarti kesuksesan hidup atau sebagainya.

Nu Pararegat (Mangle, 8 Januari 1976)

Cerpen ini sepertinya yang paling sulit dimengerti karena terkesan absurd, sureal. Cerita ini menampilkan serabut akar yang dapat berbicara, mau turun menembus tanah tapi tidak bisa karena tanahnya telah dilapisi. Kemudian ada orang yang saudaranya kekurangan darah sehingga mengajukan pinjaman uang kepada atasan tapi yang turun tidak seberapa. Akar berserabut lalu menangis dan ada kakek-kakek naik tangga mau bertemu dengan bapak "Duka Wastana" yang dalam bahasa Sunda berarti "tidak tahu namanya" tapi orang-orang lain menganggap bahwa memang itulah namanya. 

Dalam pembahasan, timbul kesimpulan bahwa cerpen ini merupakan satire simbolik yang menggambarkan jarak menyusahkan berupa birokrasi yang menjadi penghalang bagi bertemunya penguasa dengan bawahan. Pararegat sendiri berasal dari kata pegat yang artinya putus.

.

Usai Erlangga menyarikan isi sebagian besar cerpen dalam buku ini, satu topik yang otomatis menjadi pembahasan kami adalah mengenai kurangnya minat membaca Sastra Sunda. Yang asli keturunan Sunda saja belum tentu suka membaca. Kalaupun mau membaca, ada banyak kosakata yang tidak digunakan dalam percakapan sehari-sehari sehingga mesti rela sambil membuka kamus. Karena itulah, membaca karya berbahasa Sunda tampak kurang memiliki manfaat praktis di dunia nyata. 

Lain halnya dengan membaca karya berbahasa Inggris. Soalnya, memang bahasa Inggris menggempur di mana-mana. Konten-konten serba berbahasa Inggris, bahkan yang mestinya berbahasa Indonesia pun dicampur-adukkan dengan istilah-istilah berbahasa Inggris. Kalau ingin meluaskan pergaulan, meningkatkan karier, dan semacamnya, kemampuan berbahasa Inggris akan sangat bermanfaat. Bahasa Inggris dianggap lebih menjual, contoh saja: banyak novel yang judulnya bahasa Inggris tapi isinya bahasa Indonesia.

Rasanya mengherankan, mengetahui bahwa penyusun kamus bahasa Sunda yang pertama-tama justru orang Belanda. Mengapa bukan orang Sunda sendiri? Mengapa orang Belanda menganggap penting pengetahuan mengenai satu bahasa dari sekian banyak bahasa lain dari suku-suku yang ada di Nusantara? Apakah mereka melakukan hal yang sama terhadap bahasa-bahasa lainnya juga? Pembahasan akan terlalu melebar kalau begitu. 

Diduga, ada kepentingan ekonomi dan politik di balik minat mereka. Toh tanah Sunda sangatlah subur. Namun, mengapa masih ada rakyatnya yang miskin dan kelaparan? Rupanya banyak tanah yang dikuasai menak, dijadikan hutan yang terlarang untuk dimasuki sesiapa, sekadar untuk menjadi tempat hiburan yang eksklusif bagi mereka sendiri. Di sinilah timbul dilema. Jika hutan itu bebas dimanfaatkan oleh siapa saja, kemungkinan akan dibuka untuk dijadikan entah apa saja. Memang dengan begitu dapat menghidupi sekian banyak manusia, tapi bagaimana dengan keanekaragaman hayati di dalamnya? Bukankah mereka juga berhak hidup dan dihargai sebagaimana kawung si Aki? Bingung, tapi tak usahlah ikut gantung diri.

Memang tampaknya tak ada manfaat praktis dari membaca sastra Sunda, bahkan sastra pada umumnya mau dalam bahasa apa pun. Paling tidak, ada prinsip dulce et utile--kesenangan yang bermanfaat. Ada kesenangan dari menyimak sebuah cerita. Apalagi jika cerita tersebut menyembunyikan banyak hal, entahkah itu namanya "amanat", "makna", "simbol", "pesan moral", dan seterusnya, yang bagaikan permainan berburu harta karun bagi peminatnya. Apalagi jika ada di antara hal tersebut yang bisa dikaitkan dengan pengalaman sendiri, menjadi bahan perenungan diri. 

Memang kendala bahasa mengurangi keasyikan membaca. Namun, dengan pengetahuan bahasa yang sekadarnya itu, tetap ada "harta karun" yang dapat diambil. Paling tidak, kita bisa mempelajari cara yang digunakan pengarang untuk menyampaikan ide-idenya yang beragam itu. Ada cerpen-cerpen yang realis apa adanya saja menceritakan kenyataan seperti "Ngabeca" dan "Bi Empat". Ada cerpen-cerpen yang tampak mengandung amanat dalam hubungan suami istri atau kehidupan rumah tangga seperti "Hiji Tanggal nu Dipasinikeun" dan "Kawin Emasna Dahim". Ada cerpen-cerpen yang mengangkat kearifan lokal dan mistikisme seperti "Kawung Aki" dan "Kuncen". Ada cerpen-cerpen yang menggunakan twist---teknik untuk mengecoh pembaca--seperti "Halimun" dan "Aki Warung". Ada cerpen-cerpen yang menunjukkan caranya mengeksplorasi keresahan dalam suatu momen seperti "Dehem", "Cipanon", serta "Hiji Tanggal nu Dipasinikeun". Belum lagi yang absurd-surealis macam "Nu Pararegat", serta cerpen-cerpen lain yang dapat memantik renungan seputar berbagai hal sebagaimana yang sudah saya utarakan dalam catatan pembacaan sebelumnya.

Minggu, 08 Desember 2019

RIP CanoScan LiDE 20 dan Ihwal Perklipingan

Scanner ini sudah berada di rumah kami sejak sekitar 2010--mungkin saja lebih awal, saya tidak ingat pastinya. 2010 itu saya ingat benar karena terekam dalam blog ini, di balik label diari grafis. Rangkaian komik setrip itu mengungkapkan kegalauan saya yang waktu itu masih berkuliah di Yogyakarta sementara terjadi bencana erupsi Merapi. Idenya tidak datang sendiri, tapi karena pada waktu itu memang sedang ada suatu event semacam NaNoWriMo hanya saja untuk diari grafis dan rentangnya lebih singkat. Karena merasa pernah bisa menggambar, saya pun terpicu untuk mencoba bikin juga.

Di samping untuk keperluan pamer pemajangan hasil kreativitas, scanner terutama berguna untuk membuat salinan dokumen-dokumen penting. Misalnya saja, ketika mengikuti seleksi CPNS, peserta akan diminta mengunggah hasil pindai pasfoto, KTP, ijazah, transkrip nilai, surat lamaran, dan sebagainya. Hasil pindai dokumen-dokumen penting tersebut juga berguna sebagai cadangan, kalau-kalau yang asli rusak atau hilang (tapi mudah-mudahan jangan sampai, ya.)

Nah, kalau sedang tidak ada keperluan formal seperti itu, dan bukan pula orang yang keranjingan berkreasi secara visual, scanner pun menganggur.

Untung, di rumah ada koleksi majalah lawas, di antaranya Matra. Cerpen-cerpen Matra ditulis oleh pengarang-pengarang ternama, baik dari Indonesia maupun mancanegara. Sayang rasanya bila dinikmati sendiri saja, sehingga timbul inisiatif untuk memindainya dan menyimpannya di tempat yang bisa diakses oleh orang lain. (Walaupun, ternyata, untuk menyebarluaskan informasi ini memerlukan usaha lain.)

Ketika mengetahui bahwa situs Kliping Sastra Indonesia mengadakan segmen cerpen lawas, saya pun menawarkan diri untuk membagi koleksi ini. Saya bisa saja sekadar memberikan hasil pindai. Tapi, dipikir-pikir, tentu enggak enak apabila mesti mengetik ulang dari hasil pindai. Maka saya pun bersukarela untuk mengetikkan ulang cerpen dari media cetak ini, sedangkan hasil pindai yang dikirim cukup ilustrasinya saja. Kegiatan ini berlangsung selama bertahun-tahun, walaupun tidak teratur. Setelah koleksi Matra habis, pindahlah saya ke Femina, Bobo, dan sebagainya judul-judul majalah lawas yang ada.

Kemudian timbul ide untuk membuat media kliping sendiri.

Ibu saya yang guru Sejarah gemar mengkliping artikel sejarah dari media cetak, entahkah koran, majalah, atau tabloid. Map-map hasil klipingnya sudah ada banyak, menyimpan artikel-artikel dari tahun 1970-an sampai belakangan, dan diberi label menurut masa atau peristiwa, sebut saja "Sejarah Islam di Indonesia", "Zaman Jepang dan Proklamasi Kemerdekaan", "Perang Kemerdekaan", "Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan 1945-1949", "PKI & G30S", dan seterusnya. Hingga suatu kali saya mendengar ibu saya mengeluhkan kebiasaannya ini. "Capek-capek, enggak terbaca," begitu kira-kira.

Maka saya pun membuat blog yang isinya khusus kliping artikel sejarah dari media cetak. Di samping menyertakan hasil pindai artikel, saya juga mengetiknya ulang supaya lebih mudah diakses. Harapannya, barangkali ada yang sedang mencari informasi sejarah di internet lalu nyasar ke blog itu.

Belakangan terpikir untuk mengkliping tentang yang lain-lainnya juga. Kadang saya membuka koran atau majalah lawas yang tidak memuat cerpen, dan menemukan ada saja artikel menarik yang ingin saya "abadi"kan--barangkali akan ada yang menikmatinya juga. Satu lagi tema khusus yang menarik saya yaitu tentang ekonomi alternatif, khususnya cara-cara yang dapat dilakukan untuk menghemat uang atau energi dan dengan begitu berdampak baik bagi lingkungan serta masyarakat. Adapun topik-topik lainnya masih menyangkut literasi atau hal-hal yang bisa bikin saya relate.

Dengan begini, scanner pun termanfaatkan terus. Walaupun yang dipindai kadang hanya gambarnya saja, sedang teksnya saya ketik ulang. Karena waktu luang saya ada banyak dan kecepatan mengetik saya lumayan, maka saya menikmatinya saja sekalian meresapkan informasi yang ada di artikel.

Di luar hobi kliping, ketika saya aktif lagi di Goodreads, adakalanya saya membaca buku yang datanya belum ada di platform tersebut sehingga mesti saya tambahkan sendiri. Gambar kover buku bisa saja dicari di Google. Tapi adakalanya buku tersebut sudah lawas sehingga tidak ada gambar kovernya yang cukup layak di internet. Kalau gambar kovernya sekadar dipotret dengan kamera smartphone, tentu kualitasnya masih kalah dibandingkan dengan hasil pindai scanner.

Sayang, rupanya masa pakai scanner ini ada batasnya. Minggu sebelumnya, saya masih dapat menggunakannya untuk suatu keperluan formal. Senin kemarin, saya masih dapat memindai satu artikel sejarah. Rabu berikutnya, ketika saya hendak mengkliping lagi, scanner ini berbunyi aneh dan yang muncul di tampilan hanya warna putih saja--tidak ada gambarnya. Saya mencoba berkali-kali, hasilnya sama saja.

Saya pun mencari informasi tentang jam buka dan lokasi service center untuk produk Canon yang ada di kota saya. Terakhir kali saya datang ke sana--sekitar pertengahan 2010 untuk menanyakan harga servis kamera digital yang layarnya pecah--lokasinya masih di sekitar Jalan Lengkong Besar, kalau enggak salah. Sekarang rupanya kantor ini sudah pindah alamat ke Paskal Hyper Square.

Kamis siang itu, di kantor yang sepi, giliran saya pun tiba setelah tidak lama menunggu. Dengan ramah tapi terlalu cepat sehingga saya terbengong-bengong, mbak-mbak di balik konter menerangkan tentang bagian dalam mesin yang pada dasarnya hanya begini dan begitu.

Mbak-mbak itu membandingkan kondisi scanner yang saya bawa ini dengan kondisi scanner milik orang lain yang pernah dibawa ke situ. Kalau jarang dipakai, barang elektronik seperti scanner bisa berkarat, sedangkan yang saya bawa ini masih bagus dan memang tidak pernah ada masalah selama menggunakannya. Diam-diam saya merasa bangga dengan kegiatan mengkliping saya, hahaha. Eh, astagfirullah.

Lalu mbak-mbak itu mengatakan bahwa karena scanner ini diproduksi lebih dari tujuh tahun yang lalu, maka suku cadangnya sudah tidak tersedia. Satu-satunya solusi adalah dengan tukar tambah atau membeli yang baru.

Eh, gimana, gimana?

Tukar tambah berarti meninggalkan scanner lama di situ untuk selama-lamanya, dan membawa pulang yang baru dengan membayar Rp 800.000--pas.

Membeli yang baru berarti membawa pulang scanner lama untuk disimpan saja di rumah, berdebu, dan berkarat, selama waktu yang tidak ditentukan, dan membeli yang baru di tempat lain yang bisa saja harganya kurang dari Rp 800.000.

"Jadi memang sudah waktunya rusak, ya?"

Mbak-mbak itu terus saja tersenyum lebar dengan ramahnya.

Seketika saya jadi ingat sama istilah built-in obsolescence, yang pernah dibahas oleh Mark Boyle dalam bukunya, The Moneyless Manifesto. Mungkinkah ...?

Setelah saya menelepon yang empunya scanner (: yang dulu membelinya dengan harga sekitar Rp 200.000), diputuskan bahwa akan membeli yang baru saja. Scanner itu pun saya bawa pulang.

Sekarang, sampai ada scanner yang baru, sepertinya kegiatan mengkliping mesti vakum.

Berdebu dan berkaratlah dalam damai, CanoScan LiDE 20.

Sabtu, 07 Desember 2019

Mengaji Orang-orang Pinggiran: Bedah Buku Kumpulan Cerpen Lea Pamungkas di Gedung YPK Bandung

Gambar diambil dari Gramedia Digital.
Pada Kamis, 5 Desember 2019, di Ruang Seminar Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK) Bandung, Jalan Naripan 7-9, diadakan acara diskusi "Mengaji Orang-Orang Pinggiran". Orang-orang Pinggiran merupakan buku kumpulan cerpen karya jurnalis Lea Pamungkas yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama awal tahun ini. Di samping menghadirkan penulis, ada Ari Jogaiswara A. dan Hikmat Gumelar sebagai pembicara dan Topik Mulyana sebagai moderator, Muktimukti sebagai penampil pembuka, serta A Term Project dan Isa Perkasa sebagai penampil penutup. Acara yang diselenggarakan oleh Institut Nalar dan Institut Drawing Bandung ini berlangsung dari sekitar pukul 15.40 sampai 18.30 WIB.

Acara serupa sebelumnya telah diadakan di Universitas Leiden dan Universitas Padjajaran.

Acara di Gedung YPK ini dibuka dengan penampilan dari Muktimukti berupa musikalisasi salah satu cerpen dalam buku, diiringi dengan gitar.

Dari tempat saya duduk, kiri ke kanan: Kang Opik sebagai moderator,
Bu Lea sebagai penulis, Pak Ari sebagai pembicara pertama,
dan Pak Hikmat sebagai pembicara kedua.

Moderator kemudian mempersilakan tiap-tiap pembicara untuk memaparkan pembahasannya mengenai buku. Penulis sendiri baru angkat suara pada sesi berikutnya, yaitu untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan dari peserta.

Pembicara pertama yaitu Pak Ari Jogaiswara A, dosen Sastra Inggris Universitas Padjajaran. Beliau memulai dengan membahas judul, yang langsung menyatakan wacana yang hendak diangkat. "Orang-orang pinggiran" yang diangkat dalam buku ini pun mencakup berbagai isu, entahkah gender, ekonomi, sampai imigrasi. Beliau menerangkan bahwa kesusasteraan memang ruang bagi orang-orang pinggiran, sebab bidang-bidang lain pada tidak berkenan menerimanya. Tema yang lain dapat diangkat dalam berbagai bentuk ekspresi lainnya, katakanlah entertainment (mungkin yang dimaksud di sini adalah tentang sosok-sosok populer), tapi "sastra" selalu bicara tentang orang pinggiran.

Mengenai konten, cerpen-cerpen dalam buku ini walaupun ditulis dalam bahasa Indonesia tapi tidak selalu berbicara tentang keindonesiaan. Sebagian cerpen mengisahkan tentang orang-orang dari negara lain yang hidup di negara lain pula, semacam yang telah diinisiasi oleh Budi Darma dalam Orang-orang Bloomington dan Olenka. Karena keahlian Pak Ari Sastra Inggris, beliau membandingkankannya dengan tren yang ada di dunia Sastra Inggris sendiri, yaitu pergeseran dari Sastra Inggris ke Sastra Berbahasa Inggris. Maksudnya, Sastra Inggris tidak lagi hanya meliputi penulis-penulis dari Inggris Raya atau Amerika Serikat  yang menceritakan tentang kehidupan di tempat mereka, tapi juga mencakup penulis-penulis dari negara mana pun--katakanlah yang bekas koloni Inggris seperti India, Ghana, dan Jamaika--yang menulis dalam bahasa Inggris. Karena isi kumcer ini yang tidak melulu keindonesiaan, maka buku ini secara keseluruhan lebih tepat dikatakan sebagai Sastra Berbahasa Indonesia ketimbang Sastra Indonesia.

Nantinya, penulis menambahkan bahwa ketika buku ini dibahas di Universitas Leiden, ada juga profesor yang mempersoalkan hal serupa: apakah kumcer ini Sastra Indonesia atau Sastra Berbahasa Indonesia? Malah, di Belanda, telah berkembang suatu genre baru bernama Sastra Migran. Pengelompokkan sastra tidak lagi berdasarkan wilayah, tapi tema. Toh belakangan ini, sastra dalam bahasa mana pun tampaknya cenderung mengangkat tema-tema yang serupa, misalnya tentang kehidupan di kota besar, radikalisme, lingkungan hidup, dan sebagainya. Sastra tidak lagi punya batasan.

Pak Ari lalu membahas tentang penulis, yang lebih produktif sebagai jurnalis ketimbang pengarang fiksi. Cerpen-cerpen ini ditulis dalam rentang 1994-2019, dengan jeda-jeda yang lumayan lama antar tiap karya berikut latar yang berbeda-beda. Maka penulis baru menuliskan ceritanya ketika sudah siap, atau saat kata-katanya telah hadir. Gagasannya tidak keluar begitu saja, isinya tidak latah, tapi diperam terlebih dahulu. Memang itulah bedanya antara jurnalistik dan sastra. Karya jurnalistik mesti ditulis sesegera mungkin setelah peristiwanya terjadi, adapun sastra memerlukan perenungan serta diperbincangkan atau didialogkan dengan gagasan-gagasan lain terlebih dahulu.

Dalam suatu kumpulan cerita yang ditulis satu orang, tidak terhindarkan ada pola. Tapi karena cerpen-cerpen dalam buku ini ditulis dalam rentang-rentang yang cukup panjang, maka ada keragaman "musikalitas bahasa". (Saya beri tanda kutip karena enggak begitu mengerti maksudnya, hahaha. Ampun, pak dosen ) Beliau mengumpamakan gaya bahasa dalam kumcer ini seperti belahan rok yang sedikit-sedikit menyingkap, sedikit-sedikit menutup, lain dari pornografi yang serba buka-bukaan (dan para peserta pun pada tertawa). Tampak juga kedewasaan penulis, alias tidak ada kecenderungan narsistik sebagaimana yang melanda penulis-penulis muda ....

Ada satu cerpen dalam buku ini, "Anak Kami Si Pelaku", yang dari judulnya saja kita sudah dapat mengira-ngira isi cerita. Judul cerpen ini rupanya mirip dengan judul cerpen seorang penulis Iran, yang mirip dengan judul cerpen seorang penulis Yahudi AS. Beliau menamakan model ini sebagai cerpen estafet: bagaimana satu cerpen terinspirasi oleh cerpen lain dan cerpen-cerpen serupa akan terus tercipta selama permasalahannya masih ada. Kalau boleh dikaitkan, mungkin ini agak-agak seperti cerpen "Referential" Lorrie Moore (terjemahan Indonesia) yang menyerupai cerpen "Symbols and Signs" Vladimir Nabokov--setidaknya ini satu contoh semacam yang pernah saya temukan sendiri.

Selain itu, Pak Ari juga menerangkan bahwa karya fiksi bergerak dari dua modus, yaitu "melihat" serta "bertutur". (Di sini, lagi-lagi saya enggak mengerti.)

Bagaimanapun, penulis punya kemampuan untuk melihat yang jauh secara dekat. Secara keseluruhan, buku ini "empowering".

Selanjutnya, Pak Hikmat Gumelar membuka gilirannya dengan mengangkat soal perspektif poskolonial. Kalau boleh saya jabarkan sedikit dari yang saya tangkap di sini (yang bercampur dengan sedikit pengetahuan saya sendiri), agaknya tentang bagaimana kita selaku pembaca Indonesia--yang notabene negara bekas jajahan--melihat Eropa secara tinggi. Padahal di Eropa sendiri, secara keseluruhan, ada pula masyarakat yang terpinggirkan--katakanlah mereka yang berasal dari Eropa Timur. Maka kumcer ini menunjukkan suatu perspektif unik mengenai Eropa.

Oke, mungkin bukan itu yang Pak Hikmat maksudkan.

Pak Hikmat juga mengutarakan tentang kekhasan bentuk cerpen, yang acap kali dilecehkan sebagai sekadar ringkasan novel atau latihan menulis novel. Padahal cerpen itu juga suatu penghormatan terhadap kemanusiaan dengan formulanya yang "mulai dari tengah, akhiri dari tengah". Mungkin, maksudnya, kalau dibandingkan dengan roman atau novel yang cenderung mencakup rentang waktu yang lebih panjang atau sangat panjang (dari lahir sampai mati) dalam kehidupan tokoh-tokohnya, cerpen hanya mengambil peristiwa yang penting-penting saja--yang terjadi di sela-sela atau tengah-tengah sepanjang kehidupan seorang manusia.

Betul enggak sih, Pak? #keplak

(Nantinya, Pak Ari menambahkan sedikit soal cerpen yang rupanya berusia lebih muda daripada novel. Padahal novel saja sudah "novel"--dalam bahasa Inggris berarti "baru". Mungkin, karena perkembangan zaman, maka orang semakin sedikit atau malah tidak punya waktu untuk membaca sehingga bentuk narasi semakin singkat saja. Bahkan sepertinya sekarang pun cerpen sudah ketinggalan zaman. Terimalah kenyataan, wahai para penulis.)

Beliau juga menyebutkan tentang pandangan seorang sastrawan dunia ternama asal Tiongkok, Gao Xingjian, tentang seni fiksi yang memerlukan ketekunan menyimak hidup. Kemampuan ini merupakan kendaraan penulis fiksi dalam menemukan suara kemanusiaan.

Atau kira-kira begitulah.

Beliau juga menyinggung tentang Elena Ferrante yang tidak mau mengungkap identitas aslinya, sebab menurutnya, penulis tidaklah penting--seolah-olah biarlah karyanya saja yang sudah cukup berbicara. Penulis Italia ini juga dikenal sulit memberikan izin untuk mengadaptasi karyanya ke layar, hingga belakangan HBO berhasil mendapatkannya. Sepertinya, ia tidak mau karyanya sekadar jadi "film", tapi mesti dapat menangkap "musikalitas" atau apa dari karyanya, aduh saya pusing, sepertinya Elena Ferrante penulis militan yang tahu benar tentang sastra--sebaiknya saya coba baca karya-karyanya suatu saat biarpun hanya dalam terjemahan bahasa Inggris.

Orang-orang pinggiran adalah radar perubahan sosial.

Pak Hikmat menyimpulkan bahwa secara keseluruhan buku yang berisi sepuluh cerpen ini merupakan "kitab kecil yang bermakna besar".

Kemudian, dibukalah sesi tanya jawab. Seperti biasa, tiga penanya diberikan kesempatan.

Penanya pertama memberikan pendapatnya mengenai kumpulan cerpen ini. Yang saya tangkap: kita semua adalah orang-orang pinggiran.

(Ya, dan enggak semua dari orang-orang pinggiran ini mendapat tempat dalam sastra, bukan? Boleh jadi, sastra pun pada akhirnya memilih "orang-orang tertentu" saja--sama eksklusifnya seperti dalam bidang-bidang lain, eh, kok jadi sinis sih?!)

Penanya kedua menanyakan hal teknis: 1) Urutan cerpen dalam buku berdasarkan apa?; 2) Siapa yang menentukan judul dan kenapa diberi judul begitu?

Yang nantinya dijawab oleh penulis: 1) Berdasarkan pada waktu cerpen diterbitkan atau diciptakan. (Cerpen-cerpen ini sebelumnya sudah pada pernah dimuat di Kompas.); 2) Ditentukan oleh penulis sendiri berdasarkan pada substansi umum cerpen-cerpennya.

Penanya ketiga memberikan tanggapannya akan salah satu cerpen, yang menurutnya menunjukkan kemampuan untuk dapat membalut peristiwa yang sangat emosional sehingga menjadi tidak terasa emosional.

Dalam sesi ini pun penulis mendapat kesempatan untuk berbicara banyak, walaupun tidak panjang lebar. Setelah mendengarkan berbagai tanggapan atas karyanya, beliau mengungkapkan betapa ada hal-hal yang disembunyikan atau bahkan tidak disadari oleh dirinya sendiri yang dapat terlihat oleh orang lain.

Beliau juga menceritakan sedikit tentang proses kreatifnya, misalkan untuk cerpen "Anjing yang Meleleh di Ingatan Sotera". Cerpen ini menceritakan tentang seorang anak perempuan yang ayahnya mengalami gangguan jiwa setelah menjadi korban peristiwa Chernobyl. Ada ketakutan bahwa dirinya juga akan menjadi gila, tapi perasaan itu tidak tampak. Kisah hidupnya ia ceritakan dengan wajah yang datar saja. Penulis menghubungkannya dengan perilaku keseharian kita sendiri--manusia pada umumnya--dalam bermedia sosial. Di balik emotikon-emotikon nan ekspresif, ada wajah datar dan kita bisa memutuskan pembicaraan dengan siapa saja kapan saja kita mau.

Masih ada beberapa peserta lainnya yang angkat tangan, meminta kesempatan untuk memberikan pertanyaan atau pendapat. Tapi, sayang, waktu terbatas.

Acara diskusi pun ditutup, tapi rupanya masih ada pertunjukan-pertunjukan lainnya. Kedua pertunjukan ini sama-sama mengambil inspirasi dari kumcer.

Pertunjukan pertama dibawakan oleh kelompok teater Pak Ari, dibuka dengan seorang pemuda duduk menyanyikan lagu "Stay" dari U2 diiringi petikan gitar. Pada layar di belakangnya pun terpampang video yang menampakkan wajah seorang perempuan yang lalu bermonolog. Itulah yang unik dari pertunjukan ini. Penggunaan media video call menunjukkan adanya jarak antara yang dilihat dan melihat, seperti yang terkesan dari cerpen yang diangkat, yaitu "Setengah Hari Hidup Dita". Dita bekerja sebagai pembersih hotel di Belanda. Tiap hari ia membersihkan sampah-sampah yang ditinggalkan oleh para tamu di kamar. Dari sampah-sampah itu ia dapat "melihat" kehidupan tiap-tiap tamu. Tapi tamu-tamu itu sendiri tidak dapat melihat dia. Oh, ya, Dita juga suicidal.

Ada kutipan yang menarik: "Kuat enggak kuat, sama aja."

Pertunjukan terakhir merupakan kolaborasi antara Pak Hikmat  dan Pak Isa Perkasa. Di latar ditaruh lukisan besar yang menampakkan seraut wajah. Sementara Pak Hikmat membacakan cerpen pilihannya dari buku penulis, Pak Isa menambahkan warna-warna pada lukisan itu: merah, biru, hijau, dan seterusnya.

Pembacaan cerpen diiringi pencoret-coretan lukisan.

Sementara itu, di luar turun hujan deras.

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain