Ruang
Senin, 18 Mei 2026
Catatan Diskusi Buku Hernadi Tanzil
Minggu, 14 Desember 2025
Menulis Secara Populer
"... orang yang belajar menulis itu memang harus rela dipermalukan. Tidak ada jalan lain." (halaman 6)
Selasa, 13 Februari 2024
Ihwal Perklipingan (2)
![]() |
| Gambar dari Instagram. |
Workshop kliping kemarin menunjukkan bahwa mengkliping secara digital rupanya tidak sesederhana itu, mengkliping ternyata dapat dilakukan secara profesional, dan mengkliping memang memiliki arti penting.
Workshop ini menunjukkan hal-hal teknis, langkah-langkah yang dilakukan untuk mengkliping secara digital. Halaman yang mau dikliping di-scan lalu di-crop dan diberi nama. Dalam penamaan, yang pasti harus ada tanggal, bulan, dan tahun. Nomor halaman diperlukan bagi yang mau membuat tulisan ilmiah. Tentukan kategorinya. Lalu, buat metadata yang isinya di samping data artikel juga paragraf yang berupa intisari artikel mengandung kata-kata kunci agar kelak mudah dicari ketika dibutuhkan.
Secara sederhana, ini dapat dilakukan dengan mengandalkan HP sebagai pengganti gunting dan scanner. Demikianlah yang dilakukan para peserta kemarin.
Pekerjaan ini dapat melatih cara berpikir supaya rapi dan sistematis. Pekerjaan ini juga memerlukan stamina fisik sehingga mengimbanginya dengan olahraga itu penting.
Gus Muh sendiri, alias Muhidin M. Dahlan selaku pengampu workshop, mengerjakan kliping secara profesional, melakukannya seharian setiap hari, dan menjadikannya usaha komersial di antaranya berupa warungarsip.co.
Artikel-artikel yang diklipingnya, yang berhubungan dengan tema acara selanjutnya, ada pula yang dipamerkan kala itu, dicetak pada kertas-kertas panjang yang berjuntaian mengitari ruangan. Di antara kertas panjang itu ada yang menyatakan fungsi dari kliping: "merawat ingatan, memperdalam pemahaman tentang hal-hal lampau, agar hari ini tidak mengalami amnesia".
![]() |
| Gambar dari Instagram. |
Sebetulnya, dalam acara ini tersirat suatu maksud sehubungan dengan agenda politik yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Malah judul dari workshop kliping itu sendiri adalah: "Kliping sebagai Kerja Politik di Zaman Digital". Demikian acara ini memberikan konteks khusus akan guna dari kliping, yaitu memulihkan ingatan masyarakat akan sesuatu hal yang imbasnya dapat membantu mereka membuat keputusan yang akan menentukan masa depan bangsa (ih, dahshiaaat~). Cara efisien dalam pendokumentasian sebagaimana ditunjukkan Gus Muh dalam workshop di muka adalah untuk memudahkan dalam memanggil artikel-artikel terkait jika sewaktu-waktu diperlukan dalam momen seperti ini. Dengan begitu, kliping adalah kerja untuk kepentingan publik.
Walau demikian, yang menjadi inspirasi Gus Muh justru kerja individual sebagaimana dilakukan oleh Pramoedya Ananta Toer (selanjutnya Pram). Gus Muh membuka workshop dengan menceritakan kegiatan mengkliping Pram, terutama selama menjadi tahanan rumah. Pram sang "pendekar gunting" tiap hari membeli 6 surat kabar. Namun, yang diklipingnya hanya 2 tema: desa dan dirinya sendiri. Hasil mengkliping selama 30 tahun itu disusun dalam jilid-jilid berukuran A5 bersampul oranye yang seluruhnya mencapai 17 meter (Gus Muh mengukurnya sendiri pakai penggaris 30 cm). Sepintas, pekerjaan ini tampak untuk kepentingan pribadi (kalaupun ada Pusat Dokumentasi Arsip Pramoedya Ananta Toer atau semacamnya, saya belum dengar sebagaimana halnya dengan Pusat Dokumentasi Sastra H. B. Jassin yang kerap diberitakan itu). Namun, sepertinya ini juga yang menyokong Pram sehingga dapat menghasilkan karya-karya sastra yang begitu berharga. Ujungnya untuk khalayak juga.
Mengkliping sebagaimana yang dilakukan Gus Muh adalah usaha mengumpulkan dan merapikan informasi, menyediakannya kepada siapa saja yang berkepentingan untuk mengolahnya. Seiring dengan kemajuan zaman dan pengarsipan yang makin baik ini, penulis sekarang mesti berhadapan dengan makin banyak data, sehingga makin dituntut untuk memiliki daya analitis yang makin tinggi pula sembari menghadirkan kebaruan--kerja yang makin pelik. Di kubu lain, orang makin tak peduli, makin tak membaca, makin tak beraturan, terhanyut dalam cara pikir yang makin-instan/mau-cepat saja; atau, kalaupun masih ada kepedulian, keinginan, kurang ada keleluasaan untuk melakukannya secara berkelanjutan. Di antara dua kubu itu, ada pula yang berusaha agar aktivitas membaca dan menulis senantiasa tertahankan meskipun ....
Minggu, 14 Januari 2024
Meresensi Buku dari Masa ke Masa
![]() |
| Gambar screenshot dari Instagram. |
Minggu, 31 Desember 2023
Catatan Pembacaan 2023
Membandingkan dengan tahun sebelumnya, pada tahun ini ada
peningkatan. Dari 79 buku, 3 majalah, dan 1 skripsi atau taruhlah 83 jadi 86.
Jumlah ini termasuk majalah (cuma 3 biji) dan draf tulisan sendiri (catatan
harian dan novel). Di Goodreads ada 45 buku, selebihnya di blog
ini dan blog satunya (khusus majalah dan draf fiksi karangan sendiri). Ketika mulai merekap, tak terduga ternyata jumlahnya sudah sebanyak itu. Soalnya, sebagaimana yang dikeluhkan
di catatan pembacaan tahun sebelumnya, saya merasakan stamina baca sudah turun. Saya sudah tak kuat
membaca 1 buku saja selama 1 jam nonstop. Pola membaca pun jadi terasa acak-acakan, tak seteratur tahun-tahun sebelumnya. Pada 2023 ini, ada beberapa cara yang
dilakukan untuk mengatasi atau mengakali supaya habit ini bertahan.
Klub buku
Awalnya, saya
meminta seorang teman untuk mengabari saya bila ada acara menarik lagi. Ia
menanggapi dengan memberi tahu tentang adanya klub buku yang kebetulan banget
lokasinya tidak jauh dari rumah saya—kurang dari setengah jam bersepeda. Klub
buku ini diselenggarakan oleh seorang akang yang saya kenal sudah dari lama
(tapi entah apa selama itu beliau ingat saya hahaha) bekerja sama dengan seorang lainnya yang sedang jadi ketua komunitas kepenulisan yang pernah saya ikuti. Ketika
itu klub telah berjalan selama sebulan, mulai Februari 2023. Saya pertama kali
datang pada pertemuan kelima yang sudah memasuki Maret, kala itu membahas buku Orang
dan Bambu Jepang (Ajip Rosidi) yang, lagi-lagi kebetulan banget, sudah
pernah saya baca. Sejak itu, saya pun mendatangi pertemuan mingguan ini walaupun
sesekali rehat. Kerap kali buku yang akan dibahas sudah saya miliki atau ada di
Ipusnas, sehingga menggenjot semangat saya untuk ikut membacanya. Sampai akhir
Desember 2023, klub sudah mengadakan 44 pertemuan yang berarti membahas lebih dari 44 buku (soalnya ada pertemuan yang membahas lebih dari satu buku). Dari
jumlah itu hampir separuhnya, yaitu 21 buku, saya ikut baca. Kalau bukan karena
klub ini juga saya tidak akan menamatkan beberapa buku sastra Sunda.
20 Minute Rule
Kemudian saya
keranjingan untuk menerapkan 20 Minute Rule dalam berbagai kegiatan,
termasuk membaca buku. Saya mendapatkan angka 20 dari filter YouTube. Ketika
mau mencari video dengan topik tertentu tapi tetap random, biasanya saya
memasang filter penelusuran dengan durasi 4 – 20 menit. Kalau kurang dari 4
menit, terlalu pendek. Lebih dari 20 menit, kepanjangan. Dua puluh menit terasa
pas, tidak singkat amat tapi juga tidak begitu lama. Jadi, setelah membaca 1
buku selama 20 menit—kecuali buku itu benar-benar menarik sehingga saya tidak
mau menjedanya—saya beralih ke buku lain selama 20 menit berikutnya, dan
seterusnya tergantung keleluasaan.
Ray
Bradbury Challenge
Saya mengetahui challenge
ini sudah dari lama, tahun ini baru tergerak menerapkannya tapi cuma untuk
membaca 1 esai, 1 cerpen, dan 1 puisi per hari, sedang untuk menulis 1
cerpen/minggu, entar dulu lah ya. Ada berbagai sensasi ketika mencoba cara ini,
tetapi ujungnya saya kewalahan karena jadi menambah kategori bacaan. Sudah
begitu, panjang esai/cerpen/puisi kan tidak menentu: ada yang rata-rata, sangat
singkat, atau panjang sekali.
Setelah telanjur
menamatkan dua buku kumpulan puisi, saya skip dulu challenge ini
dan menentukan jalan tengahnya adalah dengan membuat kategori baru di tabel
rekap pembacaan. Jadi, sudah bertahun-tahun ini, saya menggunakan tabel rekap
pembacaan. Mulanya sih untuk menyeimbangkan jumlah buku cetak dan buku digital
yang dibaca. Soalnya buku digital sering kali lebih menggoda untuk dibaca, sementara buku cetak (termasuk majalah) yang untuk memilikinya
harus ditebus dengan uang itu malah jadi pajangan saja di dalam lemari. Tabel
ini kemudian berkembang sehingga kategorinya bukan cuma cetak dan digital,
melainkan juga nonfiksi dan fiksi serta tema umum dan tema khusus. Tema umum
adalah yang bersangkutan dengan kehidupan saya sehari-sehari, sedangkan tema
khusus katakanlah yang berhubungan dengan kehidupan imajiner dalam kepala saya.
Dari tabel ini, saya mendapati telah membaca jauh lebih banyak buku digital
khususnya dari Ipusnas. (Kadang itu tak terhindarkan, kalau mau mengikuti rencana
buku yang akan dibahas di klub.) Karena itulah, selama beberapa bulan pertama
pada 2024, saya ingin berfokus untuk mengisi gap di tabel lama (alias
mengutamakan-baca buku cetak) sebelum berlanjut ke tabel baru yang mana sudah ditambahkan
kategorinya sehingga di samping nonfiksi dan fiksi (yang mana di dalamnya
termasuk esai dan cerpen yang sudah dibukukan tentu saja), ada puisi. Selain
untuk mengikuti Ray Bradbury Challenge (dengan penyesuaian), membaca
puisi rasa-rasanya perlu juga supaya mana tahu saya bisa lebih ekspresif dan
kreatif dalam berkata-kata(?). Entahlah, seumur hidup saya belum pernah
menekuni-baca buku kumpulan puisi—selama ini random saja lagi jarang.
Jalan tengah lainnya
adalah stick to 20 Minute Rule, alias targetnya bukan 1 esai, 1 cerpen,
dan 1 puisi per hari melainkan ikuti saja pergiliran di tabel. Ketika
gilirannya buku kumpulan puisi, baca selama 20 menit lalu pindah ke buku lain
yang entahkah nonfiksi atau fiksi, kumpulan esai atau majalah, kumpulan cerpen
atau novel ….
Selain tabel,
tahun ini juga saya mulai membuat daftar buku yang telah tuntas tiap bulannya.
Karena ingin tahu saja. Itu mempermudah untuk melihat tren dan menghitung,
misalnya, ternyata saya masih membaca lebih banyak nonfiksi (44) daripada fiksi
(40).
Buku-buku
yang cepat dituntaskan
Buku-buku
tersebut ibarat seteguk air segar di sela-sela maraton (kayak yang pernah ikut
saja) membaca buku tebal yang seakan tak selesai-selesai. Contohnya adalah
buku kumpulan artikel (misalnya dari Tempo dan Trubus) yang
terdapat di Ipusnas, buku komik, buku anak-anak, dan lain-lain yang tebalnya tidak
sampai 100 halaman.
Goodreads
Seperti biasanya, pada awal tahun saya pasang target 52 buku
dengan perkiraan selesai 1 buku/minggu. Namun, setelah
beberapa bulan, saya mendapati bahwa target itu sepertinya tidak akan tercapai
karena bukan berarti saya tidak sanggup menyelesaikan 1 buku/minggu, melainkan
sebagian buku yang saya baca tidak ada di Goodreads sedang sekarang sudah tidak
bisa lagi manually add book. Maka saya turunkan target jadi 36 saja, alias 3
buku/bulan—3 buku yang ada di Goodreads, maksudnya. Ini tercapai, bahkan
terlampaui (125%) tapi memang tidak sampai 52.
Penilaian
Karena saya
membaca bukan untuk kepentingan akademis/profesional/dsb melainkan sebagai
penikmat saja, 86 buku tahun ini atau 1 – 2 buku/minggu sudah bagus banget. Itu
saja saya masih ada perasaan bersalah karena memang hobi saya bukan cuma
membaca, melainkan juga berbagai turunannya yang mau sekalian saya bicarakan di
bawah, sehingga mesti ada waktu juga buat yang lain-lainnya itu. Kalau sampai
tembus lebih dari 2 buku/minggu, rasa-rasanya sudah berlebihan. Malah terpikir
setelah sampai di angka 78 (dari 52 + 26 alias pas 1,5 buku/minggu), mungkin
saya setop saja dan beralih ke hal lain misalnya menulis novel? (hahahaha~)
kemudian baru mulai membaca buku lagi setelah masuk tahun berikutnya. Entahlah.
TURUNAN DARI
MEMBACA
Menulis
Yang rutin
adalah menulis review tiap kali menamatkan satu buku (atau majalah kadang
juga karya lainnya yang benar-benar menarik), alhamdulillah berhasil
dipertahankan sejak 2019. Tahun ini saya menambahkan rutin baru, dengan
menerapkan 20 Minute Rule itu, yaitu menulis catatan harian. Sebetulnya
ini tidak sama sekali baru. Sejak SD saya suka menulis catatan harian. Tiap ada
pikiran, segera saya tuliskan. Pada satu titik, saya mengira kebiasaan ini
mengembangkan sifat overthinking. Maka itu saya berhenti. Yah, tidak
sama sekali sih (memang bisa?) tapi mengurangi, sampai-sampai menurut catatan
harian tahun kemarin saja, saya menulisnya tidak sampai setengah halaman F4 per
hari. Namun, setelah membaca semua diary semasa SMP, saya justru
mendapatkan pandangan lain. Menulis catatan harian justru merupakan suatu coping.
Dengan itu saya mengatasi kesepian, menghibur dan menyemangati diri, serta menghargai kehidupan yang acap kali tak mengenakkan. Saya yang sekarang pun jadi sangat mengapresiasi saya
yang dulu. Kenapa tidak melakukannya lagi? Namun kali ini secara teratur dan
terbatas, agar tak merasa berlebih-lebihan lagi. Lalu saya mulai begitu saja,
tak ingat dari tanggal berapa pokoknya enggak persis 1 Januari 2022. Ada
hari-hari yang bolong, tak apa.
Setelah berhasil
melakukan rutin itu beberapa lama, timbul pikiran: kenapa tidak melakukan ini
juga untuk menulis fiksi? Saya sudah mencobanya, mempertahankannya beberapa
lama tapi menulis kehidupan imajiner tetap saja tak seenteng menuliskan
pengalaman pribadi yang nyata. Saya tak berhasil mempertahankannya.
Percobaan-percobaan lainnya untuk kembali menulis fiksi juga belum ada yang
persisten lagi seperti semasa kuliah. Entahlah. Pelik sih. Keadaannya sudah
beda. Maka status masih “pura-puranya mau menulis novel”.
Menerjemahkan
Pada 2023 ini
saya menyadari bahwa sudah 1 dekade saya menerjemahkan. Jejaknya terekam di
blog ini, sebelum dibuat blog lain khusus untuk terjemahan dengan tujuan menjaga
kesinambungan, yang dijadwalkan mulai 2014, yang berarti blog itu akan genap 1
dekade juga. Sampai sekarang saya masih menikmati menerjemahkan sebagai hobi
saja. Malah tahun-tahun belakangan terjadi penurunan aktivitas sebenarnya.
Pernah ada target ambisius untuk memosting mingguan, tapi yang realistis
sebulan sekali saja lah ya. Sedang mencoba menerapkan 20 Minute Rule
juga untuk kegiatan ini, lebih banyak bolongnya daripada menulis catatan harian
wkwkwk. Sebenarnya lagi mau mengukur sih: kalau bisa rutin 20 menit/hari tanpa banyak bolong, akan ada rata-rata berapa judul yang bisa dihasilkan dalam sebulan.
Mengkliping
Ini biasanya saya
lakukan sekalian dengan menerjemahkan. Mengkliping dulu, baru menerjemahkan. Keduanya
sama-sama soal menyalin. Mengkliping adalah menyalin teks dari cetak ke digital
tanpa perubahan berarti (paling-paling menyesuaikan ejaan atau tanda baca yang
biasanya refleks saja), sedangkan menerjemahkan juga menyalin tetapi dengan
mengubah bahasa yang sering kali memerlukan berpikir, mengecek arti ke beberapa
kamus sekaligus, googling, dan Google Translate hihihi. Baru mulai
menerapkan 20 Minute Rule juga untuk ini, dari yang tadinya menarget 1
artikel/hari (menginsafi panjang artikel yang berbeda-beda).
Bahasa-bahasa
Pelajaran bahasa
Arab di Duolingo sudah tamat. Bukan karena saya begitu rajin, melainkan karena
itu termasuk bahasa yang baru ditambahkan sehingga pelajarannya belum banyak
dan cepat dituntaskan asal rutin. Karena itu saya merasa perlu move on
ke sumber belajar lain, seperti buku dan video. Ada satu buku pelajaran bahasa
Arab yang sudah saya mulai, tapi tersendat-sendat. Begitu pula dengan bahasa
Jerman. Saya telah mengumpulkan buku-buku berbahasa Jerman yang saya ingin baca,
kalau bisa menjadikannya bahan latihan menerjemahkan. Namun itu muluk-muluk banget sih. Kalau bukan karena Duolingo, aslinya saya belum betah belajar
bahasa asing. Selain Arab dan Jerman, di Duolingo saya juga belajar bahasa
Jepang dan Belanda. Biar apa? Biar menghayati perjuangan bangsa selama masa
penjajahan dan lebih menghargai kemerdekaan(?) Sudah, empat itu sajalah.
REAL LyFE
Setelah menonton beberapa video ‘cleaning’, saya mendapat pencerahan bahwa DECLUTTERING adalah kunci. Itu yang harus saya fokuskan pada 2024 ini. DECLUTERING yang ORGANIC maupun yang ANORGANIC. DECLUTTERING ORGANIC untuk menghasilkan ecoenzyme dan kompos, yang kemudian berguna untuk bebersih dan berkebun. DECLUTTERING ANORGANIC dengan menggunakan panduan dari bank sampah. (Untuk sementara ini, panduan dari Bank Sampah Bersinar di Bojongsoang tampak yang paling bisa diandalkan; bisa cek di situs webnya). Barulah sisanya—baik karena tidak ditampung bank sampah maupun yang sengaja disisihkan—disyukuri sebagai sarana berkreasi dan berusaha. Cita-citaku sekarang tak muluk-muluk, sekadar ingin membangun sistem sirkular skala rumah tangga agar meninggalkan sesedikit mungkin kerusakan di dunia dan meringankan hisab di akhirat. Bismillah.
Minggu, 26 November 2023
Pelajaran Mengarang Cerpen dari Us Tiarsa
![]() |
| Gambar screenshot dari Instagram. |
Beliau bermukim di komplek perumahan wartawan yang ada di Baleendah. Kami bertolak dari Perpustakaan Ajip Rosidi selepas zuhur, merayap dalam kemacetan selama sekitar 1,5 jam; katanya hari itu ada 7 universitas sedang menyelenggarakan wisuda, salah satunya Telkom University yang berlokasi kurang lebih di tengah-tengah perjalanan. Tiba menjelang pukul 2 siang, kami baru kembali dari sana setelah azan magrib. Acara utamanya sendiri hanya sekitar 2 jam, setelah itu keramahan tuan rumah menjamu kami dengan yamin manis.
Acara berlangsung dalam bahasa Sunda, yang secara umum masih bisa saya pahami walau adakalanya menanyakan arti kata kepada teman di sebelah. Dalam 2 jam itu, tentu banyak poin yang disampaikan oleh Abah Us Tiarsa; beberapa di antaranya dipantik oleh pertanyaan dari kawan-kawan peserta. Kami mendengar tentang riwayat kepenulisan/kewartawanan beliau, proses di balik buku-bukunya, perkara bahasa jurnalistik, anekdot mengenai tokoh-tokoh yang dikenal, masukan dalam menulis, dan sebagainya.
Poin yang paling menarik bagi saya adalah proses kreatif di balik Halis Pasir, kumpulan cerpen yang sudah dibaca-tuntas-dan-ulas itu. Kebetulan, saya sendiri dalam pergulatan untuk menulis cerpen (atau karangan fiksi apapun) lagi. Berikut beberapa masukan beliau yang tercatat.
Ketika penulis menganggap karyanya yang terdahulu jelek tapi toh diakui media, itu berarti ia telah mengalami kemajuan.
Cerpen-cerpen di Halis Pasir pernah dimuat di Mangle dan mendapat penghargaan. Namun, dengan menyatakan yang di atas itu, apakah beliau punya anggapan sendiri mengenai cerpen-cerpennya itu? Sepertinya saya kurang menangkap penjelasan beliau soal ini. Kalau boleh saya kaitkan dengan pengalaman saya sendiri, selama saya masih menganggap karangan-karangan yang terdahulu rada-rada lumayan, itu berarti saya masih mandek atau bahkan mengalami kemunduran XD
Cerita yang isinya kebetulan belaka tidak bernilai sastra.
Beliau mencontohkan dengan menceritakan suatu kejadian yang menimpa seorang pedagang di pinggir jalan. Pedagang itu diminta pindah lapak ke tanah kosong, karena tempatnya semula dianggap dapat membahayakan. Namun, setelah pindah ke tanah kosong itu, pedagang tersebut malah tewas ditabrak kendaraan yang entah bagaimana menyelonong ke sana. Itu suatu kejadian menarik, tapi berunsur kebetulan yang jika dituliskan menjadi cerpen menurut Abah Tiarsa teu nyastra.
Masukkan elemen kejutan (plot twist).
Dapat dilihat contohnya dalam Halis Pasir, banyak cerpen beliau dalam buku tersebut yang mengandung unsur kejutan.
Setiap unsur dalam cerita harus ada alasannya.
Kamis, 23 November 2023
Jiwa Bahari dan Jiwa Pelaut
- Jiwa Bahari, cetakan 1, 1985, 66 halaman,
- Jiwa Patriot: Pertempuran Lima Hari di Semarang, cetakan 1, 1992, 130 halaman,
- Jiwa Pejuang: Para Pelaut Remaja Membentuk Armada, cetakan 1, 1992, 126 halaman,
- Jiwa Pelaut, cetakan 1, 1995, 130 halaman.
![]() |
| Gambar screenshot dari Instagram. |
Minggu, 19 November 2023
Mengenal Rumphius di Jante
![]() |
| Gambar screenshot dari Instagram. |
Karena penasaran, setidaknya datang dahulu ke acara bincang-bincangnya untuk mendapat gambaran mengenai buku itu. Acaranya pada Jumat, 18 November 2023, dari jam 16.00 sampai sekitar magrib WIB. Pembicara utama adalah Pak T. Bachtiar dan Pak JJ Rizal. Pak Bachtiar saya baru "kenal" dari bukunya, Menjelajah Taman Nasional Ujung Kulon, sedangkan Pak Rizal yang punya Komunitas Bambu.
![]() |
| Gambar dokumentasi Nurul Maria Sisilia. |
Sebelum menyoal buku, Pak Bachtiar mengantar dengan membagikan pengalamannya pada 2016 ketika melawat ke Ambon khususnya ke tempat-tempat yang berhubungan dengan Rumphius. Ada foto-foto pemandangan yang sangat cerah sekali. Nantinya beliau bilang bahwa di Indonesia belahan timur sana pada jam-jam tertentu (kalau tidak salah, sekitar siang sampai sore) sinar mataharinya sangat baik menampakkan pemandangan alam yang indah. Beliau juga menerangkan bahwa pembentukan alam di Indonesia timur lebih rumit makanya hasilnya "aneh-aneh", lautnya pun dalam-dalam. Dari pemaparan beliau, saya menangkap bahwa Rumphius bukan hanya menulis tentang flora dan fauna tetapi juga bencana alam yang pernah terjadi seperti gempa dan tsunami. Tulisannya itu mengandung informasi yang dapat dikembangkan untuk mitigasi, agar kelak tidak kaget ketika terjadi lagi lazimnya suatu siklus. Dari Rumphius kita dapat belajar pentingnya mencatat; ia teladan dalam menuliskan kebanggaan alam dan budaya. Tak luput Pak Bachtiar menampilkan serangkaian tragedi yang menimpa Rumphius dalam usahanya itu (disalin dari slide beliau dengan sedikit penyesuaian):
- Naskah bukunya dicekal untuk terbit oleh VOC karena memuat hal yang dipandang dapat mempengaruhi persaingan dagang.
- Kapal yang mengirim naskah bukunya ke Belanda ditenggelamkan Perancis pada 1692.
- Kantong pemukiman orang Belanda terbakar sehingga menghanguskan semua catatan, naskah, dan gambar; ia pun mengulang pekerjaan menulis dan membuat gambar.
- Terjadi gempa dan tsunami yang dahsyat yang merenggut nyawa istri dan putri bungsunya.
- Pada usia 43 tahun, matanya terkena glaukoma sehingga pandangannya buram.
![]() |
Penampakan buku Rumphius terbitan Komunitas Bambu. Gambar dokumentasi Nurul Maria Sisilia. |
Kamis, 29 Juni 2023
Hiji Tanggal nu Dipasinikeun, dalam Pembahasan Klub Buku Laswi
Menyambung pembacaan Hiji Tanggal nu Dipasinikeun, buku ini telah dibahas di klub.
![]() |
| Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan Klub Buku Laswi dapat dilihat di Instagram biblioforum atau lawangbuku. |
Pertemuan ini menjadi kesempatan untuk memperjelas hal-hal yang tidak jelas bagi saya ketika membaca sendiri kumpulan cerpen berbahasa Sunda tersebut, dengan menanyakan langsung kepada yang membahas.
Yang membahas, Erlangga, adalah mahasiswa jurusan Bahasa Sunda UPI. Ia tidak mengalami kendala bahasa dalam membaca kumpulan cerpen ini. Yang menjadi kendalanya hanyalah memahami logika pengarang cerpen yang kadang-kadang ajaib, misalkan ada serabut akar pohon yang dapat berbicara. Mengetahui itu, berarti saya sendiri mengalami dua kendala: 1) bahasa, 2) logika.
Dalam tulisan ini, saya akan mengangkat beberapa cerpen yang tadinya tidak jelas bagi saya tapi sekarang menjadi jelas atau sudah cukup jelas lalu menjadi makin jelas. Sayangnya, saya akan membocorkan jalan cerita karena untuk sambil dipikirkan maksudnya.
Katumbiri (Mangle, April 1959)
Dalam pembacaan saya sendiri, yang saya dapat tangkap dari cerita ini adalah mengenai kenangan akan masa kecil yang awalnya suci tetapi mulai berdosa sejak mengintip bidadari waktu turun mandi. Ia mengintip bidadari dengan maksud mencuri kainnya. Terpengaruh oleh dongeng yang diceritakan padanya, ia percaya bidadari bisa terbang dan dengan begitu ia bisa minta diambilkan layangan putus sebagai syarat mengembalikan kain.
Karena pemahaman yang terbatas, saya kira ceritanya cuma itu. Ia merenungkan perbuatan itu yang dijadikannya rahasia, sedang yang ditampakkannya kepada orang lain yang baik-baik saja. (Bagian ini terasa menyindir perilaku manusia pada umumnya).
Setelah dijelaskan Erlangga, ternyata konsekuensi dari perbuatan si tokoh utama sangatlah serius. Yang dianggapnya sebagai bidadari sebenarnya merupakan manusia perempuan biasa yang lagi mandi di kali. Ketika ada banjir, teman-temannya segera beranjak dari kali. Namun perempuan itu tidak bisa pergi karena kebingungan mencari kain penutup tubuhnya. Akibatnya, ia pun keburu terbawa hanyut oleh air bah.
Mengetahui ceritanya ternyata seperti itu, saya sendiri jadi terkejut. Bisa dibayangkan dampak kejiwaan yang dialami si tokoh utama setelah menyadari perbuatannya itu setelah ia dewasa. Bisa dikatakan, secara tidak langsung, ia telah menghilangkan nyawa orang sekalipun pada waktu itu ia masih kecil--belum mengerti bahwa perbuatannya dapat mengakibatkan konsekuensi tertentu bahkan fatal.
Kawung Ratu (Mangle, Mei 1963)
Secara keseluruhan, alur cerpen ini dapat saya tangkap. Namun ada beberapa hal yang terlewatkan oleh saya karena kendala bahasa itu.
Yang pertama menyangkut kepercayaan. Sewaktu menanam kawung, orang mesti hafal melakukannya sambil menghadap ke mana dan arah tersebut mesti selalu jadi patokannya ketika merawat tumbuhan itu. Kemudian jimat yang diberikan menak kepada si Aki kemudian ia masukkan ke dalam batang kawungnya.
Yang kedua menyangkut latar cerita yang sempat menjadi topik di antara pembahas dan teman-temannya sesama mahasiswa Bahasa Sunda. Cerita ini diperkirakan terjadi dari sebelum sampai sesudah Kemerdekaan. Ketika ada menak yang meminta produk kawung Aki, kemungkinan peristiwa itu terjadi sebelum Kemerdekaan. Namun setelah Kemerdekaan, pemimpin Aki bukan cuma sang menak melainkan ada pula dari Desa. Ketika keduanya sama-sama meminta Aki melakukan hal yang berbeda pada kawungnya, ia menjadi bingung dan tidak bisa memutuskan mana yang harus dituruti sehingga memutuskan untuk menggantung diri saja.
Dari cerpen ini juga kita dapat mempelajari sebentuk kearifan lokal. Aki memperlakukan kawungnya sebagai bukan sekadar komoditas untuk dimanfaatkan, melainkan sebagai sesama makhluk yang juga patut dihargai.
Dehem (Mangle, Februari 1964)
Dalam pembacaan saya sendiri, yang saya tangkap cuma ada lelaki yang mau ke dukun beranak karena istrinya akan melahirkan sehingga ia harus melewati hutan bambu pakai obor. Tahu-tahu ada kekasihnya dahulu yang kini sudah jadi janda sehingga tebersit CLBK tetapi sepanjang jalan mereka cuma saling berdeham.
Rupanya dukun beranak itulah mantan kekasih si suami. Karena istrinya akan segera melahirkan, si lelaki mencari dukun beranak. Kebetulan dukun beranak yang ditemukannya itu adalah mantan kekasihnya. Ketika ia hendak mengantar pulang sang dukun, keduanya melewati hutan bambu yang dahulu menjadi tempat pacaran mereka sehingga teringatlah segala kenangan bersama tetapi hanya dapat mengutarakannya dengan berbalas deham ... =_=;
Kuncen (Wangsit, 1966)
Cerita ini dapat saya ikuti, tapi memang ada yang kurang jelas mengenai "kandil emas".
Rupanya Aki Ja'i sang kuncen "menjual" kepercayaan mengenai berkat berupa "kandil emas". Saya kira triknya seperti undian berhadiah. Dengan pergi ke makam dan melakukan berbagai ritual, para peziarah seperti sedang mengajukan undian. Barangsiapa yang beruntung akan memenangkan lotre berupa "kandil emas" yang berarti kesuksesan hidup atau sebagainya.
Nu Pararegat (Mangle, 8 Januari 1976)
Cerpen ini sepertinya yang paling sulit dimengerti karena terkesan absurd, sureal. Cerita ini menampilkan serabut akar yang dapat berbicara, mau turun menembus tanah tapi tidak bisa karena tanahnya telah dilapisi. Kemudian ada orang yang saudaranya kekurangan darah sehingga mengajukan pinjaman uang kepada atasan tapi yang turun tidak seberapa. Akar berserabut lalu menangis dan ada kakek-kakek naik tangga mau bertemu dengan bapak "Duka Wastana" yang dalam bahasa Sunda berarti "tidak tahu namanya" tapi orang-orang lain menganggap bahwa memang itulah namanya.
Dalam pembahasan, timbul kesimpulan bahwa cerpen ini merupakan satire simbolik yang menggambarkan jarak menyusahkan berupa birokrasi yang menjadi penghalang bagi bertemunya penguasa dengan bawahan. Pararegat sendiri berasal dari kata pegat yang artinya putus.
.
Usai Erlangga menyarikan isi sebagian besar cerpen dalam buku ini, satu topik yang otomatis menjadi pembahasan kami adalah mengenai kurangnya minat membaca Sastra Sunda. Yang asli keturunan Sunda saja belum tentu suka membaca. Kalaupun mau membaca, ada banyak kosakata yang tidak digunakan dalam percakapan sehari-sehari sehingga mesti rela sambil membuka kamus. Karena itulah, membaca karya berbahasa Sunda tampak kurang memiliki manfaat praktis di dunia nyata.
Lain halnya dengan membaca karya berbahasa Inggris. Soalnya, memang bahasa Inggris menggempur di mana-mana. Konten-konten serba berbahasa Inggris, bahkan yang mestinya berbahasa Indonesia pun dicampur-adukkan dengan istilah-istilah berbahasa Inggris. Kalau ingin meluaskan pergaulan, meningkatkan karier, dan semacamnya, kemampuan berbahasa Inggris akan sangat bermanfaat. Bahasa Inggris dianggap lebih menjual, contoh saja: banyak novel yang judulnya bahasa Inggris tapi isinya bahasa Indonesia.
Rasanya mengherankan, mengetahui bahwa penyusun kamus bahasa Sunda yang pertama-tama justru orang Belanda. Mengapa bukan orang Sunda sendiri? Mengapa orang Belanda menganggap penting pengetahuan mengenai satu bahasa dari sekian banyak bahasa lain dari suku-suku yang ada di Nusantara? Apakah mereka melakukan hal yang sama terhadap bahasa-bahasa lainnya juga? Pembahasan akan terlalu melebar kalau begitu.
Diduga, ada kepentingan ekonomi dan politik di balik minat mereka. Toh tanah Sunda sangatlah subur. Namun, mengapa masih ada rakyatnya yang miskin dan kelaparan? Rupanya banyak tanah yang dikuasai menak, dijadikan hutan yang terlarang untuk dimasuki sesiapa, sekadar untuk menjadi tempat hiburan yang eksklusif bagi mereka sendiri. Di sinilah timbul dilema. Jika hutan itu bebas dimanfaatkan oleh siapa saja, kemungkinan akan dibuka untuk dijadikan entah apa saja. Memang dengan begitu dapat menghidupi sekian banyak manusia, tapi bagaimana dengan keanekaragaman hayati di dalamnya? Bukankah mereka juga berhak hidup dan dihargai sebagaimana kawung si Aki? Bingung, tapi tak usahlah ikut gantung diri.
Memang tampaknya tak ada manfaat praktis dari membaca sastra Sunda, bahkan sastra pada umumnya mau dalam bahasa apa pun. Paling tidak, ada prinsip dulce et utile--kesenangan yang bermanfaat. Ada kesenangan dari menyimak sebuah cerita. Apalagi jika cerita tersebut menyembunyikan banyak hal, entahkah itu namanya "amanat", "makna", "simbol", "pesan moral", dan seterusnya, yang bagaikan permainan berburu harta karun bagi peminatnya. Apalagi jika ada di antara hal tersebut yang bisa dikaitkan dengan pengalaman sendiri, menjadi bahan perenungan diri.
Memang kendala bahasa mengurangi keasyikan membaca. Namun, dengan pengetahuan bahasa yang sekadarnya itu, tetap ada "harta karun" yang dapat diambil. Paling tidak, kita bisa mempelajari cara yang digunakan pengarang untuk menyampaikan ide-idenya yang beragam itu. Ada cerpen-cerpen yang realis apa adanya saja menceritakan kenyataan seperti "Ngabeca" dan "Bi Empat". Ada cerpen-cerpen yang tampak mengandung amanat dalam hubungan suami istri atau kehidupan rumah tangga seperti "Hiji Tanggal nu Dipasinikeun" dan "Kawin Emasna Dahim". Ada cerpen-cerpen yang mengangkat kearifan lokal dan mistikisme seperti "Kawung Aki" dan "Kuncen". Ada cerpen-cerpen yang menggunakan twist---teknik untuk mengecoh pembaca--seperti "Halimun" dan "Aki Warung". Ada cerpen-cerpen yang menunjukkan caranya mengeksplorasi keresahan dalam suatu momen seperti "Dehem", "Cipanon", serta "Hiji Tanggal nu Dipasinikeun". Belum lagi yang absurd-surealis macam "Nu Pararegat", serta cerpen-cerpen lain yang dapat memantik renungan seputar berbagai hal sebagaimana yang sudah saya utarakan dalam catatan pembacaan sebelumnya.
Minggu, 08 Desember 2019
RIP CanoScan LiDE 20 dan Ihwal Perklipingan
Di samping untuk keperluan
Nah, kalau sedang tidak ada keperluan formal seperti itu, dan bukan pula orang yang keranjingan berkreasi secara visual, scanner pun menganggur.
Untung, di rumah ada koleksi majalah lawas, di antaranya Matra. Cerpen-cerpen Matra ditulis oleh pengarang-pengarang ternama, baik dari Indonesia maupun mancanegara. Sayang rasanya bila dinikmati sendiri saja, sehingga timbul inisiatif untuk memindainya dan menyimpannya di tempat yang bisa diakses oleh orang lain. (Walaupun, ternyata, untuk menyebarluaskan informasi ini memerlukan usaha lain.)
Ketika mengetahui bahwa situs Kliping Sastra Indonesia mengadakan segmen cerpen lawas, saya pun menawarkan diri untuk membagi koleksi ini. Saya bisa saja sekadar memberikan hasil pindai. Tapi, dipikir-pikir, tentu enggak enak apabila mesti mengetik ulang dari hasil pindai. Maka saya pun bersukarela untuk mengetikkan ulang cerpen dari media cetak ini, sedangkan hasil pindai yang dikirim cukup ilustrasinya saja. Kegiatan ini berlangsung selama bertahun-tahun, walaupun tidak teratur. Setelah koleksi Matra habis, pindahlah saya ke Femina, Bobo, dan sebagainya judul-judul majalah lawas yang ada.
Kemudian timbul ide untuk membuat media kliping sendiri.
Ibu saya yang guru Sejarah gemar mengkliping artikel sejarah dari media cetak, entahkah koran, majalah, atau tabloid. Map-map hasil klipingnya sudah ada banyak, menyimpan artikel-artikel dari tahun 1970-an sampai belakangan, dan diberi label menurut masa atau peristiwa, sebut saja "Sejarah Islam di Indonesia", "Zaman Jepang dan Proklamasi Kemerdekaan", "Perang Kemerdekaan", "Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan 1945-1949", "PKI & G30S", dan seterusnya. Hingga suatu kali saya mendengar ibu saya mengeluhkan kebiasaannya ini. "Capek-capek, enggak terbaca," begitu kira-kira.
Maka saya pun membuat blog yang isinya khusus kliping artikel sejarah dari media cetak. Di samping menyertakan hasil pindai artikel, saya juga mengetiknya ulang supaya lebih mudah diakses. Harapannya, barangkali ada yang sedang mencari informasi sejarah di internet lalu nyasar ke blog itu.
Belakangan terpikir untuk mengkliping tentang yang lain-lainnya juga. Kadang saya membuka koran atau majalah lawas yang tidak memuat cerpen, dan menemukan ada saja artikel menarik yang ingin saya "abadi"kan--barangkali akan ada yang menikmatinya juga. Satu lagi tema khusus yang menarik saya yaitu tentang ekonomi alternatif, khususnya cara-cara yang dapat dilakukan untuk menghemat uang atau energi dan dengan begitu berdampak baik bagi lingkungan serta masyarakat. Adapun topik-topik lainnya masih menyangkut literasi atau hal-hal yang bisa bikin saya relate.
Dengan begini, scanner pun termanfaatkan terus. Walaupun yang dipindai kadang hanya gambarnya saja, sedang teksnya saya ketik ulang. Karena waktu luang saya ada banyak dan kecepatan mengetik saya lumayan, maka saya menikmatinya saja sekalian meresapkan informasi yang ada di artikel.
Di luar hobi kliping, ketika saya aktif lagi di Goodreads, adakalanya saya membaca buku yang datanya belum ada di platform tersebut sehingga mesti saya tambahkan sendiri. Gambar kover buku bisa saja dicari di Google. Tapi adakalanya buku tersebut sudah lawas sehingga tidak ada gambar kovernya yang cukup layak di internet. Kalau gambar kovernya sekadar dipotret dengan kamera smartphone, tentu kualitasnya masih kalah dibandingkan dengan hasil pindai scanner.
Sayang, rupanya masa pakai scanner ini ada batasnya. Minggu sebelumnya, saya masih dapat menggunakannya untuk suatu keperluan formal. Senin kemarin, saya masih dapat memindai satu artikel sejarah. Rabu berikutnya, ketika saya hendak mengkliping lagi, scanner ini berbunyi aneh dan yang muncul di tampilan hanya warna putih saja--tidak ada gambarnya. Saya mencoba berkali-kali, hasilnya sama saja.
Saya pun mencari informasi tentang jam buka dan lokasi service center untuk produk Canon yang ada di kota saya. Terakhir kali saya datang ke sana--sekitar pertengahan 2010 untuk menanyakan harga servis kamera digital yang layarnya pecah--lokasinya masih di sekitar Jalan Lengkong Besar, kalau enggak salah. Sekarang rupanya kantor ini sudah pindah alamat ke Paskal Hyper Square.
Kamis siang itu, di kantor yang sepi, giliran saya pun tiba setelah tidak lama menunggu. Dengan ramah tapi terlalu cepat sehingga saya terbengong-bengong, mbak-mbak di balik konter menerangkan tentang bagian dalam mesin yang pada dasarnya hanya begini dan begitu.
Mbak-mbak itu membandingkan kondisi scanner yang saya bawa ini dengan kondisi scanner milik orang lain yang pernah dibawa ke situ. Kalau jarang dipakai, barang elektronik seperti scanner bisa berkarat, sedangkan yang saya bawa ini masih bagus dan memang tidak pernah ada masalah selama menggunakannya. Diam-diam saya merasa bangga dengan kegiatan mengkliping saya, hahaha. Eh, astagfirullah.
Lalu mbak-mbak itu mengatakan bahwa karena scanner ini diproduksi lebih dari tujuh tahun yang lalu, maka suku cadangnya sudah tidak tersedia. Satu-satunya solusi adalah dengan tukar tambah atau membeli yang baru.
Eh, gimana, gimana?
Tukar tambah berarti meninggalkan scanner lama di situ untuk selama-lamanya, dan membawa pulang yang baru dengan membayar Rp 800.000--pas.
Membeli yang baru berarti membawa pulang scanner lama untuk disimpan saja di rumah, berdebu, dan berkarat, selama waktu yang tidak ditentukan, dan membeli yang baru di tempat lain yang bisa saja harganya kurang dari Rp 800.000.
"Jadi memang sudah waktunya rusak, ya?"
Mbak-mbak itu terus saja tersenyum lebar dengan ramahnya.
Seketika saya jadi ingat sama istilah built-in obsolescence, yang pernah dibahas oleh Mark Boyle dalam bukunya, The Moneyless Manifesto. Mungkinkah ...?
Setelah saya menelepon yang empunya scanner (: yang dulu membelinya dengan harga sekitar Rp 200.000), diputuskan bahwa akan membeli yang baru saja. Scanner itu pun saya bawa pulang.
Sekarang, sampai ada scanner yang baru, sepertinya kegiatan mengkliping mesti vakum.
Berdebu dan berkaratlah dalam damai, CanoScan LiDE 20.
Sabtu, 07 Desember 2019
Mengaji Orang-orang Pinggiran: Bedah Buku Kumpulan Cerpen Lea Pamungkas di Gedung YPK Bandung
![]() |
| Gambar diambil dari Gramedia Digital. |
Acara serupa sebelumnya telah diadakan di Universitas Leiden dan Universitas Padjajaran.
Acara di Gedung YPK ini dibuka dengan penampilan dari Muktimukti berupa musikalisasi salah satu cerpen dalam buku, diiringi dengan gitar.
![]() |
| Dari tempat saya duduk, kiri ke kanan: Kang Opik sebagai moderator, Bu Lea sebagai penulis, Pak Ari sebagai pembicara pertama, dan Pak Hikmat sebagai pembicara kedua. |
Moderator kemudian mempersilakan tiap-tiap pembicara untuk memaparkan pembahasannya mengenai buku. Penulis sendiri baru angkat suara pada sesi berikutnya, yaitu untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan dari peserta.
Pembicara pertama yaitu Pak Ari Jogaiswara A, dosen Sastra Inggris Universitas Padjajaran. Beliau memulai dengan membahas judul, yang langsung menyatakan wacana yang hendak diangkat. "Orang-orang pinggiran" yang diangkat dalam buku ini pun mencakup berbagai isu, entahkah gender, ekonomi, sampai imigrasi. Beliau menerangkan bahwa kesusasteraan memang ruang bagi orang-orang pinggiran, sebab bidang-bidang lain pada tidak berkenan menerimanya. Tema yang lain dapat diangkat dalam berbagai bentuk ekspresi lainnya, katakanlah entertainment (mungkin yang dimaksud di sini adalah tentang sosok-sosok populer), tapi "sastra" selalu bicara tentang orang pinggiran.
Mengenai konten, cerpen-cerpen dalam buku ini walaupun ditulis dalam bahasa Indonesia tapi tidak selalu berbicara tentang keindonesiaan. Sebagian cerpen mengisahkan tentang orang-orang dari negara lain yang hidup di negara lain pula, semacam yang telah diinisiasi oleh Budi Darma dalam Orang-orang Bloomington dan Olenka. Karena keahlian Pak Ari Sastra Inggris, beliau membandingkankannya dengan tren yang ada di dunia Sastra Inggris sendiri, yaitu pergeseran dari Sastra Inggris ke Sastra Berbahasa Inggris. Maksudnya, Sastra Inggris tidak lagi hanya meliputi penulis-penulis dari Inggris Raya atau Amerika Serikat yang menceritakan tentang kehidupan di tempat mereka, tapi juga mencakup penulis-penulis dari negara mana pun--katakanlah yang bekas koloni Inggris seperti India, Ghana, dan Jamaika--yang menulis dalam bahasa Inggris. Karena isi kumcer ini yang tidak melulu keindonesiaan, maka buku ini secara keseluruhan lebih tepat dikatakan sebagai Sastra Berbahasa Indonesia ketimbang Sastra Indonesia.
Nantinya, penulis menambahkan bahwa ketika buku ini dibahas di Universitas Leiden, ada juga profesor yang mempersoalkan hal serupa: apakah kumcer ini Sastra Indonesia atau Sastra Berbahasa Indonesia? Malah, di Belanda, telah berkembang suatu genre baru bernama Sastra Migran. Pengelompokkan sastra tidak lagi berdasarkan wilayah, tapi tema. Toh belakangan ini, sastra dalam bahasa mana pun tampaknya cenderung mengangkat tema-tema yang serupa, misalnya tentang kehidupan di kota besar, radikalisme, lingkungan hidup, dan sebagainya. Sastra tidak lagi punya batasan.
Pak Ari lalu membahas tentang penulis, yang lebih produktif sebagai jurnalis ketimbang pengarang fiksi. Cerpen-cerpen ini ditulis dalam rentang 1994-2019, dengan jeda-jeda yang lumayan lama antar tiap karya berikut latar yang berbeda-beda. Maka penulis baru menuliskan ceritanya ketika sudah siap, atau saat kata-katanya telah hadir. Gagasannya tidak keluar begitu saja, isinya tidak latah, tapi diperam terlebih dahulu. Memang itulah bedanya antara jurnalistik dan sastra. Karya jurnalistik mesti ditulis sesegera mungkin setelah peristiwanya terjadi, adapun sastra memerlukan perenungan serta diperbincangkan atau didialogkan dengan gagasan-gagasan lain terlebih dahulu.
Dalam suatu kumpulan cerita yang ditulis satu orang, tidak terhindarkan ada pola. Tapi karena cerpen-cerpen dalam buku ini ditulis dalam rentang-rentang yang cukup panjang, maka ada keragaman "musikalitas bahasa". (Saya beri tanda kutip karena enggak begitu mengerti maksudnya, hahaha. Ampun, pak dosen
Ada satu cerpen dalam buku ini, "Anak Kami Si Pelaku", yang dari judulnya saja kita sudah dapat mengira-ngira isi cerita. Judul cerpen ini rupanya mirip dengan judul cerpen seorang penulis Iran, yang mirip dengan judul cerpen seorang penulis Yahudi AS. Beliau menamakan model ini sebagai cerpen estafet: bagaimana satu cerpen terinspirasi oleh cerpen lain dan cerpen-cerpen serupa akan terus tercipta selama permasalahannya masih ada. Kalau boleh dikaitkan, mungkin ini agak-agak seperti cerpen "Referential" Lorrie Moore (terjemahan Indonesia) yang menyerupai cerpen "Symbols and Signs" Vladimir Nabokov--setidaknya ini satu contoh semacam yang pernah saya temukan sendiri.
Selain itu, Pak Ari juga menerangkan bahwa karya fiksi bergerak dari dua modus, yaitu "melihat" serta "bertutur". (Di sini, lagi-lagi saya enggak mengerti.)
Bagaimanapun, penulis punya kemampuan untuk melihat yang jauh secara dekat. Secara keseluruhan, buku ini "empowering".
Selanjutnya, Pak Hikmat Gumelar membuka gilirannya dengan mengangkat soal perspektif poskolonial. Kalau boleh saya jabarkan sedikit dari yang saya tangkap di sini (yang bercampur dengan sedikit pengetahuan saya sendiri), agaknya tentang bagaimana kita selaku pembaca Indonesia--yang notabene negara bekas jajahan--melihat Eropa secara tinggi. Padahal di Eropa sendiri, secara keseluruhan, ada pula masyarakat yang terpinggirkan--katakanlah mereka yang berasal dari Eropa Timur. Maka kumcer ini menunjukkan suatu perspektif unik mengenai Eropa.
Oke, mungkin bukan itu yang Pak Hikmat maksudkan.
Pak Hikmat juga mengutarakan tentang kekhasan bentuk cerpen, yang acap kali dilecehkan sebagai sekadar ringkasan novel atau latihan menulis novel. Padahal cerpen itu juga suatu penghormatan terhadap kemanusiaan dengan formulanya yang "mulai dari tengah, akhiri dari tengah". Mungkin, maksudnya, kalau dibandingkan dengan roman atau novel yang cenderung mencakup rentang waktu yang lebih panjang atau sangat panjang (dari lahir sampai mati) dalam kehidupan tokoh-tokohnya, cerpen hanya mengambil peristiwa yang penting-penting saja--yang terjadi di sela-sela atau tengah-tengah sepanjang kehidupan seorang manusia.
Betul enggak sih, Pak? #keplak
(Nantinya, Pak Ari menambahkan sedikit soal cerpen yang rupanya berusia lebih muda daripada novel. Padahal novel saja sudah "novel"--dalam bahasa Inggris berarti "baru". Mungkin, karena perkembangan zaman, maka orang semakin sedikit atau malah tidak punya waktu untuk membaca sehingga bentuk narasi semakin singkat saja. Bahkan sepertinya sekarang pun cerpen sudah ketinggalan zaman.
Beliau juga menyebutkan tentang pandangan seorang sastrawan dunia ternama asal Tiongkok, Gao Xingjian, tentang seni fiksi yang memerlukan ketekunan menyimak hidup. Kemampuan ini merupakan kendaraan penulis fiksi dalam menemukan suara kemanusiaan.
Atau kira-kira begitulah.
Beliau juga menyinggung tentang Elena Ferrante yang tidak mau mengungkap identitas aslinya, sebab menurutnya, penulis tidaklah penting--seolah-olah biarlah karyanya saja yang sudah cukup berbicara. Penulis Italia ini juga dikenal sulit memberikan izin untuk mengadaptasi karyanya ke layar, hingga belakangan HBO berhasil mendapatkannya. Sepertinya, ia tidak mau karyanya sekadar jadi "film", tapi mesti dapat menangkap "musikalitas" atau apa dari karyanya, aduh saya pusing, sepertinya Elena Ferrante penulis militan yang tahu benar tentang sastra--sebaiknya saya coba baca karya-karyanya suatu saat biarpun hanya dalam terjemahan bahasa Inggris.
Orang-orang pinggiran adalah radar perubahan sosial.
Pak Hikmat menyimpulkan bahwa secara keseluruhan buku yang berisi sepuluh cerpen ini merupakan "kitab kecil yang bermakna besar".
Kemudian, dibukalah sesi tanya jawab. Seperti biasa, tiga penanya diberikan kesempatan.
Penanya pertama memberikan pendapatnya mengenai kumpulan cerpen ini. Yang saya tangkap: kita semua adalah orang-orang pinggiran.
Penanya kedua menanyakan hal teknis: 1) Urutan cerpen dalam buku berdasarkan apa?; 2) Siapa yang menentukan judul dan kenapa diberi judul begitu?
Yang nantinya dijawab oleh penulis: 1) Berdasarkan pada waktu cerpen diterbitkan atau diciptakan. (Cerpen-cerpen ini sebelumnya sudah pada pernah dimuat di Kompas.); 2) Ditentukan oleh penulis sendiri berdasarkan pada substansi umum cerpen-cerpennya.
Penanya ketiga memberikan tanggapannya akan salah satu cerpen, yang menurutnya menunjukkan kemampuan untuk dapat membalut peristiwa yang sangat emosional sehingga menjadi tidak terasa emosional.
Dalam sesi ini pun penulis mendapat kesempatan untuk berbicara banyak, walaupun tidak panjang lebar. Setelah mendengarkan berbagai tanggapan atas karyanya, beliau mengungkapkan betapa ada hal-hal yang disembunyikan atau bahkan tidak disadari oleh dirinya sendiri yang dapat terlihat oleh orang lain.
Beliau juga menceritakan sedikit tentang proses kreatifnya, misalkan untuk cerpen "Anjing yang Meleleh di Ingatan Sotera". Cerpen ini menceritakan tentang seorang anak perempuan yang ayahnya mengalami gangguan jiwa setelah menjadi korban peristiwa Chernobyl. Ada ketakutan bahwa dirinya juga akan menjadi gila, tapi perasaan itu tidak tampak. Kisah hidupnya ia ceritakan dengan wajah yang datar saja. Penulis menghubungkannya dengan perilaku keseharian kita sendiri--manusia pada umumnya--dalam bermedia sosial. Di balik emotikon-emotikon nan ekspresif, ada wajah datar dan kita bisa memutuskan pembicaraan dengan siapa saja kapan saja kita mau.
Masih ada beberapa peserta lainnya yang angkat tangan, meminta kesempatan untuk memberikan pertanyaan atau pendapat. Tapi, sayang, waktu terbatas.
Acara diskusi pun ditutup, tapi rupanya masih ada pertunjukan-pertunjukan lainnya. Kedua pertunjukan ini sama-sama mengambil inspirasi dari kumcer.
Pertunjukan pertama dibawakan oleh kelompok teater Pak Ari, dibuka dengan seorang pemuda duduk menyanyikan lagu "Stay" dari U2 diiringi petikan gitar. Pada layar di belakangnya pun terpampang video yang menampakkan wajah seorang perempuan yang lalu bermonolog. Itulah yang unik dari pertunjukan ini. Penggunaan media video call menunjukkan adanya jarak antara yang dilihat dan melihat, seperti yang terkesan dari cerpen yang diangkat, yaitu "Setengah Hari Hidup Dita". Dita bekerja sebagai pembersih hotel di Belanda. Tiap hari ia membersihkan sampah-sampah yang ditinggalkan oleh para tamu di kamar. Dari sampah-sampah itu ia dapat "melihat" kehidupan tiap-tiap tamu. Tapi tamu-tamu itu sendiri tidak dapat melihat dia. Oh, ya, Dita juga suicidal.
Ada kutipan yang menarik: "Kuat enggak kuat, sama aja."
Pertunjukan terakhir merupakan kolaborasi antara Pak Hikmat dan Pak Isa Perkasa. Di latar ditaruh lukisan besar yang menampakkan seraut wajah. Sementara Pak Hikmat membacakan cerpen pilihannya dari buku penulis, Pak Isa menambahkan warna-warna pada lukisan itu: merah, biru, hijau, dan seterusnya.
![]() |
| Pembacaan cerpen diiringi pencoret-coretan lukisan. |
Sementara itu, di luar turun hujan deras.
Banyak Dibuka
-
Penulis : Gol A Gong Penerbit : Gong Publishing, Banten ISBN : 978-602-9117-24-0 (kover), 978-602-9117-25-7 (KDT) Cetakan pertama dan kedua,...
-
“ Du ” (“ You ” dalam bahasa Inggris) adalah lagu yang dibawakan oleh Peter Maffay, seorang musisi Jerman. Lagu ini menjadi hit terbesar d...
-
jika mana jutaan orang memenuhi selatan kraton masing-masing menggenggam kitiran mengacungkannya menghunjamkannya kuat-kuat dengan karet ke ...
-
Judul : Olenka Pengarang : Budi Darma Penerbit : Balai Pustaka, 2009 Paragraf pertama dalam kata pengantar novel peraih SEA Write A...
-
Tersebutlah kisah sepasang suami istri. Sang suami dikenal sebagai seorang suami yang berperasaan. Dia mau membantu istrinya mengerjakan ...
-
Baru-baru ini saya dikenalkan oleh adik saya dengan acara Horrible Histories di saluran Discovery Kids. Format acara ini semacam kumpulan s...
-
Sudah lebih dari seminggu sejak aku mengundurkan diri dari pekerjaanku. Pekerjaan pertamaku dan satu-satunya yang datang padaku tanpa aku me...
-
( i believe in the kingdom come/ then all the colors will bleed into one/ bleed into one, but yes i’m still running/ you broke the bonds and...
-
Ini adalah pengalamanku saat libur kenaikan kelas ke 5 SD. Seperti biasa, kalau sudah waktunya liburan, orangtuaku pasti menawarkanku untuk ...
-
Kali ini penjelajahan saya diwarnai oleh Juhe. Dia adalah teman sekelas saya di SMA. Dia orang penting di BEM UNPAD dan belum termotivasi un...
Pembaruan Blog Lain
-
Rasiah Nu Goreng Patut (1 - 2) (Soekria/Joehana, 1927) - Pada suatu pagi, gunung-gunung di sekeliling Kota Bandung tampak diselimuti kabut hingga keputih-putihan, sungguh membuat haru, membangkitkan perasaan pe...1 minggu yang lalu
-
Yentl - Oleh Isaac Bashevis Singer ISAAC BASHEVIS SINGER, pemenang Nobel Sastra 1978, lahir di Radzymin, Polandia pada 1904, dan tiba di… Read more Yentl10 bulan yang lalu
-
Raja Belanda: Maaf atas Kekerasan Berlebihan - Raja Belanda Willem-Alexander dan Ratu Maxima mengunjungi Indonesia untuk meningkatkan hubungan kedua negara. Raja juga meminta maaf atas kekerasan berle...6 tahun yang lalu


.png)
.png)






.jpg)

.png)



