Selasa, 21 Februari 2023

Hama, Penyakit, dan Gulma pada Cabai

Gambar di-screenshot 
dari Ipusnas.
Penyusun : Tim Penulis Agriflo
Penerbit : Penebar Swadaya, Depok
Tahun terbit digital : 2021
E-ISBN : 000-000-000-000-0

Lanjut belajar tentang cabai-cabaian (tentu saja bukan yang cewek-cewek bonceng tiga itu).

Buku ini cuma 34 halaman, ringkas dalam menerangkan gejala serangan dari tiap-tiap jenis hama, penyakit, dan gulma disertai foto berwarna yang menampakkan kerusakannya atau pelaku kejadiannya (tapi tidak untuk semuanya).

Hama terdiri dari: thrips, kutu daun, kutu kebul, lalat buah, ulat grayak, tungau, dan ulat tanah.

Penyakit terdiri dari: layu bakteri, bercak daun, busuk buah, antranoksa, layu fusarium, penyakit mosaik virus, gugur daun, dan penyakit daun keriting kuning.

Gulma terdiri dari: gulma daun lebar, teki, dan gulma rumput.

Untuk hama dan penyakit dilengkapi dengan tabel cara pengendalian. Masing-masing ada tiga tipe pengendalian. Untuk hama: mekanik, nabati, dan teknik kultur. Untuk penyakit: mekanik, kimiawi, dan kultur teknis. Tampak bahwa hama masih dapat dikendalikan dengan bahan nabati yang bisa dibuat sendiri sekiranya memang sudah tersedia. Sedangkan kalau cabai sudah kena penyakit, disarankan untuk menggunakan bahan kimia yang mesti dibeli. Lalu bedanya "teknik kultur" dengan "kultur teknis" apa, ya? 🤔

(Catatan untuk diri sendiri:
1. Amati masalah pada tanaman cabai, 
2. Cocokkan dengan keterangan dalam buku ini untuk mengidentifikasi jenis gangguannya,
3. Optimalkan cara mekanik dan teknik kultur teknis terlebih dahulu,
4. Baru cari bahan nabati/kimia yang dibutuhkan di Sh*p**).

Untuk gulma, pengendaliannya cukup dengan rajin menyiangi atau bisa juga menggunakan herbisida tapi mesti berhati-hati agar cabainya tidak ikut musnah. Lumayan juga sih sekiranya di antara gulma tersebut ada yang edible, berkhasiat tertentu atau bisa dimanfaatkan. Mari selanjutnya cari tahu tentang itu!

Kamis, 16 Februari 2023

Karate

Gambar di-screenshot
dari Ipusnas.
Penyusun : Muhammad Rhadian
Penerbit : PT. Indahjaya Adipratama
Cetakan : Tahun 2018
ISBN : 978-979-678-485-1, 978-602-485-349-5 (PDF)

Buku tipis (66 halaman) ini simpel dan ringkas bagi yang sama sekali awam soal karate (saya 🙋🏽‍♀️), sebagai pengenalan memberikan gambaran umum atau garis besar sebelum mencari tahu lebih lanjut dengan googling atau YouTube. (Yap, kelebihan buku semacam ini adalah memberikan "kerangka".)

Isinya terdiri dari empat bagian.

Bagian pertama mengenai sejarah karate (termasuk perkembangannya di Indonesia) serta pengertian karate.

Bagian kedua mengenai aliran-aliran dalam karate (: Shotokan, Wado-ryu, Shito-ryu, Goju-ryu, Kyokushin).

Bagian ketiga mengenai pertandingan karate (teknik pertandingan, peralatan yang diperlukan, serta lapangan).

Bagian keempat mengenai latihan dasar karate yang terdiri dari kihon (teknik dasar dalam memukul, menendang, dan menangkis), kata (jurus atau rangkaian gerakan dasar), dan kumite (latihan tanding). Kihon menggunakan tangan, kaki, dan kepala. Kata dapat dilakukan setelah menguasai gerakan dasar. Kumite baru diajarkan pada sabuk biru ke atas, tapi ada juga dojo yang sudah memberikannya pada sabuk kuning.

Untuk mengetahui perincian aneka gerakan dasar, langkah-langkah dalam kata taikyoku soro ichi serta tahap-tahap latihan kumite, yang dilengkapi dengan ilustrasi, unduh saja lagi buku ini di Ipusnas, hehehe. 

Jumat, 10 Februari 2023

Kutu Putih Mati Kutu

Gambar di-screenshot
dari Ipusnas.
Penulis : Redaksi Trubus
Penerbit : PT. Trubus Swadaya
Tahun Terbit Digital : 2021
ISBN Elektronis : 978-623-341-196-7 (PDF)

Dalam berkebun, kutu putih adalah hama yang ujungnya selalu ada lagi ada lagi. Penasaran apakah di Ipusnas ada buku mengenai makhluk ini. Sementara, cuma ada buku ini. Tebalnya cuma 36 halaman. Isinya terdiri dari empat artikel yang sebelumnya pernah diterbitkan di majalah Trubus Januari 2019 dan Februari 2020. 

Namun ternyata kutu putih hanya diangkat pada artikel pertama, sedang selebihnya mengenai penyakit yang disebabkan oleh:
- cendawan Fusarium oxysporum (gejala: daun dan batang menguning, layu ketika terpapar sinar matahari),
- cendawan Colletotrichum capsici atau disebut juga patek atau antranoksa (gejala: bercak hitam kecokelatan melingkar pada buah yang lalu busuk, mengering, dan jatuh).

Dua penyakit tersebut merupakan momok utama bagi petani cabai.

Memang cabai adalah jenis wajib-selalu-tanam di sekitar rumah, karena:
- sering kali diperlukan sebagai bumbu masakan,
- apalagi kalau mau nyambel (kadang-kadang),
- bijinya mudah diperoleh dan mudah pula tumbuhnya.

Bagi pekebun amatiran yang menanam sedikit-sedikit di polybag malas-malasan pula (hadeeeh), buku ini tidak begitu membantu kecuali pengetahuan mengenai jenis dan gejala hama penyakit yang dapat menjangkiti cabai berikut cara pencegahan yang disesuaikan saja dengan keadaan seperti:
- menggunakan benih tahan penyakit,
- sanitasi kebun, meliputi pengendalian gulma serta pembersihan sampah di sekitar kebun,
- proteksi dari luar,
- penggunaan pestisida tepat guna.

Di samping itu, ada perlakuan terhadap tanaman yang sudah telanjur kena penyakit misalnya dengan memisahkan dan membakarnya supaya tidak tersebar.

Bagi konsumen cabai yang masih bergantung pada warung atau tukang sayur, buku kecil ini pastinya sangat informatif. Kita bisa mengetahui proses yang mungkin dilakukan petani sehingga menghasilkan cabai mulus-mulus bebas hama penyakit untuk kita konsumsi. Untuk menjalankan proses itu, petani mesti punya disiplin dan presisi--telaten pokoknya.

Jika punya pengalaman menanam, tentu tahu betapa repotnya ketika hama penyakit telah bermunculan. Dengan pengalaman itu, saya memaklumi penggunaan zat kimia dalam pertanian skala besar yang sampai berhektar-hektar untuk memenuhi kebutuhan umum. Orang pada umumnya tentu ingin produk berkualitas sebagus-bagusnya tanpa mesti tahu segala kepayahan di baliknya. Jika ingin mengonsumsi tanaman yang bebas zat kimia sama sekali atau sepenuhnya organik, kita sendiri yang mesti menanggung segala kepayahan itu dengan menanam-merawatnya sendiri atau membelinya dari sumber lain dengan harga lain pula.

Sebetulnya buku ini juga mengajukan alternatif yang tampak lebih ramah lingkungan seperti penggunaan ekstrak biji srikaya untuk mengendalikan kutu putih pada pepaya, juga pemanfaatan kitosan (banyak terdapat pada hewan yang memiliki cangkang seperti rajungan, udang, kepiting, dan bekicot--halaman 25) sebagai biofungisida untuk menangkal antranoksa pada jagung dan cabai.

Selasa, 07 Februari 2023

Cerita-cerita dari Desa Jilid I

Penulis : Drs. A. Suryadi, MA.
Penerbit : Alumni, 1983, Bandung

Buku ini juga dari (almarhum) Kakek, dikasih berbarengan dengan Cerita dari Tengah Rimba. Di dalam buku ini ada 10 cerita. Desa yang menjadi latarnya persisnya di wilayah Priangan, sekitar Gunung Galunggung.

MENIKMATI OLEH-OLEH
Arief dan kakaknya baru pulang dari desa, membawa banyak oleh-oleh dan cerita. Ceritanya ada yang direkam dengan kaset, ada pula yang dicatat. Rajin benar si Arief, tapi begitulah pesan ayahnya sedang dia anak patuh yang sepatutnya diteladani :D (halaman 6).

Cerita pertama ini berupa rangkaian dialog antara Arief dan ayahnya, sebagai pengantar dari rangkaian cerita yang akan disampaikan Arief kepada ayahnya melalui bab-bab berikutnya.

MUSANG BERBULU AYAM
Saya kira ini buku bacaan untuk anak-anak, tapi cerita berikutnya agak dewasa: Ada enam pemuda kurang kerjaan suka mengintip pemuda putra pak lurah mendatangi istri orang malam-malam. Mereka sudah minta bantuan tetua desa, Pak Amsor, untuk menasihati pemuda itu, tapi tetap saja. Mereka pun main hakim sendiri sehingga ditahan mantri polisi. Mereka dapat dibebaskan, asal membayar. Namun pak mantri tidak mau menandatangani kuitansinya.  

AIR SUSU DIBALAS DENGAN AIR TUBA
Konflik cerita ini benar-benar menggemaskan. Sudah mesti bayar untuk menebus para pemuda dari tahanan, sekarang para orang tua mesti bayar untuk pengobatan anak pak lurah ke dokter di kota. Tanpa kuitansi pula, dan mereka harus pinjam karena tidak punya uangnya. Ketika tetua desa, Pak Amsor, dipanggil pak lurah untuk urusan lain, sekalian saja ia kemukakan suara hati rakyat. Lurah membela diri dengan alasan yang mengingatkan sama problem di novel Max Havelaar, di mana petinggi setempat memeras rakyat untuk membiayai perjamuan dengan tamu-tamunya.

KERBAU MANG NASIR (1)
Konflik dalam cerita ini masih pejabat desa versus rakyat kecil, kali ini melibatkan mantri hutan dan seorang warga pemilik kerbau bernama Mang Nasir. Lagi-lagi mengingatkan sama Max Havelaar. 

KERBAU MANG NASIR (2)
Lagi-lagi Mang Nasir kehilangan kerbau. Pak lurah dan pak mantri polisi cuek saja, sehingga Mang Nasir mesti ke polisi di kota. Di sini polisi kota profesional (tidak sebagaimana pemberitaan di media belakangan), berhasil menemukan kerbau itu. Namun ada twist-nya yang nyesek banget. Ini baru namanya konflik! 

IBU-IBU YANG MALANG
Ini cerita yang paling saya ingat dari buku ini. (Sepertinya waktu pertama kali membaca buku ini, saya belum cukup "dewasa" untuk memahami persoalan-persoalan di dalamnya.) Cerita ini mengenai program KB yang memaksakan pemasangan spiral pada ibu-ibu yang masih bisa melahirkan. Ada sebagian ibu yang sudah paham, tapi ada juga yang belum. Maka pemaksaan ini mengakibatkan mereka ketakutan, bahkan sampai akhirnya ada yang meninggal. 

PEJUANG-PEJUANG YANG MALANG
Dalam cerita ini, persoalannya kembali tentang permainan lurah (dilengkapi dengan pembelaannya di halaman 36) dan kiranya mengenai sikap mental "korban"-nya itu sendiri. Mungkin para pejuang itu memang berhak atas tunjangan veteran, tapi sikap ikhlas, tawakal, dan mandiri Pak Amsor pun tampaknya baik untuk dipertimbangkan.
"Biarlah perjuanganku berupa amal shalihku kepada tanah air dan bangsa. Aku tidak meminta pahala sekarang. Apa lagi dari bangsaku yang masih berjuang. Berusaha membangun untuk kesejahteraan bangsa. Ya Allah Semoga Engkau terima perjuanganku itu sebagai amal shalihku. Jika Engkau berikan pahala karenanya, akan kuperoleh di Hari Akhir nanti. Kalaupun tidak, Engkaulah yang Maha Adil. Pokoknya aku telah berjuang, beramal shalih. Hubbulwathon minal iman (cinta tanah air adalah sebagian dari iman). Itulah yang kulakukan, ya Allah!" (halaman 41)
GURU-GURU YANG MALANG
Cerita ini mengenai nasib guru di pedalaman, banyak terjerat utang koperasi. Lah, baru-baru ini di media ada lagi berita tentang penipuan koperasi. Belum lagi sekarang ini ada pinjaman online yang iklannya di mana-mana itu. Judi nalo pun telah jadi judi online

Yang tiap bulan terima gaji ternyata belum tentu enak, mana tahu banyak utang karena banyak keperluan.

DI MANAKAH ENGKAU ...?
Cerita ini berisi pergibahan Pak Amsor dengan Pak RT mengenai lurah yang suka menarik iuran tapi kerjanya enggak beres.

Dalam cerita ini (halaman 53), ada mengenai evolusi alat tulis siswa dari batu tulis dan gerip ke buku tulis dan potlot serta bolpoin yang pada masanya ditulis masih di luar kesanggupan buruh tani. Empat puluh tahun kemudian, buku tulis dan potlot serta bolpoin itu sudah jadi tablet dan laptop atau minimal HP yang canggih. Selama masa pandemi COVID-19 terdengar berita-berita tentang kesulitan orang tua siswa dalam menyediakan sarana belajar online tersebut di rumah terutama yang di pedalaman.

Cerita ini juga menyinggung soal pendidikan yang kurang memberikan nilai praktis karena ada saja lulusannya (SD-SMP-SMA) yang menganggur, ujung-ujungnya bantu orang tua atau enggak mau kerja kasar sama sekali karena gengsi dooong (halaman 53-54). Sekarang lulusan SD-SMP-SMA itu sudah bergeser jadi lulusan SMK dan perguruan tinggi.

PELAJARAN DAN PERINGATAN
Kembali pada Arief dan ayahnya. Ayah menanyakan pendapat Arief mengenai cerita-cerita yang telah disampaikannya. Tanggapannya menurut saya terbilang "dewasa", membuat penasaran Arief ini sesungguhnya anak sekolahan atau kuliahan. Rupanya dia banyak mengutip dari Kak Edi. (O jangan-jangan Kak Edi yang anak kuliahan.) Kata Ayah, baru setelah 10 pelita, Indonesia dapat mencapai kesejahteraan. Kalau 1 pelita = 5 tahun, 5 tahun x 10 = 50 tahun, sedang buku ini terbit pada 1983 dan saya membacanya ulang pada 2023, maka mari lihat nanti apa pada 2033 Indonesia telah berhasil menjadi negara maju berikut segala sisi gelapnya?

Walaupun bab terakhir ini mendiktekan kesimpulan yang sangat didaktik sekali bagi pembaca anak-anak tapi mungkin kurang disukai oleh yang sudah bisa mikir sendiri, buku ini seandainya ada di Goodreads ingin saya beri lima bintang. Buku ini seperti tanggapan atas Pandangan Presiden Soeharto tentang Pancasila bertahun-tahun kemudian, berupa gambaran realistis pengamalan di pedesaan khususnya sila kelima. 

Mendapati bahwa beberapa persoalan dalam buku terbitan 40 tahun lalu ini masih relevan sampai sekarang, hanya perwujudannya berbeda karena kemajuan teknologi dan sebagainya, bahkan bisa dimirip-miripkan pula dengan cerita dari sekitar 1,5 abad lalu, tampak menunjukkan bahwa sejarah memang berulang .... Adakah harapan akan perubahan tabiat manusia atau sudah sunatullah-nya begitu sepanjang zaman yang kita mesti berusaha keras dan berdoa agar tidak menjadi bagian dari padanya?

Senin, 06 Februari 2023

Pandangan Presiden Soeharto tentang Pancasila

Disusun dan diterbitkan oleh CENTRE FOR STRATEGIC AND INTERNATIONAL STUDIES (CSIS) Jakarta
Editor Krissantono
Cetakan pertama, Maret 1976
Edisi kedua cetakan pertama, Juli 1976

Menurut Pengantar, buku ini merupakan bagian dari usaha mencapai cita-cita memasyarakatkan Pancasila dan mem-Pancasila-kan masyarakat. Sumber penyusunan buku ini adalah pidato-pidato, sambutan ataupun amanat Presiden Soeharto yang disampaikan dalam berbagai kesempatan. Jadi ingat, bertahun-tahun lalu, saya pernah membaca buku serupa tapi dari Presiden Soekarno, Bung Karno Sang Singa Podium. Bedanya, pidato-pidato dsb dalam buku ini tidak ditampilkan secara utuh tapi sudah dipotong-potong dan disambung-sambungkan lagi menurut pembagian sebagai berikut.

I. Pandangan Presiden Soeharto tentang Pancasila sebagai keseluruhan
II. Pandangan Presiden Soeharto tentang masing-masing sila
III. Pandangan Presiden Soeharto tentang penghayatan dan penjabaran Pancasila

Dalam Pengantar, diungkit juga mengenai perkembangan bahasa Indonesia khususnya dalam hal ejaan. Melihat tahun terbitnya, memang buku ini keluar pada masa sekitaran Ejaan yang Disempurnakan (EYD) mulai diberlakukan (1972).

Sebagaimana dengan Undang-Undang Dasar Negara, untuk memahami Pancasila, kita perlu mengenang dan mengenal kembali sejarah perjuangan bangsa. Demikian yang saya tangkap dalam bagian pertama mengenai Pancasila secara keseluruhan. 

Pada bagian selanjutnya mengenai masing-masing sila, berikut ini poin-poin yang saya tangkap.

1. Ketuhanan Yang Maha Esa
"... toleransi antara ummat itu tidak berarti bahwa ajaran agama kita masing-masing menjadi bercampur-aduk." (halaman 31)
- Arti dan batasan toleransi.
- Cara penyampaian agama yang bukan untuk mengganti keyakinan penganut agama lain, melainkan untuk meningkatkan keyakinan penganut agama sendiri (halaman 34), juga jangan sampai menyinggung agama lain.
- Keseimbangan antara dunia dan akhirat dalam menjalankan agama melalui pendidikan agama.
- Nilai-nilai agama diarahkan pada pembangunan bangsa (halaman 38-39).

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
"... bekerja bukanlah hanya untuk mengejar kemajuan lahiriah; melainkan bersamaan dengan itu juga dirasakan sebagai gairah dan kepuasan rokhaniah. Suatu kepuasan rokhaniah yang tumbuh karena dengan bekerja orang merasa langsung berguna bagi dirinya sendiri dan bagi sesamanya. Bekerja mencapai hasil akan membuat orang memiliki harga diri dan percaya pada diri sendiri. Berbuat baik bagi sesamanya akan membuat orang merasa memiliki martabat." (halaman 40)
"... manusia harus dibangun agar mampu membangun ...." (halaman 41)
- Perlunya keseimbangan antara kebutuhan lahir dan batin, kepentingan individu dan masyarakat.
- Menyelaraskan kepentingan pribadi dengan kewajibannya terhadap masyarakat, mengutamakan masyarakat daripada pribadi (halaman 44).

3. Persatuan Indonesia

- Jangan bersikap rasis, pentingnya integrasi (halaman 55-56).

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan

- Kebijaksanaan = demokrasi
- Musyawarah mufakat melalui DPR dan MPR
- Dalam demokrasi Pancasila, tidak ada golongan oposisi seperti dalam sistem demokrasi liberal (halaman 61).
- Penjelasan mengenai dwifungsi ABRI.

5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
"Memaksakan keadilan dalam suasana ekonomi yang terbelakang tidak lain berarti meratakan kemiskinan belaka." (halaman 76)
- Sektor pertanian sebagai pusat penggerak pembangunan -> memperhatikan kehidupan petani (halaman 77).
- Pola hidup sederhana bukan berarti melarat -> kesetiakawanan sosial (halaman 79).
- Pendekatan interdisipliner dalam pembangunan (halaman 79).

Dalam bagian tiga tentang penghayatan dan penjabaran Pancasila, diungkapkan mengenai usaha-usaha untuk menggagalkan atau mengganti Pancasila. Karena itu, kesadaran akan memiliki Pancasila saja tidak cukup tapi juga harus memahami dan menghayatinya serta memenerapkann dalam kehidupan sehari-hari.

Poin-poin lainnya yang saya tangkap dalam bagian ini:
- Perlu adanya kesatuan tafsir Pancasila.
- Penjabaran dan penghayatan Pancasila harus manusiawi.
- Harus ada keseimbangan antara kebebasan individu dan kemasyarakatan.
- Hakikat manusia sebagai bagian dalam masyarakat.
- Jangan cuma melihat ke atas, tapi juga ke samping dan terutama ke bawah untuk pengendalian diri.
- Pengamalan kemampuan mengendalikan diri dalam setiap sila Pancasila.

Di samping terbatasnya waktu dalam membuat review ini, terus terang, penangkapan saya rada-rada kabur sehingga belum bisa menguraikan poin-poin di atas 😅✌️ 

Yang terpahami oleh saya sementara ini: Kalau kita belajar agama, di dalamnya sudah terkandung begitu banyak amanat untuk dijalankan. Namun karena Indonesia adalah negara majemuk, di mana terdapat berbagai agama, suku dengan adat budaya masing-masing, dsb, maka diperlukan konsep pemersatu--Bhinneka Tunggal Ika--sehingga dibuatlah Pancasila yang dapat berlaku kepada pemeluk agama mana saja dari suku apa saja selama dia termasuk bangsa Indonesia. Pancasila merangkum nilai-nilai ideal yang berlaku dalam bangsa sebagai suatu kesatuan (karena itulah perlu juga mengenal sejarah terbentuknya bangsa Indonesia). Pancasila adalalah sarana pemersatu bangsa sebagaimana bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan yang memudahkan komunikasi antarsuku yang punya bahasa daerahnya masing-masing, sedangkan Pancasila merupakan konsep hidup dalam bermasyarakat di Indonesia.

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain