Tampilkan postingan dengan label pembacaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pembacaan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Mei 2026

Video-video Panjang yang Tamat Disimak Selama April 2026

Dengan adanya Instagram, menamatkan video panjang di YouTube jadi memerlukan ketabahan sebagaimana dalam menamatkan buku, kecuali kalau isinya benar-benar menarik/mengalir, atau lagi ada energi lebih untuk fokus sampai tuntas. Sebagaimana waktu membaca buku, kadang-kadang pikiran dengan sendirinya merumuskan isi video dan timbul kesan-kesan tertentu.

Film King of Comedy


Dari cuplikan-cuplikan Shaolin of Soccer, jadi menonton satu film full Stephen Chow, King of Comedy. Dari segi alur cerita, film ini banyak naik-turunnya; kayak, dikira setelah ini situasi tokohnya bakal membaik, ternyata enggak jadi, terus membaik lagi, begitu seterusnya. Romance berlangsung terlalu cepat dengan pemeran perempuan yang sangat cantik sekali banget. Yah, namanya juga film: durasi terbatas, harus menjual visual, sekaligus relatable bagi banyak pejuang kehidupan.

Dokumenter Sahara: Wilayah Para Jin


Menonton ini atas rekomendasi seseorang. Sepanjang menonton, saya bertanya-tanya, Mana penampakan jinnya? Jin itu sepertinya mewujud dalam kepercayaan warga lokal yang akan menemani si pembuat dokumenter melintasi Sahara. Kendati rajin salat dan berzikir, anak-anaknya pun penghafal Al-Quran, ia membawa si pembuat film ke "orang pintar" untuk meminta semacam pelindung sebelum memulai perjalanan.

Dokumenter ini lebih merupakan rekaman perjalanan melintasi Sahara, persisnya rute yang hampir-hampir tidak pernah dilalui manusia. Sebenarnya ada satu perhentian di mana mereka menemukan jejak manusia berupa lukisan gua. 

Dokumenter ini juga mengenai keajaiban unta yang di samping kerelaannya melayani manusia menanggung banyak beban berat dalam perjalanan panjang, juga bisa mencari makan sendiri dan tahan tidak minum sampai sebulan lebih. 

Tentunya dokumenter ini membawa kita mengalami (meski secara virtual saja) suasana di gurun pasir yang betapa luas tetapi juga serba terbatas dan sering amat sangat panas. Panorama di sekitar Ka'bah boleh jadi berubah-ubah seiring dengan waktu bertambah-tambah mewah, tapi di gurun pasir serupa ini, agaknya begitu-begitu saja sedari masa nabi-nabi (enggak tahu deh waktu Sahara katanya pernah berupa hutan)--tempat mereka menerima wahyu dari Penguasa Semesta Alam. Dalam kekosongan yang mahaluas di gurun pasir, Yang Maha Esa mengumumkan keberadaan diri-Nya; sedangkan dalam hutan tropis yang rimbun penuh distraksi aneka rupa flora dan suara satwa, tumbuh kepercayaan terhadap berbagai entitas gaib. Yang di gurun mengangankan surga sebagaimana alam tropis, sedangkan yang di kawasan tropis mesti menempuh perjalanan sebegitu jauh dan mahal untuk sampai ke titik syiar wakil-wakil Yang Maha Esa.

Perjalanan di kawasan gurun ini membuat saya ingin mendengarkan lagi lagu-lagu dari album Putumayo Presents Mali. Sedikitnya ada dua lagu favorit saya dari album tersebut, yaitu 

"Bana" (Issa Bagayogo) 


dan "Amassakoul 'N'Tenere" (Tinariwen). 


Kedua lagu ini vibe ngegurunnya kerasa banget, membawa seolah-olah lagi naik jip melintasi perkampungan di Afrika, persisnya Mali kali ya. 

Kebetulan saya lagi membaca buku Mansa Musa: The Most Famous African Traveler to Mecca, sambil googling-googling karena sedikitnya yang saya ketahui mengenai peradaban yang pernah ada di sana. Ternyata kawasan tersebut tidak hanya memiliki raja paling kaya, tetapi juga pernah menjadi pusat keilmuan paling maju, dan sampai sekarang masih ada beberapa penyalin yang berusaha melestarikan naskah-naskah kuno dari masa kejayaan Islam itu.


Dokumenter Business Insider


Berbagai produk makanan yang beredar di pasaran, contohnya madu, vanila, wasabi, sirup mapel, keju, kaviar, dan lain-lain, ternyata banyak yang bukan 100% asli. Soalnya, produk-produk tersebut sulit dihasilkan dalam skala besar, antara lain karena sumber dayanya dari alam kurang, sementara permintaan banyak, maka dibikinlah produk buatan yang kadar keasliannya cuma sekian persen.


Masih terkait sumber daya alam sebagai bahan baku produk-produk keperluan manusia, dokumenter dari seri World Wide Waste ini meliput berbagai usaha pengolahan sampah di India menjadi produk baru, walaupun tampaknya sampah sumbernya itu mengandung racun atau logam berat berbahaya, contohnya: dupa dari limbah bunga yang disemprot pestisida, boneka yang kapas isiannya dari bekas puntung rokok, dan seterusnya. Di satu sisi, ini riskan. Di sisi lain, ini tampak sebagai solusi sementara atas permasalahan sampah sekaligus membuka lapangan pekerjaan; lagi pula, kalau bahan baku harus 100% baru dan aman, sebagaimana yang ditunjukkan pada dokumenter pertama, ketersediaannya di alam mungkin terbatas, atau dapat menjadi eksploitasi baru sementara alam yang tersisa mungkin tinggal yang harus dipreservasi saja. Jadi, manfaatkan yang ada dulu, risikonya tanggung sendiri-sendiri nanti-nanti 🫤

Novel Bentang Lapangan


Melihat dari kovernya saja, saya menduga ini novel untuk anak remaja, mungkin tentang anak remaja yang berbakat bermain sepak bola kemudian menjadi juara, semacam Kapten Tsubasa versi Sunda. Ternyata, memang di dalamnya ada tokoh anak remaja berbakat, tapi bukan dia tokoh utamanya. Naratornya sudah bapak-bapak, adapun tokoh utamanya sepertinya adalah Basri yang usianya sudah sekitar seperempat abad, mempunyai istri, dan bekerja di kantor, sedangkan bermain sepak bola profesional adalah sampingan. Rupanya novel ini menceritakan dunia sepak bola profesional dan pengarangnya sendiri--yakni Rachmatullah Ading Affandie-- berpengalaman menjadi komentator siaran sepak bola di RRI serta Ketua Komisi Teknik Persib. Ceritanya, selain kental dengan sudut pandang dan istilah persepakbolaan, juga menyoroti kejiwaan para pemain, seperti kepercayaan diri, kemampuan bekerja sebagai tim, kesombongan, hingga integritas, yang sepertinya bisa ditarik ke ranah apa saja. Itu kondisi-kondisi yang mungkin berkembang dalam jiwa setiap manusia di mana pun ia berkiprah.

Banyak lagi video yang diputar sampai selesai, tapi hanya didengar sambil mengerjakan hal lain, terputus-putus, dengan konsentrasi timbul tenggelam, dan tidak selalu mengenai topik yang benar-benar diminati atau dipahami, sehingga tidak terumuskan isinya juga kurang menimbulkan kesan tertentu.

Selasa, 28 April 2026

Peranan Sultan dan Raja dalam Sejarah Konservasi Alam Indonesia

Gambar dari Scribd.
Penyusun : Pandji Yudhistira Kusumasumantri
ISBN : 978-623-5273-02-0
Penerbit : Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem
Cetakan pertama, Maret 2022
Buku dapat diunduh di situs Inung Wiratno Center

Saya penasaran dengan topik yang diangkat buku ini dari waktu membaca buku Konservasi Alam dalam Islam. Buku lainnya terkait sejarah konservasi alam Indonesia yang saya sudah tamat baca baru Semerbak Bunga di Bandung Raya dan Priangan. Namun kedua buku itu agaknya sebatas wilayah Jawa Barat, persisnya seputaran Bandung/Priangan.

Menurut buku ini, dalam sejarah kerajaan nusantara memang tidak banyak arsip tertulis mengenai kebijakan konservasi alam. Wujudnya lebih berupa pola perilaku masyarakat turun-temurun, seperti kepercayaan mistis, penabuan/larangan untuk memasuki tempat atau melakukan perbuatan tertentu, ritual penghormatan terhadap penguasa gaib, pemanfaatan alam yang sekadar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, hingga ke penamaan tempat-tempat, pepatah dan peribahasa, dan semacamnya yang berkaitan dengan benda-benda alam. Catatan paling tua mengenai konservasi alam yang ditemukan adalah Prasasti Malang bertahun 1395 (masa kerajaan Majapahit), isinya mengenai pencegahan kebakaran padang alang-alang.

Kemudian orang Eropa masuk sekitar masa kerajaan-kerajaan Islam di nusantara. Diterangkan mengenai tradisi perburuan di Eropa ketika itu (persisnya di Inggris dan Jerman), yang juga terdapat di nusantara (persisnya Aceh dan Jawa). Sama seperti di Inggris kala itu, perburuan biasanya dilakukan oleh kalangan aristokrat untuk bersenang-senang. Malah, perburuan semula dipandang sebagai cara mendekatkan diri dengan alam alih-alih merusaknya. Hingga pada abad 18, di Eropa berkembang aliran romantisme yang memunculkan naturalis-naturalis, di antaranya Charles Darwin dengan karya Origin of Species yang mengangkat gagasan akan kekerabatan manusia dengan satwa liar, sehingga mulai ada perubahan pandangan terhadap perburuan. Pengkajian terhadap alam ini pun berkaitan dengan eksploitasi dan ekspansi ke wilayah tropis yang alamnya eksotik.

Bagian yang paling meresahkan untuk dibaca adalah tradisi berburu dan mengadu hewan pada masa kerajaan-kerajaan Islam. Hewan diburu sebanyak-banyaknya demi kesenangan raja-raja, untuk unjuk kekuatan dan kekuasaan, dan diadu sebagai pertunjukan. Gongnya, adu harimau dilakukan dalam perayaan Idul Fitri. Harimau disimbolkan sebagai dosa yang harus ditumpas. (Rasanya ironis. Baru saja membersihkan dosa-dosa selama bulan puasa, langsung dikotori lagi dengan dosa menyiksa hewan 🙄 Kalau mau membantai hewan kan ada waktunya, Idul Adha, dan cukup dengan jenis-jenis herbivora yang mudah dikembang-biakkan seperti kambing, sapi, dan sebagainya, dan ada caranya tersendiri yang bukan dengan mengadu sampai mati 🤦🏽‍♀️)

Memang tradisi mengadu hewan sampai mati di mana-mana ada, bukan hanya di nusantara oleh raja-raja Islam. Masuknya Islam ke nusantara tidak lantas meniadakan praktik-praktik tersebut yang antara satu sama lain kiranya bertolak belakang. Padahal, sepembacaan saya terhadap Al-Quran (disclaimer: saya hanya orang awam), terdapat isyarat dalam cerita tentang Bani Israil yang tidak boleh menangkap ikan pada hari Sabtu, tentang umat Nabi Saleh yang harus berbagi sumber air dengan unta betina, serta larangan berburu dalam perjalanan haji, bahwa kelimpahan sumber daya alam itu tidak mesti untuk dimanfaatkan sebanyak-banyaknya, tetapi justru ujian bagi sifat tamak manusia. 

Sampai sekarang pun banyak pemimpin di Indonesia yang beragama Islam tapi tidak lantas berarti mengamalkan nilai-nilai Islam. Mungkin sekarang sudah berkurang praktik perburuan hewan secara besar-besaran dan mengadu harimau untuk kesenangan (lagian, apa yang mau diadu? Di Jawa harimau sudah punah, di Sumatra juga menuju punah). Gantinya, para penguasa mengeluarkan izin pembukaan lahan besar-besaran yang berdampak pada berkurangnya habitat satwa liar. Satwa yang tersingkir pun secara tidak langsung "diadu" dengan warga sekitar hutan yang sama-sama susah cari makan.

Masih terkait Islam, buku ini menyoroti bahwa dengan menyebarnya agama tersebut, umat Hindu di Tengger dan suku Badui di Banten berpindah ke pegunungan dan membuka lahan. Dahulu penduduk belum banyak, sehingga bukan masalah. Tapi lama-kelamaan makin banyak pembukaan karena pertumbuhan penduduk, usaha pemerintah, dan lain-lain. Islam berkembang pesat di dataran rendah yang banyak air karena air sangat diperlukan untuk berwudu. Perkembangan Islam tersendat-sendat di daerah yang susah air (seperti NTT dan Timor Timur), juga pedalaman/pegunungan yang sumber airnya jauh dari pemukiman dan dingin. Ini juga ironi lainnya: umat Islam sebegitu membutuhkan air, tapi banyak tempat yang menjadi reservoir air justru diubrak-abrik.

Orang-orang Eropa yang kemudian datang, mendirikan pemerintahan kolonial dan membuat peraturan-peraturan perlindungan alam, seakan-akan menjadi pahlawan. Padahal mereka juga yang mula-mula membuka hutan-hutan rimba untuk dijadikan perkebunan, dieksploitasi besar-besaran yang hasilnya untuk didistribusikan ke tempat-tempat jauh, dan keuntungannya barangkali lebih banyak untuk pemiliknya daripada warga setempat. Tengoklah Priangan yang dahulu kekayaan sumber daya alamnya begitu dipuja-puji oleh Andries D. Wilde, sekarang menjadi wilayah yang tingkat penganggurannya tinggi. Barangkali warga asli telah begitu terbiasa dengan kelimpahan itu sehingga tinggal mengambil saja yang ada, rela saja berbagi dengan pendatang. Tapi kelimpahan itu rupanya bukan tak ada batasnya. Yang datang ternyata kemaruk, akibatnya pribumi terpuruk.

Peraturan-peraturan perlindungan alam mulanya dibuat karena cenderawasih jadi langka akibat perburuan, padahal perdagangan bulunya sangat menguntungkan. Penangkapan cenderawasih pun dibatasi; tidak dilarang total, karena akan mengakibatkan penyelundupan. Peraturan-peraturan itu kemudian juga menetapkan kawasan-kawasan konservasi, dan "peranan sultan dan raja dalam sejarah konservasi alam Indonesia" adalah mendukung keputusan tersebut.
Konsep konservasi alam di Indonesia selama beberapa dekade banyak dipengaruhi oleh pemikiran dan ide-ide konservasi dari Eropa yang berangkat dari logika preservasi, mengawetkan alam untuk dinikmati oleh kalangan aristokrat seperti halnya yang terjadi pada kerajaan-kerajaan di Jawa untuk tradisi dan kesenangan dalam berburu. Dalam prakteknya, konservasi alam kemudian kurang memperhatikan kearifan lokal dan masyarakat adat yang telah melekat dan merupakan menjadi tradisi selama ratusan tahun. (halaman 69)
Pemerintah kolonial sudah lama angkat kaki, tapi cara-caranya masih berlaku termasuk dalam dunia konservasi. Kawasan-kawasan konservasi ditetapkan, dengan mementingkan siapa yang mampu bayar antara lain melalui wisata juga valuasi jasa ekosistem, serta membatasi akses warga sekitar yang sebelumnya telah biasa mengambil hasil hutan secara cuma-cuma untuk kebutuhan sehari-hari; sebagaimana dahulu Kota Bandung dibangun dengan konsep yang kedengaran begitu bagus dan indah--kota taman--tapi di area tertentu terpampang tulisan: "Verboden voor honden en inlanders".

Rabu, 01 April 2026

Tersesat di Jalan yang Benar: Seribu Hari Mengelola Leuser 2005 - 2007

Gambar dari Grobmart.
Penulis : Wiratno dan para sahabat
Penerbit : Gadjah Mada University Press
ISBN : 978-602-386-380-3
Cetakan pertama 2013 oleh UNESCO Jakarta Office 
Cetakan kedua oleh Dir. Penyiapan Kawasan Perhutanan Sosial
Cetakan ketiga oleh KFW
Didigitalisasi Agustus 2023

Taman Nasional Gunung Leuser (selanjutnya TNGL) termasuk kawasan konservasi yang dirambah untuk kepentingan pembangunan. Biasanya pemerintah yang disalahkan atas persoalan efektivitas pengelolaan lahan, sekalipun ada juga faktor-faktor eksternal seperti meluasnya perkebunan ilegal, kebijakan pemerintah setempat yang tidak kondusif, dan sebagainya. Maka buku ini, yang ditulis oleh seseorang yang pernah menjadi Kepala Balai TNGL selama hampir 1000 hari (2 tahun 8 bulan, 2005 - 2007), merupakan upaya autokritik.

Pembaca sekaligus diingatkan bahwa ada berbagai pihak dalam dunia konservasi. Mitosnya, satu pihak mewakili satu peran saja, misal pemerintah pasti salah, LSM pasti idealis, masyarakat pasti tidak tahu apa-apa, padahal kenyataannya kompleks. Tiap pihak itu merupakan sekelompok individu yang beragam kepentingannya, tidak bisa disamaratakan dan jangan menggeneralisasikan. Pihak pemerintah yang sering menjadi kambing hitam juga terdiri dari beragam individu, memang ada yang pragmatis tapi ada juga yang sungguh mengusahakan perbaikan. Negara-negara maju pun tidak selalu terpuji, banyak media hanya mencari sensasi dan menerapkan prinsip bad news is good news. Satu cara untuk mengatasi masalah intelektual cara berpikir generik ini adalah melihat secara mendetail dan berhati-hati, menghilangkan asumsi-asumsi, tidak bersikap apriori (= berpraanggapan sebelum mengetahui, melihat, menyelidiki, dan sebagainya keadaan yang sebenarnya), dan menyerahkan kepada ahli.
Bagaimana kita harus mencari strategi untuk menyeimbangkan usaha penyelamatan lingkungan untuk kepentingan jangka panjang dan usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan mendesak ekonomi jangka pendek? (halaman xxxviii)

Sepintas, antara membaca-menulis-merenung dan kerja konservasi seperti dua aktivitas yang bertolak belakang. Membaca-menulis-merenung cenderung merupakan aktivitas soliter dalam ruang, walaupun bisa saja dilakukan bersama-sama di luar ruangan, misalnya berupa kegiatan silent reading atau menulis bareng dan berdiskusi (urun pikiran) di tempat terbuka. Sedangkan kerja konservasi identik dengan bergerak di lapangan, bersosialisasi dengan masyarakat, meskipun bisa juga duduk diam seorang diri mengamati satwa. Jadi pekerja konservasi yang juga senang membaca-menulis-merenung seperti memiliki keseimbangan antara aktivitas fisik, sosial, dan soliter. 

Pak Wiratno adalah contoh rimbawan yang menyeimbangkan antara konservasi dan literasi. Begini siklus kerjanya: berdiskusi bersama staf - pergi bersama ke hutan - melihat perbatasan kawasan - berkunjung ke desa-desa - mendapat perspektif berbeda dan informasi berharga dari LSM - berkoordinasi dengan pemerintah setempat - kembali bekerja di kantor - mencatat dan menuliskan pengalaman lapangan - membaca literatur, jurnal-jurnal, peraturan perundangan-undangan - menganalisis pengalaman tertulis bersama staf. 

Beliau mengimbau rekan-rekannya di dunia konservasi untuk banyak menulis juga dan menghimpun tulisan mereka dalam buku-buku yang salah satunya adalah buku Tersesat di Jalan yang Benar ini, dan banyak lagi yang bisa diakses di situs web beliau: https://iw-center.com/. Menurutnya, menulis itu mengasah modal intelektual (ingatan, buku yang pernah dibaca, intuisi, kemampuan analitik) yang dimiliki. Menulis berarti menganalisis, yang adalah usaha investasi pengayaan intelektual sumber daya manusia. Salah satu cara yang paling mudah untuk menumbuhkan karakter pembelajar adalah menuliskan kembali apa yang ditemukan dalam praktik pengelolaan konservasi sehari-hari (halaman 5).

Kontributor dalam buku ini berasal dari beragam latar belakang yang masih ada hubungannya dengan pengelolaan di kawasan Leuser. Mereka bukan hanya pegawai pemerintahan, melainkan ada juga yang aktivis wisata, jurnalis, polisi, wakil LSM, dan lain-lain, sehingga ada banyak perspektif, banyak cerita mengenai permasalahan-permasalahan di seputar kawasan. Ada cerita tentang rehabilitasi orangutan semi-liar, ada sejarah pembangunan kawasan wisata Bukit Lawang, ada gambaran kehidupan warga Tangkahan yang ekonominya bergantung pada perkebunan sawit dan karet serta pariwisata, dan lain-lain. Ada yang seru, dan ada yang haru. Ragam cerita ini menunjukkan kompleksnya permasalahan di lapangan.

Sebagai warga kota, pandangan saya masih sama. Hasil dari pengusahaan hutan di antaranya untuk didistribusikan ke kota-kota dan dikonsumsi oleh kita-kita, sehingga kita-kita yang di kota-kota secara tidak langsung turut memiskinkan orang lain yang hidup di sekitar hutan sekaligus membesarkan potensi bencana alam sebagai konsekuensi dari pembabatan hutan itu. Walau tanggung jawab sebetulnya lebih berat pada pengusaha-penguasa yang memungkinkan itu terjadi, saya kira konsumen sesungguhnya juga memiliki kekuatan untuk melawan, yakni dengan mengendalikan hawa nafsu, mengonsumsi secukupnya (hidup sesederhana mungkin), serta mengembangkan sumber-sumber ekonomi alternatif untuk mengurangi kebergantungan pada berbagai hasil dari alih guna hutan. 

Gambar dari Facebook "Rosben untuk Kesehatan Rohani".

Buku ini sempat mengungkit nasib pejuang konservasi yang "sendirian, tanpa imbalan, bertahun-tahun, letih, dan sering kali dicemooh dan diabaikan" (halaman 225). Sementara itu, generasi baru yang militan, idealis, dan bersedia bekerja di bidang konservasi makin langka, kualitas staf yang ada pun lemah dan banyak yang enggan ke lapangan. Berbarengan dengan selesainya saya membaca buku ini, Mongabay mengeluarkan artikel tentang kesehatan mental pekerja konservasi, "Pekerja Konservasi: Profesi yang Dibangun di Atas Harapan, Tertekan oleh Kehilangan". Mereka tak ubahnya pekerja lain di mana pun dengan beban kerja yang melampaui kemampuan, bayaran tak seberapa, tak sempat merawat diri, sembari tak berdaya menyaksikan alam yang mereka perjuangkan malah bertambah rusak. Eco-grief is real. Tapi, sekalipun besok jadwalnya kiamat, kita tetap harus menanam. 

Minggu, 04 Januari 2026

Tempo Nomor 27/XXXI/2-8 September 2002

ISSN : 0126-4273
Rp 14.700

Biasanya saya gagal paham bila membaca rubrik "Ekonomi & Bisnis". Tapi di Tempo edisi ini ada dua cerita menarik terkait bisnis narkoba dan pertanian. 

Cerita pertama bait-nya terpampang di kover depan: "Tommy Winata di Belakang Bandar Ekstasi Tangerang?" Sebetulnya cerita ini masuk rubrik "KRIMINALITAS". Ada dua judul artikel yang terkait: "Tommy Winata: 'Saya Tak Bersekutu dengan Pembuat Narkoba'" (menampilkan foto yang bersangkutan sedang berkacak pinggang dengan ekspresi menantang) dan "Yang Dikejar Bukti Anyar". Artikel yang pertama itu berisi wawancara dengan Tommy Winata, pengusaha yang dituduh terlibat dalam bisnis ilegal, di antaranya narkoba. Di sini jelas ia menyangkal tuduhan itu serta menyatakan dukungannya dalam mengatasi masalah narkoba. Baru-baru ini saja saya ada ketertarikan pada pelaku bisnis ilegal di Indonesia, sejak menemukan video tentang Freddy Budiman di YouTube (dan katanya ada Freddy lainnya yang belum tertangkap?). Freddy Budiman sudah terlibat dalam bisnis narkoba sejak SMA, kemudian menjadi pengusaha skala internasional, hingga akhirnya dihukum mati, tapi masih sempat bertobat. Omong-omong soal Freddy, The Panas Dalam punya lagu judulnya "Freddy Preman Karbitan". 


Cerita kedua mengenai kasus investasi agrobisnis PT QSAR yang berujung tekor sehingga dirutnya ditahan. Kasus ini sebetulnya sudah diangkat sedari Tempo edisi sebelumnya. Dalam artikel-artikel ini terdapat edukasi mengenai investasi. Saya merasa investasi itu seperti berjudi: mengeluarkan uang untuk mendapatkan lebih banyak uang. Hanya saja: 1) uang yang dikeluarkan itu untuk membiayai usaha orang lain, 2) yang diharapkan hanya keuntungan sedangkan risiko kerugian kurang diperhitungkan, padahal usaha bisa mengalami naik turun. Barangkali dalam Islam, investasi semestinya diniatkan lebih untuk membantu sesama ketimbang untuk meraih keuntungan pribadi (paling-paling, pahala dari Allah); kalaupun mendapatkan keuntungan dari bagi hasil usaha, itu bonus. 

Untuk mendapatkan kepercayaan calon investor, PT QSAR punya trik menggaet pejabat (halaman 105). Sekarang istilahnya endorsement kali ya, yaitu menggaet tokoh/pesohor/orang ternama supaya orang lainnya yang bukan siapa-siapa tertarik untuk melirik produk yang ditawarkan. Khususnya dengan pejabat, keuntungan yang diperoleh pengusaha, selain untuk mendongkrak popularitas yang notabene jalan pintas meyakinkan calon investor, adalah mencari "pengamanan".

Sebenarnya PT QSAR bukan perusahaan bodong. Usahanya riil, dan masih ada orang-orang yang memandangnya secara positif, layak diteruskan. Permasalahannya adalah: dirutnya suka mengibul, dana disalahgunakan untuk investasi lain, dan investor tidak siap menanggung kerugian.

Layanan Rumah Sakit Sint Carolus (halaman 8)

Ini surat dari pembaca yang memuji pelayanan RS St. Carolus. Kiranya sedari dahulu pelayanan rumah sakit ini sudah memberikan kesan positif, simak saja lagu lawas yang judulnya "Berpisah di St. Carolus".


Menurut hasil googling, RS St. Carolus didirikan awal abad 20 oleh biarawati-biarawati Katolik Kongregasi St. Carolus Borromeus. Borromeus itu nama rumah sakit Katolik di Bandung. Ada teman yang juga pernah memuji pelayanan rumah sakit tersebut ketika ayahnya sedang dalam momen kritis. Padahal ayahnya tidak mau meninggal di rumah sakit nonmuslim, tapi setelah mendatangi beberapa rumah sakit, mau tidak mau, di sanalah beliau mengembuskan napas terakhir dikelilingi anak-anaknya yang membimbing untuk mengucapkan syahadat. 

St. Carolus punya cabang juga di Yogyakarta yang kemudian bernama Panti Rapih.

Tentang Seorang (Anak) Lelaki (halaman 125)

Ini ulasan film About A Boy oleh Leila S. Chudori. Film ini berdasarkan novel karya Nick Hornby, dibintangi oleh Hugh Grant, Rachel Weisz, Nicholas Hoult, dan Toni Collette. Lagu soundtrack-nya, "Silent Sigh" oleh Badly Drawn Boy, dulu sering tayang di MTV. Lagu-lagu lainnya dari Badly Drawn Boy enak juga loh.


Beberapa artikel menyangkut sejarah (klik judul untuk membaca salinan artikel): 

"Wangsit", kolom Onghokham mengomentari peristiwa pembongkaran batu tulis oleh Menag.

"Kanguru dalam Permesta", resensi buku Keterlibatan Australia dalam Pemberontakan PRRI/Permesta.


Jumat, 19 Desember 2025

Politik Ekologi: Pengelolaan Taman Nasional Era Otda

Gambar dari
Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Penulis : Herman Hidayat, John Haba, Robert Siburian
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia bekerja sama dengan LIPI Press, 2011
ISBN : 978-979-461-792-2

Buku ini kumpulan hasil penelitian lapangan tentang dinamika beberapa Taman Nasional di Indonesia oleh tim LIPI selama 2005-2009. Fokusnya menganalisis kebijakan pemerintah, serta persepsi pemerintah pusat (Kementerian Kehutanan) dan daerah (Provinsi dan Kabupaten) atas Taman Nasional, juga program kemitraan antara berbagai stakeholders.

"Bab I. Politik Ekologi: Taman Nasional dalam Era Otda" menyampaikan gambaran yang tampaknya umum terjadi di Taman-taman Nasional di Indonesia sejak era Otonomi Daerah. Selama Orde Baru, Pemerintah Pusat mengatur secara sepihak tanpa melibatkan masyarakat setempat. Akibatnya, setelah Otonomi Daerah, Pemerintah Daerah mengalami kendala untuk membangun daerahnya sendiri-sendiri, sebab ada daerah-daerah yang lahannya banyak diduduki oleh Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kehutanan, dengan menetapkannya sebagai Taman Nasional. Dengan potensi kawasan pelestarian alamnya itu, Indonesia mempunyai peran penting di dunia internasional untuk mengatasi masalah pemanasan global. Konflik ini tidak hanya antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, tetapi juga melibatkan pengusaha, masyarakat adat yang sudah turun-temurun menghuni kawasan, masyarakat pendatang, sampai LSM domestik dan internasional. 

Yang paling memprihatinkan bagi saya adalah masyarakat asli, yang dirampas haknya sekalipun hanya untuk hidup subsistence (sekadar untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari). Saya membayangkannya bagaimana jika kita sekeluarga sudah turun-temurun hidup di suatu tempat, mencari makan, membangun rumah, dan sebagainya, dengan mengambil dari hutan dan sekitarnya secara cuma-cuma, lalu datang sekelompok orang yang menyuruh pergi, membatasi akses ke hutan, yang kemudian dikuasai oleh pendatang, diporak-porandakan untuk jadi perkebunan, pertambangan, dan sebagainya, sementara kita jadi harus melakukan berbagai usaha lain untuk mendapatkan uang untuk menebus kebutuhan sehari-hari yang semula dapat diambil secara cuma-cuma secukupnya itu. Bahkan kita tidak lagi memiliki rasa cukup; kebutuhan yang semula sekadar untuk makan-minum, menutup aurat, memiliki naungan, dan selebihnya bersosialisasi serta menyembah entitas gaib Penguasa Alam Semesta, kini bertambah-tambah jadi harus mengirimkan anak ke sekolah dengan membayar segala kelengkapannya, memiliki rumah bata dan kendaraan bermotor, memasang listrik, mengantongi handphone, ... mengejar standar hidup ala masyarakat nun jauh di sana. Perubahan ini mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat asli, akibat dari melihat pendatang mengeksploitasi alam seluas-luasnya, mereka jadi ikut-ikutan. Mau bagaimana lagi, kalau tidak begitu, rugi dong! Mereka pun tidak lagi ramah, murah hati, menghormati alam sedemikian sehingga untuk menebang satu pohon saja harus mengadakan upacara, sebagai gantinya tumbuh jiwa komersial yang melihat pohon hanya sebagai sumber uang. Pepatah luar mengatakan bahwa uang tidak tumbuh dari pohon, tapi di negeri kita, nyatanya uang mengalir ke kantong-kantong dengan menebangi pohon-pohon.


Masyarakat asli tidak lagi boleh memanfaatkan tempat tinggal mereka turun-temurun sekadar untuk kebutuhan sederhana, sebab kawasan hanya boleh dikuasai oleh pihak-pihak bermodal, untuk memproduksi barang-barang untuk dijual, yang keuntungannya lebih banyak kembali kepada pihak-pihak bermodal itu. Kita-kita juga yang membantu memodali pihak-pihak tersebut dengan menaruh uang kita di bank. Kita-kita juga yang turut mengonsumsi produk dari mengubrak-abrik alam itu, menikmati hasil dari menghilangkan penghidupan masyarakat lain.

Misi konservasi tidak murni untuk mengonservasi, tetapi disisipi kepentingan pihak yang hendak menguasai kawasan, dengan menyisakan sebagiannya untuk diproteksi dengan menyingkirkan masyarakat yang semula hidup subsistence di dalamnya, mem-"beradab"-kan mereka agar turut menjadi konsumen dari produk-produk hasil eksploitasi itu. Ekowisata jadi satu kompensasi yang ditawarkan, tetapi yang dapat menikmatinya pun hanya sekalangan orang beruang yang mampu membayarnya, dan penduduk setempat mesti jadi pelayan bagi mereka.


Atau, barangkali ini hanya ide liar belaka untuk karangan fiksi spekulatif 🙃

Bab 2 sampai Bab 9 melaporkan keadaan di sejumlah Taman Nasional di Indonesia yaitu: Bukit Tigapuluh, Kerinci Seblat, Baluran, Bali Barat, Tanjung Puting, Kutai, Rawa Aopa Watumohai, Bogani Nani Wartabone; ada yang di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi--cukup mewakili nusantara dari sebelah barat, tengah, sampai wilayah timur. Satu bab menyoroti satu Taman Nasional. 

Selain permasalahan yang tampak umum terjadi di setiap Taman Nasional era Otda itu, di buku ini akan kita temukan pula praktik adat yang khas di kawasan-kawasan tertentu di Indonesia dalam berinteraksi dengan alam. Sebagai contoh, di Bali, sebenarnya adat agama Hindu di sana mengatur tata lingkungan. Terdapat Kawasan Radius Kesucian Pura (KRKP), artinya alam di sekitar pura merupakan kawasan yang mesti dilindungi untuk mendukung kesucian tempat ibadah. Akan tetapi, agaknya aturan itu tidak ditaati sepenuhnya, termasuk yang berada di kawasan Taman Nasional Bali Barat (halaman 132).

Minggu, 14 Desember 2025

Menulis Secara Populer

Penulis : Ismail Marahimin
Penerbit : PT Dunia Pustaka Jaya, Jakarta
Edisi Revisi, Cetakan ketiga, 2001
ISBN : 979-419-126-4
"... orang yang belajar menulis itu memang harus rela dipermalukan. Tidak ada jalan lain." (halaman 6)
Dipermalukan, atau mempermalukan diri dengan membiarkan dibaca orang.

Katanya, dalam menuntut ilmu, yang mula-mula harus dipelajari adalah adab. Demikian halnya dengan menulis. Buku panduan menulis ini diawali dengan semacam "pelajaran adab sebagai penulis", antara lain harus rela dipermalukan, sabar, rendah hati, dan rajin berlatih.

Ini asumsi pribadi saja yang mungkin berubah: tampaknya tradisi/tren/seni tulis-menulis itu mencapai puncaknya pada era blog. Setelah itu, sejak internet makin mudah diakses dan bermunculan platform-platform audio-visual seperti Instagram, YouTube dan lain-lain, banyak yang beralih media. Konten atau vlog di IG/YT yang berwarna-warni, bergerak cepat, diiringi musik yang asyik, lebih memanjakan indra daripada dinding-teks. Tentu masih ada saja yang suka menulis dan suka membaca. Masih banyak media yang mempublikasikan tulisan. Saya pun masih berusaha untuk mempertahankan kegiatan ini, walau lebih untuk pribadi, dan sudah tidak mengikuti perkembangan dunia tersebut.

Karena itu, buku ini saya pandang lebih sebagai bunga rampai ragam bentuk tulisan yang dilengkapi dengan penjelasan. Bentuk-bentuk tulisan yang disertakan dalam buku ini adalah: deskripsi, narasi, eksposisi, dan artikel. Tiap-tiap bentuk itu ada lagi jenis-jenisnya. Deskripsi bisa dikembangkan menurut tempat, waktu, dan kesan. Narasi bisa berupa dongeng, cerpen, dan novel. Eksposisi bisa menjadi dasar untuk menulis pidato dan karya ilmiah, atau sekadar latihan berpikir logis dan sistematis. Artikel ada banyak lagi ragamnya. Kendati ada nama untuk berbagai bentuk tulisan, dalam penerapannya tidak mesti baku. Contohnya, narasi tidak hanya berupa karya fiksi, tetapi dapat ditemukan juga dalam artikel nonfiksi. 

Beberapa tulisan mengandung ide yang sama, tapi dikembangkan secara berbeda-beda oleh tiap-tiap penulis. Sebagian penulis adalah peserta mata kuliah Penulisan Populer yang diampu oleh penulis buku ini (Ismail Marahimin). Ada pula karya yang sudah diterbitkan dalam buku berjudul Jejak Langkah Anak Kuliah (Gramedia, 1989). Itu mengingatkan pada masa kuliah saya sendiri, ketika lagi ranjing-ranjingnya menulis, dan saya bersyukur telah mempergunakan masa itu untuk berkreasi, ketika baik otak maupun fisik masih lincah dan banyak energi. Seandainya saya membaca buku ini semasa kuliah, sepertinya semangat saya akan bertambah-tambah lagi. Buku ini mengingatkan saya bahwa menulis pernah begitu mengasyikkan, terutama dalam bentuk cerpen dan satire.

Ada beberapa model tulisan dalam buku ini yang memancing komentar agak panjang. (Memang jauh lebih gampang sekadar mengomentari tulisan daripada mengerjakan latihan-latihan menulis itu sendiri heuheuheu.)

MODEL 6: DESKRIPSI BANYAK PERISTIWA DALAM WAKTU YANG LAMA (I) "GEMPA BUMI" (Jack London)

Deskripsi ini mengenai gempa dan kebakaran yang melanda San Fransisco, 18-20 April 1906. Pada waktu saya membaca tulisan ini, sedang ramai berita kebakaran di perumahan selebritas Hollywood. Banyak yang menganggap itu sebagai azab atas dukungan Amerika Serikat terhadap Israel. Terlepas dari soal azab yang sejatinya sekehendak Tuhan mau menimpakannya ke manusia mana, kapan dan di mana, rupanya kawasan barat Amerika Serikat situ memang rawan bencana dari masa ke masa. Pada saat terjadinya bencana di San Fransisco, 1906 ini, perumahan orang kaya juga terkena, meskipun ada juga yang buruh.

MODEL 15: DIA TERAMAT MALANG II "IBU" (Tina Savitri)

Mengenai tulisan ini, Pak IM mengkritisi adanya kejanggalan dalam usia para tokoh yang berkaitan dengan latar masa pendudukan Belanda persis sebelum Jepang masuk (halaman 151). Menurut saya, tidak ada yang salah. Selisih usia antara kakak dan adik bisa sampai hampir 20 tahun (contohnya antara bapak saya dan kakak pertamanya), dan perempuan masih bisa melahirkan pada usia 40-an tahun. Jadi seandainya tokoh utama berusia 20-an tahun pada 1980-an, maka dia lahir pada 1960-an, sehingga ibunya mungkin lahir pada 1920-an, sedangkan Jepang masuk pada 1940-an. Jadi mungkin saja ibunya masih sempat bersekolah di MULO persis sebelum Jepang masuk.

MODEL 26: EKSPOSISI IV "ADOPSI ANAK INDONESIA OLEH ORANG ASING, MENGAPA TIDAK?" (Suryanti Winata)

Sepertinya gara-gara model ini saya akhirnya terpantik untuk mengeklik satu dokumenter Al-Jazeera English yang terkait (sudah beberapa lama muncul terus thumbnail-nya di beranda), ”Adopted from Indonesia to the Netherlands: A Dutch family's reckoning”, tentang satu anak Jawa yang diadopsi orang tua Belanda tapi malah problematik. Sebagai model eksposisi, tulisan ini berargumen membela praktik adopsi, membuat saya berpikir, benar juga, itu mengurangi beban negara mengurus rakyat yang sudah terlalu banyak. Namun dokumenter Al-Jazeera tersebut justru membukakan mata bahwa anak adopsi yang dibesarkan di negara yang tampak lebih sejahtera itu ternyata belum tentu bahagia, malah menyimpan luka mendalam. 

Ada hal-hal yang kalau dipikir secara rasional saja, kenapa tidak? Satu contoh lain adalah soal poligami. Kenapa itu tidak dilihat sebagai keuntungan bagi perempuan? Berkurang beban kewajiban terhadap suami; kalau lagi malas melayani, suruh saja dia pergi ke istri lainnya. Lebih banyak me-time. Beban pertanggungjawaban suami justru makin banyak, baik di dunia maupun di akhirat. Kalau dipikir secara rasional, poligami justru meringankan perempuan dan memberatkan laki-laki dong. Tapi, kenyataannya, kalau dilihat dari kacamata syahwat, poligami itu malah pencapaian bagi laki-laki. Kalau pakai perasaan, ikut perih dan sesak  mendengar suara hati istri-istri yang suaminya berpaling ke pelukan wanita lain, risih juga bila ustad-ustad menjadikan poligami sebagai bahan candaan di majelis pengajian.

Maka soal adopsi juga, bila dipikir saja, tanpa dirasakan sendiri, sekilas tampak sebagai solusi bagi masalah demografi. Padahal dari sudut pandang anak adopsi sendiri, alih-alih senang dengan segala fasilitas negara "maju", malah terus bergulat dengan kebingungan, keterasingan, yang tidak enak juga. Pada waktu membaca/menonton soal adopsi internasional ini, saya juga lagi membaca novel Robert Anak Surapati, tentang keturunan pribumi nusantara yang diadopsi pasangan Belanda. Walau orang tua Belanda itu amat memanjakannya, pada akhirnya, Robert tak terhindarkan juga dari masalah kebingungan/keterasingan antara beralih ke pihak ayahnya yang pribumi atau tetap bersama Belanda sekalipun sudah jahat kepadanya.

Ibarat kata, pikiran bilang kenapa tidak, sedangkan perasaan lain lagi. Perasaan tidak suka/tidak enak itu pun dapat bertumpuk-tumpuk hingga lama-kelamaan tak terbendung lagi, menggelapkan pikiran dan mendorong pada perbuatan reaktif, atau menjadi penyakit.

Begitulah hidup. Orang bisa saja dibesarkan orang tua kandung di negeri sendiri, tidak pula dipoligami, dan tetap tertimpa oleh berbagai masalah jenis lainnya :v

MODEL 27: EKSPOSISI V "TINJU PROFESIONAL: PERWUJUDAN NALURI PRIMORDIAL MANUSIA" (Tina Savitri)

Sebagaimana disinggung dalam paragraf pembuka analisis mengenai tulisan ini, dari waktu ke waktu, ada saja yang anti pertandingan tinju dan menyampaikannya lewat tulisan, baik itu surat pembaca, artikel, maupun puisi seperti yang pernah dibuat oleh Taufiq Ismail dan terdapat dalam bukunya Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia. Yang anti-tinju memandang pertandingan itu tidak ubahnya menyabung ayam, seperti gladiator versi modern, di mana orang senang melihat orang lain menyakiti sesamanya. 

MODEL 30: ARTIKEL III "PERAN GANDA ATAU BEBAN GANDA?" (Avianti) & MODEL 31: ARTIKEL IV "INI CITA-CITA KARTINI?" (Najah Farhati)

Keduanya sama-sama ditulis oleh pengikut mata kuliah Penulisan Populer, 1989/90, menunjukkan bahwa masalah wanita karier yang tetap harus menjalani peran ibu rumah tangga sepenuhnya, suami yang tidak mau membantu, perempuan yang enggan menikah karena tahu betapa beratnya beban ganda itu dan lebih penting mencari uang untuk diri sendiri, laki-laki yang ingin agar perempuan dapat mengerjakan segala-gala tapi tetap tunduk kepadanya, sudah dipersoalkan sejak era generasi milenial baru lahir. Tentunya perlu diingat bahwa bukan berarti sama sekali tidak ada laki-laki yang mengerjakan segala-gala dan lebih banyak berkorban daripada istrinya, ataupun pasangan-pasangan yang mampu saling pengertian. 

MODEL 46: FEATURE/FICER II "DUNIA DALAM TAHUN 1986" (Aldous Huxley)

Ramalan Huxley dari tahun 1961 yang memproyeksikan tahun 1986 ini kalau menurut Pak IM banyak yang tidak menjadi kenyataan. Saya yang membacanya pada 2025 justru merasa relevan. Barangkali ramalan itu belum relevan 25 tahun setelah ditulis, tapi baru pada 60-an tahun kemudian, persisnya mengenai pengembangan obat-obat kejiwaan, banyaknya waktu luang, gerakan DIY, dan automasi. 

Pengembangan obat kejiwaan telah mewujud dengan membesarnya industri kesehatan mental, barangkali perlu ditunjang oleh industri media sosial/digital yang pada 1986 belum sampai pada taraf sedemikian rupa. Orang-orang perlu terlebih dahulu dibuat kacau kejiwaannya dengan media sosial/digital, agar membutuhkan produk dan jasa yang disediakan industri kesehatan mental. 

Memang ada sejumlah pekerjaan yang tidak dapat digantikan oleh robot, tapi sebagian lagi sudah dengan banyaknya PHK di mana-mana. Akibatnya banyak orang memiliki banyak waktu luang, sehingga pelariannya entahkah ke obat kejiwaan/industri kesehatan mental (karena stres menganggur), atau ke candu digital (scrolling media sosial untuk melupakan beban), atau ke kegiatan produktif (DIY, mendayagunakan apa pun yang tersedia di sekitar).

Jumat, 19 September 2025

POEISI LAMA

dikumpulkan dan diuraikan oleh S. Takdir Alisyahbana

diterbitkan oleh Balai Pustaka, Batavia, 1940


Menurut "PENDAHOELOEAN", buku ini ditujukan untuk murid AMS, Afd. Al, HIK, atau yang sederajat, yang sudah paham bahasa Melayu sekalian dengan ejaannya. Persisnya, ada dua jenis ejaan dalam buku ini. Ejaan pertama, seperti yang tampak pada kover dan isi selebihnya, menggunakan "oe" untuk "u", "j" untuk "y", dan seterusnya. Ejaan kedua, yang disebut sebagai ejaan "Semenandjoeng" (Malaysia?), terdapat pada beberapa contoh puisi, lebih mendekati ejaan bahasa Indonesia yang dipakai sekarang karena menggunakan "u" untuk "u", "y" untuk "y" dan seterusnya, tapi ada juga beberapa perbedaannya, salah satunya yaitu ada ceruk di atas "e" yang dibaca pepet. 

Penulis kerap memberikan catatan kaki berisi pengertian kata. Ada kata-kata yang bagi orang Indonesia zaman sekarang sudah umum diketahui, contohnya "bentuk" dan "penyair" (halaman 5). Adanya catatan kaki yang menerangkan pengertian kata-kata tersebut seperti menunjukkan bahwa kata-kata tersebut masih asing bagi pembaca sasarannya. Malah, untuk kata "bentuk" disertakan padanan dalam bahasa Belanda, "vorm", seolah-olah pembaca lebih tahu bahasa Belanda daripada Melayu. 

Ada enam bab dalam buku ini.

Bab pertama, "POEISI LAMA SEBAGAI PANTJARAN MASJARAKAT LAMA", mula-mula menerangkan perbedaan antara puisi lama dan puisi baru, yang pendeknya ada pada bentuk maupun isi. Perlu dipahami bahwa puisi adalah hasil jiwa penyair yang dibentuk oleh masyarakat pada tempat dan zamannya. Maka puisi lama merupakan pancaran dari masyarakat lama. Mengenali puisi lama berarti juga mengenali kebudayaan dan masyarakat lama itu. Nah, masyarakat modern yang dimaksud oleh buku ini berarti masyarakat sekitar tahun 1940, tapi esensinya kurang lebih masih sama dengan sekira 80 tahun kemudian (yaitu pada waktu saya membacanya): sudah bersekolah, berdiam di kota besar, dan banyak bergaul dengan bangsa asing. Untuk bergaul dengan bangsa asing ini, dalam konteks era 2020-an, sudah dibantu dengan kehadiran internet, sehingga sepertinya tidak mesti selalu diartikan dengan bergaul secara langsung, tetapi bisa juga hanya melalui pertukaran pesan di dunia maya, akses terhadap konten-konten asing, dan lain-lain.

Sebagaimana ciri pada masyarakat lama yang cenderung homogen, puisi lama juga cenderung sama baik bentuk maupun isinya. Khususnya mengenai kepercayaan terhadap mantra (salah satu bentuk puisi lama), kalau tidak persis sebagaimana yang diajarkan, maka hilang juga kekuatannya, sehingga mungkin itu sebabnya puisi lama cenderung sama turun-temurun. Maka bungai rampai ini disusun menurut bentuknya, yaitu jenis-jenis ikatan puisi. Jadi buku ini mengingatkan pada buku Poem-Making: Ways to Begin Making Poetry, karena sama-sama menjelaskan tentang puisi menurut bentuknya, tapi bedanya, buku ini versi puisi lama Melayu dan ada juga dari Minangkabau.

Bab-bab berikutnya dijuduli menurut jenis-jenis ikatan puisi lama, yaitu pantun (bab 2), syair (bab 3), dan gurindam (bab 4). Pantun satu baitnya tidak mesti hanya empat baris, tetapi ada juga yang enam bahkan delapan, sehingga sajaknya bisa ab-ab, abc-abc, abcd-abcd, dengan separuh baris yang pertama adalah sampiran. Syair bersajak a-a-a-a, dan contoh dalam buku ini satu baitnya pada empat baris. Gurindam bersajak a-a terdiri dari dua baris. 

Dalam bab lima, "BAHASA BERIRAMA", diberikan nasihat kepada pengarang-pengarang muda untuk memperhatikan bahasa berirama baik-baik. Bukan untuk menirunya, melainkan mempelajari betapa cakap orang dahulu memakai tenaga-tenaga yang tersembunyi dalam kata dan kalimat, dalam bunyi dan arti, dan betapa teliti mereka memperhatikan alam sekelilingnya--keduanya adalah syarat yang sampai sekarang (1940 atau 2025 atau sepanjang masa?) masih menjadi ukuran bagi segala seni bahasa yang agak berarti (halaman 91).

Bab enam, "LAIN-LAIN", menyuguhkan contoh-contoh ikatan puisi dari buku Makota Radja atau Tad'joe'ssalatin bertahun 1630, karangan Boechari al Djauhari, yang dinamai masnawi, roebai, kit'ah, gazal, dan nazam--nama-nama ini diambil dari bahasa Parsi dan Arab. Namun, di samping jumlahnya terlalu sedikit, perbedaan antara berbagai jenis ikatan itu kurang terang, sehingga tidak dapat diuraikan secara memadai dalam buku ini. 

Dari segi isi, rata-rata mengandung nasihat atau cerita. Unsur keislaman mewarnai, termasuk dalam "Mantera menangkap buaya" (halaman 101-2) yang ditujukan kepada orang halus penjaga buaya, ujungnya menyebut nama "Allah", "Mohamad", "Baginda Rasulallah"; bahkan dalam catatan kaki diterangkan cerita tentang buaya yang pertama adalah permainan Fatimah, anak Nabi Muhammad, tulangnya dari tebu, dagingnya dari tanah liat, dan sebagainya. Terlepas dari kepercayaan terhadap makhluk halus yang kiranya makin memudar dewasa ini, ada nasihat yang tampak relevan sepanjang zaman. 

Dalam contoh-contoh yang ditampilkan, banyak lagi kata yang tidak umum dipakai dalam bahasa Indonesia sekarang. Beberapa kata memang tidak ada artinya, karena sekadar supaya bersajak saja (halaman 46). Dalam buku Poem-Making, menciptakan kata sendiri sekadar untuk menghasilkan rima justru dilarang.

Di halaman 13 (bab 2), disorot pentingnya irama daripada arti kata, seumpama bayi dininabobokan ibunya, yang membuai adalah irama lagu sedangkan kata-katanya sendiri si bayi kemungkinan belum mengerti. Maka dalam pantun, separuh baris pertama atau sampiran itu seperti tiada arti karena yang dipentingkan adalah iramanya, sebagai pemikat perhatian kiranya.

Penulis sempat menilik penjualan buku dalam 10-20 tahun ke belakang (berarti tahun 1920-1930-an), trennya syair terdesak oleh roman dan puisi modern. Sebabnya, "sesungguhnya kebanyakan syair tidak seberapa harganya sebagai buah seni. Kebanyakan hanya permainan kata yang tiada berisi, ulangan baris bersajak yang tidak mengharu hati, sedangkan ceritanya pun bagi orang sekarang tidak menarik hati, karena banyak cacat-celanya dan jauh dari soal-soal penghidupan zaman sekarang." (halaman 47, ejaan sudah disesuaikan) Penulis menyalahkan semata-mata penyair, karena picik pengetahuannya, lemah getar jiwanya, sehingga tidak dapat membuat syair yang "hidup" dan "berjiwa" supaya dapat mengikat hati orang zaman sekarang. Kurang lebih seabad kemudian, roman dan puisi modern pun sudah terdesak oleh YouTube agaknya :v

Selasa, 02 September 2025

Tempo Nomor 26/XXXI/26 Agustus – 1 September 2002

Rp 14.700

ISSN : 0126-4273

Laporan utama dalam Tempo edisi ini mengenai menteri agama ketika itu, Said Agil Husin Al Munawar, yang memerintahkan penggalian harta di bawah prasasti Batu Tulis, Bogor. Ini mengherankan, sebab sang menteri sebelumnya memiliki reputasi bagus, baik dari segi keilmuan agama maupun karakter. Harusnya menegakkan tauhid, kok malah percaya klenik. Memang niatnya untuk membayar utang negara, tapi sayang harta itu tak ditemukan. Presiden menyangkal sudah kasih izin. Masyarakat Sunda marah karena itu tempat yang sakral bagi mereka. Terkait laporan ini, “Jejak Kerajaan dengan 40 Gajah” menceritakan sejarah prasasti tersebut.

Sisipan “iQra” menyajikan cerita kejatuhan keluarga Soeryadjaya. Untuk menyelamatkan usaha yang satu—Bank Summa, dikorbankan usaha yang lain—Astra. Di balik kisah ini, ada drama kasih sayang seorang ayah kepada putra sulungnya.

“Tanpa Kerut di Atas Kening” (halaman 80-81) melaporkan konser The Cranberries di Tennis Indoor Senayan. Sekitaran waktu ini, lagu “Stars” sering ditayangkan di MTV, dan dirilis dalam album Stars: The Best of 1992-2002, yang sering pula saya putar sembari menyendiri di kamar. Artikel ini juga menyoroti sosok sang vokalis, Dolores O’Riordan, yang rupanya memiliki problem konsumsi minuman keras yang berlebihan, bertolak belakang dengan lagunya sendiri, “Salvation”, yang mengimbau bahwa menenggak minuman beralkohol bukan satu-satunya cara keluar dari persoalan hidup. “Entah kenapa, dunia seperti memaafkannya,” kata penulis artikel ini, membuat saya merenung lagi kenapakah musik tak disukai dalam Islam: Itulah kekuatan musik. Kita memaafkan mereka yang mabuk, ngedrugs, berzina, karena telah memberikan hiburan yang nikmat bagi kita.

Jangan Kirim Hanya Kata-kata” (halaman 88-89) berisi “sejarah” perkembangan handphone, yang ketika itu baru, atau sudah?, dapat mengirimkan pesan bergambar dan berwarna (foto, animasi, audio) yang disebut dengan MMS (multimedia messaging service) secara terbatas. Di Indonesia, layanan ini baru bisa dinikmati lewat IM3, dengan harga Rp 1.000 sekali kirim, dan hanya pada HP tertentu, seperti Nokia 7650 serta Sony Ericsson T68I dan P800 yang harganya 4-6,3 juta, dengan kapasitas memori terbatas dan resolusi gambar belum prima. Nokia 7650, contohnya, memiliki memori hanya 3,6 MB atau 32 frame foto. Selain itu ada kendala sinyal operator. Untuk mengunduh, sinyal harus stabil, sedangkan kalau sambil naik mobil atau lift bisa putus. Lah, sampai sekarang—dua puluhan tahun kemudian—mau diam saja di kamar pun, sinyal IM3 tetap putus-putus. Belum lagi, pulsa tiba-tiba terpotong 🙃

(Karena ada trouble untuk login ke Wordpress--setelah sebelumnya kudu via Jetpack dulu--untuk seterusnya catatan pembacaan majalah dilanjutkan di blog ini saja. Catatan pembacaan majalah sebelumnya di: https://berjurnalitan.wordpress.com/category/majalah/.)

Rabu, 20 Agustus 2025

Kenakalan Orang Tua Penyebab Kenakalan Remaja

Gambar dari Perpustakaan
Universitas BSI
.
Penulis : Drs. EB Surbakti, M. A.
Penerbit : PT Elex Media Komputindo, Jakarta, 2008
ISBN : 978-979-27-3564-2/ eISBN: 978-602-04-1984-8 

Yang dimaksud dengan orang tua pada judul buku ini tidak mesti orang tua kandung, tetapi orang dewasa pada umumnya yang dapat memengaruhi remaja. Kenakalan orang dewasa lebih merusak daripada kenakalan remaja, karena orang dewasa lebih punya otoritas dan fasilitas, dan bisa jadi remaja nakal karena mencontoh orang dewasa, apalagi orang tua sendiri. Contohnya sangat banyak, mulai dari fenomena sugar daddy/mommy, pencabulan oleh guru, pornografi anak, sampai membiayai keluarga dengan uang hasil korupsi. Bisa pula seorang dewasa baik kepada anak-anaknya sendiri, tapi di luar melecehkan atau menzalimi anak orang lain. Orang dewasa dengan pengalamannya yang lebih banyak tidak serta-merta menjadikannya arif dan mewariskan kebajikan, melainkan terus memutarkan lingkaran setan sampai akhir zaman. Dengan kelebihan yang dimilikinya generasi tua dapat mengatakan generasi di bawahnya lembek, manja, tidak sopan, padahal bagian dari generasi tua juga yang mencontohkannya, atau kurang mengajarkan yang sebaiknya..

Khususnya mengenai tema love, sex, and dating, buku ini lebih sejalan dengan Boys Lie yang ditujukan bagi remaja Amerika Serikat, daripada Cyberporn yang untuk pembaca Indonesia. Sementara Cyberporn menganggap self-service sebagai sebentuk penyimpangan, buku ini justru mewajarkannya sebagai cara sehat menyalurkan energi seksual, walau mengungkapkan juga risikonya (di antaranya: kecanduan pornografi, mengganggu hubungan suami-istri). Buku ini juga menganjurkan pacaran sebagai kegiatan positf, asalkan menaati rambu-rambu, bertanggung jawab, menghindari seks pranikah, dan menjalankan pengendalian seksual. Solusi yang diberikan untuk mengalihkan energi seksual adalah dengan berkecimpung dalam kegiatan-kegiatan positif seperti kesenian, olahraga, dan organisasi. Buku ini memang tidak memijak pada ajaran agama mana pun, tetapi yang umum saja. Jadi menarik membandingkan dengan aturan yang ketat dalam Islam, bahwa aktivitas bersama begitu tetap rentan membuka jalan sehingga perlu dihindari sama sekali. Kalau seorang lelaki yang sudah cukup umur dan cukup modal tertarik kepada seorang perempuan, alih-alih memacari perempuan itu, dekatilah ayahnya. 

Walau rada longgar mengenai love, sex, and dating serta mendukung emansipasi wanita, buku ini cenderung menjunjung pola keluarga tradisional yang mana ayah harus berwibawa, menegakkan hierarki, aturan, dan pola interaksi yang jelas, mengeluarkan perintah, keputusan, kebijakan, otoritas, dan berkuasa, sedangkan ibu lembut, hangat, pengasih dan penyayang. Memang tidak dinafikan kekurangan-kekurangan dari pola ini, misal ibu dipandang laksana parasit yang sangat bergantung kepada suami (halaman 145). Relatif sulit juga menerapkannya, sebab nyatanya ada juga ayah-ayah yang lembek dan ibu-ibu yang kasar; mengubah kepribadian agar setiap ayah dan setiap ibu seragam memenuhi pembagian peran tersebut tidak akan semudah membalikkan telapak tangan.  

Buku ini juga mengkritisi materialisme dan individualisme. Contohnya adalah dengan memberi anak kamar yang berfasilitas lengkap sehingga tidak perlu sering keluar. Menurut buku ini, semestinya kamar tidur hanya untuk tidur, sedangkan untuk belajar, hiburan, dan sebagainya di ruang keluarga, sehingga dengan begitu akan kerap bertemu dengan anggota keluarga lainnya, memungkinkan interaksi yang menumbuhkan ikatan. Wah, apa kata penulis mengenai fenomena smartphone yang baru hadir bertahun-tahun setelah buku ini diterbitkan? Seorang anak bisa seharian di kamar saja rebahan, scrolling, nge-game, menonton tanpa henti, tidak bersosialisasi sama sekali, bahkan terganggu oleh kehadiran orang lain.

Dalam sebuah video di YouTube, pembicaranya kurang lebih mengatakan bahwa orang tua perlu berusaha menjadi sosok yang layak diteladani oleh anak--be the person that your children will aspire to be. Kalau sudah berusaha menjadi sosok teladan, memenuhi hak anak serta tanggung jawab dan kewajiban sebagai orang tua, tapi anak tetap bandel, ingat Nabi Nuh saja tidak kuasa membujuk anaknya masuk bahtera. Sebagai anak, pahami tidak ada manusia yang sempurna, setiap orang mungkin berbuat kesalahan, punya kekurangan dan kelemahan, termasuk orang tua. Sebagai orang dewasa yang tidak punya anak, tetap perlu mewawas diri sebab siapa tahu berbuat hal yang berdampak pada anak orang lain atau dijadikan contoh olehnya.

Selasa, 19 Agustus 2025

Konservasi Biodiversitas: Teori dan Praktik di Indonesia

Gambar dari Gramedia.
Penulis : Jatna Supriatna
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta
Cetakan: 1, Edisi 1, Juli 2018
Tebal : 542 halaman
ISBN : 978-602-433-633-2 (ebook)

Saya mulai membaca buku ini pada Februari 2022 dan baru menamatkannya 3,5 tahun kemudian (^_^); Membacanya sedikit-sedikit, sambil membuat catatan di buku tulis untuk membantu mencerna, kadang mengulang yang baru dibaca sampai merasa agak paham. Bagaimanapun, ini buku tebal yang memperkenalkan banyak istilah baru, materinya tidak begitu ringan. Meski buku ini rada overwhelming, saya kira orang awam sekalipun sebaiknya berusaha memahaminya, atau paling tidak, terbuka akan topik ini, yang menerangkan cara kerja alam yang bukankah manusia termasuk bagian daripadanya, tetapi alih-alih mengembangkan cara hidup yang tidak selaras sehingga mengancam kelangsungan hidupnya sendiri.

Sepertinya saya memang penggemar cocoklogi, suka mencocok-cocokkan antara itu dan ini (mungkin ada kaitannya dengan minat terhadap karya fiksi, terbiasa mencari-cari makna dari setiap detail). Siapa tahu sebenarnya memang ada hubungan, sedangkan untuk membuktikannya secara ilmiah akan makan waktu terlalu lama, daya upaya terlalu besar. Maka pencocok-cocokkan itu hanya suatu hipotesis, spekulasi. Paling tidak, ini suatu cara sementara--yang entahkah benar atau salah--untuk mencoba memahami uraian dalam buku ini, yaitu dengan membuatnya relatable dengan kehidupan manusia yang saya jalani.

Sebagai contoh, mengenai interaksi antara spesies invasif dan spesies pribumi seperti konflik antara pendatang di suatu wilayah yang kemudian menjadi lebih makmur dan dominan dan penduduk setempat termarginalkan. Buku ini menerangkan bahwa persebaran spesies seperti halnya kepunahan adalah proses alami dalam sejarah evolusi. Semua spesies memang harus menyebar dan mengkolonisasi daerah lainnya. Namun, tindakan manusia yang mengintroduksi spesies telah mengacaukan keseimbangan yang ada. Memang hanya sebagian kecil spesies introduksi berhasil hidup di tempat baru, tapi dampak ekologisnya besar. Daerah yang sukses diinvasi pun jadi punya keseragaman tinggi. 

Kemudian ada yang dinamakan habitat-sumber dan habitat-penurunan. Berikut penjelasannya di halaman 272: "Habitat yang mendukung disebut sebagai sumber dan didefinisikan sebagai area di mana kesuksesan reproduksi lokal lebih besar daripada mortalitas lokal. Populasi di habitat sumber menghasilkan kelebihan individu yang harus menyebar keluar dari bercak kelahirannya untuk menemukan tempat menetap dan berkembang biak. Habitat yang tidak mendukung, sebaliknya, adalah area di mana produktivitas lokal lebih kecil daripada mortalitas lokal. Area ini disebut habitat penurunan karena tanpa imigrasi dari area lain populasi di habitat ini akan turun hingga punah." Kalau berupa negara, habitat-sumber ini persis Indonesia yang individunya sudah terlalu banyak sehingga harus menyebar keluar--merantau--untuk penghidupan, sedangkan habitat-penurunan contohnya adalah Jepang karena angka kelahirannya terus menurun sehingga penduduk lokal kebanyakan lansia dan mesti mendatangkan pekerja dari negara-negara lain. Besarnya populasi di habitat-sumber semacam Indonesia ini agaknya disebabkan oleh kondisi lembap daerah tropis, artinya penggunaan energi yang lebih kecil untuk menjaga kondisi tubuh sehingga makin banyak energi yang bisa dialokasikan untuk proses reproduksi (subbab "Kekayaan Hayati dan Energi").

Dalam pembahasan tentang konsep spesies biologis, diberikan contoh mengenai kerang Unio yang morfologinya bervariasi tinggi tetapi dapat saling kawin sedangkan burung meadowlark fenotipenya serupa, distribusi populasi tumpang tindih, tetapi antara western dan eastern pola bunyi kicauannya beda, sehingga tidak saling kawin. Dalam dunia manusia, barangkali ini menunjukkan bahwa jodoh tidak mesti yang penampakannya mirip, yang lebih penting adalah waktu ngobrol bisa klik :v

Jadi rupanya dalam menentukan spesies baru itu ada beberapa konsep. Tampaknya penamaan spesies hanyalah usaha manusia untuk mengidentifikasi keanekaragaman hayati. Salah satu konsep, yakni konsep spesies filogenetik, lebih menghargai keunikan sehingga bisa jadi akan muncul spesies-spesies baru, dengan upaya konservasi yang berlain-lainan pula. Apakah ini juga suatu bentuk "individualisme" yang diterapkan manusia pada biodiversitas? Sebagaimana dalam dunia kesehatan mental, jadi bertambah-tambah jenis gangguan mental "baru", yang pada masa sebelumnya mungkin tidak begitu dianggap.

Di dunia kesehatan mental juga banyak orang merasa tidak bahagia dengan hidupnya, karena tidak dapat mengoptimalkan potensi mereka sepenuhnya. Ini pun suratan alam, sebagaimana dinyatakan dalam halaman 313, "Karena lingkungan tidak dapat mendukung pertumbuhan populasi tak terbatas, tidak semua individu bisa menghasilkan potensi mereka sepenuhnya." Berapa banyak biji yang tersebar di muka bumi, hanya untuk gagal tumbuh, atau layu sebelum berkembang, tidak mendapat cukup cahaya matahari akibat ternaungi oleh pohon-pohon besar dan tinggi yang lebih dulu mencengkeramkan akarnya sampai ke mana-mana? Bagaimanapun, individu yang berhasil tumbuh sampai dewasa, bila keadaan memungkinkan untuk kawin akan kawin dan menghasilkan keturunan sebisa-bisanya, dan tidak semua dari keturunan itu yang mampu bertahan sampai menghasilkan keturunan baru, dan seterusnya.

Dalam kaidah evolusi, perubahan pasti akan terjadi di alam liar. Sudah sepatutnya orang yang bekerja di bidang konservasi berpikir secara konservasionis ketimbang secara preservasionis. Konservasionis memberikan fasilitas agar evolusi tetap berlangsung, dengan cara memperhatikan variasi genetik sebagai bahan dasarnya. Praktik konservasi tidak hanya mengawetkan spesies dengan asumsi populasi tidak akan berubah. Kalau boleh diterjemahkan ke bahasa pengembangan diri, perlu tersedia fasilitas agar perubahan/pertumbuhan tetap berlangsung, dengan cara memperhatikan keragaman potensi atau sumber daya yang ada sebagai modalnya, alih-alih sekadar menjalankan rutin dengan asumsi keadaan tidak akan berubah. Dalam agama, ada istilah istiqamah, yang menurut buku Buat Apa Kita Shalat? sesungguhnya mengandung proses perubahan yang terjadi secara terus-menerus/berkesinambungan menuju kebangkitan, kemajuan.

Dari suatu video di YouTube yang menghadirkan pembicara dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, saya mendengar bahwa mereka hanya tukang cuci piring dalam pesta pembangunan, membereskan keporakporandaan yang dibuat kementerian-kementerian lain. Semestinya aspek lingkungan hidup disertakan sedari awal, bukan ketika saatnya bersih-bersih doang. Timbul kesan bahwa pekerja konservasi hanya kepanjangan tangan dari para pembangun yang punya kepentingan. Ada program yang dikembangkan agar masyarakat setempat tidak lagi sepenuhnya bergantung pada hasil hutan. Di sisi lain, ada suatu mindset bahwa alam harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan manusia, dalam arti pengusaha besar global, alih-alih masyarakat setempat yang dampak aktivitasnya tidak seberapa, dengan menyisakan secukupnya untuk dikonservasi. Dengan demikian masyarakat setempat tidak lagi sepenuhnya bergantung pada hasil hutan, sebab dijadikan bergantung pada uang untuk membeli produk hasil usaha-usaha yang mengeksploitasi hutan secara lebih masif itu. Melawan kekuatan tersebut, sekalangan orang berhasrat untuk menghidupkan kembali kebergantungan langsung pada hutan, menjadikannya suatu supermarket gratis. Kalau di daerah subtropis ekosistemnya memang secara alami berupa padang rumput, sabana, belukar, yang terkelola oleh api, salju, dan grazing, sehingga tidak sampai jadi hutan dan cocok untuk jadi lahan pertanian dan peternakan (pantas bila orang sana suka makan keju, roti, dan mentega), tapi bila cara hidup ini mesti diterapkan di daerah tropis, yang hutannya tumbuh lebat alami, semata-mata karena ke Barat lah kita harus berkiblat ...? Maksudnya, apa orang di daerah tropis tidak boleh punya cara hidup sendiri yang lebih sesuai dengan ekosistem alaminya? 

Dalam video YouTube lainnya, Jon Jandai mengherankan kenapa orang harus belajar susah-susah hanya untuk merusak alam (dalam hal ini ilmu teknik), lalu bersusah-susah lagi belajar untuk memperbaikinya (ilmu konservasi). Padahal alam bisa memperbaiki diri sendiri, asal tidak terus-terusan diusik manusia yang selalu memerlukan sesuatu daripadanya. Proses pemulihan alami dirasakan terlalu lama oleh manusia yang masa hidupnya lebih singkat. 


Sisi positifnya adalah dengan mempelajari ilmu-ilmu, betapapun susahnya, kita menjadi pandai dan mengetahui banyak hal. Pemikiran berkembang. Ini suatu kesenangan tersendiri. Adalah kepentingan bagi manusia untuk menyenangkan dirinya sendiri. Dengan merusak sesuatu hal, kita menjadi tahu bagian-bagiannya sampai ke yang kecil-kecilnya. Misal, dengan membongkar alat elektronik, kita tahu bagian-bagian apa saja yang ada di dalamnya. Dengan memporak-porandakan alam, kita belajar cara kerjanya. Dengan mengotori jiwa, kita belajar cara membersihkannya. Kata seorang ustaz, dosa adalah katalis agar kita menjadi manusia yang lebih baik. Lagi, demi kepentingan kita sendiri--manusia. Namun, buku ini mengingatkan, restorasi atau pemulihan akan sia-sia jika terus-menerus mengalami gangguan (subbab "Teknik-teknik Restorasi"). Apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi sumber gangguan? 


Sudah sepantasnya wacana degrowth diinisiasi negara-negara maju, sebab negara-negara kurang-maju cenderung mengekor saja. Kita belum lagi merasakan martabat sebagai bangsa maju sudah disuruh mundur saja, tak sempat beranjak dari kuli dan babu. Memang menyederhanakan hidup tidak mudah karena harus menundukkan ego dan hawa nafsu. Bagaimana manusia akan jadi khalifah bagi seluruh alam jika mengelola jiwanya sendiri saja tidak bisa?

Sabtu, 16 Agustus 2025

Buat Apa Kita Shalat?

Gambar dari UMS Store.
Penulis : Dr. Ahmad Khairi al-Umari
Penerjemah : Aya Yahya, Masyhari, Tatam Wijaya
Cetakan : I, Desember 2014
Penerbit : Almahira, Jakarta
Tebal : xxii + 490 halaman
ISBN : 978-602-8074-77-3

Buku ini bukanlah segala sesuatu tentang shalat. Buku ini hanya sebuah upaya untuk menjelaskan bahwa apa yang bisa menjadi tiang agama bisa juga menjadi tiang untuk individu, masyarakat, dan peradaban. Buku ini bukan tentang cara praktis khusyuk dalam shalat. Pada kenyataannya, tidak ada cara praktis mencapai kekhusyukan semudah membalikkan telapak tangan. Demikian pernyataan penulis di bab awal. Buku ini hanya sebuah upaya untuk menggali makna dari shalat. 

Akan tetapi, pemikiran tidak selalu mengubah perilaku. Mengubah perilaku lebih sulit daripada mengubah pemikiran. Pasalnya, mengubah perilaku tidak cukup dengan meyakini kebenaran sebuah pemikiran baru saja, tetapi juga harus menghilangkan pikiran negatif yang ada sebelumnya (halaman 7). Tidak mudah karena pemikiran negatif sudah lebih dulu mengakar dan mengendap di alam bawah sadar, sementara pemikiran yang baru masih di alam sadar, belum mengakar jadi pemahaman dan perilaku.  Mengubah perilaku tidak cukup dengan memiliki pengetahuan, ilmu, atau kesadaran. Namun, dibutuhkan keberanian untuk mengambil langkah itu sendiri.

Sebagian faktor penyebab mengakarnya hal negatif bersumber pada konsep-konsep yang tidak berkaitan dengan agama, tetapi dinisbahkan pada agama secara serampangan, atau dinisbahkan pada teks-teks agama, tetapi keluar dari konteksnya, atau dinisbahkan pada tindakan para ulama yang sebenarnya hanya respons atas kejadian sesuai konteks zaman, seiring waktu membaur dengan budaya lokal yang diwariskan turun temurun lalu jadi sakral (halaman 8).

Ada lima alasan populer di masyarakat untuk mengerjakan shalat:
1. Shalat sebagai penebus dosa,
2. Shalat menggugurkan kewajiban,
3. Shalat sebagai penenang jiwa,
4. Shalat sebagai "sarana komunikasi" kepada Allah,
5. Shalat adalah kewajiban, itu sudah cukup!

Alasan 1 seperti dimanfaatkan orang untuk terus melanggengkan dosa, karena akan terhapus oleh shalat, padahal itu tergantung pada jenis dosa dan niat melakukannya (misal sengaja atau tidak, tahu atau tidak). Alasan 2 justru menjauhkan orang-orang yang tidak shalat dari shalat itu sendiri (halaman 25)--apa mungkin karena sekadar menggugurkan kewajiban, maka shalat tidak memberikan efek positif dalam kehidupan seorang muslim, sehingga orang tidak shalat/nonmuslim yang melihatnya makin berpikiran buat apa shalat kalau tidak menampakkan efek positif? Alasan 3, shalat memang menenangkan jiwa atau menjadi tenang hanya karena telah memenuhi kewajiban yang apabila ditinggalkan akan terasa mengganggu? 

Shalat bukan sekadar penggugur kewajiban, bacaan dan gerakan, meskipun sudah naluriah manusia untuk selalu membutuhkan ritual. Hewan-hewan pun mempunyai gerakan khas yang teratur dan terulang-ulang, tapi manusia mempunyai nilai lebih. Dengan mengenyahkan agama, dalam kehidupan sekuler-modern sekalipun, manusia tidak terlepas dari syiar dan ritual. Salah satu contohnya adalah perayaan ulang tahun yang individualistis dan konsumtif. Hanya saja syiar dan ritual dalam kehidupan sekuler-modern itu terbatas dalam dimensi materi dan kekinian. Shalat adalah ritual keagamaan yang dapat membawa manusia melampaui dimensi tersebut, sehingga terhubung dengan yang gaib/nonmateri, jika saja ia menguasai kemampuan abstraksi yang dimilikinya. Secara terminologi, berpikir abstrak adalah kemampuan dasar untuk menemukan inti atau sifat utama dari sebuah perkara dengan menyingkirkan banyak hal yang tidak penting meskipun itu tidak memiliki wujud materi secara langsung (halaman 42). Kemampuan berpikir abstrak hanya dimiliki manusia. 

Menafakuri hadis tentang orang badui yang hanya mau mengerjakan kewajiban (shalat, puasa, zakat) tanpa mengurangi atau menambah, buku ini menyerukan agar jangan menjadikan itu sebagai patokan. Perlu dipahami latar kehidupan badui Arab yang pada masa itu merupakan musuh utama dakwah Islam: mempertahankan keyakinan lama, tidak mau terikat aturan sosial dan kekerabatan, antiperadaban, cara hidupnya dengan merampok orang di jalan. Kalau menyamakan diri dengan mereka, alias mematok standar rendah/minimal/sebatas kemampuan (dalam hal shalat maka sekadar gerakan dan bacaan untuk menggugurkan kewajiban), maka tidak akan berkembang. Daripada memosisikan diri sebagai orang badui yang hanya mau mengerjakan the bare minimum, lebih baik meneladani sosok lain dalam dunia Islam yang berhasil mengangkat diri dan mengubah dunia, salah satunya adalah Umar bin Khattab.

Selanjutnya buku ini mengajak untuk memaknai setiap unsur dari shalat, mulai dari adzan, wudhu, kiblat, niat, sampai pengertian keluarga dalam shalawat kepada Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim dalam bacaan tasyahud akhir. Penulis kerap menggunakan perumpamaan. Contoh: Niat seperti bungkus, yang mungkin bagus, tapi yang tidak kalah penting adalah isinya. Doa istiftah (iftitah?) laksana afirmasi diri sebelum melakukan pertandingan atau menghadapi ujian. Hamdalah ibarat obat penenang (untuk sementara atau menyembuhkan sampai ke akar) dan cara pandang (yang positif). Hidayah umpama cahaya yang tidak mesti besar lagi muncul sekali saja, tetapi bisa pula kecil-kecil yang hanya menerangi beberapa langkah lalu padam, sehingga perlu diminta terus-menerus melalui surah Al-Fatihah yang dibaca berkali-kali dalam sehari saat shalat.

Uraian dalam buku benar-benar menuntut kemampuan berpikir abstrak (^_^); Membacanya perlu sambil mengerahkan imajinasi, bahkan diulang sewaktu-waktu, untuk menghayati secara penuh serta mengingatkan lagi dan lagi akan efek yang semestinya didapatkan dari shalat. Kalau membacanya asal menyapu kata saja, penjelasannya terasa mengawang. 

Buku ini menginsafkan saya bahwa tampaknya perjalanan menuju tauhid masih jauh dan terjal; selama ini berislam karena budaya, lingkungan, pendidikan sekolah, dan kebiasaan saja. Mungkin saya masih terganggu oleh pemahaman-pemahaman yang berselisih dengan satu sama lain, dan pemahaman terhadap Islam hanya satu di antaranya. Mungkin saya masih cenderung melihat kepada manusia-manusia lain yang juga campur aduk pemahamannya, daripada berpegang pada pemahaman Islam saja. Malah, makin bertambah pengetahuan tentang Islam, makin saya merasa memahami perkataan bahwa Islam muncul sebagai sesuatu yang asing dan akan kembali asing pada akhir zaman (kurang lebih begitulah). Nyatanya memang ada konsep-konsep dalam Islam yang sungguh asing untuk diterapkan dalam situasi sekarang, dan ini menjadi ganjalan untuk berislam sepenuhnya bagi yang dibesarkan dalam mentalitas zaman ini.

Sepertinya akan memerlukan seumur hidup untuk mencapai pemahaman Islam yang sepenuh-penuhnya, sedalam-dalamnya; kalaupun tidak sampai-sampai, paling tidak, istiqamah mencicil usaha ke sana. Tapi, bukan berarti dengan menutup diri sama sekali dari pemahaman-pemahaman lain itu. Mengenal sebanyak-banyaknya pemahaman saya kira bagian dari pengamalan perintah untuk membaca, berpikir, dan berjalan-jalan di atas muka bumi untuk melihat kerusakan yang dibuat orang-orang yang menyangka telah melakukan kebaikan. Hanya pengenalan itu perlu disertai dengan kebijaksanaan, kemampuan membedakan mana yang tauhid dan menyangkal yang selainnya. Wallahualam.

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain