Rabu, 30 November 2005

DIA MENCARI EMAK

Menangis.

Menangis ia di bawah radiasi matahari. Matahari siang yang tak peduli pada umat manusia. Hanya mengerjakan tugasnya.

Kiaracondong siang yang tak begitu padat. Namun tingkat polusinya menimbulkan hujan asam. Jalan layang yang kumuh, tempat puluhan kendaraan beradu dengan derunya yang bergemuruh. Bangunan-bangunan kotor yang menjulang, tak memberi keteduhan apa-apa. Tumpukan sampah menguarkan baunya. Apabila tidak terbiasa mana tahan. Dari jarak 5 meter saja sudah tercium.

Menangis.

Masih ia menangis. Anak sekecil itu mana peduli dengan kepedihan hidup? Ia hanya mampu merasakan pengaruhnya, tidak menyadari, tidak memahami bahwa itu adalah bentuk dari sebuah kepedihan hidup.

Ia menangis. Ia mencari Emak. Ia tidak tahu di mana Emak.

Emak ke mana? Pikirnya.

Duduk ia di atas rel kereta api, dekat naungan keteduhan jembatan layang, namun ia tidak berada di dalamnya. Ia biarkan sinar matahari membakar kulitnya, lagi, setiap hari memang begitu.

Rambutnya yang kemerahan. Kulitnya yang legam. Baju putihnya pun sudah tak terlihat lagi warna putihnya. Satu-satunya warna cerah yang menempel di tubuhnya hanya jam tangan hijau yang membalut pergelangan tangannya.

Ia mencari Emak. Ia memanggil-manggilnya. Meratapi.

Namun semua orang tak peduli. Mereka melangkahkan kakinya, menoleh hanya untuk melihat siapa yang berteriak. Yang melengking sampai serak.

“EMAAAAAAAKKKK!”

Tangisannya memecah siang yang sudah ramai.

Oh, mana Emak?

Ia katupkan kedua matanya. Air matanya mengucur. Pita suaranya sudah soak. Saat gelombang suaranya keluar dari situ untuk kembali memekik, mendesak-desak, sakit rasanya. Sakit sekali.

Beberapa orang, dari dekat, dari jauh, mulai memperhatikannya. Beberapa saja, tak lebih. Yang lainnya pergi. Pergi semua. Beberapa yang bertahan untuk melihatnya pun hanya diam saja. Untuk apa hanya melihat? Tapi ia pun tak berkenan orang-orang itu mendekatinya.

Yang ada di kepalanya sekarang hanya Emak. Emak di mana. Ia tidak tahu mengapa ia membutuhkannya. Namun ia tetap memanggilnya.

Kiaracondong yang terik, tak peduli.

Ia terbatuk. Ia muntah. Muntah pun tak ada yang peduli. Ia lanjutkan saja tangisnya. Biar air matanya habis, biar pita suaranya putus, biar suaranya tak kuasa lagi untuk keluar.

Kiaracondong yang kumuh, namun angkuh, tak peduli pada si kecil yang mencari Emak.

Hanya seorang anak jalanan yang kumal, yang terlantar, sungguh kotor dan tak menarik.

Siapa yang peduli?

 

 

 

D--- S-------- A---------,

30 November 2005,

Jam menunjukkan saat Dhuha, 

Waktu Kelas X A--------- SMAN - Bandung.

Kamis, 30 Juni 2005

T3L@t

Jam tangan Naisha menunjukkan pukul 7 kurang 5 menit.

“Tuh kan, bener, telat!” seru Naisha kesel dan dengan terburu-buru melepaskan shelty belt. “Katanya 5 menit bisa nyampe ke sekolah?!”

“Emang nyetir tuh gampang? Siapa yang suruh pergi ke sekolahnya dimundurin 20 menit?” bales nyokapnya senewen.

Naisha membuka pintu mobil, mengangkat ransel dengan tergesa-gesa dan membanting pintu.

“Kok gak salam?!” teriak nyokap.

“Iya! Salamoalaikum!” Naisha langsung cepat-cepat berlari ke pintu gerbang sekolah yang mana—untungnya—belum dikonci. Ia berusaha sebaik mungkin untuk mengacuhkan tatapan mata para pedagang yang jualan di depan sekolah. Pos satpam tampak kosong. Kemana Pak Satpam, ya? Pikirnya. Eh, ngapain juga dipikirin? Masih untung nggak ada. Coba bayangin kalo ada, pasti bakal ditanya-tanyain!

Ruang guru piket sekolahnya terletak di dalem area sekolah, yang mana tepat berada di dekat gerbang masuk khusus siswa. Dan untuk sampai ke gerbang khusus siswa tersebut, ia bakal melewati pos satpam, ruangan kelas, ruang tamu sekolah, ruangan kelas, ruangan kelas, dan ruangan kelas lagi, juga lapangan.

Perasaan Naisha agak was-was. Maklum deh, baru kali ini ia telat masuk sekolah. Biasanya sih dia nggak pernah telat, karena dia selalu disiplin dalam mematuhi tata tertib sekolah. Sekolah Naisha bel masuknya berbunyi jam 06.40 dan biasanya setengah jam sebelumnya dia udah berangkat dari rumah. Perjalanannya dari rumah ke sekolah membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit. Tapi hari ini, selain karena dia bangun telat, 1 menit sebelum keberangkatannya ke sekolah tiba-tiba perutnya sakit dan akhirnya Naisha menghabiskan beberapa menit lamanya nongkrong di kamar mandi. Jangan tanya deh, dia ngapain aja di sana.

Naisha pun berjalan ke arah gerbang khusus siswa dengan memeluk ransel yang nggak sempat dia sampirkan di pundak. Dan seperti yang biasa dia lakukan setiap pagi ketika sedang berjalan ke gerbang khusus siswa, dia selalu mengintip ke dalam kelas kecengannya yang terletak di pinggir lapangan dan jauhnya 1 ruangan kelas dari gerbang khusus siswa. Ngintipnya ya dari jauh aja. Masak mo dari deket sih? Maling kali. Lagian kecengannya Naisha itu—namanya Opin—duduknya pas banget di pinggir jendela. Jadi, kalo lewat sana Naisha cuman perlu melongokkan kepala dan terlihatlah kepala Opin dan kalo lagi beruntung, yaitu saat Opin melihat ke luar jendela, Naisha akan bisa melihat wajah tampannya, hehehe.

Semakin ia berjalan mendekati kelas Opin, Naisha berjinjit-jinjit dan melongok-longokkan kepalanya kayak burung onta.

Nah, nah, itu dia kepalanya si Opin! Opin ganteeeeeng, madep sini dong! Liat, ini Naisha dateng telat. Naisha pingin diliatin ama kamuuuuuu!!!!!!! Jerit Naisha dalem hati.

Opin menoleh ke luar jendela, ke arah lapangan. Dan selain sepasang ring basket, bangku-bangku dan tiang bendera (yang lainnya seperti semak-semak, gudang, dll, ga masuk hitungan) ia hanya bisa melihat Naisha yang merupakan the only people who stands on the edge of court.

Naisha nyaris menjerit ketika Opin melihatnya. Ia buru-buru memalingkan kepalanya ke arah lain, menutupi wajahnya dengan tas dan berlari ke arah gerbang khusus siswa. Sementara Opin yang nggak terlalu memperhatikan hal tersebut diam saja dan menoleh kembali ke arah guru yang sedang ngomongin infotainment kemarin sore di depan kelas.

 

Sesampainya di kelas, Naisha segera menceritakan kejadian tersebut dengan ribut di depan teman-temannya.

“Trus lo bilang apa ke guru piket?” tanya salah seorang temannya yang nggak terlalu ngeh dengan cerita tersebut.

“Ya, gue bilang aja yang sebenernya kalo jam weker gue lupa disetel jadi gue bangun telat dan udah itu gue boker dulu bentar….”

Temen-temen Naisha hanya tersenyum mendengar ucapan temen mereka tersebut. Lalu salah seorang dari mereka tiba-tiba ada yang nyeletuk,

“Eh, tapi lu bodo ih. Kenapa pas dia ngeliat ke elo, elonya nggak senyum aja gitu ke dia. Kan itung-itung pedekate. Kalo lagi beruntung ya, dia mungkin ngebales senyum lo.”

Naisha mencerna ucapan temannya itu sebentar dan langsung berteriak-teriak lagi. “Oh, iya ya! Ih, lo pinter banget deh! Kalo gitu besok gue telat lagi ah! Siapa tau besok dia bakal ngeliat ke arah gue lagi, trus gue senyumin dia dan dia bales senyumin gue! Ampun deh, gue nggak sabar lagi nunggu hari esok tibaaaa!!!”

Setelah itu guru Naisha datang. Sambil mengikuti pelajaran Naisha berdoa komat-kamit dalam hati agar bel pulang segera berbunyi nggak lama lagi. Entah itu karena ada rapat guru, atau kedatangan tamu penting, atau penyakit jantung kepala sekolah kambuh lagi (yang mana 2 alasan terakhir sama sekali nggak nyambung) atau tiba-tiba ada gempa bumi mendadak sebesar 9 skala Ritcher sehingga murid-murid dipulangkan.

Waktu pun terus berlalu, bel pulang berbunyi, Naisha dengan bersemangat pulang ke rumahnya dan sesampainya di sana, ia segera berlari-lari ke arah nyokapnya dan berteriak, “Maaaaaa, besok perginya dimundurin 20 menit lagi yah???!!!!!!!!!”

 

Keesokkan harinya neh…

Naisha dateng telat lagi dan dengan riang ia memasuki gerbang sekolah tanpa memedulikan tatapan Pak Satpam. Ketika Pak Satpam datang mendekat untuk bertanya-tanya, Naisha langsung pura-pura lagi jogging sehingga bisa segera menghindar. Yang penting bisa segera sampai ke dekat kelasnya Opin!

Mendekati kelasnya Opin, Naisha berjalan dengan pelan-pelan. Emang agak mirip maling, tapi ini malingnya bukan mo nyuri tapi cuman mo ngintip doang! Sampai di depan jendela TEPAT di mana Opin sedang duduk diam dan mendengarkan gurunya yang sedang sibuk membahas tentang infotainment kemarin sore, Naisha berhenti di sana dan mencondongkan kepalanya untuk dapat melihat kepala Opin dengan lebih spesifik. Ayo, Opin! Ini Naisha udah berdiri di sini demi supaya bisa mendapatkan senyumanmu yang membahagiakan hati ini. Ayo cepetan noleh dooong!!! Ntar keburu dipergokin ama guru piket nih…!

Seperti bisa mendengarkan suara hati Naisha, Opin menoleh ke luar kelas. Maksud sebenarnya adalah untuk menghirup udara pagi yang meyejukkan sejenak dan mengalihkan perhatian sebentar dari sang guru yang sedang ngomongin hal-hal yang nggak dia mengerti. Sementara Opin sedang memikirkan mengenai kabar Vassili Berezoutski, Alex Ferguson, Cristiano Ronaldo, Arsene Wenger dan Cecep Supriatna yang ia baca di tabloid olahraga kemarin, sang guru malah sibuk ngomongin Tamara Bleszyinski, Trie Utami, Benigno Aquino, Rivaldo, Dewi Hughes dan Roma Irama. Jadi ya jelas nggak nyambung!

Seperti dialiri arus listrik 220 volt, tubuh Naisha seperti bergetar pas Opin melihatnya. Maksudnya nervous + deg-degan gitu. Dengan susah payah Naisha menarik bibirnya untuk tersenyum. Tangan-tangannya yang berkeringat dingin dimainkan di belakang punggung. Aduh, pikirnya, kalo si Opin nggak tau kalo gue lagi senyum ke dia dan dia nggak balik ngebales senyuman gue pasti gue bakal disangka orang gila nih, senyum-senyum sendiri…

Opin, yang lagi-lagi hanya bisa melihat Naisha sebagai satu-satunya makhluk hidup di pinggir lapangan, menganggukkan kepala dan membalas senyuman Naisha.      Mulut Naisha langsung menganga dan ia merasa seperti habis dilontarkan ke atas langit oleh meriam bellina, eh, meriam tempur. Opin? Ngebales senyuman gue? Oh, God, kok bisa sih? Karunia apa ini???????!!!!!!!!!!!!!!!

Di tengah kebahagiaan-berjuta-rasanya, ia membalas lagi senyuman Opin dengan senyum yang lebih terbuka dan sadar kalo ia nggak boleh lama-lama di sini. Selain karena dia nggak tau mesti ngapain lagi dengan Opin karena malu berat, sekarang pun ia pasti lagi ditungguin ama guru piket. Maka, cepat-cepat Naisha tersenyum lagi untuk terakhir kalinya pada Opin dan setelah itu langsung berlari-lari ke arah gerbang khusus siswa dan berteriak-teriak dengan suara nggak jelas, “YIPPPPIIIIIIIIIIIIIEEEEEE!!!!! OPIN NGEBALES SENYUMAN GUEEEEE!!!!!!!!!”

Seluruh anak yang sedang berada di kelasnya masing-masing di sekolah tersebut langsung menoleh ke arah teman yang terdekat duduknya. “Siapa sih itu, yang teriak-teriak? Kenceng banget ya?”

 

Opin di kelasnya,

Sehabis memutuskan untuk nggak ambil pusing buat memikirkan tentang kejadian barusan, Opin meletakkan pandangannya lagi ke dalam kelas. Dan daripada ngeliatin gurunya yang masih sibuk ngomongin Bajaj Bajuri, Opin mengajak bicara Dinar, teman sebangkunya—cowok loh—yang berbadan besar.

“Siapa yang teriak tadi, ya?” tanya Dinar pada Opin sambil tertawa. Sebelum diajak bicara ternyata Dinar sudah berbicara duluan.

“Itu…” jawab Opin sambil tertawa juga. “Tadi liat nggak, ada cewek di luar jendela. Gak tau tuh siapa dia, apa namanya sama kelas berapa. Tiba-tiba udah nangkring aja di situ (Opin menunjuk tempat Naisha berdiri tadi) sambil senyum-senyum gitu, ya udah saya bales aja. Aneh, ih…”

“Iya. Aneh, ya. Siapa sih tuh cewek?” tanggap Dinar.

Setelah itu Opin dan Dinar sibuk keketawaan.

 

Keesokkan harinya lagi…

Hari ini Naisha memutuskan untuk telat lagi. Kenapa? Saat kemarin dia menceritakan kejadian kemarin pada teman-temannya, temannya yang kemarin laginya menganjurkan agar Naisha tersenyum pada Opin kalo Opin sedang ngeliat dia, mengatakan kalo Naisha seharusnya jangan hanya tersenyum ketika Opin melihatnya. Kalo perlu, Naisha seharusnya melambaikan tangannya sebagai tahap lanjut dari sebuah senyuman.

Naisha pun menganggap bahwa saran temannya itu patut dipertimbangkan dan akhirnya ia memutuskan untuk telat lagi hari ini agar rencana tersebut dapat dilaksanakan. Pokoknya, kalo si Opin ngeliat gue lagi hari ini, gue harus memberikan lambaian tangan paling bermakna untuk dia! Naisha bertekad dan berniat dalam hati.

Oh ya, dan alasan untuk guru piket atas keterlambatannya yang ketiga kali selama tiga hari berturut-turut ini adalah bahwa jam wekernya nyemplung ke Kali Cikapundung sewaktu hendak dibawanya ke tukang servis jam! Soalnya, pas hari kedua dia telat kemarin, dia bilang jam wekernya rusak parah sehingga mesti diperbaiki oleh ahlinya.

Jadi, seperti 2 hari kemarin, Naisha pun telat lagi. Dengan penuh semangat dan hasrat, Naisha berjalan dengan hati deg-degan mendekati kelas Opin. Naisha mengintip sebentar, menanti kepala Opin nongol untuk membalas senyumnya lagi dan membalas lambaian tangannya juga. Aaaaaah…, terbayang deh indahnya….

Naisha mengintip—dari jauh tentunya—dengan lebih mencondongkan tubuhnya untuk melihat kepala Opin.

Nah! Nah! Nah! Ini dia! Dia, kepalanya nongol! Dan, Naisha, tersenyum lebar dan berseri-seri kepadanya, dan, Naisha, ah, akhirnya, YES, berhasil, melambaikan, tangan! Ya Tuhan…, kekuatan darimana ini??? Gue bisaaaaaaaaaa!!!!!!

Tapi Opin hanya menatapnya.

Yah, Naisha melambaikan tangannya. Gak perlu tinggi-tinggi, ntar bauket. Dan Opin HANYA melihat.

Tiba-tiba kepala Dinar muncul dari balik bahu Opin. Dinar melihat Naisha berdiri di luar kelas dan sedang tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya (maksudnya ke Opin, bukan ke Dinar tapi ni anak salah persepsi). Dinar pun balas tersenyum seramah-ramahnya

Dan dengan lembutnya melambaikan tangan.

AAAAAAAAAARRRRRRRRGGGGGGGHHHHH!!!!!!!!!!!! Naisha nyaris berteriak begitu ketika melihat bukannya Opin yang membalas lambaian tangannya melainkan makhluk yang tidak diperkirakan seperti Dinar. Ia segera menggerakkan kedua kaki untuk lari secepat-cepatnya dari situ. Kabur maksudnya.

Sementara itu di dalam kelas Opin, Dinar sedang memegang bahu Opin dan berkata. “Ih, anaknya lucu ya, Pin? Baik pula kayaknya. Kemarin dia senyum ke kamu. Hari ini dia senyum ke saya, pake ngelambain tangan pula. Besok pasti giliran orang yang ada di depan kita yang dia senyumin. Ya nggak. Pin?”

Opin hanya mengangguk sambil tertawa.

 

Hari berikutnya (Naisha: “Hari ini gue akan coba lagi ngelambain tangan sama Opin dan jangan sampe si Dinar berbadan besar itu yang ngebales!! Hari ini pasti berhasil!!!!”)

Dengan nggak sabaran, Naisha turun dari mobil, membanting pintunya dan berlari dengan tergesa-gesa ke arah gerbang dan seorang guru ternyata sudah menghadangnya di depan! Nama guru itu Bu Nawilis. Banyak yang bilang kalo Bu Nawilis itu killer abis sampe-sampe pernah jadi bintang tamu Killer Instinct!

Bu Nawilis, dengan tampang killernya, memasang senyum killernya yang bisa meng-kill siapapun yang melihatnya.

“Naisha Kusumadinata!” cegat Bu Nawilis, melotot. Naisha memandang Bu Nawilis dengan pandangan waspada. Bersiap menerima serangan killer milik Bu Nawilis meskipun hatinya dag dig dug deg-degan setengah modar. Wanita yang sebetulnya masih bisa dibilang cukup muda itu berjalan dengan gayanya yang killer mengelilingi Naisha.

“Kenapa terlambat, Naisha?”

“Ng…, anu Bu…”

“Ibu mendapatkan laporan bahwa kamu sudah 3 hari berturut-turut telat terus dan sekarang adalah yang keempat kalinya. Kenapa Naisha? Kenapa bisa begitu? Apa ada masalah di rumah kamu? (Lalu Bu Nawilis berhenti tepat di depan Naisha dan seperti melihat sesuatu dari belakang bahu tu cewek). Nah, bagus, itu ada Dinar. Ayo kemari, Dinar. Sini, berdiri di sebelah Naisha. Sekarang Ibu interogasi kamu. Kenapa kamu terlambat? Tumben sekali kamu terlambat, biasanya kan nggak. Kenapa ini, Dinar? Kalo begitu, sekarang kalian berdua lari keliling lapangan aja ya, sebagai hukumannya. Lumayan kan, buat manasin otak? 10 kali ya, nggak boleh kurang dari itu. Kalo mo lebih mah ya silakan aja, mangga. Sok, sekarang juga ke lapangan!”

“Haaaaaaah…” Naisha mendesah dengan pasrah. Huh, sama Dinar pula. Masih mending kalo sama Opin!

Beberapa menit kemudian Naisha dan Dinar udah sibuk berlari-lari keliling lapangan. Naisha yang berada di depan sedangkan Dinar berlari di belakangnya. Dan setiap Naisha melihat Dinar di belakangnya, Dinar yang melihat Naisha sedang melihatnya langsung tersenyum dan melambaikan tangan. Heuheu…

Anak-anak yang ruangan kelasnya berada di pinggir lapangan langsung menempel dan memenuhi pinggiran jendela kelas mereka untuk melihat tontonan gratis tersebut. Sebenernya jarang-jarang ada murid telat yang disuruh lari. Paling-paling juga disuruh push up 100 kali. Tapi kalo guru piketnya Bu Nawilis sih jangan tanya….

Anak-anak kelas Naisha juga pada berlarian keluar kelas dan mengerumunii pinggiran lapangan untuk melihat peristiwa tersebut. Seharusnya saat ini mereka pergi ke lab. komputer karena sudah tiba pelajarannya. Tapi mendengar ada rame-rame mereka langsung berubah haluan, lari ke arah lapangan. Dan mereka semua (ada yang berdiri dan ada pula yang jongkok) langsung rame teriak-teriak, “Ayo Naisha! Jangan mau kalah ama Dinar! Jangan sampai kesusul!”

Rupanya anak-anak kelas Opin yang juga kelasnya Dinar nggak mau kalah nyemangatin! “Ayo, Dinar! Lari terus biar kurus! Susul aja, woy, SUSSUUUULL!!!!!!”

“Huuuu!!!!!” Kelas Naisha makin rame menyoraki. “Lari terus Naisha, jangan kalah!!!!!!”

Naisha yang sedang mencoba memahami kondisinya saat itu (tapi sayang, sepertinya ia tak kuasa…), hanya bisa terisak-isak dengan air muka menyedihkan. Dalam sorak sorai bergembira, eh, sorak sorai riuh ramai yang mengisi daerah lapangan dan sekitarnya, ia bersumpah, “Pokoknya mulai sekarang gue kapok telat lagi!! Apalagi kalo disengajain! Nggak lagi-lagi deh!!”

Tapi suaranya tertelan oleh ramainya anak-anak yang berteriak.

Tak lama kemudian, sepasukan guru, satpam dan lain-lain yang tergabung dalam PKS alias Penjaga Keamanan Sekolah sudah mengerubungi tempat tersebut dan mengamankan alias menertibkan seluruh anak.

Bagi Naisha, hari tersebut merupakan hari ter-bad day sedunia.

 

Sementara itu, di dekat pos satpam yang letaknya masih beberapa belas meter jauhnya dari lapangan yang riuh, Bu Nawilis sedang memberikan hukuman push up pada seorang murid lagi yang juga datang terlambat.

“31… 32… 33… 34…, ayo terus Opin, biar badannya tambah gagah, tambah perkasa, biar makin banyak anak-anak perempuan yang suka… 39… 40… 41…”

Opin hah-heh-hoh kecapean sambil terus melanjutkan push upnya. (DSA)

 

 

(it’s dedicated to…me, to my sunlight,

 and his bodyguard)

Selasa, 31 Mei 2005

k3Lu@rGa 7uT3k!

Sejak hari pertama kami pindah ke lingkungan ini, kami sudah merasa betah dan kerasan. Banyak tetangga yang datang, mengajak berkenalan dan menawarkan bantuan. Tingkat kepedulian sosial di sini sangat tinggi. Gotong royong sudah mendarah daging dalam tubuh para pemukimnya. Dan senangnya pula, seperti sudah tradisi saja, para tetangga di sini suka saling mengirimkan makanan!

Keluargaku menanggapi sikap hangat para tetangga dengan positif. Dalam waktu dekat kami sudah seperti membentuk suatu sistem kekerabatan antar tetangga. Kami dekat satu sama lain dan senang apabila dapat saling membantu.

Tapi aku dan keluargaku sama sekali belum pernah melihat tetangga yang tinggal di samping kanan rumah kami keluar rumah. Sementara bila pada sore hari bapak-bapak duduk-duduk di teras sambil minum kopi, ibu-ibu berkumpul di pagar sambil ngerumpi dan anak-anak pergi ke luar rumah untuk bermain, tak satupun dari anggota keluarga yang tinggal di sebelah rumah kami ini menampakkan batang hidungnya. Rumah mereka selalu kelihatan sepi, seperti tak berpenghuni.

“Emang tu rumah udah berapa lama nggak ada orangnya?” tanya Inay, kakak perempuanku, yang kadang-kadang ikut berkumpul bersama para ibu meski seharusnya dia bergabung dengan anak SMA sebayanya.

“Siapa bilang nggak ada orangnya?” ujar Bu Endah, tetangga depan rumah. Ia yang paling dekat dengan keluarga kami di antara tetangga-tetangga lainnya karena paling sering mengirimkan makanan.

“Oh, ada ya?” tanya ibuku.

“Adalah! Mereka lagi ada keperluan keluarga ke Singapur, kunci rumahnya kan dititipin ke saya!” jawab Bu Endah agak membanggakan diri. Kami semua lalu memandang ke arah rumah besar itu. Memang bukan satu-satunya yang besar di kawasan ini, tapi tu rumah emang bagus sih. Kesannya mewah dan elegan gitu.

“Ada yang ngejagain gak sih? Rumah segede gitu pasti banyak yang ngincer,” kataku ikut angkat suara. Di kelompok penggosip ini, aku yang usianya paling muda. Bersama-sama kakakku tentunya.

“Ada. Tapi jarang nampakkin diri.” Bu Endah setia menjawab.

“Kalo penghuninya, ada berapa orang? Anak-anaknya kayak gimana? Ada yang segede Inay nggak?”

“Anaknya dua orang, laki semua,” ujar Bu Ajeng. Aku dan Inay mengucapkan, “Wah!” bersama-sama.

“Ganteng-ganteng pula. Kira-kira sebayalah, dengan Neng Inay ma Neng Inon.”

Tapi mereka emang jarang keluar rumah sih,” kata Bu Endah lagi. “Orangnya…rada-rada jutek!”

“Tapi anak-anak cowoknya nggak kan?” kata Inay antusias.

“Sama aja deh kayaknya, Neng,” timpal Bu Ajeng. “Rumah Ibu kan deket lapangan, tapi ibu nggak pernah liat mereka main di sana kok.”

“Ya, wajarlah, mereka kan lagi di Singapura,” kataku.

“Mungkin ibu aja kali, yang nggak hapal wajah mereka,” tambah Inay.

“Nggak kok, suer!”

“Inay! Inon! Masuk, beresin tuh dapur! Abis diapain sih sampai dapurnya ancur gitu?!!!” Bapak kami ternyata udah misuh-misuh di depan pintu rumah.

“Aduh, pasti tadi abis bikin kue, kita lupa ngeberesin lagi!” ujar Inay.

“Kan ada Bi Inah,” kataku.

“Bi Inah lagi pulang kampung, Bego! Cepetan ah!”

Inay menyeretku masuk rumah, meninggalkan ibu-ibu yang tambah asik ngerumpi. Dan sambil membersihkan dapur, gagasan itu tiba-tiba muncul di otak Inay.

“Non, pas mereka balik dari Singapur, kita gebetin mereka yuk!”

“Hah?! Gebetan lo udah ratusan kali!!!!!!” teriakku.


Keesokan paginya, dari jendela kamarku di lantai 2, aku melihat sebuah Audi hitam menunggu di depan rumah di samping kanan kami. Pagar rumah tersebut terbuka dan terlihat tanda-tanda kehidupan.

“Inay! Inay!” teriakku.

“Apaan?!” Inay yang sedang mengancingkan seragamnya mendekat ke arahku, menengok ke arahku dan lalu ke arah rumah tersebut.

“Wah, tetangga sebelah rumah udah pulang, bow! Kita samperin yuk!”

“Gila lo! Pagi-pagi gini! Kenal juga nggak!” ujarku.

Lalu kami melihatnya. Orang cakep pertama. Milik Inay, memakai seragam SMA, bertubuh gagah, masuk ke dalam mobil. Eh, nggak deng, cuman masukin tasnya doang.

Lalu datang orang cakep kedua. Ini bagianku. Sama aja sih kayak kakaknya, cuman badannya agak lebih kecilan dikit aja. Berseragam SMP dan tampak sangat keren.

“Caaakeeeep…,” ujarku dan Inay berbarengan. Kami terpesona melihat pemandangan indah di pagi hari itu.

“INAY! INON! KALIAN MO DI ATAS SAMPE JAM BERAPA?! KALAU KALIAN LAMA-LAMA BAPAK BISA TELAT!!!!!! ANAK PEREMPUAN KOK MALES YA???!!!!!”

“Huuuuh…, Babbeh!!!!” teriakku dan Inay bersamaan.

 

Sore hari, waktunya ngerumpi

“Tetangga sebelah, kok mukanya gitu ya,” ujar ibuku sambil sesekali melirik ke arah rumah besar di samping rumah. Di halamannya yang luas, tampak seorang wanita berwajah judes sedang mengawasi halamannya itu. Lalu ada pembantunya yang sedang menyiram tanaman, berwajah judes juga.

“Ih, gila. Tampang pembantunya aja udah jutek gitu, apalagi yang punya rumahnya!” sungut Inay yang paling sebel kalo udah ngeliat wajah orang yang lagi jutek padahal nggak ada apa-apa yang pantes dijutekin.

“Udahlah, da biasanya juga emang gitu. Udah bawaan kali. Eh, udah ketemu sama anak-anaknya belum?” tanya Bu Endah.

Aku angkat bicara. “Ngeliat sih udah. Tapi baru tadi pagi aja, abis itu nggak lagi deh. Kita awasin terus rumah mereka, tapi merekanya nggak keluar-keluar.”

“Tapi, gila, cakep banget bo, apalagi itu tuh, yang udah SMA. Tante tau nggak namanya?” kata Inay semangat.

“Hmmh, anak ibu, bukannya belajar, main ma cowok terus kerjaannya!” kata ibuku jutek.

“Jangan gitu Bu, nanti wajahnya jadi kayak tetangga sebelah lo!” ujarku keras-keras—gak peduli bakal kedengeran ma orangnya apa nggak— sambil menirukan wajah terjutek yang aku punya, nyaris mirip dengan wajah si tetangga sebelah. Kami semua ketawa.

Malam harinya, Inay jadi semakin menggebu-gebu untuk bisa segera berkenalan dengan tetangga sebelah. Aku juga sama sih, tapi aku kan setia ma gebetanku yang di sekolah. Jadi aku memilih untuk bersikap pasif aja.

“Besok sore yuk, kita kirimin mereka kue!” seru Inay semangat, menutup obrolan kami malam itu.

 

Akhir-akhir ini hujan sering turun dengan lebatnya. Apalagi pas sore-sore. Dan bapak sangat bersyukur kegiatan ngerumpi yang sering berlangsung di pagar rumah dan mengganggu pemandangan sorenya itu terhenti untuk sementara. Dan batal deh jadinya rencana kami untuk mengirimkan tetangga sebelah kue. Kue-kue yang udah terlanjur dibuat dan batal dikirim itu pun akhirnya kami konsumsi sendiri.

Sampai datang suatu siang menjelang sore yang cerah. Aku dan Inay sedang semangat membuat kue untuk dikirim ke tetangga sebelah ketika ibu datang dengan muka kusut.

“Kenapa, Bu?” tanya Inay sambil menjilati adonan coklat di jarinya.

“Itu tuh, tetangga sebelah!” sungut ibu. “Disenyumin sama disapa  baik-baik, ramah-ramah, hangat-hangat, eeeeh…bukannya ngebales, malah baeud coba! Ibu kayak dianggap angin lalu aja, dicuekin! Dan itu udah berlangsung beberapa kali! Sampai yang terakhir kalinya sebelum ini sih ibu masih sabar-sabar aja, tapi lama-lama kan nggak tahan! Jangan bikin kue buat tetangga sebelah, ah!”

“Eeeh, ibu! Ini kan udah terlanjur dibikin! Masak mo dimakan sendiri lagi sih? Bisa-bisa Inay tambah gendut!” Inay protes.

“Pokoknya jangan bikin. Awas, nggak nurut ma orangtua!” Ibu tetap bersikeras.

Inay langsung cemberut. “Kamu aja yang makan deh!” serunya sambil menyodorkan kue pertama yang baru jadi dan masih hangat karena baru keluar dari oven (iyalah, emangnya dari tong sampah!) itu ke arahku.

“Ih! Nggak! Sori! Gue juga lagi diet tau! Kasih aja ke kucing!” Aku menunjuk Epson, kucing yang baru kami pungut dari jalanan seminggu yang lalu. Gitu-gitu, tu kucing udah dibawa ke dokter hewan, dibersihkan dan divaksin lo. Soalnya kami sekeluarga nemuin dia pas dia lagi sekarat! Jadinya langsung kami bawa ke dokter hewan terdekat.

“Gila! Epson sekarat lagi gara-gara salah makan, baru tau rasa lo! Kasih bapak aja deh nanti!” Inay segera duduk di sofa terdekat sambil cemberut. “Tapi anak-anak cowoknya nggak ikut-ikutan judes kayak bonyoknya kan?”

Aku mengangkat bahu. Malam harinya giliran bapak yang marah-marah gara-gara mobilnya keserempet ma tetangga sebelah ketika sama-sama hendak memasukkan mobil. Dua-duanya nggak ada yang mo ngalah, sampai Pak RT datang dan mengclearkan masalah.

“Tapi anak-anak cowoknya nggak kayak gitu kaaaaaann???!!!!!!!!” Inay tetap pada pendiriannya.

 

Pulang sekolah hari ini agak sorean karena aku main dulu di rumah temen. Tapi pulang sekolah sore-sore justru lebih enak daripada pas siang-siang ketika matahari masih panas-panasnya. Sore-sore kan adem!

Jalanan menuju rumahku udah mulai rame dengan rutinitas sorenya yang biasa. Aku senang memperhatikan ini dan rumah-rumah di sekitarku, apalagi ketika sudah mendekati rumah si tetangga sebelah. Di carport rumah tersebut terpasang sebuah ring basket dan tiap kali melihatnya aku selalu berkhayal sedang bermain basket bersama si cowok cakep tetanggaku itu.

Tapi kali ini rumah tersebut tampak rame. Ada sebuah mobil dan beberapa motor terparkir di depan rumah. Wah, pasti lagi banyak tamu nih. Dan ternyata memang iya. Sepertinya teman-teman si cowo cakep (kayaknya sih yang udah SMA) lagi pada main di situ. Dan ada beberapa cowok yang lagi nongkrong sambil main gitar dan tertawa-tawa pula di beranda rumah yang luas dan menghadap ke jalan itu.

Dan begitu aku melangkah melewati rumah tersebut, tawa mereka semakin keras. Sepertinya mereka sedang menunjuk-nunjuk ke arahku. Atau bukan? Kan yang ada di jalanan ini nggak hanya aku aja. Tapi…, kok perasaanku nggak enak, ya?

Aku menoleh.

“Tuh, liat, dia noleh!” salah satu dari mereka berteriak dan mereka segera ketawa-ketawa lagi. Aku cepat-cepat memalingkan muka. Semoga aja yang noleh ke arah mereka di jalanan ini nggak hanya aku aja. Amin! Amin! Amin!

“RRRRR!!!! GOGOGOGOGOGOGOGOGOG!!!!!!!!!!!” Aku langsung berlari sekencang-kencangnya dari situ. Cowok-cowok nyebelin itu ketawa makin keras. Orang-orang di sekitar situ juga kaget melihat tiba-tiba ada gongongan keras dari arah rumah tersebut. Tapi sepertinya cowok-cowok tersebut cuman ketawa buat aku! Sesampainya di rumah yang cuman beberapa meter dari tempat kejadian, para bigos yang juga kaget langsung menyambutku.

“Ada apa sih? Ada apaan? Non, ada apaan?” Inay bertanya-tanya penasaran. Aku nggak menghiraukannya dan terus masuk ke dalam rumah sambil berteriak, “Gak tau! Gak tau! Gak tau!”

 

Sejak saat itu, selalu muncul gonggongan menyeramkan dari arah rumah sebelah. Gonggongan tersebut berasal dari seekor anjing (ya iyalah, emang kucing!) besar yang menyerupai herder yang terkenal karena galaknya itu.

Bu Endah dan Bu Ajeng bilang, keluarga tersebut memang sudah mempunyai anjing sejak dulu, tapi jarang dikeluarin karena mereka tau kalo anjing kesayangan yang hanya jinak pada mereka itu galak banget ma orang asing, apalagi tetangga baru! Kalaupun pernah, pasti dikeluarinnya pas malem-malem buta dan itu dilakukan khusus untuk olahraganya si anjing. Tapi entah kenapa sekarang si anjing yang nggak kalah jutek dari pemiliknya itu jadi disuruh nongkrong di balik pagar rumah setiap hari.

“Dan selalu di jam-jam saat kita mau ke luar rumah!” kata ibu antusias. “Kalian mo pergi ke sekolah, bapak ke kantor, anjingnya dikeluarin. Ibu mo ke warung, anjingnya dikeluarin. Jam kalian pulang sekolah, jam kalian main di luar, jam ibu ngerumpi, jam bapak pulang dari kantor, selaluuu aja, ada di anjing g***** sialan itu!”

“Ck! Udah dijadwal kayaknya!” potong bapak.

“Emang mereka dendam apa sih, ama kita? Gitu-gitu banget!” ujarku.

Inay yang ternyata udah jadi korban juga ikut berkomentar. “Tau nggak, waktu Selasa kemarin Inay ma temen-temen ke rumah, sama temen-temennya si cowo brengsek itu kita dikatain cewe kampungan coba! Belum pas anjingnya itu ngegonggongin, temen-temen Inay kan pada takut anjing. Puas deh diketawain! Padahal Inay kan sekolah di SMA elit seBandung, Inay nggak terimaaaa!!!!!!!!” Inay sepertinya lupa pada kalimat tapi-anak-anak-cowonya-nggak-gitu-kan yang dulu sering diucapkannya.

“Kita apain ya, mereka?” ucap bapak. Semua anggota keluarga pun berpikir di tengah suasana makan malam tersebut.

Tiba-tiba Inay nyeletuk, “Bu, pingin BAB nih…”

“Ih! Pantesan dari tadi bau kentut! Cepetan ke belakang gih!” Kami semua, kecuali Inay, menutup hidung.

“Tapi nggak bisa keluar…, udah berapa hari, nggak tau…, takut ada apa-apa nih!”

“Ambil tuh, obat pencaharnya Om Burhan di kotak P3K!” ujar bapak cepat.

“Sejak kapan kita punya obat pencahar, Pak? Di keluarga kita kan nggak ada yang punya masalah yang kayak gituan. Yah…kecuali si Inay sekarang…,” kata ibu sambil memandang Inay dengan pandangan prihatin.

“Ibu jangan gitu dong!”

“Waktu Om Burhan ke sini pas syukuran rumah, obatnya ketinggalan….”

“Ah! Bener! Anjingnya kita kasih obat pencahar aja!” seruku cepat. Semuanya langsung memandang ke arahku.

“Wah, dapet ide brilian darimana lo?!” jerit Inay sumringah.

“Tapi kalau malem-malem anjingnya pasti ditaruh di luar kan, buat jaga rumah,” sambung ibu.

“Ah, nggak mungkin. Mereka kan sayang banget sama anjingnya, Bu. Pak RT yang bilang kok, sampai-sampai di dalem rumah pun disediain ruangan khusus. Pasti anjingnya ada di dalem!”

“Tapi kalo malem-malem anjingnya kan suka dibawa ke luar!”

“Tapi tulang mainannya si Dogi kan ada tuh, suka ditinggalin di luar. Jadi, pas si anjing ma pemiliknya yang nganterin jalan-jalan itu udah pergi, kita menyelinap diam-diam. Orang-orang rumah pastinya udah pada tidur juga kan? Gak bakal ketahuanlah! Kita lumurin tulangnya pake obat pencahar, kan obatnya berupa sirup tuh. Trus pas si Dogi main-main ma tulangnya, berhasil deh rencana kita!”

Rencanaku itu disambut meriah oleh semuanya. Kami pun segera menyiapkan barang-barang yang kami perlukan. Kami menunggu sampai tengah malam, lalu bapak dan Inay (yang punya dendam paling besar) segera beraksi dengan pakaian serba hitam. Aku dan ibu salat tahajud di rumah, mendoakan keberhasilan untuk ini. Bapak dan Inay pun kembali ke rumah dengan selamat, tepat ketika si anjing dan pemiliknya kembali ke rumah mereka. Kami pun segera mengadakan pesta kecil-kecilan.

 

Beberapa hari setelah itu…

Aku dan Inay baru pulang dari bermain basket dari lapangan sore itu, ketika kami melihat si Nyonya Jutek a.k.a Tetangga Sebelah keluar dari rumah kami dengan tampang super kusut, super jutek, dan super marah. Ia melotot dengan penuh emosi begitu berpapasan dengan kami.

“Ada apa sih, Ma?” tanya Inay begitu melihat ibu sedang membereskan majalah di ruang tamu.

“Tau tuh, tetangga,” ujar ibu cuek. “Dia bilang anjingnya keracunan makanan gara-gara kita, padahal mana? Buktinya aja nggak ada. Kita kan tetangga yang ramah dan baik hati. Iya kan? Aneh-aneh aja. Menyelinap malam-malam katanya. Maling kali!”

Aku dan Inay tersenyum. Rencana kami berhasil. Tapi kegembiraan tersebut segera berganti jadi kesedihan. Keesokan harinya,

“EPSON MANAAAAAA?????!!!” jerit Inay. Dia soalnya yang paling sayang ma Epson.

“Kita lapor polisi, Pak…. Atau bikin selebaran buat nyari si Epson…,” rengek ibu.

“Padahal dia begitu baik, begitu lucu, begitu lincah, temannya banyak…, Amelia kali! Pokoknya, sungguh banyak yang telah dia lakukan pada keluarga kami, hk, hk…,” aku nggak mau kalah sedih jadi aku menempelkan bawang di mataku supaya bisa menangis. Ya, Epson, kucing kesayangan kami hilang. Langsung saat itu juga keluargaku bergegas ke luar rumah untuk mencarinya. Aku ikut ke luar rumah dan menemukan si cowok cakep sebelah rumah yang sama denganku, masih duduk di bangku SMP, sedang mendribble bola basket di depan rumahnya sambil berjongkok.

“Kamu liat Epson nggak?” tanyaku dengan mata sembab karena bawang. Nilai plus untukku karena sudah berhasil menegurnya duluan.

“Siapa Epson?”

“Kucing. Kucing kesayangan kami, dia hilang tak tentu rimbanya. Tahukah kau ke mana perginya?” Aduh, jadi dramatis gini…, pasti gara-gara pengaruh bawang!

“Ikut eskul teater ya, Mbak? Nama kucing kok Epson, printer kali! Paling-paling dia udah dimakan ma si Vicky.”

“Siapa Vicky?”

“My Dogi. Nama panjangnya Victoria Adams Barbara Margareta Aurelia Saragosa Felicia Carmanita. Sekarang dia lagi dirawat inap di kelas VIP sebuah rumah sakit khusus hewan elit di Singapura. Pasti gara-gara diracunin ma keluarga lo tuh! Udah gitu makan kucing lo yang…ih, jorok itu pula. Jadi aja tambah sakit! Untung cuman mencret-mencret doang!”           

“Anjing kok kayak manusia sih? Dikasih nama panjang-panjang, dimasukin ke kelas VIP, di Singapura pula. Mending duitnya tuh, ya, disumbangin ke fakir miskin! Lagian, suruh siapa makan kucing?”

“Emangnya lo siapa sih?! Suka amat ngurusin anjing orang. Kampring lo!”

“HAH?!!!!!!!”

Sejak itu aku nggak mau berurusan dengan keluarga itu lagi, apalagi keluargaku. Mereka tambah marah aja sewaktu tau si Epson ternyata sudah tewas dimakan Vicky. Perang pun semakin memanas, dan tiba-tiba datanglah sebuah keanehan.

Suatu sore, seperti biasalah, Bu Endah datang mengirimkan sebuah puding ke rumah kami.

“Aduh makasih, udah lama loh, Jeng nggak ngirim makanan ke sini lagi,” ibu menerima puding itu dengan senang hati.

“Oh, soal makanan sih, saya emang udah nggak niat ngirim ke sini lagi, hohoho, cuman bercanda kok. Tu puding bukan dari saya, tapi dari Nyonya Tetangga Sebelah….”

“HAH?! Nggak mau ah. Nih! Saya balikin! Takut ada apa-apanya!” ibu memaksa Bu Endah menerima puding itu kembali. Bu Endah segera menolaknya, dan memaksa tangan ibu untuk tetap memegangnya.

“Sama! Saya juga takut ada apa-apanya! Tapi Bu, kalo barang yang udah diterima nggak boleh dibalikin lagi loh!”

“Emangnya siapa yang nerima?”

“Sampeyan ini gimana? Wong dia ngasihnya dengan tulus ikhlas kok, ya terima saja! Lagian dia juga titip pesan, katanya mo berdamai! Kalo ibu terima, ibu mesti bales ngasih makanan lagi, yang artinya iya, saya mo damai!”

“Masak sih?”

“Percaya deh ama saya!”

Ibu termakan omongan Bu Endah dan kami sekeluarga memakan puding tersebut saat makan malam.           

“Enak nih,” ujar Inay. “Si cowok cakepnya ikut bantuin juga nggak ya?”

“Heh, katanya udah ilfil! Tapi kok mereka masih mo damai ma kita, ya?” celetukku.

“Udah, makan jangan sambil ngomong. Ayo, ayo, nambah lagi. Makanan enak harus dihabiskan!” kata bapak sambil terus mengambili puding dan memakannya dengan lahap.

Dan beberapa lama setelah itu, kami semua sudah mengantri di depan pintu kamar mandi. Perut kami rasanya melilit seakan-akan minta semua isinya dikeluarkan! 

“Ibuuuuuu!!!!!! Cepetan dong, B-A-B-nya! Udah nggak tahan nih!” jerit Inay, menggedor-gedor pintu WC sambil memegangi perutnya yang melilit.

“Bentar dong! Duh, kenapa sih kita semua bisa pingin B-A-B-nya barengan???” bales ibu.

“Bapak mo numpang di rumah tetangga aja ah,” ujar bapak sambil buru-buru lari ke luar rumah.

“Ikut Pak! Ikut Pak!” seruku. Tapi mau melangkah pun rasanya susah!

“Ibuuuuuu!!!!!!!!! Keburu keluar nih, cepetan!!! Gila, rasanya kayak pas abis minum obat pencaharnya Om Burhan aja! Eh? Obat pencahar?”

“Itu dia! Obat pencahar alias obat pencuci perut!” seruku setuju, melupakan sensasi pingin BAB-ku sejenak.

“GILAAAA!!!!!!” seru Inay histeris. “Gak kreatif amat tu keluarga. Plagiat, niru-niruin kita pake obat pencahar!!!!!”

“APAAA???!!!” seru ibu dari dalam WC. Lalu terdengar gumaman, “Awas, ya, si Bu Endah kalo ketemu nanti….” 

“Jadi sekarang skornya berapa?” tanyaku.

Inay berkata dengan penuh dendam, “Gak peduli mereka skornya mo berapa (karena skor mereka udah beberapa angka di atas kita), yang penting kita mesti BALAS DENDAAAAAAAAAAM!!!!!!”

 

Perang di antara keluarga kami, yah seperti yang sudah dapat diduga, makin parah aja. Si Vicky, yang udah pulang dari rumah sakit makin keras menggonggongi kami setiap waktu kami lewat rumah tersebut (“Lain kali kita racun beneran deh, biar koit sekalian!” kata ibu nafsu), dan kami pun lalu berinisiatif untuk memukuli anjing itu dengan buah-buahan busuk yang sengaja kami pesan dari warung tiap kali dia menggonggong, tak peduli seberapapun kerasnya dia begitu. Dan untungnya dia nggak pernah berani meloncati pagar rumah dan mengejar kami karena kami selalu sudah bersiap-siap untuk menimpukinya dengan batu kali yang gede-gede. Lalu kami pun berganti siasat perang dengan lomba menyetel radio-tape keras-keras. Mereka menyetel lagu-lagu cadas yang keras-keras, kami lawan dengan musik klasik, masyid atau qasidahan.

Ketika masalah kami menjadi semakin rumit, Pak RT lalu menghubungi RW, lurah dan camat untuk menyelesaikan masalah. Kami semua hadir di balai pertemuan setempat dalam persidangan kecil-kecilan. Dan hukuman yang diberikan pengadilan pada kami adalah : keluarga yang satu harus mengunjungi keluarga yang lainnya secara bergantian selama minimal 2 jam sehari dalam setahun/sampai salah satu keluarga pindah dengan diawasi oleh petugas kelurahan. Untuk menciptakan tali silaturahmi katanya. WADDUH!!!

(DSA)

Sabtu, 30 April 2005

9@R4” 8aN7!r Jd 1LfIl !

07.00

Mendung

 

08.00

Masih mendung

 

09.30

Awan menggumpal-gumpal layaknya plastisin. Langit semakin hitam, kelam dan buram

 

10.45

Hujan rintik-rintik. Gerimis mengundang…

 

11.00

Hujan

 

11.59

Hujan deras

 

12.35

Hujan es

 

13.00

Hujan mirip badai

 

13.15

Badai

 

14.00

Badai mereda. Masih hujan tapinya.

 

14.15

Banjir semata kaki

 

14.20

Banjir sebetis

 

14.25

Banjir selutut

 

14.30

Banjir sepaha

 

14.45

Banjir se… seperut

 

15.00

Banjir seleher

 

16.00

Banjir 2 meter

 

Entah gimana caranya sampe Anesya terpisah dari keluarganya dan bisa melayang-layang di atas suatu benda di permukaan banjir yang berwarna coklat kekuning-kuningan ataukah kuning kecoklat-coklatan (bedanya emang apa seh?) bersama gebetannya sepanjang masa : Jaka (legend banget gak sih ni nama?)

Kampungnya yang berada di kelurahan somewhere, kecamatan nowhere di kota antah berantah ini emang langganan banjir sih. Minimal 2 tahun sekali kenalah. Dan tingginya ni banjir juga minimal 2 meter. Err, maksimal maksudnya.

Namun banjir kali ini membawa berkah, rizki dan nikmat tak terduga bagi Anesya. Non sense bagi Jaka. Mereka terapung-apung di atas suatu benda (ayo tebak, apa coba????) di tengah banjir yang kayaknya menjadi semakin tinggi dan tinggi aja, mo nyaingin kolam renang umum kayaknya.

Let me describe about their condition. Meski abis kena banjir, pakaian mereka masih bisa dibilang kering dan cuman basah ujung-ujungnya dan di beberapa tempat lainnya aja. Mereka duduk tenang di atas benda yang membawa mereka terapung-apung entah ke mana, yang jelas benda tersebut membawa mereka semakin jauh dari warga kampung yang, saking udah kebiasaan kena banjir, dengan tenangnya mengatasi bencana dadakan tersebut. Anehnya, mereka (Anesya dan Jaka) sama sekali nggak menyadari hal itu (bahwa mereka semakin jauh dari keramaian). Hmm, cerita yang aneh memang…

Anesya yang—meskipun tetanggaan—jarang punya kesempatan untuk berinteraksi dengan Jaka sang gebetan sepanjang masa, memulai tahap awal PDKT dengan berkenalan.

“Jaka,” ujar Jaka khidmat. Dan singkat.

Anesya hanya menganggukan kepalanya sedikit, karena sudah mengetahui nama itu sejak dulu, namun belum tentu Jaka tahu siapa namanya.

Kata Anesya, “Nama saya Anesya…”

Berharap Jaka bakal memuji namanya yang indah (bagi yang namanya sama dan baca cerita ini, dipersilakan ge-er).

“Amnesia?” ulang Jaka. Emang sekarang lagi tren yah, orangtua ngasih nama anaknya kayak nama penyakit? Pikir Jaka. Ni anak rada budi emang.

“Anesya…” ulang Anesya lagi.

“Hah?” diucapkan dengan tampang bego.

“Anesya.”

“Malaysia?”

He he, mang nyambung yah? Jauh kali…

“Aaah, udah deh panggil Eca ajalah, yang singkat-singkat!” sergah Anesya meski Eca itu bukan nama panggilannya.

“Meja?”

“Eca, goblog.”

 

 

Di tengah hiruk pikuk keluarganya yang sedang menghadapi banjir, Anesya berhasil menyelamatkan sebuah majalah yang menjadi benda keramat saat dibutuhkan karena majalah tersebut berisi tentang panduan mengenai cara menghadapi banjir. Majalah itu tetap kering dan hanya basah sedikit di bagian ujung-ujungnya dan di beberapa tempat lainnya aja (perasaan kayak udah pernah denger ni kalimat deh?).

Anesya dan Jaka membaca majalah itu, tentang bagaimana cara menolong diri sendiri, cara menolong orang lain, benda apa aja yang harus dibawa, langkah pertama apa aja yang mesti dilakuin dan lain sebagainya. Well, majalah tersebut memang sangat berguna, apalagi ketika semenit kemudian muncul sayup-sayup teriakan minta tolong.

“Tolong! Tolong!” (Sejak kapan ada orang minta tolong teriaknya, “Yippie…, Yippie…, ASIK!)

“OMG, ah, sialan!” pekik Anesya dalem ati yang merasa mengenal suara tersebut. “Itu kan suara nenek gue yang bawel abis! Udah mah tadi pagi gue abis dimarain, sekarang ganggu-ganggu saat gue lagi dua-duaan ama si Jaka lagi, kampret. Aduh… kenapa nggak kelelep terus aja sih tu orang buat selamanyaaaaah!?”

Lalu muncul kepala seorang nenek-nenek yang lagi asik megap-megap beberapa meter jauhnya di depan mereka. Kepala tersebut muncul tenggelam dan tiba-tiba, ketika kepala tersebut sedang tenggelam, muncul sepasang kaki dengan posisi tegak lurus merapat ke atas. Lalu kaki tersebut tenggelam, dan tak lama tubuh nenek tersebut muncul perlahan dari bawah air secara utuh terlentang di atas air. Kaki merapat dan tangan naik turun kayak kupu-kupu. Tubuh tersebut berputar-putar sebelum kemudian tenggelam dan muncul lagi kepala nenek-nenek yang langsung asik megap-megap lagi. Asli, persis banget kayak balet air!

“Wah, itu kan nenek-nenek yang tadi pagi renang di Murtnec bareng gue!” seru Jaka antusias.

“Whats!? Jadi tadi…lu…ne…nenek gue? Renang?” Anesya berusaha untuk nggak terlalu kaget dan menyembunyikan fakta bahwa orang tersebut adalah neneknya. “Yang bener aja deh lo, tadi pagi ujan kale!”

“di Murtnec baru ujan jam 11-an, gue di sana udah dari jam 8-an sementara tu nenek baru datang jam 9 (“abis marain gue, enak dia, langsung ngadem di kolam renang!” umpat Nesya—biar lebih singkat—dalem ati). Pulang-pulang ke sini udah ujan lebat!” jelas Jaka. Btw, Murtnec itu ceritanya nama kolam renang umum yang letaknya agak jauh dari kampung di cerita ini. “Eh, pas gue ngeliat tu nenek gitu yah, renangnya jago loh, pake salto dalem air segala. Setelan stuntman ato atlet gitu deh. Apalagi bikininya, coy…!”

Nenek gue kan emang mantan atlet renang…. Tapi apa itu tadi? Bikini!?

“Trus itu nenek lo?”

“Eh, bukaaaaan!!!! Bukan!”

“Kasian dia, kita mesti menolongnyah!”

“Ah, udahlaa…, ngapain juga susah-susah? Lempar aja majalahnya, suruh dia buka sendiri halaman yang ada ‘tuntunan praktis menyelamatkan diri saat berada di tengah banjir’!!” Nesya nyaris sesumbar sambil siap-siap melemparkan majalahnya. Jaka langsung mencegah karena khawatir majalah tersebut malah kelelep dalam banjir dan disusul tak lama kemudian oleh sang nenek.

“Tapi kan tadi katanya dia jago renang!” ujar Nesya lagi.

“Di kolam khusus anak-anak, Otoy!”seru Jaka, lelaki botak berkumis tipis gebetan Nesya sepanjang masa.

“Tolong! Tolong!” teriak nenek.

Lalu akhirnya kata Jaka, “Gue becanda, dia emang jago renang—“

“Di kolam khusus anak-anak…”

“BUKAAN!!! Tapi lo coba analisis deh, ada alasan kenapa dia sampe gak bisa nolong dirnya sendiri di tengah banjir padahal dia jago renang!”

“Karena dia jago renang di kolam khusus anak-anak…”

“Tolong! Tolong!” masih teriak nenek sambil berpegangan pada batang pohon yang ¾ bagiannya turut kelelep, menemukan sebotol Fanta yang masih utuh dan tertutup rapat, membuka tutupnya dengan gigi dan meminumnya.

“Tapi dia kan, udah nenek-nenek, mana airnya kotor geneh, coklat, ih, dingin pula, abis ujan. Belum kalo ada makhluk-makhluknya, ga baik buat kesehatan diah, mana udah sore… (Emang napa kalo udah sore? Ga ngerti gue juga…)

“Andaikan gue berada di atap rumah, gue akan berandai-andai… Andaikan ini perahu, akan kudayung hingga mencapai nenek-nenek tua itu dan kuselamatkan dia…”

“Kenapa nggak sekalian aja berandai-andai lagi di atas perahu? Gak praktis amat. Pake nebengin atap rumah segala…,” celetuk Nesya bete. “Andaikan kita sedang berada di perahu?”

“Andaikan gue sedang berada di perahu, gue akan berandai-andai… Andaikan ada dayung, akan kudayung pelampung karet ini hingga mencapai nenek-nenek itu dan kuselamatkan dia…”

Sayangnya, benda yang mereka tumpangi bukanlah atap rumah dan perahu melainkan hanya sebuah gelondongan kayu.

Rasanya persis kayak naek gajah, suer. Sekali nggak bisa jaga keseimbangan ya jatoh, kelelep deh.

“Tolong…! Tolong…!” nenek masih bertolong-tolong ria.

Tiba-tiba Jaka mendapat sebuah penerangan (=pencerahan, cerah=terang bukan?). “Eh iya, perasaan tadi di majalah kamu ada cara nolong orang deh. Liat lagi dong majalahnya!”

Nesya yang sedang menikmati saat-saat berdua indahnya dengan Jaka, gebetan sepanjang masanya, di atas gelondongan kayu yang bergoyang-goyang diterpa gelombang mungil banjir, menoleh. “Hah? Eh, iya, inieh…”

Dengan cepat Jaka membuka lembar demi lembar majalah tersebut dan setelah menemukan halaman yang dicarinya, “Nah, ini dia! Kita bisa pake kantong plastik, celana ama jerigen buat jadi pelampung darurat. Lu bawa ketiga benda itu nggak?”

Nesya menggeleng. Mata mereka berdua pun menyapu daerah di sekitar gelondongan kayu, sadar bahwa mereka sudah terbawa jauh dari orang-orang, dan terutama sadar bahwa nggak ada satupun benda dari tiga yang mereka butuhkan ada di sekitar situ.

“Hebat yah, ini banjir tapi di sekeliling kita ga ada satupun benda yang berenang-renang (kecuali nenek tua yang sedang asik ngumpulin perhiasan-perhiasan yang terbawa hanyut oleh banjir). Banjir yang aneh.”

Nesya kembali bete dan di kepalanya muncul recap adegan di mana nenek sedang marah-marah pada Nesya. Kejadiannya tadi pagi.

“Pokoknya nenek mo bawa bikini ini ke Murtnec! Kalo nggak, tunggu aja sampai rumah ini hancur lebur ama bazoka…”

Sedeng emang…

“Ah, udahlah!” tiba-tiba Jaka mencopot celananya.

“AAAAUUUWW!!!!!”

“Kenapa? Kamu ada yang luka?” Tanya Jaka panik

“Nggak…!” sergah Nesya sambil pelan-pelan membuka mata. Lalu, “Ngapain kamu buka celana?!”

“Gak ada kantong plastik, celana ama jerigen. Ya udah gue pake aja celana gue. Untungnya gue pake celana parasut, tepat seperti yang diintruksiin ma majalah ini, he he he…” Jaka terus membuka celananya. “Tenang aja, gue pake daleman celana Hawaii juga, kok.”

Namun celana tersebut ikut tertarik bersama celana panjang parasut Jaka ketika ia sedang berusaha mencopot celananya sambil berusaha menjaga keseimbangan pada gelondongan kayu yang kini sedang bergoyang-goyang heboh akibat guncangan di atasnya. Jadi, sekarang Jaka hanya memakai sepotong celana…fiuuh…, renang. Merk Speedo. Untungnya si…bukan kolor putih biasa yang suka tembus pandang kalo kena air...

Menurut majalah, setelah dicopot paksa dari tubuh pemiliknya, kedua ujung pipa celana harus diikat oleh tali. Jaka pun mencari-cari tali untuk mengikat kedua ujung celananya. Dan hasilnya nihil. Nesya memperhatikan Jaka dengan pandangan ilfil.

“Waduh, nggak ada tali nih, pake tali BH lu aja deh, boleh ga?”

“HEH, MESUM!!!!”

“Sori…sori…” mencoba menghindar dari Nesya yang menunjukkan gelagat akan segera medorongnya dari gelondongan kayu dan menenggelamkannya dengan kaki, dengan penuh tenaga Jaka akhirnya merobek celana Hawaiinya sehingga tersedialah beberapa tali panjang untuk mengikat ujung celana. Jaka mengikatnya kuat-kuat sesuai dengan yang diinstruksikan majalah. Setelah selesai, ia melakukan tahap-tahap terakhir pembuatan pelampung darurat tersebut.

Pelampung darurat selesai. Jaka menyeburkan diri ke dalam air, berenang menuju nenek dan membantunya untuk menuju ke arah gelondongan kayu.

Adegannya mirip banget kayak di film Baywatch.

           

It’s story without CLIMAX

 

Sekembalinya Jaka (+nenek), Nesya merasa ilfil pada cowok tersebut. Penyebabnya ada dua hal :

  1. Jaka hanya memakai celana renang. Celana renang yang mini banget itu loh, persis kayak celana dalem, kolor, apalah. Jadi tentunya keliatan jelaslah bagian dari pangkal paha sampe ke ujung kaki, mana banyak bulunya lagi. Nesya tiba-tiba jadi merasa mual dan jijik. “Gak lagi-lagi deh gue ngecengin si Jaka. Ilfil gue…, ILFIL!!!”
  2. Jaka telah membuat hidup Nesya menjadi semakin sengsara lagi karena Jaka telah menyelamatkan nenek yang merupakan orang yang paling dibencinya di dunia. Mana sekarang tu orang lagi marah-marahin dia lagi. “Eh… dasar lu yah, cucu gak tau diri. Udah tau nenek lu ini kelelep, bukannya nyorakin orang yang nulungin nenek atau apa kek, kasi dukungan, malah diem ajah lu! Bikini lu gak bakal gua balikin! Rasain lu!” semprot nenek yang sering buka situs-situs gaul ini, ngomongnya aje pake gue-elu!

“Ternyata Jaka sama sekali nggak tau apa yang gue rasain. Ternyata dia bukanlah cinta sejati gue. Kalo dia emang mengerti perasaan gue, seharusnya dia biarin aja tu orang kelelep! Huuu…” isak Nesya dalem hati. Orang yang lagi keruh suasana hatinya memungkinkan keruh pula pikirannya sehingga nggak bisa berpikir jernih. Mana mungkin Jaka bisa langsung mengerti perasaannya kalau kenalan aja belum sampe sehari??? Cewek yang aneh.

 

Untunglah, nggak sampe semenit kemudian muncul dua buah perahu karet yang masing-masing berisikan beberapa orang bapak-bapak dan beberapa orang lagi adalah anggota tim SAR. Di antara para bapak-bapak tersebut adalah bapaknya Nesya dan bapaknya Jaka.

Dua perahu karet tersebut segera mendekat ke arah gelondongan kayu yang berisikan Jaka, nenek dan Nesya.

Bapaknya Nesya dan anaknya (yaitu Nesya gitu loh) segera berpelukan melepas rindu. “Oh, anakku…”

“Oh, bapakku…”

“Kau baik-baik saja, anakku?”

“Tentu, Bapak…”

“Dan kenapa pemuda yang tadi terapung-apung bersamamu hanya memakai celana renang?”

“Ng, itu…, jijik ya Pak? Tapi yang bapak juga perasaan sama aja ah.”

“Hey, menantuku, tolong bantu aku menaiki perahu ini!” suara cempreng nenek memecah suasana dramatis yang sedang tercipta antara bapak dan anak.

Sebelum membantu mertuanya naik ke perahu, bapaknya Nesya sempat berbisik ke anaknya (yaitu Nesya gitu loh), “Anakku, kenapa kau tidak tenggelamkan saja mertuaku ini?”

Nesya menjawab,”Tidak bisa Bapak, karena pemuda itu sudah keburu menolongnya (menunjuk Jaka). Lagian kalo kita biarkan dia mati…, ng…, perasaan kok kita jadi bapak dan anak durhaka banget, yah? Gitu-gitu dia manusia juga loh. Kita anak beranak yang aneh ya?”

Lain Bapaknya Nesya dan anaknya (yaitu Nesya gitu loh), lain pula Bapaknya Jaka dan anaknya. Supaya lebih singkat, nama bapaknya Jaka adalah Pak Joko.

“Kenapa kamu cuman pake celana renang?” Tanya Pak Joko.

“Karena…” Jaka pun menjelaskan kepada bapaknya kenapa dia begitu, alasan dan penyebabnya dan terakhir,cara membuat pelampung darurat dari majalah Nesya yang telah dipelajarinya.

“Oh, begitu. Kamu pintar sekali, Nak. Ayo cepat, naik ke perahu, bapak dan bapak-bapak lainnya akan mencari korban yang terdampar jauh lainnya selain kamu dan orang-orang itu.”

“Ya, Pak.” Dengan patuh Jaka menurut dan… to the point, ketiga orang tersebut pun (Nesya, Jaka dan nenek Nesya) diantar ke tempat penampungan oleh anggota tim SAR yang tersisa di perahu yang satu. Sementara perahu yang satu lagi pergi ke tempat yang lebih jauh untuk mengevakuasi—siapa tau aja masih ada—korban lainnya.

 

1 jam kemudian,

 

Perahu tersebut datang dengan membawa beberapa korban yang telah berhasil ditemukan  (ya iyalah, kalo belum ketemu emangnya mo ngebawa sape?) dan sisanya adalah tim penyelamat yang terdiri dari beberapa bapak-bapak dan beberapa tim SAR. Setelah perahu tersebut sampai ke tempat penampungan, dan para penumpangnya pada berdiri untuk pindah dari perahu ke tempat tersebut, terlihatlah pemandangan beberapa bapak-bapak yang hanya memakai kolor doang sementara celana mereka entah-pada-ke-mana-kok-nggak-dipake. Baju mereka semuanya basah kuyup.

Nesya memandang Jaka.

“Jaka, kemari!” ujar Pak Joko dengan tampang menyeramkan. Nesya segera menoleh ke arah lain dan pura-pura nggak tau.

Well, rupanya Jaka lupa memberitahu kalau ternyata hanya celana parasut yang bisa dijadikan pelampung darurat sementara celana yang lain tidak. Walhasil, saat bapak-bapak yang selalu ingin tahu ini (anak pintar…) mencoba, bukannya ngapung, mereka malah tenggelam.

Demikianlah akhir dari sebuah kisah yang terjadi saat banjir tiba.

Aneh. Garing. Anti klimaks.

Jangan pura-pura tidak mengerti, tidak menyesal dan tidak mencemooh setelah Anda selesai membaca cerita ini. Jujur, saya aja yang bikin merasa begituh…

 

 

It’s dedicated to… no one

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain