Selasa, 29 April 2014

Pembacaan Cerpen Pikiran Rakyat & Kompas April 2014

Baru April 2014 ini aku terpikir untuk mengumpulkan cerpen dan membacanya secara bulanan. Cara yang lebih ringan ketimbang mengumpulkan cerpen dalam setahun sekaligus dari lima harian nasional, yang per tahun bisa mencapai dua ratusan, dan membacanya mau-tak-mau di layar komputer pula sehingga tentunya mata lama-lama akan berat. (Tapi aku mungkin akan melakukan lagi yang seperti itu, kapan-kapan). Tapi blog Lakon Hidup tempat aku mengunduh cerpen-cerpen itu tidak selalu bisa diharapkan, tahun 2013 sempat jarang update. Sementara, di rumah orangtuaku berlangganan Pikiran Rakyat (selanjutnya kusingkat jadi PR) dan Kompas. Pernah dulu Republika tersedia secara kontinyu juga di rumah. Dulupun sewaktu SD aku pernah menyobeki cerpen dari PR, Kompas, Nova, dan entah apa lagi, lalu mengumpulkannya dalam satu map. Kubawa ke kasur untuk dibaca sebelum tidur. Tapi sudah amat lama aku tidak ingat memegangnya lagi. Sepertinya map itu sudah dibuang oleh Mama. Sayang sekali. Pengumpulan cerpen sebenarnya sudah kulakukan lagi sejak bertahun-tahun terakhir ini, dari Kompas dan PR itu. Tapi aku melakukannya kalau sedang ingin saja. Akibatnya koleksiku tidak lengkap dan aku tidak peduli untuk melengkapinya. Lagipula setelah terkumpul, bundel itu terbenam saja di dasar rak, ditimpa tumpukan kertas yang isinya macam-macam, tak terbaca. 

Pada April 2014 ini terdapat empat hari Minggu (tanggal 6, 13, 20, dan 27) sehingga ada delapan cerpen yang kudapatkan dari dua harian. Harian pertama yaitu PR. Lingkupnya  regional Jawa Barat (dan Banten?). Cerpen dimuat di halaman 23, yang judulnya PERTEMUAN KECIL, bersama-sama puisi dan “Wisata Bahasa”. Harian kedua berlingkup nasional yakni Kompas. Cerpen terdapat di halaman 20, SENI, bersama-sama esai yang tidak selalu bicara soal sastra, tapi juga meliputi berbagai bentuk seni lainnya seperti teater, wayang, atau patung, dan tidak selalu kubaca karena tidak mengerti. Aku membaca cerpen-cerpen itu secara berurutan berdasarkan tanggalnya, yaitu mulai dari tanggal yang termuda, selang-seling antara PR dan Kompas. Agaknya aku mendahulukan PR karena proximity. Mungkin...



Tadinya aku terpikir untuk menulis pembacaan untuk tiap-tiap cerpen sepanjang satu halaman buku tulis. Tapi setelah membaca cerpen pertama, aku kehilangan minat. Setelah membaca cerpen keempat, aku melipat kumpulan cerpen itu lagi dan meletakkannya di depan untuk dibaca lagi, entah kapan. Kuduga aku punya masalah dengan cerpen. Tapi aku tidak hendak meruwetkannya di sini. Bagaimanapun dari empat cerpen pertama, ada satu cerpen yang menurutku mending, membuatku senyam-senyum sesudah membacanya, yaitu “Bidadari Serayu” dari Sungging Raga (Kompas, 6 April 2014). Kalau bukan kereta, yang dibicarakannya adalah sungai, Sungging Raga itu, tapi tidak selalu. Menarik ketika seorang penulis tampaknya senang mengangkat satu hal secara terus-menerus. Entah itu tema, atau latar tempat, atau malah karakter—seperti Nick Adam (atau Adams? Atau Addams?) dalam cerpen-cerpen Hemingway. Seolah satu hal itu begitu penting atau begitu sering dia temui dalam hidupnya sehari-hari, sehingga dia memikirkan atau terpikirkan olehnya terus-menerus.

Awalnya aku kurang begitu senang dengan cerpen ini. Bagaimana ya... Baru-baru ini aku membaca beberapa tulisan di internet tentang kalimat pertama yang menjerat, sebagaimana dalam novel Metamorfosis Kafka, yang memengaruhi sastrawan termasyhur yang sedang banyak dibicarakan karena belum lama ini meninggal, Gabriel Garcia Marquez. Dalam artikel tentang Marquez yang ditulis Anton Kurnia di PR, 28/04/14, dikatakan bahwa banyak pengarang Indonesia yang terpengaruh oleh Marquez. Dan mungkin juga Kafka. Aku pernah membaca Metamorfosis dalam edisi bahasa Indonesia di perpustakaan kota Jogja. Aku tamatkan buku itu nyaris dalam sekali duduk karena tipis. Sedang Marquez, aku baru membaca cerpennya, “A Very Old Man with Enormous Wings” dan beberapa tulisan tentang novelnya yang tampaknya paling digembar-gemborkan, Seratus Tahun Kesunyian, yang kalimat pertamanya sama memikat dengan kalimat pertama dalam Metamorfosis. Dengan pembacaanku yang baru sedikit dan tidak mendalam itu, aku tidak punya kapasitas menjelaskan bagaimana karakteristik karya Kafka, Marquez, maupun para pengarang Indonesia yang terpengaruh oleh salah satu dari mereka atau malahan keduanya. Hanya dengan feeling dan kesoktahuan karena beberapa kali membaca tulisan yang menyebut-nyebut “realisme magis”, ciri yang dikatakan melekat pada kesusastraan Amerika Latin dan Marquez termasuk di antaranya, tanpa benar-benar memahaminya, aku menerka-nerka agaknya cerpen “Bidadari Serayu” ini terpengaruh oleh hal-hal yang tersebut tadi itu. Coba baca kalimat pertamanya: Di sungai Serayu, pada suatu pagi tahun 1886, ditemukan sesosok mayat lelaki mengambang, tubuhnya tersangkut di salah satu besi penyangga bendungan. Oh, bukankah ini menarik? Kita ingin tahu mengapa bisa sampai ada mayat yang tersangkut di bendungan. Ini seperti pembuka berita kriminal: "Ditemukan Mayat di Bendungan", atau semacam itu. Kemudian unsur realisme magis ada pada masuknya legenda tentang Sunan Kalijaga dan penunggu sungai yang berkepala gadis namun tubuhnya menyerupai makhluk lain, juga tentang bidadari-bidadari yang suka menumpang mandi. Nah, keberadaan mahkluk gaib inilah yang dicurigai sebagai penyebab timbulnya mayat. Maka, warga pun mengotori sungai yang tadinya berwarna hijau hingga menjadi cokelat agar bidadari-bidadari itu enggan mandi lagi di sana, dan demikian menghindari jatuhnya lebih banyak korban. Namun setelah bidadari tidak mandi di sungai lagi, warga kebingungan bagaimana mengubah warna sungai kembali menjadi hijau. Mereka pun memutuskan untuk tidak menceritakan pada keturunan mereka bahwa sungai Serayu dulunya berwarna hijau. Setelah sampai pada bagian ini dan menangkap adanya satir yang halus, barulah aku menikmatinya.

Selain itu, aku terganggu dengan pengarang yang tiba-tiba masuk ke dalam cerita ketika “scene” berganti: Sejenak kita tinggalkan warga di balai desa. Sambil menunggu perundingan itu selesai, saya—sebagai penulis cerita—akan menyajikan beberapa intermeso sebagai berikut:… Paragraf baru. Alkisah, dalam sudut pandang lain, dalam platform cerita yang berbeda, para bidadari… dan seterusnya. Mengapa paragraf yang pertama itu harus ada sih? Mengapa pengarang tidak langsung saja pada Alkisah…? Seolah dia ingin pembaca ngeh akan keberadaan dirinya, atau mengingatkan bahwa “cerita ini cuma dongeng lo, saya bisa menceritakannya sesuka saya” atau semacam itu. Padahal dari pengarang yang sama, dalam cerpennya yang lain, “Biografi Kunnaila” (Jawa Pos, 4 November 2012), aku justru tergeli-geli ketika diingatkan bahwa yang kubaca adalah cerita pendek belaka: Namun Watono telah berjanji bahwa dalam cerita pendek ini dia tak berniat macam-macam pada Kunnaila, dia tak mau memaksakan konflik dan jalan cerita sesuai kehendaknya, dia hanya ingin dirinya muncul dalam cerita pendek ini meski cuma satu paragraf. Bedanya, dalam cerpen yang kedua aku jadinya merasa Watono betulan “hidup” sehingga bisa mengadakan perjanjian dengan penulis cerita.

Di satu sisi, tiru-meniru dalam menulis disarankan sebagai bentuk pembelajaran. Di sisi lain, aku bertanya-tanya mengapa kita tidak mengembangkan kreativitas sendiri. Walaupun, katanya, kreativitas memang akan muncul dengan sendirinya seiring kita menguasai teknik-teknik yang “diajarkan oleh guru kita”, atau pengarang yang karyanya kita jadikan sumber belajar sehingga kita merasakan kedekatan emosional dengannya dan menganggapnya sebagai “guru”, atau bisa juga pengarang tersebut mengajarkan secara langsung, tatap-muka, teknik-teknik menulis pada kita, manapunlah. Maka sebetulnya aku kurang senang dengan perkataan “si ini terpengaruh oleh si itu” atau “si itu terpengaruh oleh si anu”, karena rasanya seperti tuduhan, walaupun si tertuduh mungkin saja mengakui kalau dia memang belajar dari si ini, itu, atau anu. Tapi jikapun tiru-meniru ini memang lazim dalam dunia kesusasteraan yang telah terbangun selama… lama sekali, menjadi pertanyaan, yang dimaksud dengan “gaya yang orisinal” itu seperti apa sih?



Aku merasa siap untuk membaca sisa cerpen pada pagi hari berikutnya. Dari empat cerpen kloter kedua, ada satu cerpen lagi yang memikatku, yaitu “Angela” dari Budi Darma (Kompas, 20 April 2014). Karya pengarang ini yang pertama aku baca adalah novel Olenka, yang membuatku tertakjub-takjub, entah mengapa, mungkin karena… keanehannya. Mungkin terutama dengan bagaimana beliau memasukkan cerita dari karya-karya pengarang lain, bahkan potongan koran, ke dalam karyanya sendiri sehingga tampak seperti kolase, tapi bahan yang utama berasal dari imajinasinya sendiri tentunya. Ajaib. Sejak itu aku tertarik untuk membaca karya-karyanya yang lain. Rafilus, cerpen-cerpennya dalam Kritikus Adinan yang belum kubaca semua, maupun yang terserak di koran. Tapi aku tidak menjadi lebih tertarik lagi. Ada satu cerpennya yang termasuk ke dalam kumpulan cerpen Koming 2010-2012 pilihanku yaitu “Pohon Jejawi” (Kompas, 20 Juni 2010). Hingga bertemulah aku dengan “Angela”. Aku teringat kembali akan gaya sang pengarang yang terasa “heboh”, entah terpengaruh oleh pengarang yang mana, dan karakternya yang aneh. Di paragraf kelima, setelah dalam paragraf-paragraf sebelumnya narator dengan tenang mengantar kita memasuki cerita, tahu-tahu Angela yang baru muncul di paragraf ketiga itu “menggigil, kemudian jatuh, menggelepar-gelepar, nafasnya mendengus seperti nafas penghabisan sapi seperti disembelih”. Angela kemudian bercerita bahwa dirinya dijaga bak porselen oleh orangtuanya. Bahkan ketika ada lelaki lewat, “jendela dan pintu rumah harus ditutup rapat”. Setelah dewasa Angela menjadi tidak bisa dekat dengan lelaki manapun.

Dalam pelarian dia bergulat melawan bajingan, penjual manusia, biarawan palsu, polisi berhati anjing, iblis bertopeng manusia, dan semua bernafsu untuk memperkosa. Mula-mula dia selalu memberontak, tapi akhirnya dia hanya menyerah, karena baik memberontak maupun menyerah hasilnya sama: dia tetap perawan. Pada saat mereka hampir berhasil memperkosa, siapa pun laki-laki jahat itu, pasti mendadak lunglai. Seluruh tulang tubuh mereka seolah-olah kehilangan tulang, dan jadilah tubuh mereka onggokan daging.

...

...laki-laki Ethiopia itu, sama saja. Gagah. Tapi tidak mampu menjebol harta karun saya.

Dalam interpretasiku, Angela sebenarnya ingin merasakan hasrat seksual sebagaimana manusia normal.

“Tanganmu selalu dingin. Tidak seperti orang lain.”

“Tangan? Kamu kan belum pernah meraba-raba seluruh tubuh saya. Tangan boleh dingin, siapa tahu bagian-bagian lain hangat.”

Namun penjagaan yang ketat sedari masa kecilnya entah bagaimana menjadikannya frigid, atau malahan menjadikan pihak lelaki "loyo", tidak bisa "bangun", atau semacam itu (ngertilah... :-P). Entah ada berapa kata “dingin” yang tersebar di sepanjang cerpen ini. Dia ingin lelaki yang bisa membangkitkan hasratnya tapi tidak kunjung menemukannya. Malah lelaki itu jadi ikut-ikutan "dingin". Kalau interpretasiku benar, cara pengarang mengungkapkan wanita frigid, dan entah bagaimana dia menjadi frigid, menurutku wow. Tidak lurus, begitu. Dan bagaimana cerpen ini ditutup—aku menyarankanmu untuk membacanya sendiri—dengan kata “mampus” membuatnya terasa diakhiri secara begitu saja namun membekas. Entahlah. Kurasa kekuatan pengarang ini ada pada diksinya dan karakter yang suka bertindak seolah di luar kesadarannya dan karena itu, aneh.

“…  Angela merasa dirinya tidak kotor, tanpa sadar berseru: ‘Santiago Nasar’. Maka disembelihlah Santiago Nasar oleh Pablo dan Pedro Vocario.”

Aku teringat karakter wanita dalam novel Rafilus juga tampaknya membuat pengakuan seperti Angela dalam cerpen ini. Kalau karakter dalam Rafilus mengungkapkan hasrat kewanitaannya untuk memiliki anak dan sebagainya—tolong beritahu kalau ingatanku kabur, Angela mengatakan bahwa dirinya mewarisi darah pembunuh dan penjudi. Aku juga teringat bahwa satu-dua cerpen Danarto yang kubaca di majalah MATRA edisi akhir era ’80-an memiliki gaya tutur yang juga heboh, namun cerpen-cerpen Budi Darma masih bisa ditoleransi oleh akalku, dan aku tidak hendak membahasnya lebih jauh karena kurangnya pendalamanku atas keduanya—apalagi yang pertama.   


***
Kuduga aku punya masalah dengan cerpen, dan fiksi pada umumnya. Tapi aku tidak hendak meruwetkannya di sini. Kukira dengan terus membaca dan menyoroti yang menarik menurut perasaan kita sendiri (walau jumlahnya hanya segelintir dari keseluruhan yang kita baca), dan bukannya mengikuti saja pendapat orang lain (semisal kita mengapresiasi Metamorfosis Kafka atau Seratus Tahun Kesunyian Marquez karena kita sendiri merasakannya sebagai karya yang menarik, dan bukan karena orang-orang mengatakannya demikian), merupakan usaha untuk menjaga agar hasrat itu tetap menyala.[] 

4 komentar:

  1. Lakon Hidup mulai 2 bulan lalu (diusahakan) selalu update, Day. Aku admin barunya.

    BalasHapus
  2. Hummm iya. Aku setuju dg pernyataan dg tidak setuju atas orang yg bilang pada seseorang ini tulisannya terpengaruh oleh si ini, si ini tulisannya terpengaruh oleh si itu. Ada yg sering bilang aku begitu, padahal aku tidak pernah bertemu dg orang yg disebutkannya atau pun oernah membaca karyanya. Namanta saja baru tahu setelah dia mengungkapkan seperti itu. Tapi aku woles aja.. hehehe.

    BalasHapus

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain