Saya pertama kali mencoba membaca buku ini beberapa tahun lalu. Saat itu saya sehabis membaca buku lumayan tipis tentang masyarakat Jawa karya penulis Belanda. Akibatnya saya jadi berminat untuk membaca buku semacam--yang menceritakan tentang suatu masyarakat. Tetapi rupanya buku ini tidak mudah. Bahasanya lain daripada buku sebelumnya, dan mungkin juga karena tidak menyinggung akar budaya saya sendiri(?). Saya menyerah di bab-bab awal.
Gambar dari Goodreads.
Baru-baru ini ketika muncul minat terhadap jejepangan, saya mengambil lagi buku ini. Dengan tekad yang kuat(?) dan waktu membaca yang berdisiplin (enggak juga sih), saya berhasil membaca buku setebal 579 halaman ini dari awal lagi sampai akhir. Pada awalnya saya hanya membaca satu-dua bab semalam, diselingi satu-dua bab buku lain. Ada malam-malam ketika saya sama sekali bolos membaca. Lalu ketika sadar bahwa dengan cara begitu pembacaan buku ini tidak akan berakhir, sementara tumpukan buku jejepangan yang hendak saya baca menggunung dan kalau bisa semua dituntaskan sebelum November 2019, saya pun pasang timer satu jam per malam. Meskipun begitu, kerap kali saya tidak tahan untuk duduk diam membaca buku ini saja selama satu jam itu, dan kadang kala diselingi dengan membaca pesan WA, YouTube, atau langsung tidur saja.
Saya menyadari buku ini ketinggian untuk saya. Buku ini mungkin cocok dibaca jika saya mahasiswa FISIP atau calon diplomat yang akan ditugaskan di Jepang pada tahun 1980-an. Biar begitu, karena tidak ingin menambah panjang deretan buku yang cuma dibaca bab-bab awalnya saja tetapi kemudian telantar hingga waktu yang tidak ditentukan, saya pun menguatkan diri menyapu kata demi kata dalam buku ini, biarpun mungkin memerlukan empat tahun kuliah di FISIP untuk dapat mengerti sebagian besarnya. Biar begitu, sedikitnya jika ada informasi menarik dari buku ini yang kurang dibahas, misalnya saja tentang taman batu zen, Hiroo Onoda, Soka Gakkai, dan sebagainya, saya bisa mencari tahu lebih lanjut lewat Google. Seandainya saya membaca buku ini ketika baru terbit dalam bahasa Indonesia (tahun 1982), tentu hal-hal menarik itu hanya akan meninggalkan kepenasaranan yang menggatalkan karena masih terbatasnya akses mencari referensi. Thanks, Google!
Bagian yang paling susah dalam buku ini menurut saya adalah Bagian IV: Politik, yang makan sekitar 130 halaman. Maksudnya, sekarang saja saya tidak acuh akan Wiwi atau Wowo, maka kenapa saya mesti tertarik pada bagaimana politisi Jepang mencari suara pada masa sebelum tahun delapan puluhan? Saya maklum politik mendapat porsi yang lumayan dalam buku ini mungkin karena ada sangkut-pautnya dengan pengalaman penulis yang pernah menjabat sebagai dubes Amerika Serikat di Jepang.
Tidak hanya itu, hubungan AS dengan Jepang juga disorot secara spesial dalam buku ini, seolah-olah AS mitra terbaik Jepang atau punya peran signifikan dalam sejarahnya, yang boleh jadi memang demikian, sebab saya belum tahu banyak tentang itu. Saya cuma bisa menerka jikalau penulis buku ini orang Indonesia, mungkin hubungan Indonesia-Jepang akan mendapat sorotan lebih dan dengan begitu saya bisa lebih mengaitkan diri, begitu.
Bagian yang menarik bagi saya, yang sepertinya juga bagi orang pada umumnya, adalah yang mengangkat tentang sisi negatif. Yang saya soroti terutama persoalan lingkungan hidup, yang memang minat saya dan tidak diulas banyak dalam buku ini. Selama ini yang saya tahu Jepang itu negara dengan jalanan bersih dan warganya harus memilah sampah. Sangat terpuji sekali, kan? Tetapi, sebagai salah satu negara industri paling unggul di dunia biarpun minim sumber daya alam, Jepang berperan dalam kerusakan lingkungan di negara-negara berkembang yang menjadi pemasok bahan mentahnya seperti yang dinyatakan dalam halaman 486.
Dalam usahanya yang tidak kenal lelah untuk mendapatkan sumber-sumber alam yang diperlukan, orang-orang Jepang dianggap merusak kekayaan alam negara-negara lain atau paling tidak mengambil keuntungan dari kenaifan ekonomi pribumi.
Menarik juga mengetahui bahwa walaupun orang Jepang susah menguasai bahasa asing, tetapi mereka sangat bergantung kepada hubungan internasional untuk menjalankan perekonomiannya. Seandainya saja, negara-negara pada memutuskan untuk berswasembada, bisa-bisa Jepang cuma kebagian sisa. Mungkinkah itu sebabnya generasi muda di sana pada berinisiatif untuk mengurangi populasi sebelum bencana itu terjadi? (Oke, ini ngaco.)
Pada akhirnya, buku ini telah menjadi arsip sejarah itu sendiri. Sebab, Jepang yang saya kenal sekarang tidak tercakup dalam buku ini. Buku ini tidak menyinggung betapa kebudayaan populer Jepang telah mencengkam begitu kuatnya alam bawah sadar begitu banyak anak muda milenial yang di masa kecilnya hobi menonton kartun Minggu pagi, yang baru lahir setelah buku ini dicetak untuk kedua puluh satu kali. Ya, buku ini ditulis sebelum ada Dragon Ball, Pokemon, Naruto, One Piece, dan sebagainya. Buku ini ditulis ketika Jepang telah bangkit sebagai Gojira industri, namun masih dipandang sebelah mata oleh dunia akibat kendala bahasa, budaya, dan sebagainya. Buku ini tidak sampai menerawang ke masa ketika meledak animo anak-anak muda di seluruh dunia untuk belajar bahasa Jepang dan merasakan tinggal di sana, berkat perkembangan industri anime, manga, dan lain-lainnya yang sungguh memikat dibandingkan dengan apa-apa yang diproduksi Jepang sebelumnya.
Seandainya buku ini ditulis empat puluh tahun kemudian, buku ini tentu pula akan mengangkat masalah penuaan populasi di Jepang, yang sampai menjelang tahun '80-an agaknya belum tampak. Belum lagi kejatuhan ekonomi Jepang pada tahun '90-an, seperti yang tersirat dalam dorama Love Vacation, yang soundtrack-nya, "La La La Love Song", sangat asyik itu. Lalu ada juga hikikomori,yang diaku netizen di negara-negara lain sebagai fenomena yang juga terjadi di tempat mereka. Lalu entah ada apa lagi. Kini bukan lagi Jepang yang ikut-ikutan Cina atau AS, melainkan justru seluruh dunia ikut-ikutan Jepang dengan bermunculannya komunitas-komunitas cosplay, klub-klub wibu, sampai om-om wota. Dalam kurun empat puluh tahun sejak buku ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa asli (tahun 1978 dan dua tahun kemudian sudah dicetak dua puluh satu kali), Jepang semakin menjadi-jadi dalam menancapkan kukunya, menyebarkan tentakelnya--menggurita membabi buta!
Sebagaimana kita, bangsa Indonesia, dianjurkan untuk mengenal sejarahnya, barangkali juga berfaedah mengenal sejarah bangsa lain, terutama jika memang berminat atau malah menggilai sampai memengaruhi preferensi dalam era globalisasi ini. Betapapun ada perbedaan antara dahulu dan kini, tetap ada jejak-jejak masa lalu yang merupakan bagian dari identitas diri dan tidak bisa dilepaskan begitu saja, sebab itulah bagian dari proses yang membentuk kini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar