Minggu, 31 Maret 2019

Menyusuri Remang-remang Jakarta

Gambar dari Goodreads.
Sampul buku ini memperlihatkan seorang wanita berpakaian seksi dengan belahan dada rendah tengah berpangku kaki dan merokok, digambar oleh Danarto. Kata pengantar oleh Ashadi Siregar dan Dr. Sarlito Wirawan sebagai narasumber ahli. Buku ini menggondol Hadiah Adinegoro 1979 dan pernah difilmkan. Singkatnya: buku ini
Jakarta Undercover (JU) versi legend. Bagi yang kecewa atau geuleuh dengan judul yang disebut belakangan, buku ini mungkin bisa sedikit melipur, walaupun dua puluh tahun--malah empat puluh tahun bila mengacu pada tahun diketiknya review ini--ketinggalan zaman.

Yang lebih menarik lagi dibandingkan dengan JU, buku ini sama-sama ditulis oleh wartawan, lebih tepatnya wartawati--seorang perempuan yang notabene istri dan ibu. Perspektif antara kedua buku itu pun bisa dibilang bagai utara dan selatan. Jika pengamat laki-laki dalam JU menggunakan observasi partisipatif eksploratif dan terkesan menikmati rendezvous-nya malah membuat pembenaran akan kebutuhan laki-laki, pengamat perempuan dalam buku ini, bagaimanapun upayanya untuk memahami perilaku manusia dengan menyebut referensi berupa buku-buku serta keterangan ahli dan aparat, tetap saja kesulitan untuk menerima fenomena yang memang lazimnya dianggap amoral ini. Mungkin itu sebabnya buku ini enggak setebal JU: penulisnya keburu geuleuh sehingga pengamatan seperlunya saja dan selebihnya pemikiran. Ya, memang butuh mikir-keras untuk bisa memaklumi hal-hal begini.

Ya, bagi orang yang senang berpikir keras, buku ini sepertinya bakal mencukupi ketimbang JU. Kalau di JU, paling-paling fenomena prostitusi itu dinegasikan dengan "kehampaan dan kesemuan". Tetapi, enggak usah jadi pelacur pun hidup ini kadang sudah terasa hampa dan semu. Jadi, kesan tersurat itu seolah-olah sekadar bumbu biar enggak berkesan terlalu menikmati kesenangan duniawi. Sudut pandang di JU pun terbatas pada pengamat dan pelaku, sedangkan dalam buku ini ada tambahan psikolog dan polisi.

Menarik juga bahwa dalam artikel penyimpul oleh Dr. Fridolin Ukur dikatakan bahwa yang berbahaya dari prostitusi bukanlah Wanita Tuna Susila, melainkan pria-pria pelanggannya. Bila WTS mendapat pemeriksaan kesehatan secara berkala, pria-pria pelanggannya belum tentu dan mereka berisiko besar menularkan penyakit kelaminnya kepada istri. Lagi pula, menurut hukum ekonomi, pasar tercipta karena ada permintaan. Dalam industri prostitusi, permintaan datang dari siapa?

Buku ini terbit sebelum isu AIDS terangkat. Seandainya buku ini ditulis setelah itu, sepertinya uraiannya akan bertambah sedikit panjang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain