![]() |
| Gambar dari Goodreads. |
Memang novel ini isinya bukan cuma free sex, drugs, and alcohol, tetapi juga memberi ruang bagi tokoh-tokohnya untuk berbagi aspirasi, halusinasi, impresi, memori, dan sebagainya. Novel ini tidak serta-merta menyimpulkan bahwa kehidupan sedemikian itu hampa dan semu--seperti buku yang saya sebut sebelumnya, maklum, karena yang satu lagi itu baru selesai saya baca dan tulis ulasannya di sini juga. Malah, saya kira, novel ini mestilah lebih dalam daripada itu makanya sampai mengganjar penulisnya dengan Penghargaan Akutagawa yang katanya bergengsi di Jepang itu.
Judul buku ini sendiri, Almost Transparent Blue, mestilah menjelaskan sesuatu. Misalkan, biru di sini itu maksudnya biru pada apa? Langit? Pembuluh darah? Adapun nyaris transparan itu apakah maksudnya menyiratkan bahwa buku ini bakal menjabarkan adegan-adegan film biru secara eksplisit?
Jadi, alih-alih menuntaskan rasa penasaran, buku ini malah membangkitkan rasa-rasa penasaran yang baru. Di samping penasaran akan pertimbangan juri dalam memilihnya sebagai pemenang, saya juga penasaran berapa persen masing-masing kadar fakta dan fiktif dalam cerita ini. Soalnya, nama naratornya sama dengan nama pengarangnya. Selain itu, cerita ditutup dengan surat yang mengesankan bahwa semuanya sungguh-sungguh terjadi(???). Bukan penasaran yang ngebet juga sih.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar