Buku ini seperti menyiratkan ajakan toleransi, dengan menunjukkan bahwa Syi'ah merupakan bagian dari Indonesia sejak lama dan karena itu hendaknya kita tidak memandangnya dengan sebelah mata. Mungkin mereka hampir rada persis dengan peranakan Cina yang juga sudah ratusan tahun berada di Indonesia, namun adakalanya masih mendapat perlakuan berbeda.
Gambar di Goodreads.
Persinggungan saya dengan orang yang mengaku Syi'ah juga baru sekali, yang ternyata seseorang yang pernah dekat dengan saya dulu. Setelah belasan tahun, baru belakangan ia mengungkapkan kenyataan mengejutkan itu. Memang saya pernah baca di internet bahwa Syi'ah punya semacam kebijakan untuk menyembunyikan identitas keagamaan sebagai bentuk perlindungan supaya tidak ditindas oleh yang mainstream. Namun saya dengar dari beberapa orang bahwa alih-alih menyembunyikan, orang-orang Syi'ah malah gencar mendakwahkan keyakinan mereka. Karena fakta tersebut belum saya alami sendiri, selama saya tidak terusik dan belum mendapat lebih banyak pengetahuan tentang itu, saya tidak hendak bersikap memusuhi.
Memang gara-gara pengungkapan kenalan tersebut saya kemudian menjadi tertarik untuk mencari tahu lebih lanjut tentang Syi'ah, sehingga di samping menelusuri di internet juga membeli buku ini dengan harga obral (: cuma Rp 23.000,-) di Liga Buku Bandung 2019. Tetapi rasa penasaran itu hanya di permukaan. Kalau harus belajar tentang keyakinan, saya masih lebih tertarik pada dan mementingkan cara beragama saya sendiri.
Dalam buku ini ada banyak typo, contohnya di halaman 43, 55, 64, dan 123. Yang sudah dijabarkan di halaman 17 (dari Dr. C. Snouck Hurgronye) dimunculkan lagi di halaman 113. (Sudah mah tipis, ada pengulangan lagi, duh!) Buku ini juga tidak mendetail, misalkan ketika disebutkan bahwa "banyak masalah-masalah sehari-hari yang dipecahkan menurut mashaf Syi'ah" tidak diterangkan contoh-contohnya.
Memang buku ini terlalu sederhana untuk dapat menjawab seluk-beluk tentang Syi'ah, penjelasan mengenai aliran-alirannya, perbedaannya dengan Sunni, dan sebagainya. Buku ini lebih seperti bibliografi dengan sumber-sumber arkais, yang mungkin cuma sejarawan tulen dengan spesifikasi tersebut yang berminat untuk menelusurinya. Karena buku ini bisa ditamatkan dalam dua jam saja, saya tidak merasa begitu rugi membacanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar