| Gambar dari Goodreads. |
"Pengantar" memulai buku ini dengan penjelasan mengenai nafsu manusia untuk membunuh. Tidak disebutkan riwayat Qabil dan Habil, yang pasti diketahui oleh orang-orang beragama samawi. Hanya bahwa sejak zaman batu manusia sudah saling bertengkar dan menggunakan berbagai cara untuk melukai satu sama lain. Ketika batu, kayu, tulang binatang disadarinya tidak lagi berguna, manusia dengan kecerdasannya mengembangkan senjata yang lebih efektif, semakin canggih, mulai dari bubuk mesiu sampai bom atom. Dari sini saja bisa ditarik betapa evolusi kecerdasan manusia tidak selalu berarti positif, bak pedang bermata dua.
Buku ini diterbitkan pada 1982. Pada saat itu masih berlangsung Perang Dingin di antara Amerika Serikat dan Uni Soviet dan belum terjadi insiden Chernobyl (yang baru terjadi pada 1986). Maka bisa dimengerti bahwa isu mengenai perlombaan senjata nuklir pada masa itu cukup mengkhawatirkan. Bahkan setelah berakhirnya Perang Dingin pada 1991 pun, isu senjata nuklir masih menggaung
Membaca buku terbitan lama begini seperti memasuki lorong waktu. Di halaman 19 disebutkan tentang fasilitas museum di Taman Perdamaian berupa persewaan tape dan pita rekaman kisah pemboman Hiroshima dalam bahasa Jepang, Jerman, Inggris, Perancis, Rusia, dan Spanyol menggunakan alat pendengar yang dipasang di telinga. Karena belum hadir pada masa itu, saya menduga-duga jangan-jangan alat yang lebih saya kenal sebagai earphone itu pada waktu itu baru populer seperti ponsel dengan layar sentuh pada masa sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar