Kamis, 04 April 2019

Hikayat Bom Atom

Gambar dari Goodreads.
Ini jenis buku yang akan kita temukan di perpustakaan sekolah. Memang pada sampul cetakan yang saya miliki, terdapat tanda: "Milik Departemen P & K Tidak diperdagangkan Inpres No. 5 thn 1981". Tebalnya hanya 29 halaman, bisa ditamatkan dalam satu jam saja, kalau tekun. Kalimat-kalimatnya sederhana namun tetap menyentuh. Rasanya seperti membaca artikel jalan-jalan di suratkabar dan sepertinya layak untuk dibacakan kepada anak-anak sebagai pengantar tidur, juga menambah wawasan akan salah satu tragedi tertragis di dunia. Barang siapa sudah pernah membaca komik seri Gen Si Kaki Ayam atau membaca kisah korban-korban bom atom Hiroshima dan Nagasaki Agustus 1945, tentu tahu betapa ngilunya mengetahui peristiwa itu bahkan dapat sampai menitikkan air mata.

"Pengantar" memulai buku ini dengan penjelasan mengenai nafsu manusia untuk membunuh. Tidak disebutkan riwayat Qabil dan Habil, yang pasti diketahui oleh orang-orang beragama samawi. Hanya bahwa sejak zaman batu manusia sudah saling bertengkar dan menggunakan berbagai cara untuk melukai satu sama lain. Ketika batu, kayu, tulang binatang disadarinya tidak lagi berguna, manusia dengan kecerdasannya mengembangkan senjata yang lebih efektif, semakin canggih, mulai dari bubuk mesiu sampai bom atom. Dari sini saja bisa ditarik betapa evolusi kecerdasan manusia tidak selalu berarti positif, bak pedang bermata dua.

Buku ini diterbitkan pada 1982. Pada saat itu masih berlangsung Perang Dingin di antara Amerika Serikat dan Uni Soviet dan belum terjadi insiden Chernobyl (yang baru terjadi pada 1986). Maka bisa dimengerti bahwa isu mengenai perlombaan senjata nuklir pada masa itu cukup mengkhawatirkan. Bahkan setelah berakhirnya Perang Dingin pada 1991 pun, isu senjata nuklir masih menggaung dituduhkan AS terhadap musuh-musuhnya. Jika pun isu tersebut sungguh benar, apakah mereka tidak belajar dari peristiwa bom atom di Jepang ini? Kalaupun mereka belum pernah mengunjungi Museum Taman Perdamaian Hiroshima, bacaan sudah cukup dapat menyiarkan kengerian--paling tidak bagi saya. Meskipun entah bagaimana perkembangan pernukliran di Indonesia, agaknya kita tetap perlu mengetahui riwayat ini. Seolah-olah sebagai sesama warga dunia kita memang semestinya saling memperhatikan. "Bahaya perang nuklir kini mengancam kehidupan manusia," begitulah yang ditegaskan dalam "Pengantar" buku ini.

Membaca buku terbitan lama begini seperti memasuki lorong waktu. Di halaman 19 disebutkan tentang fasilitas museum di Taman Perdamaian berupa persewaan tape dan pita rekaman kisah pemboman Hiroshima dalam bahasa Jepang, Jerman, Inggris, Perancis, Rusia, dan Spanyol menggunakan alat pendengar yang dipasang di telinga. Karena belum hadir pada masa itu, saya menduga-duga jangan-jangan alat yang lebih saya kenal sebagai earphone itu pada waktu itu baru populer seperti ponsel dengan layar sentuh pada masa sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain