Padahal secara personal saya tidak begitu merasa relate dengan novel ini, juga bukan penggemar sado masokis, tetapi, sampai timbul keinginan pada saya untuk menerjemahkannya--kalau ada kesempatan. Sebab, ketika membacanya saya sampai geregetan dan tertawa-tawa sendiri biarpun sesekali ada adegan sadis.
Gambar dari Goodreads.
Sebelum ini, dalam rangka pembacaan jejepangan, saya telah memperhatikan bahwa dalam beberapa narasi Jepang, contohnya pada cerpen Fumiko Enchi "Metamorphosis" dan novela Yukio Mishima Patriotism, ada pergantian sudut pandang yang "seenaknya". Maksudnya, sebelumnya saya mendengar dari beberapa orang bahwa ketika menulis fiksi kita enggak bisa gonta-ganti sudut pandang begitu saja antar paragraf. Kita mesti konsisten dengan satu sudut pandang dalam satu bagian. Kalau mau ganti sudut pandang, kita harus buka bagian baru. Nah, dalam judul-judul yang saya sebutkan itu, juga novel ini, "aturan" tersebut enggak berlaku. Bisa dimengerti bahwa "aturan" tersebut ada supaya pergantian sudut pandang yang campur aduk itu enggak membingungkan pembaca.
Nyatanya, saya merasa pembacaan saya luwes saja terhadap narasi yang enggak sesuai dengan "aturan" demikian. Malah kita jadi mendapatkan suatu pandangan yang menyeluruh, seperti memandangi para tokoh dari atas yang dengan demikian semua terlihat secara lebih jelas. Sedangkan konsisten dengan satu sudut pandang saja malah terasa seperti mengenakan kacamata kuda.
Memang, dalam novel ini, kerap kali perubahan sudut pandang yang tahu-tahu tanpa aba-aba itu memusingkan, tetapi di sisi lain justru di situlah serunya. Lucunya karena kedua tokoh mempunyai persepsi yang salah terhadap satu sama lain, yang menggiring mereka untuk bertindak di luar perkiraan masing-masing. Jadinya alur penuh kejutan yang sudah diperkirakan oleh pembaca. Ketika pembaca tahu, tokohnya enggak tahu, itu lucu banget.
Novel ini lebih daripada sekadar seru-seruan. Tema psikologis memang kadang-kadang menarik saya, khususnya mengenai perkembangan kejiwaan anak dan dampaknya ketika dewasa. Novel ini adalah tentang kedua tokoh yang berjuang mengatasi trauma masa kecil masing-masing, bertemu, dan saling melengkapi: yang satu ingin menusuk orang lain dan yang lain suka menusuk diri sendiri. Penutupnya juga bisa dibilang relatif happy ending. At least, enggak ada yang jadi terbunuh, padahal ketika cerita mulai seru saya dibuat ketar-ketir menebak-nebak jadinya siapa yang akan membunuh siapa. Sebagai pembaca ekspektasi saya dijungkir-balikkan dengan cepatnya, seperti naik roller coaster. Mungkin lebih tepat dibilang akhirannya menggantung, tetapi, pada dasarnya saya enggak suka yang kejam-kejam, jadi saya simpulkan saja itu happy ending, hahaha.
Saya kira novel ini juga mengangkat fenomena yang agaknya jamak di Jepang? Sebab saya pernah menonton video Asian Boss di YouTube mengenai child abuse, di samping referensi dari sebuah dorama mengenai kehidupan pengacara di Jepang serta suatu genre manga dan light novel tertentu .... Intinya salah satu realita suram di Jepang lah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar