Kamis, 10 Oktober 2019

Tanah Baru Tanah Air Kedua

Gambar dari Dinas
Perpustakaan dan Kearsipan
Provinsi DKI Jakarta
Awalnya, saya berpikiran bahwa untuk berkebun sebaiknya saya belajar tentang tanah. Maka saya pun mengetikkan 'tanah' pada kolom pencarian buku di aplikasi iPusnas, dan menemukan buku ini berada di urutan teratas. Alih-alih mencari buku yang
to-the-point, saya malah penasaran untuk mencoba buku ini. Sudah lama saya tidak membaca banyak novel.

Ketika mulai membaca, saya tidak ada informasi apa-apa tentang buku ini. Saya tidak menyangka bahwa isinya akan bercerita tentang seluk-beluk kehidupan orang transmigran.

Kebetulan, bertahun-tahun lalu saya mulai mengembangkan rasa penasaran terhadap kehidupan swadaya. Dalam bahasa Inggris, kata kuncinya antara lain "self-sufficiency" dan "homesteading". Saya menonton acara-acara terkait, contohnya Where The Wild Men Are di BBC Knowledge serta Live Free Or Die di National Geographic Channel. Salah satu--atau dua--tokoh yang diangkat dalam Live Free Or Die adalah pasangan suami-istri homesteader yang pada subtitle diterjemahkan menjadi "transmigran". Saat itu saya merasa janggal. Benarkah itu padanan yang tepat?

Bagi orang-kota-manja sepeti saya, kehidupan seperti itu menggugah--seolah-olah itulah sebenar-benarnya hidup, cara hidup yang sebaik-baiknya karena sekadar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan tidak membuat banyak kerusakan di muka bumi. Apalagi media menggambarkan kehidupan demikian sebagai suatu pilihan yang walaupun eksentrik, tapi juga eksotik dan memiliki nilai-nilai positif tersendiri. Meski begitu, lama-kelamaan saya sadar bahwa itu di luar jangkauan saya sehingga berangsur-angsur saya kehilangan minat. Sekali lagi, untuk menguasai salah satu keterampilan yang diperlukan untuk hidup begitu saja, yaitu berkebun, saya merasa perlu membacai buku tentang tanah dulu!

Berangsur-angsur pula saya menyadari bahwa contoh-contoh yang saya dapat dari Barat itu ternyata memang sepadan dengan transmigrasi di Indonesia. Rupanya saya pun dihinggapi sindrom kagum pada sesuatu yang kebarat-baratan, padahal di negeri sendiri tidak kalah banyak cerita demikian--yang tentunya lebih relatable serta lebih efektif dalam mengukur kesanggupan diri. Buku ini membeberkannya dengan baik.

Kesadaran tentang lingkungan hidup pun muncul di penghujung cerita, seolah-olah sesungguhnya merupakan kesimpulan: manusia mengambil dari alam dan sebaiknya rela ketika alam hendak mengambilnya kembali. Kisah serupa sebelumnya saya temui di suatu artikel Kompas baru-baru ini--dalam rangka Ekspedisi Wallacea--tentang transmigran di Sulawesi yang merelakan sebagian hasil kebunnya untuk dimakan hewan-hewan liar.

Dalam sentilannya terhadap para petinggi pada masa Orde Baru (yang mungkin masih berlanjut hingga sekarang ...), buku ini mengingatkan pada Orang-orang Proyek karya Ahmad Tohari. Tokoh utamanya pun sama-sama lelaki muda (sekitar tiga puluh tahun atau kurang) dan idealis. Kalau Orang-orang Proyek berlatar tahun 1990, novel Nh. Dini yang aslinya berjudul Orang-orang Tran ini pertama kali terbit pada 1985. (Sayang sekali pada edisi elektronik/PDF dari PT Dunia Pustaka Jaya, 2018, tidak dicantumkan keterangan demikian, melainkan hanya "Cetakan pertama, 1997, oleh Grasindo".) Namun saya rasakan sentilan dalam novel ini tidak seblak-blakan dalam Orang-orang Proyek.

Novel ini juga lebih kompleks daripada Orang-orang Proyek. Rentang waktunya lebih panjang. Walaupun konsisten dengan sudut pandang si tokoh utama, namun narasinya juga mencakup cerita tentang orang-orang lain di sekitarnya, terutama sesama transmigran yang nasibnya berbeda-beda dengan dirinya. Yang paling membuat saya terenyuh adalah kisah tentang para transmigran dari Pandeglang yang mendapat lahan gambut (= petaka bagi petani), serta kisah tentang seorang gadis 12 tahun yang dikawinkan (atau "dijual") kepada lelaki dewasa. Memang Orang-orang Proyek pun mengandung kelebatan tentang tokoh-tokoh selain tokoh utama, namun saya rasakan yang dalam novel Nh. Dini ini lebih berkesan.

Ceritanya pun diakhiri secara mengharukan, sementara yang saya ingat dari Orang-orang Proyek hanyalah perasaan masygul cenderung hopeless. Belum lagi ada drama rumah tangga yang bikin maklum soal perkembangan kejiwaan suami-istri, yang sepertinya lazim terjadi. Apakah karena penulisnya perempuan maka narasinya lebih menyentuh perasaan? Entahlah. Dalam membawakan sudut pandang lelaki pun, walaupun secara otomatis tidak autentik, saya kira beliau sudah berusaha dengan sebaik-baiknya.

Bisa dibilang, buku ini sekadar slice of life mengenai peri kehidupan orang transmigran. Tapi saya merasakan gereget sehingga ingin membaca terus, terutama setelah si tokoh utama memasuki kehidupan transmigran. (Sebagian awal buku ini berlatar di Jawa ketika si tokoh utama belum menjadi transmigran.) Gereget ini saya rasakan lebih daripada ketika membaca buku fantasi macam IT Stephen King. Mungkin itu karena walaupun fiktif, novel ini terasa real. Tanpa unsur fantastis yang membabi buta, aneka pelajaran hidup yang disampaikannya terasa lebih masuk. Novel seperti inilah yang membuktikan bahwa fiksi itu bukan sekadar hiburan apalagi kebohongan yang diada-adakan pengarang. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain