Selasa, 22 Oktober 2019

Rahasia Hati

Gambar dari Goodreads
Menurut saya, penting untuk mengetahui tahun terbitan pertama suatu buku. Dalam novel yang ceritanya realistis, misalnya, apabila tidak disebutkan latar waktu yang pasti, tahun terbitan pertama bisa menjadi landasan untuk lebih memaklumi kehidupan si tokoh. Ini bisa menjadi pengetahuan sejarah; paling tidak, dapat memberikan gambaran akan kehidupan pada suatu masa.


Dalam buku ini misalnya, yang tercantum hanya tahun terbitan pertama di Indonesia yaitu 1974 oleh PT Dunia Pustaka Jaya--tidak menyertakan yang edisi asli. Sebenarnya, novel ini bukannya tidak memberikan petunjuk akan latar waktu, melainkan hanya menyebutkan tentang mangkatnya Kaisar Meiji. Tapi, karena kurangnya referensi akan sejarah Jepang, saya pun mesti mencari tahu kapan persisnya Kaisar Meiji mangkat. Hasilnya: Kaisar Meiji mangkat pada 1912, dan novel ini pertama kali terbit di Jepang pada 1914.

Mengetahui itu, rasanya menakjubkan. Kejadian dalam cerita ini sudah lewat lebih dari seratus tahun lalu, tapi kok masih relatable. Malah bang Ichi Kudo mengingatkan saya bahwa kita sepatutnya tidak lagi mempersoalkan modernisme--seperti pengarang novel ini--tapi pascamodernisme! Halah, pusing! Yang pasti, siapa di antara kita yang tidak sadar akan hal ini:
Engkau tahu kesunyian ialah harga yang kita bayar karena kita dilahirkan pada abad modern, yang begitu penuh dengan kebebasan, kemerdekaan, dan watak kita sendiri yang hanya mementingkan diri sendiri. (halaman 32)
Telepon kabel saja belum muncul pada waktu itu (paling tidak dalam cerita ini), apalagi smartphone; tapi kok orang sudah merasa begitu sunyi dan terasing? Apa kita tidak semestinya menyalahkan kesunyian dan keterasingan semata-mata pada kemajuan zaman? Jangan-jangan kesunyian dan keterasingan merupakan rasa yang hakiki dalam diri manusia, bahkan sejak zaman batu? (Lantas terbayang manusia gua penyendiri yang lagi mencoret-coret tanah pakai batu sementara manusia-manusia gua lainnya pada asyik berkumpul mengitari api unggun sambil mengobrol.)

Terkesan juga bahwa cerita ini sekadar menyederhanakan problem pergolakan moral. Persoalan demikian di dunia nyata demikian kompleks dan random. Tapi dalam karya fiksi, penulis mesti merumuskan suatu plot tunggal. Kalaupun hendak menambahkan sub-subplot, ya seperlunya saja atau pembaca akan lieur. Katakanlah, dalam penelitian ilmiah pun, kita mesti mengambil sampel saja alih-alih mengambil semuanya sebagai data. Kemudian setelah mengolah sampel itu pun kita menarik kesimpulan.

Jangan-jangan, boleh jadi, keputusasaan dan bunuh diri--seperti yang dilakukan dua tokoh dalam novel ini--merupakan cara yang terlalu sederhana dalam menyimpulkan hidup. Tapi, pendapat ini mungkin hanya bisa dikatakan oleh orang masih waras yang tidak mewarisi watak khas Jepang.

Kesan bahwa cerita ini sangat relatable pun boleh jadi sekadar menyederhanakan, cukuplah bagi pembaca awam. Kalau mau dibikin rumit--bagiannya sarjana sastra--mungkin ada lebih banyak yang bisa digali soal unsur-unsur lainnya yang ada pada novel ini: junshi, modernisme, restorasi Meiji, dan seterusnya.

Kesederhanaan juga terasa pada narasinya--hasil terjemahannya. Narasinya sendiri cenderung telling dan tidak begitu mendetail, misalkan tidak disebutkan apa persisnya bidang studi si aku, Sensei, ataupun K. Begitu pula dengan adegan-adegannya, sebagian sekadar kehidupan sehari-hari tanpa peristiwa penting yang berarti, meski di antaranya terselip kejadian-kejadian yang menentukan. Tapi, ada suatu penghayatan pada alur kehidupan tersebut.

Secara keseluruhan, walau cenderung suram, ibarat menonton film lawas Jepang dengan pace yang lamban--yang kalau memang begitu adanya, kemungkinan saya tidak akan tahan menontonnya--ini bacaan yang jernih dan menenangkan.

Kelembaman hidup yang dirasakan tokoh-tokoh dalam cerita ini--utamanya si aku, Sensei, dan K--mungkin tidak relatable bagi semua orang. Sebagian orang mungkin hanya akan mencemooh pandangan yang mengejawantah dalam gaya hidup demikian. Saya pribadi seperti bercermin, dan cermin itu menjadi sarana untuk menilai sikap diri secara diusahakan-objektif. Betapapun kesamaannya--terlepas dari perbedaannya--tentulah pembaca tak mesti mengambil resolusi yang sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain