![]() |
| Gambar dari Bacabuku.com. |
Penerbit : Langgam Pustaka, Tasikmalaya
Cetakan pertama, Juni 2021
xii + 78 halaman, 13 x 20 cm
ISBN : 978-623-7461-78-4
Tersedia di iPusnas
Buku ini dibacakan pada acara tadarus Asian African Reading Club, 7 Oktober 2026, yang notabene side event pameran Milestone Kota Bandung. Karena isinya kumpulan cerita yang pendek-pendek (sekira 2-3 halaman), masing-masing peserta kebagian baca 1 cerita bergiliran. Ternyata ceritanya kebanyakan lucu-lucu, jadi bahan untuk ketawa bareng. Tapi ada juga beberapa cerita yang sedih.
Cerita-cerita dalam buku ini tampaknya merupakan pengalaman pribadi penulis kisaran tahun 1990-an sampai 2010-an zaman sudah ada BBM. Banyak yang menyangkut pekerjaan penulis sebagai wartawan, juga kiprahnya sebagai pendiri dan penyair Majelis Sastrawan Bandung. Dalam cerita-ceritanya itu, penulis tidak selalu menjadi pelaku, kadang-kadang sebagai pengamat saja. Jadi buku ini mungkin boleh dibilang merupakan suatu memoar. Bagi warga lokal Kota Bandung, banyak nama tempat yang disebutkan dalam cerita-ceritanya sudah familier.
Cerita-cerita lucunya kurang lebih bisa digolongkan sebagai berikut.
- Pengalaman-pengalaman sebagai wartawan, baik yang dialami penulis sendiri maupun orang lain, baik ketika baru memulai maupun sudah lebih berpengalaman. Contohnya di cerita "Mayat Itu Bukan Manusia", "Untung Mati", "Laskar Panggung Bandung", "Perihal Email", "Tukang Ojeg Teroris", "Ditilang Polisi", "Yuda dan Kunci Kamar".
- Kelakuan rekan sesama wartawan, terutama Abah Opik yang sudah menjadi semacam recurring character dalam rangkaian cerita ini saking seringnya muncul. Abah Opik seorang pemabuk, dan ada-ada saja kelakuannya baik ketika mabuk maupun tidak; kisahnya terdapat di "Beli Kangkung Sebecak", "Bah Opik dan Botol Bir Kemasan", "Ditraktir", "Naik Haji", "Makan Mie". Wartawan lainnya yang suka mabuk juga diceritakan dalam "Bencong Ahg!" dan "Ajo Mabuk".
- Kesalahpahaman-kesalahpahaman, seperti dalam "Trafficking Menyehatkan?" (seorang ibu rumah tangga calon legislatif Kota Bandung salah mengira trafficking sebagai trekking kali, ya), "Wartawan dan Jurnalis" (petugas berseragam tidak tahu bahwa "jurnalis" sama saja artinya dengan "wartawan"), "Baca Puisi dan Hujan" (kesetrum mik dikira bagian dari pertunjukan), "Dari Wartawan Republika sampai Matdon Band" (dari acara ke acara, penulis disangka sebagai wartawan dari sana-sini padahal hanya pernah menulis di situ, bahkan dikira nama group band).
- Tipu-menipu, mengerjai atau mengelabui, seperti dalam "Berita Bahaya", "Wawancara", "Perkara Nama", "Jodoh di Angkot", "Buku Telepon", "Pertemuan Sastrawan dan Ijazah", "Calon Walikota", "Pengganti Dekan", "Melaporkan Teroris".
Sebagian dari cerita lucu ini tidak benar-benar menggelikan, tapi memiriskan, karena diam-diam memberikan pengertian bahwa dunia ini memang penuh tipu daya dan betapa banyak fitnah berseliweran. Entahkah karena sifat pekerjaan itu sendiri yang harus cepat-cepat menaikkan berita sehingga tidak sempat memeriksa fakta, atau karena kejahilan orang-orangnya sendiri yang suka mengelabui sesama. Kejahilan itu mungkin dimaksudkan untuk becanda saja, tapi dampaknya bisa jadi serius.
Contohnya dalam "Berita Bahaya", seorang wartawan mengerjai sesamanya yang telat datang dengan berbagi hasil liputan terhadap mantan wakil presiden Try Soetrisno; katanya Pak Try menyampaikan bahwa sudah saatnya rezim Orde Baru diganti dan seterusnya ... yang kalau pernyataan itu sampai benar-benar dimuat, akan berisiko tinggi menimbulkan perpecahan di masyarakat.
Dalam "Wawancara" dan "Pengganti Dekan", narasumber yang tampil di suatu program acara ternyata bukan orang yang sebenarnya melainkan orang lain yang pura-pura saja.
Dalam "Melaporkan Teroris", penulis harus melaporkan kejadian penangkapan teroris di Bandung, padahal beliau sedang ada liputan lain di Bali, sehingga meminta data dari teman-temannya via BBM tetapi mengaku tengah berada di lokasi penangkapan.
Walaupun program acara atau pekerjaan akhirnya terselesaikan, kalau tahu cara kerja di baliknya seperti itu, apa bukan suatu bentuk pengelabuan terhadap orang awam atau masyarakat? Maka di kata pengantar oleh Bode Riswandi terdapat peringatan begini: "... jika ia politisi, buku ini pasti jadi babon cara efektif kelabu mengelabui" (halaman ix). Ini baru kisah-kisah pada masa media cetak dan radio masih berjaya, belum lagi setelah internet berkuasa dan arus informasi membanjiri kita senantiasa, suka atau tidak. Informasi sesat selalu ada, media tidak pasti dapat dipercaya.
Cerita-cerita sedih terdapat pada judul "Sedang Hamil Jadi PSK" (wanita yang terpaksa bekerja sebagai PSK walaupun sedang hamil 5 bulan, digermoi suaminya), "Cinta di Usia Senja" (kakek yang patah hati setelah bertemu lagi dengan pujaan hati), "Melamar Jadi Wartawan" (lulusan SD yang tidak lancar menulis mau jadi wartawati), "Lamaran Kerja" (Majelis Sastra Bandung dikira perusahaan besar yang merekrut karyawan sehingga banyak yang melamar pekerjaan), "Anak Kecil dan Boneka" (jadi maling boneka demi menyenangkan anak), "Ibu yang Malang" (ibu kesepian yang ingin mengangkat penulis sebagai anak tapi selalu ditolak secara halus).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar