![]() |
| Gambar dari situs Kementerian Pekerjaan Umum |
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia bekerja sama dengan Ngrumat Bondo Utomo, 2011 (cetakan kedua; cetakan pertama, 2008)
ISBN : 978-979-461-688-8
Edisi 2
Buku ini dari disertasi penulis di Universitas Tokyo, diselesaikan akhir 2004, dengan judul Dynamism of Forest Policy in Indonesia: Focusing on the Movement and Logic of Stakeholders under the Soeharto Regime and Reformation Era.
Isinya sedikit nyambung dengan buku Sukarno, Ratna Sari Dewi, dan Pampasan Perang, karena sama-sama mengangkat kontribusi Jepang dalam membangun industri di Indonesia, malah mungkin hampir-hampir seperti lanjutannya tapi lebih spesifik dalam bidang lingkungan. Kalau SRSDPP mendata segala usaha Jepang di Indonesia pada Orde Lama, buku ini terutama mengenai industri kayu pada Orde Baru, yang mana memang Jepang berkontribusi besar dalam kerusakan hutan di Indonesia.
Disclaimer: Membaca buku ini memantik pemenungan-pemenungan pribadi yang mungkin terlalu menyederhanakan, atau hanya menguatkan asumsi yang sudah terbentuk sebelumnya.
Dari sekitar lulus kuliah, sejak membaca buku The Moneyless Man yang ketika itu kerap dipajang di obralan, saya jadi penasaran dengan kisah-kisah orang yang bereksperimen hidup tanpa uang, atau gerakan-gerakan yang menghendaki sistem ekonomi tanpa uang. Saya sendiri berusaha mengambil sikap moderat, yaitu tidak antiuang tapi juga sebisa mungkin mengurangi kebergantungan pada uang. Membaca buku ini, saya merasa menemukan satu alasan sebabnya segelintir orang sampai bersikap antiuang. Ada korelasi dekat antara krisis lingkungan di negara-negara berkembang dan bantuan dari lembaga-lembaga keuangan internasional (halaman 19). Atau, contoh lain yang lebih familiar bagi penganut Islam adalah gerakan antiriba, anti bekerja di lembaga keuangan.
Dengan utang dari lembaga-lembaga keuangan, negara-negara pada membangun peradaban menurut standar yang diciptakan Barat. Satu-dua generasi masih dapat membangun kehidupan dengan standar tersebut. Tapi generasi muda sekarang telah merasakan sulitnya mencapai standar kehidupan generasi sebelumnya, mungkin karena standar tersebut memang tidak sustainable. Makin besar utang pembangunan ke lembaga keuangan, makin banyak pohon ditebang untuk ekspor ke negara pengutang (contohnya Jepang) atau untuk membayar utang tersebut.
Deforestasi juga dapat terjadi karena transmigrasi (yang dapat menimbulkan konflik dengan masyarakat setempat) serta ekspansi komoditi perkebunan seperti kopi. Kalau terkait lembaga keuangan ada ajaran antiriba, ekspansi sepertinya dapat dikaitkan dengan dalil untuk berhijrah, mengelana di bumi Allah yang luas untuk mencari rezeki, ditambah anjuran untuk menikah dan beranak-pinak. Bisa dipahami bahwa ajaran ini hendak memastikan kehidupan manusia terus berjalan dan menyebarkan nilai-nilai Islam. Tapi ada satu konsekuensi yang jarang terdengar dibahas, yaitu pertambahan populasi artinya memerlukan pertambahan hunian dan lahan pencaharian, yang mungkin mendorong pada perambahan kawasan yang mestinya dilindungi. Bagaimana ulama memecahkan persoalan ini, adakah yang peduli? Hidup manusia berikut kesejahteraannya itu nomor satu, yang lainnya nanti dulu. Adakalanya teguran bahwa manusia telah merambah ke tempat yang salah itu tampak langsung diberikan, seperti di halaman 260, ketika terjadi banjir yang menewaskan 17 orang, menghancurkan pondok dan area tanaman, pada 7 Februari 2003, dan kebanyakan korban adalah orang yang menanam kopi dan mendirikan pondok di kawasan itu. Ada juga yang sukses-sukses saja dari hasil perdagangan kopi sehingga dapat berhaji. Jadi manusia diberikan perintah untuk menikah, beranak-pinak, dan mencari rezeki dalam keluasan bumi Allah secara trial & error yang konsekuensinya ditanggung sendiri-sendiri dalam bentuk yang berbeda-beda, secara langsung atau ditangguhkan sampai entah kapan.
Mungkin agar bumi ini cukup bagi semua orang, memang manusia semestinya hidup sederhana saja--yang dikaruniai bakat kaya wajib berbagi kepada yang dibatasi rezekinya--dan menerima bahwa perang dan penyakit merupakan bentuk pengendalian populasi manusia. Bagaimanapun kita berusaha menjaga perdamaian dan memajukan kesehatan, perang dan penyakit tetap terjadi dalam berbagai cara. Meski tidak ada perang, manusia tetap bunuh-membunuh, kadang karena perkara yang tampak sepele. Suami membunuh istri karena ditolak berhubungan badan. Istri membunuh suami karena diselingkuhi. Anak membunuh orang tua karena terlalu dikekang. Orang tua membunuh anak karena takut miskin. Teman membunuh teman karena ditagih bayar utang. Orang membunuh dirinya sendiri karena merasa putus asa. Beberapa penyakit telah dapat diatasi sehingga usia harapan hidup meningkat, tapi penyakit-penyakit baru terus bermunculan dan menyebar. Di antaranya adalah penyakit-penyakit yang membuat orang karena satu dan lain hal tidak bereproduksi--ujungnya penurunan populasi juga.
Membaca tentang bagaimana hutan dirusak keperawanannya, dilacurkan dalam bentuk hutan tanaman industri, untuk menghasilkan pulp, yang salah satu produk akhirnya adalah buku dan majalah yang di rumah menumpuk-numpuk banyak belum terbaca, jadi menimbulkan rasa bersalah. Makin banyak produk hasil HTI yang dipunya, secara tidak langsung berarti makin besar kontribusi dalam alih guna hutan dari hetero ke homo, dan ekosistem pada tegakan yang hetero lebih sehat daripada yang homo (halaman 119). Beralih dari media cetak ke media digital juga tidak lebih baik, karena perangkat dan listriknya diperoleh dari tambang--hasil pembongkaran hutan, pembantaian massal terhadap flora dan fauna, dan penindasan hak asasi manusia yang telah turun-temurun hidup secara langsung dari sana tapi tak dianggap oleh pemerintah karena cara hidup tanpa uang begitu artinya tidak bayar pajak. Memang ada usaha-usaha untuk memulihkan lahan yang sudah diobrak-abrik itu, tapi laju pengrusakan masih lebih cepat daripada pemulihan dan barangkali ada spesies-spesies yang sudah telanjur punah. Dan, barangkali kemudian kita tetap tidak punya pilihan untuk tidak membeli apa pun produk hasil deforestasi yang bakal mereka tawarkan--bahkan paksakan, sebagaimana sekarang tiap-tiap kita mau tidak mau harus memiliki smartphone yang se-up-to-date mungkin untuk bisa menggunakan layanan umum, belajar dan bergaul, mencari uang supaya bisa makan karena lahan untuk bercocok tanam sendiri makin terbatas, dan lain sebagainya. Ya kali mau selamanya hidup di zaman batu, dan kebakaran hutan dan lahan di mana-mana adalah harga yang harus kita bayar untuk itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar