![]() |
| Gambar dari Goodreads |
Keputusan yang salah.
Andaikan saya bisa memutar balik waktu dan tidak begitu rakus terhadap buku, mending saya membaca plot lengkapnya--baik novel maupun filmnya--di Wikipedia dan menonton video ulasannya di YouTube sebanyak-banyaknya.
Masalahnya bukan hanya karena ketebalan novel ini yang di atas rata-rata (lebih dari seribu halaman!), melainkan juga pada kontennya.
Awal saya membacanya, novel ini sudah terasa begitu mendetail. Teman saya yang lain--yang tidak hanya sudah menonton film It, tapi juga membaca karya-karya Stephen King yang lain--bilang bahwa itulah yang membuat dia menganggap novel ini lebih bagus, lebih rame, dan lebih menarik daripada hasil adaptasinya ke layar lebar.
Narasi pun mulai menyuguhkan adegan-adegan sadis dan seram, semestinya begitu. Walaupun saya tidak ingin membaca buku ini malam-malam, sesungguhnya adegan-adegan itu tidak sebegitunya terasa mengerikan. Ya, sudah jelas novel ini berisi banyak adegan sadis dan mengerikan, dan beberapa di antaranya memang benar-benar sadis dan mengerikan (contohnya ketika Patrick H. mengurung anjing di kulkas berhari-hari itu, hiii!). Tapi sebagian lagi terasa dibuat-buat, mengada-ngada, seolah-olah sengaja ingin menakut-nakuti pembaca, tapi yang dituju tak terusik. Teman saya mengakui bahwa kekurangan novel ini adalah dramatisasinya yang berlebihan. Porsi yang tidak pas malah bikin enggak efektif.
Selain itu, saya kira masalah ada pada terbatasnya pemahaman bahasa Inggris saya. Tapi setelah membaca review-review satu dan dua bintang di Goodreads ini, rupanya mereka yang bisa menulis dalam bahasa Inggris pun menganggap bahwa novel ini tidak seram--malah menyebalkan.
Poin-poin lainnya dari novel ini yang tidak mereka sukai (misalnya adegan seks di antara anak-anak) juga bikin saya mengangguk-angguk.
Membaca novel ini ibarat perjalanan yang seolah-olah tiada ujung. Ketika berhasil menuntaskannya, kepuasan yang saya rasakan bukan karena ceritanya, melainkan atas ketahanan saya berkutat dengan novel ini selama hampir setiap hari lebih dari sebulan ini, dan bahwa mulai besok saya tidak akan berhadapan lagi dengan dia.
Selama perjalanan itu, berkali-kali terlintas keinginan untuk memberi novel ini satu bintang saja. Tapi, menyelesaikan buku setebal lebih dari seribu halaman kan merupakan pencapaian tersendiri dan hasilnya cuma satu bintang?! Saya merasa perlu memberikan satu bintang lagi, paling enggak sebagai penghargaan atas diri saya.
Selain itu, di samping segala kelebihan yang sekaligus menjadi kekurangannya, novel ini punya kualitas-kualitas tertentu yang sebagian di antaranya membuatnya sampai dua kali diadaptasi--masing-masing ke layar kaca dan ke layar lebar.
Berikut kualitas yang menurut saya mungkin berguna bagi pembaca yang juga suka mengarang.
Walaupun memuat banyak detail hingga taraf terasa berlebihan dan mungkin enggak diperlukan amat, novel ini dapat mengilhami pembaca-yang-juga-suka-mengarang agar memperhatikan hal tersebut. Kita bisa mengembangkan para karakter kita lewat vinyet dengan detail sedemikian rupa sebagaimana yang dicontohkan dalam novel ini. Ada banyak karakter di novel ini; sebagian di antaranya memiliki latar kehidupan yang berbeda-beda yang membentuk kepribadian masing-masing. Detail tentang kehidupan tiap-tiap karakter itu berfungsi agar mereka terasa hidup. Meski begitu, vinyet-vinyet mendetail ini hanya untuk latihan, yang memberi kita informasi mengenai laku-gerak para karakter kita. Dalam menyuguhkan kepada pembaca--apalagi pembaca Indonesia dengan stamina membaca yang begitulah--kita susun dan tulis ulang vinyet-vinyet itu sehingga membentuk narasi utuh berisi yang penting-penting saja: ringkas, padat, tapi mendalam.
Di samping pengembangan karakter, novel ini juga memberikan contoh tentang membangun suatu latar fiktif berikut sejarahnya. Kita mungkin hendak menggunakan latar yang faktual saja. Namun detail seputar sejarah dan tempat-tempat ikonik--apalagi kalau bisa dijadikan elemen penting dalam cerita--merupakan nilai plus.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar