Minggu, 20 Oktober 2019

Confessions of an Eco-Sinner: Tracking Down the Sources of My Stuff

Gambar dari Goodreads
Emas, kopi, udang, minyak kelapa sawit, gula, pisang, cokelat, kacang, katun, kaus kaki, celana panjang, kaus, komputer, kayu, kaleng minuman, logam, minyak, listrik--aneka barang yang kita konsumsi sehari-hari dalam buku ini mendapatkan pemaparan panjang lebar mulai dari produksi, distribusi, hingga ke mana sampahnya pergi usai kita konsumsi. Yah, mungkin kurang tepat mengatakannya sebagai "kita"; buku ini sepertinya ditujukan kepada masyarakat Barat.


Buku ini memahamkan betapa miskin sesungguhnya masyarakat Barat itu hingga untuk dapat hidup secara layak mereka mesti mengimpor dari negara-negara jauh, membungkusnya sebagai "ekonomi industri", padahal memanfaatkan superioritas mereka untuk melanggengkan kolonialisme atau "perbudakan modern".

Sudah menjadi hukum ekonomi bahwa orang menghendaki harga semurah mungkin demi keuntungan yang sebaik-baiknya, termasuk masyarakat Barat. Caranya adalah dengan mempekerjakan masyarakat negara-negara berkembang, menukar waktu dan tenaga mereka dengan komoditi Barat berupa ideologi-ideologi seperti "kebebasan", "feminisme", dan sebagainya. Kaum perempuan yang umumnya tidak berpendidikan dan hanya beraktivitas di rumah, melalui pekerjaan di pabrik-pabrik dengan jam panjang dan upah seminimal mungkin demi memenuhi tuntutan masyarakat Barat, akhirnya mendapatkan "kebebasan"-nya: mereka bisa bekerja di luar rumah, tinggal di kamar kontrakan sempit lagi pengap, mempunyai uang sendiri, yang lalu dipergunakannya untuk membeli barang-barang bajakan. Situasi mereka dalam lingkungan tradisional mestilah benar-benar mengekang sehingga dapat menganggap pola hidup yang baru itu sebagai "kebebasan".

Sudah begitu, beberapa negara maju belum memiliki manajemen daur ulang yang baik sehingga--setelah menguras sumber daya alam dan manusia dari negara-negara berkembang--mengekspor ampasnya kembali ke tempat-tempat jauh itu.

Sedikitnya buku ini memberi kita gambaran akan panjangnya rantai ekonomi tersebut. Kita bisa saja mulai melakukan pelacakan kecil-kecilan dalam skala kita sendiri (tanpa harus menuliskannya sehingga menjadi seperti buku ini) terhadap barang-barang yang pernah, biasa, dan akan kita konsumsi, sekadar untuk memastikan bahwa kita menzalimi sesedikit mungkin makhluk lain dalam prosesnya.

Misalkan saja, baju seharga Rp 35.000 yang kita beli di Jalan Kepatihan mungkin saja berasal dari pabrik di kawasan Setrasari, di mana pekerjanya diupah hanya beberapa puluh ribu sehari menurut jumlah potongan yang dapat diselesaikannya, dengan bahan tekstil yang limbahnya dibuang ke Sungai Citarum.

Buku ini juga penting kita baca karena, sebagai masyarakat "negara-negara bawah", kita cenderung memandang tinggi "negara-negara atas" itu, hendak meniru gaya hidup yang sesungguhnya diekori pertanggungjawaban amat panjang. Padahal, walau berpenduduk lebih sedikit, jejak karbon atau "dosa ekologis" yang ditimbulkan "negara-negara atas" itu berkali-kali lipat jumlah yang dihasilkan sekian banyak penduduk "negara-negara bawah" yang hidup "di bawah garis kemiskinan". Barangkali itu alasannya dikatakan bahwa orang miskin yang lebih dulu masuk surga sebab hisabnya sedikit.

Buat orang yang enggak begitu suka membaca, apalagi enggak begitu menguasai bahasa Inggris, sepertinya akan lebih kena menonton dokumenter-dokumenter yang sejalan dengan buku ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain