Senin, 28 Oktober 2019

Lagu Peduli Gelandangan

Di komputer rumah sewaktu saya SMP ada satu folder khusus musik, terdiri dari banyak folder yang isinya entahkah album atau kompilasi lagu-lagu sejenis. Salah satu folder itu berisikan musik yang saya kira dari jenis R&B dan hiphop. Itu bukan jenis musik kesukaan saya. Tapi kadang-kadang saya mendengar musik begitu--termasuk yang lawas-lawas--diputar di radio. Kalau enggak salah di radio Ardan, 105.9 FM Bandung, waktu itu ada segmen khusus musik tersebut sore-sore. Dari situ saya tahu bahwa musik begitu ada peminatnya sendiri, dan saya bukan di antaranya.

Saya baru bisa mengapresiasi folder itu belakangan, awalnya hanya lagu-lagu yang eye-catchy dari era '90-an seperti "Have Fun, Go Mad" (Blair), "Cantaloop (Flip Fantasia)" (US3), "Attenti al Lupo" (Lucio Dalla), "Perdono" (Tiziano Ferro), hingga "Sex Bomb" (Tom Jones). (Yah, memang mungkin enggak semuanya tergolong R&B dan hiphop; enggak tahu juga kenapa ditaruh di folder itu.) Lama-kelamaan saya mulai berpikiran bahwa mendengar folder itu secara keseluruhan rasanya kok bikin segar, entah kenapa, mungkin karena beat-nya. Baru belakangan, ketika timbul keinginan untuk memutar isi folder ini secara acak di Winamp, saya menemukan lagu-lagu "baru" yang ternyata asyik juga. Cari di Youtube, setel, Auto Play, lantas dihadirkanlah "Mr. Wendal" Arrested Development ke pendengaran saya. Eh, kayak yang pernah denger. Selain--mungkin--pernah diputar di radio dulu, lagu ini memang ada di folder itu.


Arrested Development sendiri saya kenal sejak SMP, lewat lagunya, "Honeymoon Day", yang pada waktu itu sering diputar di radio (dan menerbitkan rasa penasaran cowok-cowok). Selain yang itu, saya tidak tahu lagunya yang lain dan tidak berminat menelusurinya.

Yang menempel di ingatan dari "Mr. Wendal" sebenarnya cuma bagian "he-he-he-he"-nya. Lagu ini hampir seluruhnya terdiri dari rap sehingga kurang kena di telinga saya. Saya tidak bisa serta-merta menangkap ini lagu tentang apa, "Mr. Wendal" itu siapa, saya enggak peduli.

Lantas, kemarin, ketika "he-he-he-he" itu mengiang di benak, saya iseng mencarinya di Youtube, mendengarkannya sembari men-scroll komentar (yang biasanya membandingkan kualitas lagu antara masa itu dan masa sekarang--lagu ini rilis pada 1992, omong-omong), dan menemukan liriknya yang ternyata ... wah.

Berikut saya copas-kan lirik yang saya temukan, yang dibagikan oleh akun Dezmo59,
Here, have a dollar,/ in fact, no brother-man here, have two/ Two dollars means a snack for me,/ but it means a big deal to you/ "Be strong, serve God only,/ know that if you do, beautiful heaven awaits"/ That's the poem I wrote for the first time/ I saw a man with no clothes, no money, no plate/ Mr. Wendal, that's his name,/ no one ever knew his name cause he's a no-one/ Never thought twice about spending on a ol' bum,/ until I had the chance to really get to know one/ Now that I know him, to give him money isn't charity/ He gives me some knowledge,/ I buy him some shoes/ And to think blacks spend all that money on big colleges,/ most of y'all come out confused 
[CHORUS:] Go ahead, Mr.Wendal (2x) 
Mr.Wendal has freedom,/ a free that you and I think is dumb/ Free to be without the worries of a quick to diss society/ for Mr.Wendal's a bum/ His only worries are sickness/ and an occasional harassment by the police and their chase/ Uncivilized we call him,/ but I just saw him/ eat off the food we waste/ Civilization, are we really civilized, yes or no?/ Who are we to judge?/ When thousands of innocent men could be brutally enslaved/ and killed over a racist grudge/ Mr. Wendal has tried to warn us about our ways/ but we don't hear him talk/ Is it his fault when we've gone too far,/ and we got too far, cause on him we walk 
Mr.Wendal, a man, a human in flesh,/ but not by law/ I feed you dignity to stand with pride,/ realize that all in all you stand tall
Saya membaca lirik tersebut sembari mendengarkan lagunya, seakan-akan untuk mengecek apakah memang seperti yang tertera. Dan, ternyata iya. (Ya, iyalah.)

Memang isu homelessness jadi perhatian saya akhir-akhir ini. Kita tahu, generasi kiwari semakin susah punya rumah. Memang kekhawatiran "jadi-gelandangan" sepertinya belum melanda anak-anak muda di Indonesia, yang di samping karena sifat optimistis--keyakinan pada Tuhan YME yang membudaya bahwa ketakwaan akan membawa solusi bagi setiap permasalahan--juga hubungan kekeluargaan di sini masih rada erat dibandingkan dengan di negara-negara tertentu. Maksudnya, masak tega membiarkan saudara jadi gelandangan? Ditampunglah, walaupun diam-diam dipisuhi.

Tapi, di negara individualis seperti Amerika Serikat, tampaknya gelandangan membeludak. Paling tidak, itu kesan yang saya dapatkan dari menonton video-video di Youtube. Ada channel yang khusus menyoroti masalah ini, dengan menampilkan video-video wawancara terhadap para gelandangan di berbagai daerah di Amerika Serikat (walau sesekali ada juga di negara Barat lain seperti Inggris), yaitu Invisible People. Di channel-channel lain, bisa kita temukan juga video tentang gelandangan di Inggris, Jepang, Jerman, dan mana pun lagi.
"The song is not based on a person named Mr. Wendal at all, but it is based on some experiences that I have had in Atlanta, which is where I live, and sung to the homeless people that I had become friends with here, and just their way of looking at it. Some of them were more like hobos where they purposely were wanting to be homeless, they didn't want to play to the way society was going, and they just decided to go off another beaten path. Others were hungry, had a run of bad luck, and just couldn't survive with the competition of the real world. So they were out there. One of the people that I look to the most as the real Mr. Wendal, to me, died the year that that song came out. So he never got to hear the song and the tribute to him. We gave half of the proceeds of that song to the National Coalition For the Homeless in the United States, because of how closely all of us felt to the cause of the homeless, and the fact that everybody, whether they're homeless or not, there's some times in all of our lives when we need some help, we need a boost." (Kutipan wawancara dengan Speech, vokalis utama Arrested Development yang menulis lagu ini, diambil dari Songfacts.)
Saya pikir, lirik lagu ini memang patut untuk dijadikan bahan renungan. Paling tidak, untuk mengingatkan pada kesombongan kita, yang boleh jadi menganggap rendah gelandangan--menyematkan prasangka bahwa mereka hanyalah orang-orang yang malas bekerja, dan seterusnya. (Beberapa orang bilang "sombong" itu berarti merendahkan orang lain.) Walaupun tidak dikatakan, sepertinya ada baiknya kita menghapuskan perasaan itu sama sekali dari hati kita. Seperti yang dianjurkan dalam lirik lagu ini, ada baiknya kita mulai mengangkat harkat mereka. Siapa tahu, biarpun amit-amit, kelak kita yang ada di posisi mereka. Malah, kalau boleh utak-atik gathuk, "Wendal" itu bunyinya dekat dengan "we all" (#maksa).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain