Rabu, 02 Oktober 2019

Cara supaya Ikhlas, Sehat Raga serta Sosial, dan Sebagainya


Atas dorongan teman-teman--walaupun yang bisa hadir hanya satu orang--saya pun datang ke acara ini. Baru ketika berada di lantai dua Masjid Agung Trans Studio Bandung--atau kita singkat saja menjadi Masjid TSM--saya mengecek kebenaran kata teman yang menginformasikan tentang acara ini: banyak video dr. Aisyah Dahlan, CHt. di Youtube. 

Melihat penampilannya di Masjid TSM pada hari itu, yang kurang lebih sekitar dua jam, menarik untuk melihat yang lain-lainnya lagi di Youtube. Bukan hanya dakwah berbalut pengetahuan ilmiah yang beliau sampaikan, melainkan juga caranya yang humoris dan relatable bagi penonton yang kebanyakan ibu-ibu. (Ada juga laki-laki yang hadir, tapi jumlahnya mungkin hanya sekitar dua puluhan orang--sangat sedikit bila dibandingkan dengan jumlah perempuan, walaupun tidak sampai menyesaki kedua lantai masjid, seperti kalau Ustad Evie Effendi yang jadi pembicara.) 

Teman yang jadi motivasi utama saya ikut acara ini menambahkan bahwa Bu Dokter juga kerap tampil di TV. Saya baru tahu sebab hampir tidak pernah menonton TV lagi, dan di Youtube pun yang saya tonton adalah banyak video lain.

Acara dibuka dengan memperkenalkan sosok Bu Dokter yang luar biasa. Bukan hanya karena profesinya sebagai dokter berikut keaktifannya menjadi ketua di sana-sini--terutama di lembaga-lembaga yang mengurus soal kecanduan narkoba--beliau juga seorang ibu lima anak yang sebagian di antaranya pada kuliah kedokteran (sebagian lagi masih pelajar dan ada kemungkinan ketika kuliah akan di kedokteran juga #soktahu. Lagi pula kedua orang tua mereka sama-sama dokter.) Enggak heran bila beliau memperoleh penghargaan sebagai wanita inspiratif. Sudah begitu, beliau juga humble dengan mengungkapkan pengalaman belajarnya sendiri.

Masuk ke materi, ada hal-hal menarik (menurut saya) yang saya catat. 

Yang pertama-tama adalah singkatan: SEHAT berarti SEnang HATi sedangkan SAKIT berarti SAlah KIT-a. Entah kenapa itu menarik. Kata Bu Dokter, walaupun Anda menderita hipertensi, tapi hati harus tetap senang. Dan, segala kesakitan yang kita alami boleh jadi akibat perbuatan kita sendiri. Ini mengingatkan saya pada teman saya yang pernah mengatakan tentang isi doa tobat. 

Gambar diambil dari artikel Yufidia, "Doa Taubat dari Maksiat".
Frasa "menganiaya diri kami sendiri" agak sulit saya cerna.
Ketika Bu Dokter bertanya kepada hadirin apa yang terpikir ketika mendengar kata "emosi" (atau kurang lebih begitu, saya enggak ingat persis redaksinya), kebanyakan pada menyamakannya dengan "marah". Padahal tidak. Emosi itu beragam. 

Kata "emosi" berasal dari bahasa Latin "movere" yang berarti "menggerakkan" atau "bergerak". Awalan "e" ditambahkan untuk memberikan arti "bergerak menjauh". (Menjauh dari mana? Entah sih.)

Lalu dimulailah pelajaran Biologi yang bikin melongo.

Beliau menerangkan tentang letak bagian yang mengatur emosi dalam otak, yaitu sistem limbik, juga pentingnya minum banyak air saat lagi banyak pikiran. Air memberikan energi bagi jalannya otak.

Yang menarik ketika beliau menerangkan tentang level emosi. Bentuknya berupa tangga. Anak tangga terbawah diiisi oleh "Apatis" sedangkan yang teratas adalah "Damai". Sayangnya, ketika gooling, saya belum menemukan gambar yang persis sehingga saya coba untuk menjelaskannya dengan kata-kata saja.

Menurut beliau, ada sembilan level emosi. Berikut urutannya dari bawah ke atas.

Apatis
Sedih
Takut
Rakus 
(atau Terburu-buru/Lust)
Marah
Sombong 
(atau Bangga/Pride)
Semangat
Menerima
Damai

Enam emosi terbawah (dari Apatis sampai Bangga) memiliki energi negatif. Tiga emosi terbawah termasuk dalam nafs lawwamah, sedangkan tiga emosi berikutnya merupakan nafs amarah. Barulah tiga emosi teratas yang memiliki energi positif atau nafs muthaminnah, di sinilah Zona Ikhlas.

Emosi-emosi ini berperan dalam naik-turunnya keimanan kita. Jika kita sedang berada di level bawah, entahkah Sedih atau Takut, menurut Bu Dokter tidaklah tepat untuk meminta agar emosi tersebut dihilangkan. Yang tepat adalah meminta agar emosi kita dialihkan atau diangkat, atau istilahnya yang kekinian: move on.

Bu Dokter mencontohkan peralihan emosi ini dari tahap ke tahap dengan cara yang mudah dimengerti, yaitu ketika beliau menghadapi sahabatnya yang baru ditinggal suami ke alam baka. 

Dimulai dari Sedih, sahabatnya menangis. Dalam mendampingi orang menangis, jangan memberikannya tisu karena itu seperti memberi dia tanda untuk berhenti. Padahal mungkin saja dia butuh mengeluarkan emosinya dengan menangis. Tanggapi saja dengan memeluknya dan mengatakan betapa kita turut bersedih. 

Setelah beberapa waktu, emosi sahabatnya naik, dari Sedih menjadi Takut. Sahabatnya takut akan masa depan tanpa suami, padahal anak mereka masih pada kecil. Bu Dokter bilang, di sini justru kita harus merasa senang karena emosinya telah naik.

Emosinya pun naik lagi ke Marah. Sahabatnya marah kepada mendiang suaminya karena dilarang bekerja.

Lalu sahabatnya mulai merasa Sombong, atau lebih tepatnya Bangga, dengan mengatakan bahwa sesungguhnya dia sarjana dari PTN ternama. Maksudnya, dia punya nilai yang membuatnya layak untuk bekerja.

Muncullah Semangat. Sahabatnya meminta untuk dicarikan pekerjaan.

Perkara Sombong atau Bangga ini memang rancu. Baik kata Bu Dokter ini maupun kata Dedy Susanto yang Kuliah Psikologinya di Youtube kadang saya dengarkan, Bangga itu boleh. Bangga berarti menunjukkan keunggulan diri. Yang tidak boleh itu Sombong, sebab berarti mengunggulkan diri dengan merendahkan orang lain. Bagaimanapun juga, kerap kali orang yang membanggakan diri--walaupun tanpa membandingkan dengan orang lain--berkesan sombong. Di sisi lain, saya mengakui bahwa penghargaan diri itu naluriah dan penting untuk self esteem, biar orang enggak merasa dirinya useless amat. 

Tiadanya penghargaan diri bisa bikin orang terpuruk dalam level emosi yang rawan, yaitu Apatis. Apatis itu lebih daripada Sedih. Kalau Sedih, orang masih bisa menangis. Ketika Apatis, dia sudah tidak bisa lagi menangis. Dia cuma diam, tidak berhasrat ingin melakukan apa-apa, merasa tidak berguna, dan ujung-ujungnya ingin mati saja. Kalau sudah terjungkal dari level emosi terbawah begitu, namanya Depresi yang bisa mengakibatkan bunuh diri.

Contoh dari Bu Dokter dalam menghadapi sahabatnya yang sedang beremosi buruk menunjukkan bahwa dalam membantu orang--agar dia senang--kita mesti mengikuti setiap tahapan. Jangan terburu-buru menyuruh dia agar sabar, ikhlas, dan semangat. Ikuti perkembangan emosinya dan perlakukan secara tepat menurut setiap tahapan. Baru ketika dia sampai pada Semangat, kita bisa mengambil tindakan.

Dalam mengatasi emosi sendiri, cara yang paling umum adalah dengan menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya. Tapi cara ini rupanya tidak lebih efektif daripada melafalkan istigfar. Menurut Bu Dokter, pertukaran udara dalam bernapas dalam-dalam hanya 3 L, sedangkan istigfar mengandung huruf-huruf yang mengeluarkan lebih banyak karbondioksida sehingga akan menarik lebih banyak oksigen sampai 5 L. Untuk bernapas biasa saja hanya 1 L. 

Rupanya pelafalan ini memiliki efek yang berbeda ketimbang sekadar mengucapkan dalam hati, sebab melibatkan fungsi fisiologis. Ketika hanya berucap dalam hati, mungkin napas kita biasa saja. Ketika melafalkannya, ada tarikan napas yang berbeda, getaran suara, dan sebagainya. Ucapkan istigfar berkali-kali hingga level emosi terasa naik.

Menaikkan level emosi penting agar kita ikhlas dalam mengerjakan segala sesuatu. Tanda keikhlasan adalah munculnya senyum. Kalau di akhirat kelak amal perbuatan dinilai menurut keikhlasan maka sepertinya kita perlu melafalkan istigfar banyak-banyak.

Selama ini kita mungkin hanya bisa meraba-raba pengertian ikhlas, seperti tokoh utama dalam film Kiamat Sudah Dekat. Kita bisa mensugesti diri atau mengatakan bahwa kita ikhlas (pakai "insya Allah"), padahal hati masih mengomel. Melalui pemaparan soal tingkatan emosi ini dan posisinya dalam mencapai keikhlasan memberikan perspektif baru. Paling tidak sekarang kita tahu langkah praktis untuk mengupayakan keikhlasan.

Gambar diambil dari sini. Redaksinya enggak persis dengan
yang ditampilkan di layar proyektor saat acara.
Ini kurang lebihnya saja.
Kembali ke soal pelafalan. Bukan cuma istigfar yang penting untuk dilafalkan, tapi juga perkataan sehari-hari yang biasa kita lafalkan pun sebaiknya kita perhatikan. Contohnya dalam menanggapi suami dan mendidik anak. 

Dalam menanggapi suami, misalnya, istri mesti memerhatikan nada. Jangan bernada dingin karena akan mengurangi ketertarikan suami. Istri yang menyenangkan adalah yang bernada centil dan manja, tapi lakukan ini hanya kepada suami--jangan kepada lelaki lain. Lelaki juga perlu untuk selalu dibela, tapi bukan juga sampai mengompor-ngompori.

Dalam mendidik anak, ibu tidak boleh mengatakan yang buruk-buruk. Misalkan, anak lelet dalam mengerjakan PR atau menghabiskan terlalu banyak waktu untuk bermain gim. Ibu mesti bijak dalam memilih kata-kata. Ibu tidak boleh mengatakan hal seperti, "Ngerjain PR aja lama!" atau "Jangan main gim melulu!" bahkan bernada sarkastis, "Main aja terus!" Sebab, secara tidak sadar, anak bisa merekam itu sebagai perintah. Ia akan terus lelet dalam mengerjakan PR. Ia akan terus bermain gim lama-lama. Apalagi kalau ibu sampai mengatakan keburukan anak pada orang lain--entahkah suami atau tetangga---hingga terdengar oleh anak itu sendiri.

Ada istilah "bukan salah ibu mengandung", tapi mungkin "salah ibu ngomong".

Persoalan ini menurut Bu Dokter merupakan ilmu neuroparenting--bisa jadi kata kunci bila ingin menelusuri lebih jauh.

Kalau istigfar berdampak pada diri sendiri, perkataan sehari-hari pada orang-orang di sekitar kita, adapun doa, katakanlah (dalam bahasa saya sendiri), pada semesta alam--hingga ada istilah "Semesta Mendukung". Yang menarik, Bu Dokter mengatakan bahwa bangunan dapat menghambat sinyal-sinyal doa. Really? Apakah kita harus lari ke hutan kemudian teriakkan doa kita? Entahlah soal itu.

Yang jelas, pembicaraan merembet ke berbagai hal yang intinya adalah: kita harus mengusahakan yang terbaik, mulai dari emosi hingga perkataan sehari-hari--inner dan outer--agar kebaikan pun datang kepada kita. Emosi mendapat sorotan penting agar apa pun yang kita keluarkan (outer), entahkah perkataan atau perbuatan, dilandasi dengan keikhlasan yang tentunya bernilai tertentu di mata Tuhan. Tidak hanya itu, menjaga level emosi agar tetap di atas juga penting untuk menghindarkan dari gangguan psikosomatik.

Islam telah memberikan banyak tuntunan. Khususnya hadis--rekaman segala perkataan dan perbuatan Rasulullah salallahu alaihi wassalam--yang setelah diteliti ternyata memang berdampak baik. Tidak hanya anjuran untuk berkata baik atau diam (mengingat bahasan tentang neuroparenting tadi), tapi juga hingga cara beliau membersihkan diri lewat wudu--jika dilakukan dengan sebenarnya-benarnya (: dengan membasuh, bukan sekadar mengalirkan air)--berdampak baik terhadap saraf. Segala tuntunan dari beliau adalah demi kebaikan kita sendiri.

Sebagian orang sami'na wa ato'na, tapi ada juga sebagian lain yang baru yakin akan kebenaran dan kebaikan itu setelah mendapatkan pemaparan ilmiah (biarpun memusingkan) semacam ini. Yang disebut belakangan ini menurut saya sejalan dengan hubungan antara iman dan ilmu yang seyogianya saling melengkapi. Belum lagi memang ada perintah bahwa mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain