Rabu, 05 Oktober 2011

Monang Ngebolang


Edel menurunkannya tepat di depan pusat reservasi tiket.

“Aku baru tahu kalau di Bandung ada yang ginian juga,” kata Monang. Ia pernah ke pusat reservasi tiket di Stasiun Tugu, Jogja, waktu ia mau pulang ke Bandung dalam suatu liburan. Selama ini kalau ia mau beli tiket kereta sebelum hari keberangkatan, ia akan membelinya di loket stasiun yang halamannya menghadap ke loko-lokoan.

Edel mengangkat bahu. Kaca mobil naik hingga menutupi pemandangan Edel memonyongkan bibir. Monang memandang kepergian mobil perak itu sampai hilang di belokan.

Ia menuju bangunan yang didominasi warna oranye itu lalu tersenyum pada satpam yang membukakan pintu—seakan ia sudah biasa ke sana. Begitu menemukan meja dengan kertas pemesanan di atasnya, ia langsung duduk di bangku kuning meja tersebut. Lodaya pagi. Jumat, tanggal 7 Oktober 2011. Bisnis. Tiga orang. Ini yang pesen siapa, yang mau berangkat siapa... gerutu Monang.

Hanya ada satu orang wanita berjilbab di depan meja pemesanan. Sembari menunggu urusan wanita tersebut selesai, Monang mengamati informasi harga tiket. Lodaya pagi, bisnis, tanggal 7 Oktober, Rp 120.000,-? Seingatnya dulu harga tiket Lodaya bisnis hanya Rp 90.000,-. Naik terus!

Ke luar dari pusat reservasi tiket, terik matahari menjelang zuhur menyengat Monang. Namun udara terasa tidak begitu panas di badannya—setidaknya ia belum berkeringat.

Kawan-kawannya sudah berada di Taman Tegallega. Mereka pernah bilang kalau taman kota menyimpan harta karun. Mungkin mereka sedang mencarinya di sana. Mereka juga sudah pernah ke Taman Lansia, Taman Ganesha, dan berbagai taman lainnya di Kota Bandung namun Monang belum pernah lihat rupa harta karun itu seperti apa. Mungkin sebaiknya ia ke sana sekarang untuk membantu mereka. Barangkali mereka memang akan menemukannya di taman yang satu itu.

Monang merogoh-rogoh bagian dalam tas selempangnya, lalu saku celananya. Alamak. Jalan kaki saja ke sana biar sehat dan ramah lingkungan, pikirnya. Padahal ia tidak menemukan uang untuk ongkosnya naik angkot.

Monang berjalan menyusuri jalan di depan halaman utara Stasiun Bandung. Ketika belok ke kanan, ia menemukan jalan yang teduh karena sisi kanan dan sisi kirinya ditumbuhi oleh pepohonan rindang. Ia melihat bangunan Kereta Api Health Center di jalan itu. Ia baru tahu kalau ada PT. KAI punya pusat kesehatan juga.

Hampir sampai di ujung jalan yang berbatasan dengan rel kereta yang melintang, ia menyeberang. Hampir sampai di ujung jalan lagi, ia kembali menyeberang. Sebuah taman kecil menyambutnya. Taman kecil itu mengingatkannya pada taman kecil-taman kecil lain yang ia lihat selama perjalanan menuju pusat reservasi tiket dengan menggunakan mobil Edel tadi.

Ia pernah baca kalau Kota Bandung memiliki 600 taman. Sepertinya tidak mungkin kalau ke-600 taman tersebut luasnya seperti Taman Lansia atau Taman Pramuka atau taman-taman yang cukup besar dan terkenal lainnya di Kota Bandung. Mungkin jumlah taman di Kota Bandung bisa mencapai 600 karena taman kecil seperti ini masuk hitungan, pikirnya.

Ia menapaki trotoar berlantai merah di tepi taman kecil itu namun kemudian tertarik untuk berjalan di dekat Sungai Cikapundung. Lagi, ia menyeberang.

Dibatasi pagar besi putih, air Sungai Cikapundung di bawah sana tampak keruh. Monang mengerutkan kening karena mengira warna air agak keabu-abuan. Banyak sampah di sana. Padahal ia pernah berkali-kali membaca atau mendengar aksi membersihkan Sungai Cikapundung, baik oleh pemerintah maupun anak SD. Mengapa sampah selalu ada?

Puncak kepala yang sedari tadi disinari matahari jadi terasa adem ketika ia melewati bagian bawah jembatan rel. Pantas saja enak bagi para gelandangan itu untuk tidur di bawah sini, pikir Monang.

Monang menyadari bahwa ia tidak tahu di mana letak Taman Tegallega. Namun ia yakin taman tersebut berada di dekat alun-alun. Di kejauhan, ia lihat dua menara kembar masjid agung. Ia jadikan itu sebagai patokan arah. Di dekat masjid agung ada kawasan Palaguna yang katanya akan dijadikan RTH. Ia ingin meninjau ke sana juga.

Ketika menyeberang jalan lagi, ia ingat pada sebuah novel yang kemarin ia tamat baca: “Fetussaga”, karangan Jamal. Dalam novel itu disebutkan bahwa membuang sampah sembarangan adalah kebiasaan orang desa yang terbawa ke kota. Orang desa bisa membuang sampah di mana saja, termasuk di sungai, karena sampah mereka sedikit dan terbuat dari bahan alam. Lagipula penduduk desa tidak sebanyak penduduk kota. Monang jadi ingat tentang dampak urbanisasi yang pernah diajarkan di mata pelajaran IPS saat SD.  

Monang masih berjalan di seberang Sungai Cikapundung yang dipagari. Ia melihat Sungai Cikapundung yang kali ini dirimbuni oleh pepohonan di kanan-kirinya. Sepertinya asik kalau bisa melihat dari dekat, namun Monang enggan karena ruang di tepi pagar dipenuhi oleh PKL sampai sungai tidak terlihat lagi karena tertutup bangunan.

Ketika menyeberang, Monang bertemu dengan serombongan orang. Salah satu wanita berjilbab dalam rombongan tersebut mengatakan sesuatu tentang hutan lindung pada pria di sebelahnya. Monang jadi tertarik untuk mengetahui isi pembicaraan mereka selanjutnya namun bising pendengaran menutupi pendengarannya. 

Monang memasuki kawasan Braga. Ada seruas jalan di kawasan ini yang permukaannya seperti bukan dari aspal. Batu kali apa ya? pikir Monang. Ruas jalan ini biasa dijadikan tempat foto-foto dengan dekornya yang unik. Bangunan bernuansa kuno yang berupa toko-toko berjejer di sisi kanan dan sisi kiri ruas jalan ini.

Di sepanjang jalan itu, Monang bertemu dua buah toko buku yang mungkin akan ia kunjungi kapan-kapan bersama kawannya yang cukup intelektual. Ia menyadari bahwa sedikit-sedikit ia melewati pajangan lukisan-lukisan. Mestinya lukisan-lukisan ini dipajang untuk menarik minat calon pembeli yang melewati jalan ini, pikirnya. Lama-lama ia jadi menikmati kehadiran lukisan-lukisan tersebut. Seperti berjalan di lorong sebuah pameran lukisan—hanya saja ini pameran di ruangan terbuka.

Monang juga melewati bagian depan Braga City Walk alias Brawalk. Monang jadi membayangkan pakaian dalam wanita yang bisa berjalan. Ia pernah nonton film di 21 mal tersebut. Ada yang bilang harga tiket di situ paling murah. Tapi itu sudah lama sekali. Monang lupa, selain 21, ada apa saja di dalam area mal tersebut. Melihat Brawalk dari depan membuat Monang menerka kalau konsep mal ini serupa Ciwalk alias Cihampelas Walk. Mungkin juga Paris van Java—tapi Monang juga sudah lupa seperti apa bagian dalam Paris van Java.

Baik Brawalk, Ciwalk, maupun mal sejenisnya yang ada di Kota Bandung yang mungkin ada lagi tapi Monang tidak tahu, memiliki konsep memadukan mal dengan ruang terbuka. Bagus kalau ruang terbukanya hijau, hijau banget dan rimbun sampai jadi kayak hutan, pikir Monang. Ia pernah pulang malam dari Ciwalk dan melihat tajuk pohon besar di depan mal tersebut disorot oleh lampu dari bawahnya. Siluet dahan yang bergelombang-lombang disinari cahaya temaram memberikan kesan estetis yang menggetarkan hati Monang saat itu. Indah.

Selama ini ada kalangan masyarakat yang memprotes makin banyaknya bangunan komersil di Kota Bandung yang menggerus lahan yang padahal potensial untuk jadi ruang terbuka hijau (RTH). Kepentingan lingkungan hidup masih saja kalah oleh kepentingan lain yang lebih menghasilkan secara ekonomi. Monang membayangkan kesengitan perkara ini bisa dikurangi jika setiap bangunan dibuat dengan konsep ramah lingkungan—ya dengan mengadakan RTH di sekeliling atau sela-selanya.

Setelah melewati ruas jalan dengan permukaan yang khas itu, Monang mengambil jalan ke kanan. Hampir di ujung jalan, ia melihat ada beberapa penjaja majalah bekas di trotoar kiri jalan. Tadinya ia ingin melihat-lihat tapi tidak jadi karena terhalang banyaknya kendaraan parkir. Setelah melewati Bale Sumur Bandung, ia menyeberang ke kanan jalan sementara di seberang jalan yang lebih besar terdapat kawasan Palaguna.

Ia ingin melihat kawasan yang dipagari seng itu dari dekat. Menyeberang di jalan besar agak membuatnya malas. Lagipula ada jembatan penyeberangan di atasnya. Monang merasa, sebagai warga negara yang baik ia harus memanfaatkan fasilitas yang ada. Jembatan besar itu menuai penasaran.

Ia tapaki anak tangga jembatan tersebut. Setelah sampai di puncak tangga, ia terkesima karena jembatan itu ternyata terdiri dari dua tingkat! Tingkat pertama tampak suram. Ia lebih tertarik menaiki tangga satunya yang membawanya ke tingkat yang lebih tinggi.

Sesampainya di puncak tangga, lagi-lagi ia terkesima karena ia menemukan sebuah ruang yang cukup luas. Ia sering membaca protes mengenai kurangnya ruang publik bagi masyarakat di Kota Bandung ini. Konteks ruang publik yang dimaksud sebetulnya lebih mengarah pada RTH—karena yang ia baca adalah artikel-artikel terkait itu. Namun bukan berarti ruang di tengah jembatan penyeberangan ini tidak bisa dimanfaatkan juga!

Yang ada dalam pandangan Monang sekarang adalah lantai yang kotor dan dinding kumuh penuh coretan. Ia membayangkan seandainya ruang yang cukup luas tersebut ditata dan dibersihkan. Lalu sekelompok anak muda dari suatu komunitas datang lalu mengisi salah salah satu sudut untuk duduk melingkar dan berdiskusi. Tidak hanya komunitas itu saja yang bertandang, tapi ada juga yang lainnya. Mungkin pojok satunya bisa diisi oleh stan penjualan minuman yang dijaga oleh mbak-mbak cantik. Mungkin pot-pot tanaman hias bisa mengisi beberapa sisi ruangan. Maka ruang yang cukup luas ini akan memiliki manfaat lebih, bukan hanya tempat tinggal bagi gelandangan saja.

Monang menempelkan tubuhnya ke pagar pembatas. Dari sana ia bisa melihat kawasan Palaguna secara keseluruhan. Kawasan itu terdiri dari bangunan tinggi yang sudah tidak terurus dengan kaca berlubang-lubang serta hamparan rumput tinggi di depannya. Ia ingat pernah menonton film Mr. Bean di bioskop di bangunan itu bersama sepupunya waktu ia masih kecil. Saking banyaknya yang menonton, mereka tidak kebagian bangku sehingga mereka duduk di karpet. Entah mengapa bangunan tersebut tidak berfungsi lagi sebagai kawasan komersil. Monang juga tidak terbayang bagaimana pihak yang berwenang akan mengubah lahan ini jadi RTH yang layak kunjung.

Dengan rumput sedemikian lebatnya, sebenarnya lahan tersebut sudah berfungsi sebagai RTH. Rumput pun bisa menghasilkan oksigen dan menyerap air. Namun tentu saja hanya sekadar rumput tidak membuat fungsi ekologis lahan tersebut optimal. Apabila memang tidak akan dimanfaatkan lagi, bangunan tersebut bisa diruntuhkan. Kalaupun tidak, lahan hijau di depannya tampaknya sudah cukup untuk dirombak menjadi sebuah taman. Tentu saja yang diharapkan adalah taman yang apik seperti taman-taman lainnya di Kota Bandung.

Sewaktu dalam perjalanan bersama mobil Edel tadi, Monang melewati sebuah lahan di samping Gasibu yang juga dipagari. Ada papan yang menginformasikan kalau lahan tersebut milik pemerintah. Ada sebuah kolam besar di tengah lahan tersebut. Itukah kolam yang katanya berkedalaman 10 m? pikir Monang saat melihatnya. Ia mengamati luas lahan yang tersisa di tepi kolam tersebut dan menimbang-nimbang apakah pohon besar muat tumbuh di situ. Ia pernah baca kalau ada area di dekat Gasibu yang hendak dijadikan RTH juga. Mungkin lahan itu yang dimaksud.

Bagus apabila RTH di Kota Bandung tambah banyak—apalagi kalau jadinya seperti taman-taman yang sudah ada, tinggal perawatannya saja. Masalahnya, kapan penataan ini akan diwujudkan?

Dari artikel-artikel yang ia baca juga ia tahu kalau pemerintah kekurangan anggaran dan SDM sehingga pengelolaan tidak bisa dijalankan dengan ideal. Ia ingat seorang kawannya yang beberapa bulan lalu praktek di Taman Nasional Ujung Kulon. Masalah yang dihadapi dalam pengelolaan kawasan konservasi tersebut juga serupa: kurangnya anggaran dan SDM. Kalau tidak salah moratorium PNS pun karena masalah demikian pula. Padahal kalau salah satu masalahnya adalah kurang SDM, maka tentu saja jumlah SDM perlu ditambah. Masalahnya, anggaran untuk menggaji SDM itu yang tidak ada! Begitu bukan ya? Monang bertanya-tanya karena sesungguhnya ia tidak begitu suka baca koran. Apa yang ia baca selama ini ialah apa yang kawan-kawannya memang lagi gandrung baca.

Monang jadi terilhami untuk menulis sesuatu di media sosialnya. Ia mengambil ponsel lalu memencet-mencet dengan gemas.

“Wahai para koruptor, kembalikanlah uang yang telah kau korupsi agar badan pemerintah tidak lagi kurang anggaran dan SDM dalam melayani kebutuhan masyarakat!”

Seorang pria memegang gayung terpekur saja di dekat pagar pembatas tangga satunya. Monang cuek saja melewati pria tersebut ketika hendak menuruni anak tangga. Ia palingkan kepalanya ke hamparan hijau di tanah Palaguna itu. Ada beberapa gelandangan lagi ia temukan di sana. Juga beberapa tumpukan sampah. Kalau kawasan ini dibenahi, mereka akan tinggal di mana? Monang jadi bertanya-tanya lagi.

Saat menuruni anak tangga, Monang mencium sesuatu yang tidak sedap namun ia tidak acuhkan saja. Lepas dari sana, ia memasuki jalan di samping masjid agung. Ia menyeberang agar bisa berjalan lebih dekat dengan masjid. Namun ia tidak berniat solat zuhur di sana meski azan zuhur sudah berkumandang dari beberapa waktu lalu.

Sampai jalan itu habis, ia lihat di seberang masjid agung ada sebuah taman lagi. Kali ini tamannya cukup besar, ada pagar besar yang terbuka sedikit, serta dibatasi oleh tembok. Monang menyeberang agar bisa melihat area tersebut lebih dekat. Ia ingat pernah bermain dengan air mancur di suatu taman di dekat sini—inikah taman dalam kotak memorinya tersebut? Ia ragu area yang dijuduli “Pendopo” di tembok depannya itu dibuka untuk umum. Dalem Kaum 56, catat Monang dalam hati.

Sambil berjalan, ia mengintip apa yang ada di balik dinding tembok ini melalui lubang-lubang yang ada. Tidak semua lubang bisa diintip karena tertutup oleh entah apa. Sampai akhirnya tidak ada lagi lubang yang bisa diintip.

Sekarang yang ada di sekitar Monang hanyalah bangunan-bangunan toko. Sasaran perhatiannya beralih pada orang-orang yang dipapasnya. Bertemu dengan orang-orang yang dikiranya merupakan kalangan menengah ke bawah entah mengapa membuatnya merasa beruntung—lebih baik. Sebelumnya yang ada di kepalanya hanyalah kawan-kawannya, para mahasiswa di kampus ternama, yang seakan dinanti masa depan cerah. Ia sendiri tidak yakin akan bernasib sama dengan kawan-kawannya itu karena ia selalu merasa dirinya berbeda dari mereka. Ia berada di jalur informal. Namun kini ia merasa hal itu bukanlah masalah. Ada begitu banyak macam orang di dunia ini. Dunia tidak hanya diisi oleh orang macam kawan-kawan bergengsinya itu saja. Dunia bukan hanya untuk mereka. Dan setiap orang memiliki tempatnya masing-masing.

Ngebolang gini pikiran awak jadi ke mana-mana, batin Monang. Di sisi lain ia merasa tentram. Mungkin ngebolang-ria kayak gini bakal lebih manfaat kalau awak enggak sendiri tapi bersama orang-orang berpengetahuan. Ia penasaran akan sejarah Palaguna hingga sampai terlantar seperti itu, muasal konsep Bandung sebagai kota taman, hingga tempat apakah sebetulnya Dalem Kaum 56 itu.

Monang tahu ada sebuah komunitas di Kota Bandung yang suka mengadakan acara jalan bersama setiap minggu. Bukan sekadar jalan bersama, namun ada juga pertukaran pengetahuan dan informasi akan tempat-tempat yang dilewati. Monang merasa harus bergabung dengan komunitas tersebut supaya acara ngebolangnya lebih berarti. Awak ingin tahu lebih banyak tentang kota awak tinggal sekarang...

Monang jadi ingat kalau tujuannya semula adalah Taman Tegallega. Tapi ia tidak tahu ke mana arah menuju taman tersebut! Setiap kali ia lihat di kejauhan ada rimbun pepohonan, ia kira mungkin saja itu taman. Namun setelah dekat, ternyata itu hanya pohon pengisi jalan biasa.

Monang akhirnya sampai ke Jalan Pungkur. Ia mencari tempat di mana ia bisa duduk sejenak dan menyelonjorkan tungkai kakinya yang lelah. Setelah dapat, ia lepas sepatu agar kakinya lega kena udara. Tak disangka, ketika mencopot sepatu sebuah lipatan uang jatuh. Apa sebab awak taruh uang di sini? Monang sama sekali tidak ingat. Ia buka lipatan uang tersebut. Lima ribu rupiah, lumayan.

Ia jadi kepikiran untuk berkunjung ke kos temannya saja, Ganian. Katanya Ganian itu singkatan dari GAnteng NIAN. Yah, orangtua boleh kasih anaknya nama apa saja. Monang berencana untuk bertemu Ganian di kampusnya, ITB. Dari sana mereka bisa bareng ke kos Ganian di Kanayakan. Begitu angkot Dago-Kalapa tampak, Monang cepat-cepat memakai sepatu kembali lalu loncat ke jalan untuk menyetop angkot tersebut.

Ke Taman Tegalleganya besok sajalah, pikir Monang. Tidak usah ada harta karun betulan pun, taman sudah memberi harta karun berharga dalam bentuk lain yang tak kasat mata. Dengan sekian banyak kendaraan beserta emisinya menjejali kota seperti ini, dari mana lagi penduduk kota bisa menghirup udara bersih?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain