Kamis, 06 Oktober 2011

Suatu Jalan-jalan Ali dan Zia (bagian 3 dari 4)

***

dari Jalan Terusan Pasir Koja ke Taman Tegallega

Zia turun lagi dari motor. “Bentar ya.” Seperti dugaan Ali, Zia menyetop sebuah angkot Elang-Gedebage hanya untuk menanyakan ke mana arah Tegallega. Setelah angkot itu berlalu, kata Zia, “Kata mangnya, angkot tadi yang ke arah sebaliknya lewat Tegallega.”

“Oke, berarti kita muter lagi ya…” Ali tidak mengerti mengapa ia masih bertahan dengan mau gadis ini. “Jadi ikutin angkot biru tadi?”

“He-eh!”

Mereka kembali menyusuri jalan yang sudah mereka lewati, namun dengan arah berbeda, cukup jauh juga ternyata. Ketika lewat Jalan Astana Anyar, angkot biru yang ia ikuti tidak berbelok ke sana melainkan lurus terus. Dekat ITC, angkot itu belok kanan. Ali baru ngeh jalan yang dimasuki kemudian adalah Jalan Otista. Rasanya ia sering ke jalan ini. Kok ia bisa sampai tidak hapal ya? Pasti karena pikirannya ke mana-mana…

Tahu-tahu angkot biru di depannya berhenti. Terdengar suara riang Zia, “Akhirnya sampai juga…” Namun Ali menjalankan motornya terus sampai ke gerbang yang kiranya bisa dimasuki kendaraan—gerbang yang mereka lewati barusan tampaknya hanya dibuka untuk pejalan kaki. Ia akhirnya menemukan gerbang dengan celah sedikit terbuka. Ketika ia hampiri, penjaga tersebut membukakan pintu gerbang agar motornya bisa masuk. Mengapa tidak semua pintu gerbang dibuka ya? Mungkin karena hari ini hari kerja jadi tidak banyak pengunjung, pikir Ali.

Untuk memasuki area Taman Tegallega ternyata tidak gratis. Untuk pejalan kaki saja dikenakan retribusi Rp 1.000,-. Ali jarang memasuki area ini. Ia terperangah melihat lahan parkir yang amat luasnya. Zia sudah turun sedari tadi sementara ia bingung hendak parkir motor di mana. Di mana wae-lah! Setelah memarkir motor, ia mendekati Zia sambil menerka-nerka berapa banyak mobil yang bisa muat di lahan berumput ini. Jenis tumbuhan yang jadi pagar antara lahan tersebut dengan area di dalamnya pun membuatnya bertanya-tanya.

“Itu salak ya?”

“Itu kelapa sawit!”

Tadi ada yang keliatannya kayak salak. Kelapa sawit… Kok berasa di Kalimantan atau Sumatra gini… Ia cukup rajin mengikuti berita tentang konversi lahan di kedua pulau tersebut. Ali mendongak untuk mengetahui apa yang sedari tadi diamati Zia.

Papan besar dengan latar berwarna kuning pudar itu memuat foto pejabat pemerintah dengan judul “KETENTUAN-KETENTUAN DAN TATA TERTIB MEMASUKI KAWASAN KONSERVASI TAMAN TEGALLEGA.” Skimming, Ali menyorot kata kunci dari setiap poin aturan. Pemungutan retribusi ternyata sesuai dengan Perda nomor 11 tahun 2008. Pengunjung wajib menjaga kawasan tersebut, dilarang kasih makan hewan, dilarang bertempat tinggal dan bermalam, dilarang berjualan—hei, ia pernah menemani mamanya jalan-jalan ke area ini menjelang Lebaran tahun lalu. Bukankah waktu itu banyak yang berjualan di sini? Mamanya waktu itu membeli banyak makanan untuk adik-adik Ali. Ali sendiri penasaran dengan yang jualan golok sebab ia ingin tahu golok khas Tasik itu rupanya seperti apa. Mamanya lalu mengajaknya masuk ke dalam area yang banyak pohonnya. Tapi baru jalan beberapa meter, Ali sudah tidak betah karena ia menemukan banyak cacing, atau mungkin lintah, menggeliat di permukaan jalan yang basah.

Ali mengusir ingatan yang kurang menyenangkannya itu. Ia lanjut membaca. Taman Tegallega ternyata sebuah kawasan konservasi. Taman ini dibuka dari jam 6 sampai 18 dan ditutup untuk umum tiap Senin kecuali untuk acara pemerintah. Ali berasumsi jangan-jangan tiap Senin adalah waktunya pemeliharaan taman.

“Aku baru tahu loh ada kawasan konservasi di tengah kota. Aku kira adanya cuman di pedalaman aja, kayak taman nasional atau cagar alam gitu,” sahut Zia.

Ali juga baru tahu. Ia kira yang hijau di area tersebut hanya kelapa sawit saja. Setelah masuk lebih dalam, ia bertemu sehamparan lahan dengan beragam jenis pohon. Bahkan ada bambu segala! Barisan kelapa sawit itu sendiri mengisi kanan-kiri jalan untuk pengunjung yang dilapisi paving block. Penutupan tajuk itu cukup rapat sehingga begitu teduh untuk berjalan di bawahnya.

Mereka melalui jalan di mana terdapat lapangan sepak bola di sini kanannya. Sepertinya lapangan itu sedang digunakan untuk latihan klub sepak bola anak-anak. Ketika berbelok ke kiri, masih di sisi kiri adalah area berpohon sedang di sisi kanan adalah lapangan dengan tiang di tengahnya. Sisi lapangan tersebut ramai oleh remaja-remaja berseragam hijau. Entah dari sekolah mana, tampaknya mereka sedang ada pelajaran Olahraga. Nun beberapa puluh meter jauhnya di depan sana ada semacam monumen yang dalam pandangan Ali terlihat seperti kobaran api.

Ali berhenti bengong ketika mendengar sorakan Zia kala bertemu kawan-kawannya. Ia merasa kenal dengan wajah salah satu di antara mereka yang berjumlah empat orang. Dua orang laki-laki dan dua orang perempuan. Yang ia merasa kenal adalah yang rambutnya keriting megar lebat sekali, matanya agak sipit, dan mulutnya tampak selalu terbuka—laki-laki. Laki-laki yang lain bertubuh lebih kecil dan bertampang lugu seperti anak dari daerah. Perempuan yang satu bertubuh agak tinggi dengan rambut lurus sampai sedikit di bawah bahu dan berkacamata. Perempuan yang satu lagi berjilbab dan tingginya hampir sama dengan Zia.

“Ali, ini Acil dari SMA kita juga loh…” Tangan Zia mengarah ke yang berambut keriting. Tampaknya anak itu memang adik kelasnya dulu saat SMA. Ali menjabat tangannya lalu yang lainnya sambil kenalan. Kata Zia lagi, “Mereka ini LASKAR RAMLI…”

Perempuan yang berkacamata tergelak. Melihat tampangnya, tampaknya ia paling tua di antara lain—paling stabil. Mungkin satu angkatan, sangka Ali. Tangan Zia mengarah juga ke perempuan tersebut disertai komentar, “Ini Candra. Udah punya cowok tapi…”

Ali melirik Zia dengan isyarat tertentu namun Zia tidak melihat. Transaksi buku antara Zia dengan Acil sudah mulai. Zia ternyata punya ketertarikan juga terhadap lingkungan hidup, pikir Ali ketika melihat judul buku di tangan Zia. Ah, Zia kan tertarik sama apa aja tapi enggak ada yang ditekunin bener-bener…

Sementara Zia mengobrol dengan Acil, Ali menegur para anggota laskar yang lain. “RAMLI itu RAMah LIngkungan bukan?” tebaknya.

“Haha, bener banget,” Candra kembali tergelak. Ketiga orang itu mulai meributkan siapa yang memberi nama.

“Eh, biasanya kalian berlima. Ke mana si Monang?” tanya Zia sembari mengunci ranselnya lagi.

“Tadi sih pergi sama pacarnya ke stasiun. Enggak tahu jadi mau nyusul apa enggak ke sini,” jawab Acil.

Kawanan tersebut tampaknya hendak bergerak lagi. “Kita ikut mereka jalan-jalan yuk,” ajak Zia. “Sayang udah bayar retribusi enggak dimanfaatin.”

“Setuju banget,” sambut Ali. Mereka berdua mengekor kawanan tersebut. Ali menangkap pembicaraan mereka.

“Heran deh ya, kawasan konservasi kok diisi sama kelapa sawit. Padahal fungsi ekologisnya kan enggak lebih baik dari pohon,” kata Candra.

“Yaa… Biar estetis aja kali,” jawab Acil.

“Emang kelapa sawit itu bukan pohon ya?” tanya Ali.

“Bukan. Kalau pohon itu mengalami pertumbuhan sekunder, tumbuhan kayak kelapa sawit enggak. Dia masuknya herba,” kata Candra.

“Pertumbuhan sekunder emang apa?” Ali tidak mengerti.

“Jadi simpelnya sih pohon itu mengalami pertumbuhan primer dan pertumbuhan sekunder. Kita bisa bilang pertumbuhan primer itu pertumbuhan meninggi sementara pertumbuhan sekunder itu pertumbuhan melebar. Diameter pohon bisa bertambah karena ada sel kambium kan…”

“Emang kelapa sawit tumbuhnya enggak melebar juga?”

“Bedaa…”

Ali ingin bertanya lebih jauh tapi perhatian Candra keburu teralih. Kali ini Tatang, laki-laki selain Acil, yang bicara, “Pohon-pohon di sini kayaknya ditanamnya bersamaan ya?”

Ali jadi mendongak ke atas. Naungan area berpohon terasa tidak lebih gelap ketimbang naungan kelapa sawit. Kata De, perempuan yang berjilbab, “Penutupan tajuknya belum terlalu rapat.”

“Aku penasaran taman ini dulunya apa sebelum jadi kayak gini,” kata Zia pada Ali yang sebetulnya sedang serius menyimak pembicaraan Laskar Ramli.

“Tapi tumbuhan bawahnya cuman rumput ini aja yah. Rapi juga, kayak rajin dipangkas.”

“Cuman sersah sama sampahnya aja ini berceceran.”

“Padahal tempat sampah kayaknya banyak loh.”

Ali jadi ingat. Tadi di muka jalan masuk ia melihat dua buah tempat sampah yang terisi cukup penuh. Di samping tempat sampah tersebut ada tiang biru bertulisan “DILARANG MEMBUANG, MEMBAKAR SAMPAH/KOTORAN DI BADAN JALAN, JALUR HIJAU, TAMAN, DAN TEMPAT UMUM.” Peraturan ini merupakan bagian dari Perda nomor 11 tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Ketertiban, Kebersihan, dan Keindahan. Tertanda: Dinas Pemakaman dan Pertamanan Kota Bandung. Tepat di belakang peraturan tersebut, Ali melihat ada tumpukan sampah.

“Ah, itu hanya sekadar tong. Sebenarnya yang dimaksud tempat sampah adalah seluruh taman ini, hahahah…” seloroh Acil.

Canda menggelengkan kepala sambil berdecak-decak. “Miris…”

Beberapa meter jauhnya di depan, Ali melihat ada sehamparan lahan dengan balok-balok bersemen pada jarak tertentu. Semula ia mengira kalau itu adalah nisan—kuburan. Mungkin Taman Tegallega ini sebetulnya Taman Makam Pahlawan juga—kan sama-sama taman, seperti yang ada di Cikutra. Namun ternyata itu bukan. Mereka mendekati salah satu balok. Salah satu permukaannya dilapis ubin hitam dengan tulisan yang menandakan nama lokal dan nama latin jenis pohon yang ada di sampingnya. Juga siapa yang menanam yang sepertinya perwakilan dari negara-negara dunia—ada dari PBB juga. Semua pohon yang ada di area ini dilabeli seperti itu dan tanggalnya sama. Sepertinya pada waktu itu ada penanaman pohon serentak dalam rangka konferensi tingkat dunia. Peringatan KAA yang besar-besaran itu tahun kapan ya? Ali mengingat-ingat.

Bagus juga ada yang seperti ini, untuk edukasi, pikirnya. Ia jadi tahu pohon mahoni, bintaro, dan khaya itu seperti apa—beserta nama latin masing-masing. Selain itu, jika memang pohon-pohon ini ditanam pada waktu yang sama, setiap jenis pohon berarti memiliki kemampuan tumbuh yang berbeda-beda. Ada pohon yang sudah tinggi sekali, tapi masih ada yang cukup rendah.

“Yang ditanam ini jenis fast growing semua bukan sih?” celetuk De.

Fast growing itu artinya cepet tumbuh. Biasanya pohon yang digunain buat penghijauan itu dari jenis yang cepet tumbuh,” terang Candra pada Zia. Rupanya mereka larut dalam obrolan sejak tadi. Ali ikut menyimak. “Tapi biasanya jenis fast growing itu ya fast growong juga—gampang bolong-bolong soalnya kualitas kayunya enggak sebagus yang tumbuhnya lama.”

“Tahu enggak apa yang aku pikir harusnya ditulis di sini?” Zia berjongkok di salah satu balok semen. “RIP. Rest in Peace. Beristirahat dalam damai di sini akar pohon mahoni, Swietenia macrophylla.

Pohon-pohon ini memang tampak damai sekali berdiri di sini, Ali mengedarkan pandang ke sekelilingnya. Menciptakan kedamaian juga baginya.

Lepas dari area tersebut, ia melihat ada sebuah bangunan tingkat dua yang bentuknya tampak berbentuk prisma. “Itu apa ya?” tanya Ali, berharap Zia menjawab, tapi malah De. Ternyata itu toilet. Banyak juga ternyata WC umum di sini, tadi di dekat jalan masuk juga ada, bersih enggak ya? Dan di muka toilet itu ada seorang ibu-ibu yang tampaknya bukan sekadar menjaga toilet, ada rak berisi makanan dan minuman juga di sana. Sudah jelas itu untuk dijual.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain