![]() |
| Gambar dari Goodreads. |
Rentang 2000-2009 yang ternyata masa bergairahnya gerakan perbukuan di Bandung rupanya berarti personal bagi saya. Dalam rentang tersebut terjadi perkembangan diri saya dari pra-ABG menjadi dewasa muda, yang sebagian besar di antaranya dihabiskan di Bandung. Pada masa tersebut teringat oleh saya betapa Mama mendukung hobi membaca saya dengan membawakan kliping-kliping cerpen dari perpustakaan sekolah tempatnya mengajar, mengajak saya ke pameran dan toko buku--baik Gramedia maupun Palasari--dan membiarkan saya membeli sebanyak-banyaknya buku yang saya mau, bahkan ketika SMA saya rutin diberikan sejumlah uang khusus untuk jajan buku. Pada masa itu pula saya menyadari gairah saya terhadap kepenulisan: saya mulai rajin menulis catatan harian, saya bergabung dengan Klub Jurnalistik Pelajar di Pusdai, saya menulis cerita serial dan novel bersama teman-teman sekelas saya, saya membeli banyak novel serta buku tentang kepenulisan untuk meluaskan wawasan saya.
Maka, mengetahui bahwa pada saat yang bersamaan dengan kegairahan saya terhadap dunia literasi, ternyata di dunia luar juga terjadi gerakan dengan semangat yang sama namun dalam skala jauh lebih luas, merupakan hal menakjubkan. Seolah-olah aktivitas kecil saya sebenarnya sekadar resonansi dari suatu gerakan yang tidak saja semarak pada masa itu, tetapi juga merentang hingga jauh ke belakang sebab sejak masa kolonial Bandung tempat saya lahir dan dibesarkan telah menjadi kota buku. Malah lewat buku ini saya baru mengetahui bahwa gedung Landmark yang biasa dijadikan tempat pameran buku itu dulunya memang toko buku G. C. T. Van Dorp & Co., seolah-olah ikon gedung tersebut sebagai gudangnya buku hendak dipertahankan meskipun sekarang hanya sekitar dua kali setahun. Tidak mengherankan, memang dari Bandung banyak lahir penulis kreatif seperti Dewi Lestari, Pidi Baiq, Adhitya Mulya, Icha Rahmanti, dan seterusnya.
Sebenarnya, pada masa itu bukannya saya tidak mengetahui adanya ruang-ruang tersebut di luar sana. Sedikit informasi tentang Tobucil, Rumah Buku, dan semacamnya sesekali saya temukan di suplemen Belia Pikiran Rakyat. Namun tidak terbayangkan untuk bergabung dengan dunia yang luas itu. Saya hanyalah pelajar SMP/SMA yang kuper, sementara gerakan tersebut agaknya diramaikan oleh orang-orang yang seusia saya kini (akhir dua puluhan-awal tiga puluhan). Ada gap lumayan jauh, dan, biasalah, namanya juga remaja tanggung, banyak segan.
Buku ini seperti kumpulan arsip lawas yang setelah bertahun-tahun dibiarkan berdebu baru kemudian disunting untuk diterbitkan. Sebagian wawancara bertanda dilakukan pada tahun 2007-2008, atau sekitar itu. Sebagiannya lagi tidak bertanda tahun berapa pun. Mengetahui bahwa Kang Deni ternyata pernah menjadi kontributor Matabaca pada rentang waktu tersebut, mungkinkah sebagian isi buku ini sebenarnya merupakan kumpulan artikel beliau yang pernah dimuat di majalah itu?
Buku ini tetap berarti sebagai suatu catatan sejarah, jika hendak bernostalgia atau menghidupkan kembali Bandung pada masa itu, khususnya dalam gairah literasinya, khususnya lagi dalam aktivitas membaca buku. Toh aktivitas literasi bukan hanya membaca buku. Dalam kronik di beberapa lembar terakhir buku ini memang disebutkan juga adanya workshop-workshop kepenulisan. Namun artikel-artikel yang lebih panjang yang mendahului kronik dalam buku ini hanya tentang tokoh-tokoh perbukuan, toko-toko buku alternatif, serta klub-klub buku, dan tidak sampai mencakup tentang kepenulisan atau sepertinya akan terlalu luas. Seandainya saja ada seri lain dari buku ini tetapi khusus tentang geliat klub-klub dan kursus-kursus kepenulisan di Bandung, dan mungkin tokoh-tokoh penulisnya juga, dari masa itu--dari Bandung Kota Buku menjadi Bandung Kota Penulis, hehe.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar