Rabu, 27 November 2019

Jalan Kaki Sampai Mati

Gambar dari Goodreads
**spoiler alert ** Ini buku Stephen King kedua yang saya temukan di aplikasi iPusnas. Karena baru terbit pada 2018 di Indonesia, saya sempat mengira ini salah satu karya teranyar Stephen King. Dari ringkasan ceritanya maupun komentar mereka yang sudah baca, kok rada-rada mirip
The Hunger Games atau Battle Royale, ya: ada suatu kompetisi yang semua pesertanya bakal mati kecuali si pemenang. Bukan jenis cerita yang saya suka. Sepertinya cerita ini enggak bakal seseru Mr. Mercedes, dan saya enggak bakal menyukainya. I gave it a try, anyway. Tanggung. Toh setelah buku ini, sampai baru-baru ini, saya belum melihat ada buku Stephen King lainnya di iPusnas.

Berbagai prasangka saya itu pun kemudian meleset.

Setelah beberapa lama membaca, saya baru mengecek tentang buku ini di Wikipedia. Ternyata, buku ini justru karya King yang pertama-tama, ditulis sebelum novel pertama dia yang terbit dan menjadi best-seller, Carrie, namun baru dipublikasikan pada 1979--jauh sebelum ada The Hunger Games dan Battle Royale--dengan nama samaran Richard Bachman.

Bedanya dengan The Hunger Games dan Battle Royale, di sini para peserta tidak diberi alat yang berbeda-beda agar saling membunuh. Malah mereka dapat mengembangkan persahabatan, yang ironisnya justru bikin perlombaan ini semakin pedih.

Pembacaan terasa mengilukan, sekaligus membosankan, sebab adegannya jalan melulu sampai ceritanya tamat, mengingatkan pada The Lord of the Ring atau The Hobbit. Saya sempat tergoda akan bocorannya di Wikipedia, seperti ketika tidak lama setelah mulai membaca It, tapi tidak jadi; saya ingin mengetahui sendiri kelanjutan cerita ini sampai akhir. Maka saya pun terus membaca diiringi rasa waspada atau antisipasi akan kengerian apa pun khas King yang mesti terjadi. Betapapun membosankan sekaligus mengilukannya cerita ini, toh saya malah memperpanjang jam baca yang baiknya cukup satu jam sehari.

Mendekati setengah buku, saya menyadari bahwa saya tidak merasakan kesan lebay atau mengada-ada seperti yang saya dapatkan dari novel-novel King lainnya yang sudah saya baca. Pastinya terpendam penasaran akan motivasi peserta maupun tujuan diadakannya Adu Jalan Jauh ini, tapi entah kenapa jalannya cerita terasa wajar saja. Rupanya itu pula yang dirasakan orang-orang dalam dunia rekaan ini. Memang ada orang-orang yang memprotes Adu Jalan Jauh, tapi pada umumnya yang lain menganggapnya sebagai peristiwa wajar. Biarpun pada akhirnya semua peserta bakal mati, adapun si pemenang akan gila atau tidak akan bertahan hidup lama. Biarpun Adu Jalan Jauh ini sama seperti cara untuk bunuh diri perlahan-lahan. Tapi peserta tidak mesti memiliki motivasi tertentu untuk berpartisipasi. Ikut, ya, ikut saja, asalkan lulus tes, tanpa pikir panjang, toh acara ini diadakan tiap tahun. Masyarakat gegap gempita meramaikannya. Bahkan selipan-selipan soal seks pun kemudian saya terima sebagai kewajaran, bukan fan service belaka, sebab dalam keadaan seperti itu sekiranya orang memang perlu "menyegarkan diri".

Saya pun mulai menduga-duga makna yang mendalam dari cerita ini. Mengetahui bahwa buku ini mulai ditulis saat King baru menjadi mahasiswa, mungkinkah merefleksikan pandangan angst khas muda-mudi akan kehidupan panjang yang menjelang dia pada waktu itu? Mungkinkah King hendak menyindir Perang Vietnam yang sedang terjadi pada masanya, ketika banyak pemuda dikirim ke medan pertempuran untuk mati begitu saja? Mungkinkah cerita ini merupakan alegori kehidupan: kita mesti terus berjalan sampai mati walaupun itu menjemukan lagi menyakitkan dan orang-orang di sekitar kita satu per satu pada bertumbangan? Bukankah senyatanya di dunia ini pun orang-orang pada terus bikin anak, menganggapnya sebagai peristiwa yang wajar saja, walaupun tahu kehidupan bagi keturunannya itu bakal sulit dan mereka belum tentu dapat membesarkannya dengan baik?

Jero pisan!

Di samping itu, beberapa fakta dalam distopia ini tidaklah melenceng jauh dari dunia senyatanya. Lewat dialog para tokoh, kita diingatkan pada fakta-fakta sejarah seperti gladiator atau pemancungan kepala yang menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat pada suatu masa dan tempat, seolah-olah tidak ada hiburan lain; seolah-olah kegembiraan mereka bergantung pada penderitaan sekelompok orang--bahkan seseorang, seperti dalam cerpen Ursula K. Le Guin, "The Ones Who Walk Away from Omelas" (terjemahan Indonesia). Bagian tentang mantan pacar McVries yang menjahit kancing seharian dan bagaimana pekerja pabrik dibayar menurut kecepatan fisik mereka pun kurang lebih seperti yang dialami oleh teman saya sendiri.

Sepertinya sudah selayaknya Stephen King mendapatkan lima bintang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain