![]() |
| Gambar dari Goodreads |
Buku yang ini dapat saya peroleh dari aplikasi iPusnas. Di dalamnya ada tujuh cerita:
"Rashomon"
"Di Dalam Belukar"
"Kappa"
"Bubur Ubi"
"Benang Laba-laba"
"Si Putih"
"Hidung"
Semua cerita menyerupai dongeng karena latar waktunya yang sangat lawas, kadang-kadang surealis, bahkan ada yang tokoh utamanya seekor hewan. Setiap cerita juga terasa jelas bermuatan suatu pesan moral, yang menggelitik pembaca agar memikirkannya lebih jauh. Secara keseluruhan, saya menikmati seluruh isi buku ini, terutama cerita-cerita yang baru pertama kali saya baca. Gayanya terasa seperti beberapa novel Jepang yang pernah saya baca seperti karya Murakami Haruki dan Soseki Natsume: tenang, jernih, sederhana, namun menghanyutkan sekaligus menyentuh perasaan. Secara keseluruhan, ini bacaan yang mudah; bahkan saya dapat menamatkannya dalam kurang lebih 2,5 jam saja.
Tiga cerita pertama dalam buku ini sudah saya ketahui, yaitu "Rashomon", "Di Dalam Belukar", dan "Kappa".
Kebetulan belum lama ini saya baru menelusuri tentang "Rashomon" dan "Di Dalam Belukar", tapi sebelum tahu tentang buku ini. Pada awalnya, saya lagi mencari cerpen-cerpen koran Indonesia yang kejepang-jepangan, menemukan cerpen Bagus Dwi Hananto, "Seekor Kucing dalam Rashomon", lalu ingat bahwa film dengan judul hampir sama--Rashomon--termasuk yang dibahas dalam buku Rahasia Sukses Skenario Film-film Box Office --panduan saya dalam belajar merangkai cerita. Buku itu menerangkan bahwa film tersebut berdasarkan dua cerpen karya Akutagawa Ryunosuke, sekalian memberikan rangkumannya. Dari situ saya melakukan sedikit penelusuran, menonton sedikit film Rashomon yang tersedia di YouTube, dan membahasnya sedikit dengan bang Ichi Kudo. Sepertinya karena sudah ada pendahuluan ini, maka ketika saya membaca sumber aslinya--paling tidak dalam edisi Indonesia ini--geregetnya telah berkurang.
Lain dengan "Kappa". Walaupun saya mengaku telah membacanya, karena hampir semuanya saya tidak ingat, maka pembacaan kali ini terasa seperti yang pertama saja; seakan-akan setiap adegan baru kali itu saya temui. Cuma, ketika sampai pada bagian ketika jabang bayi kappa memilih untuk tidak dilahirkan, kesan saya sudah berubah. Kali ini saya menganggap betapa absurdnya bagian itu, sebab, bagaimana kita bisa tahu betapa buruknya dunia ini bila belum menjalaninya? Bagaimanakah kappa dalam kandungan bisa mengetahui keburukan dunia ini sejak sebelum dilahirkan? Itu enggak dijelaskan. Ditambah lagi, buat apa susah payah mengandung anak yang pada akhirnya tidak mau dilahirkan? Bukankah mengandung itu pengalaman berat? Mending tidak usah dikandung sekalian sejak awal, alias digugurkan saja begitu ada tanda-tanda kehadirannya.
Secara keseluruhan, cerita ini merupakan satire yang depresif. Semestinya saya senang dengan yang begini. Tapi, entah apakah ternyata saya punya batasan dalam mengonsumsinya, dan batasan itu telah terpenuhi sehingga saya enggak bisa terkesan oleh lebih banyak cerita seperti ini. Pengalaman ini persis seperti ketika saya menonton film Joker.
Cerita-cerita selanjutnya benar-benar baru bagi saya, dan karena itu sangat mengombang-ambingkan perasaan; saya tidak tahu apa yang bakal saya dapatkan.
"Bubur Ubi" adalah cerita yang sangat menyedihkan, menyurutkan semangat, sebab membangkitkan lagi kekhawatiran-kekhawatiran saya yang sedang tersingkir. Cerita ini mengingatkan saya pada cerpen Fernando Sorrentino, "My Friend Luke" (terjemahan Indonesia). Keduanya sama-sama mengangkat sosok orang biasa yang pikarunyaeun. Tapi, sementara si penulis Argentina masih "berbelas kasih" pada tokohnya dengan memberi dia kekuatan untuk membalas dengan caranya sendiri, si penulis Jepang agaknya hampir-hampir tiada ampun meski pada akhirnya si tokoh terselamatkan juga oleh suatu hal. Cuma, sayang, setelah alur yang demikian mengulek perasaan itu, cerita ini diakhiri dengan satu paragraf yang bikin, "eh, gimana, gimana?" Saya sampai membacanya lebih dari sekali, dan hanya bisa berharap agar si tokoh bernasib baik untuk seterusnya.
"Benang Laba-laba" sepertinya rada-rada absurdis. Maksudnya, pesan yang saya tangkap seolah-olah: satu amal baik saja tidak akan berarti apabila pada dasarnya jiwamu dikuasai oleh lebih banyak sifat jahat. Malah mungkin pesan utamanya: jangan mau menang sendiri, berbagilah bersama banyak orang lain sekalipun berarti penderitaan. Jangan-jangan ini semacam satire juga.
Dari beberapa ulasan berbahasa Indonesia di Goodreads tentang buku ini, sepertinya "Si Putih" menjadi favorit. Saya juga menyukainya, bahkan hampir dibikin menangis. Memang kadang-kadang saya jengkel pada binatang piaraan, tapi kadang juga enggak tega kalau mereka dikasari apalagi disiksa. Pesan moralnya jelas bagus, kurang lebih tentang penebusan dosa: betapa satu kesalahan yang mungkin tampak sepele (toh tidak disebutkan kesalahan-kesalahan lainnya) harus ditebus dengan berbagai aksi heroik yang mengancam nyawa, bahkan berkali-kali upaya bunuh diri yang tidak berhasil (yang mengingatkan saya pada Samsulbahri dalam Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai ). Untunglah cerita ini berakhir membahagiakan, dibandingkan dengan semua cerita lain dalam buku ini yang akhirannya cenderung enggak jelas, menggantung, atau ya-sudahlah. Mungkin itu sebabnya cerita ini menjadi favorit orang-orang.
Cerita terakhir, "Hidung", kurang lebih seperti "Bubur Ubi", yaitu tentang keinginan yang lama dipendam, setelah tercapai, ternyata enggak memberikan kepuasan atau malah menimbulkan masalah baru. Hanya saja, cerita ini tidak mengharukan seperti "Bubur Ubi", malah mengenaskan dengan adegan merebus hidung dan menginjak-injaknya itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar