Sabtu, 16 November 2019

Mengasah Inovasi dan Kreativitas dengan Tanah Liat Bersama Kandura Studio dari Dispora Kota Bandung

Pada Selasa dan Rabu, 12-13 November 2019, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Bandung kembali mengadakan acara untuk pemuda. Persyaratannya sama seperti pada acara sebelumnya, yaitu warga Kota Bandung yang berusia 16-30 tahun, dengan menyerahkan fotokopi KTP, dua lembar pasfoto 3 x 4 cm, serta mengisi formulir dan tanpa dipungut biaya. Informasinya bisa dilihat di Instagram Dispora, @dispora_bdg.

Kali ini acara diadakan di Nara Park, Ciumbuleuit, berupa pelatihan membuat dan mengecat prakarya dari tanah liat dengan tajuk "Craft for the Creatives", bekerja sama dengan Kandura Studio. Di samping alat dan bahan untuk workshop, peserta juga diberikan kaus, snack untuk pagi dan sore, makan siang nan unik, lezat, lagi mengenyangkan, serta segalon-kaca air putih--dengan atau tanpa es--yang sedia menemani sepanjang hari.


Pemandangan di Nara Park sangat Instagram-able.

Tapi sebelumnya, agak ke atas Nara Park, nikmatilah suasana taman 
sembari mengudap cilor keju dan memandangi anak-anak berseragam olahraga SD,
atau mengintip ke sela-sela pagar rumah gedung di seberangnya,
yang di halamannya ada rusa dan burung unta. (#serius)

Seperti pada acara sebelumnya, acara didahului dengan pembukaan dari pejabat Dispora dan lalu motivasi. Yang saya perhatikan, walaupun disampaikan oleh pembicara yang sama, motivasi kali ini agak terperinci. Kalau pada kesempatan sebelumnya, ada kesan bahwa motivasinya murni motivasi. Kali ini, paling tidak, di samping ada dasar-dasar pelajaran Ekonomi, juga disebutkan banyak aspek yang perlu dipertimbangkan dalam memulai berwirausaha. Tapi, sepertinya pembahasan tentang barang yang akan diproduksi, kuantitasnya, prospek keuntungannya, tren pasar, hingga situasi ekonomi dunia, membutuhkan porsi waktu tersendiri yang lebih panjang--malah mungkin selengkapnya bisa menjadi satu silabus perkuliahan tersendiri untuk 3-4 tahun. (Nani?!)

Apa dong, Pak? Apa?
Sebenarnya ini bisa jadi perdebatan menarik yang tak berujung pangkal. Tapi rumit. Sudahlah, kita langsung ke bagian yang asyik saja, yaitu bermain-main dengan tanah liat. Seperti kata iklan: Berani kotor itu baik.

Makan siang hari pertama.
Tapi sebelumnya ada presentasi perkenalan dari fasilitator acara, yaitu Kandura Studio. Usaha ini didirikan pada 2005 oleh beberapa alumnus Seni Keramik ITB. Pada awalnya studio berlokasi di Cigadung, Bandung, tapi sekarang sudah pindah ke Jakarta. Ketertarikan mereka bermula pada eksplorasi bentuk perangkat makan, yang bukan hanya soal fungsi melainkan juga ada narasi di balik setiap produk. Di samping itu, mereka berkontribusi dalam proyek-proyek revitalisasi keramik dinding bangunan kuno, mengerjakan pesanan khusus untuk kafe-kafe, dan telah mengikuti banyak pameran baik di dalam maupun luar negeri.

Beberapa produk Kandura Studio
Dalam sesi tanya jawab, mereka menjelaskan tentang manajemen kelompok dan pembagian tanggung jawab. Dalam usaha bersama seperti Kandura Studio, mesti ada pemegang saham terbesar yang notabene berperan sebagai pengambil keputusan.

Sesi praktik pun dimulai. Kandura Studio dibantu oleh beberapa mahasiswa FSRD ITB mempersiapkan alat dan bahan bagi peserta. Satu meja diisi oleh dua sampai tiga orang. Meja dilapisi dengan plastik hitam supaya tidak kotor; meski kalaupun kotor, tidak akan begitu sulit membersihkannya. Tiap peserta juga diberikan celemek, serta plastik berisi tanah liat berbobot satu kilogram, satu spons yang telah dipotong kecil, selembar lap, dan semangkuk plastik kecil berisi air bersih untuk satu meja. Tentunya tanah liat mesti berasal dari sumber yang bagus, dengar-dengar sih dari Sukabumi.

Bahan yang pertama-tama diberikan
Karena tidak ada peserta yang mengakui pengalaman sebelumnya dengan tanah liat, maka, untuk pemula, kami diajarkan cara membuat mangkuk dengan teknik pinching. Konon cara ini yang digunakan manusia purba dalam membuat perangkat makan mereka. Mula-mula, sebongkah tanah liat itu dibagi dua. Lalu sebagiannya dibagi dua lagi. Bagian yang seperempat itu kemudian digumpal-gumpalkan membentuk bola, sambil ditepuk-tepuk supaya tidak ada udara yang terperangkap. Setelah jadi bola, letakkan sebilah jempol pada permukaannya lalu tekan-tekan mengelilinginya dengan kekuatan merata.

Retakan-retakan akan muncul ketika kita membentuk tanah liat. Retakan itu tidak boleh ada karena akan menyebabkan tanah liat pecah saat dibakar. Untuk menutupinya, caranya dengan dibasahi sambil diusap-usap sampai mulus.

Sebenarnya, ini bukan pengalaman pertama saya dengan tanah liat. Tapi, pengalaman-pengalaman yang sebelumnya tidak begitu berarti. Pengalaman pertama adalah sewaktu di SD, kami diberikan tanah liat yang entah lalu saya apakan. Pengalaman berikutnya yaitu ketika SMA, dalam pelajaran Seni Rupa, kami sekelas diajak ke suatu studio di seberang Taman Pramuka. Sementara teman-teman saya pada membuat entah apa yang dihias dengan warna-warni cerah dan mungkin kembang-kembang, saya hanya ingat membuat kubur batu yang saya cat hitam. (Bahkan pada waktu remaja saya sudah menerawang sejauh itu.)

Dalam pengalaman kali ini, saya merasa menikmati memegang-megang tanah liat. Tangan saya entah kenapa bergerak cepat dan bersemangat membentuk cekungan yang kemudian saya anggap mangkuk kecil.

Setelah itu, kami dipersilakan untuk mengolah lagi bagian yang seperdua. Saya kira bagian ini mesti dibuat menjadi semacam mangkuk lagi, walau hasilnya, yang saya bikin, cenderung ceper menyerupai piring.

Adapun tanah yang seperempat lagi disisakan untuk membuat dekorasi. Apabila kita membuat hiasan-hiasan kecil untuk dilekatkan pada karya, caranya adalah dengan membasahi permukaan yang akan ditempeli. Jadi air dapat berfungsi sebagai lem. Ada juga teknik lainnya dengan menggunakan ujung kuku.

Kuku yang kepanjangan tentu mengganggu saat mengolah tanah liat. Untung penyelenggara sudah mengantisipasinya dengan menyediakan gunting kuku.

Aa-aa keren di samping saya.
Para peserta yang lain ternyata pada jauh lebih kreatif. Ada yang membuat tatakan berbentuk daun, HP Nokia tahun '90-an (atau kira-kira seperti itu), bahkan aa-aa di sebelah saya membuat kepala manusia yang mengundang kekaguman terutama dari bapak-bapak Dispora.

Lalu kami dipersilakan untuk mewarnai hasil karya. Di meja paling depan telah berjejer wadah-wadah berisi cat engobe aneka warna. Cat ini katanya juga berasal dari tanah liat dan diberi warna dengan menambahkan mineral-mineral tertentu yang ada hitung-hitungannya, buset. Tiap peserta boleh mengambil dua warna dengan gelas plastik. Saya minta warna hijau dan hitam, yang saya bagi dengan orang di sebelah saya supaya saya bisa dapat warna merah dan kuning yang dia ambil.

Peserta juga diminta untuk menuliskan inisial nama mereka pada hasil karya.

Acara hari itu berlangsung sampai hampir pukul lima sore. Hasil karya yang telah diberi warna dibiarkan saja di atas meja. Di samping masih basah, juga untuk diangin-anginkan.

Ketika mik didekatkan ke mulut saya, saya bilang
ini tempat makan untuk kucing dan ini tempat makan untuk orang.
Snack sore hari pertama.
Pada hari kedua, sembari menunggu laptop disiapkan, beberapa peserta maju untuk menceritakan tentang usaha yang telah mereka buat. Ada yang suka melukis totebag. Ada yang membuat camilan khas Korea untuk kalangan menengah atas. Ada juga yang punya jasa hipnoterapi.

Setelahnya, Kandura kembali melakukan presentasi, kali ini tentang inspirasi desain. Mereka menunjukkan sumber-sumber inspirasi untuk beberapa produk mereka, di antaranya foto-foto perjalanan ke suatu gurun di Cile. Ada warna, tekstur, dan berbagal hal lain yang kemudian terlebih dahulu dituangkan menjadi sketsa, sebelum diwujudkan ke dalam bentuk keramik.

Makan siang hari kedua.

Usai santap siang, menyepi ke sisi, 
membaca buku afirmasi atau sekadar menikmati suasana,
sambil berangan-angan punya halaman belakang seperti ini 
lengkap dengan rusa dan burung unta.

Selanjutnya, tiap-tiap peserta diberikan sebuah gelas polos yang disebut "biskuit" karena kemiripannya. Gelas ini merupakan produk tanah liat yang sudah dibakar dalam suhu 900 derajat Celcius, siap untuk dihias, sebelum diberi glasir dan dibakar lagi. Sebenarnya ada banyak lagi sains di balik permukaan dunia kekeramikan ini, tapi biarlah itu menjadi konsumsi mahasiswa Kriya Keramik saja.

Semua hasil karya peserta pada hari pertama
dikumpulkan di dua meja yang disatukan.
Untuk ganti suasana, meja-meja sempat dikeluarkan ke halaman belakang Nara Park yang luas dan asri. Tiap meja dikelilingi oleh beberapa peserta yang mengelompok dengan sendirinya. Tiap meja mendapat gelas-gelas plastik berisi cat englobe aneka warna, banyak kuas, beberapa lap, berbatang-batang tusuk gigi, serta semangkuk plastik kecil berisi air bersih berikut spons untuk masing-masing peserta. Spons yang telah dibasahi berfungsi untuk membersihkan permukaan gelas sebelum dihias, karena tidak boleh ada debu atau kotoran yang dapat mengganggu pewarnaan. Spons juga dapat digunakan untuk membubuhkan cat dengan berbagai teknik, sekaligus menghapusnya. Adapun tusuk gigi dipakai apabila ingin membuat torehan pada gelas sesuai dengan selera.

Tak lupa, seperti pada hari sebelumnya, peserta diminta menuliskan inisial namanya di bagian bawah gelas.

Baru mulai asyik-asyiknya mengecat di halaman, tahu-tahu turun tetes-tetes dari angkasa. Meja-meja, kursi-kursi, peralatan berikut pesertanya pun dikembalikan ke dalam ruangan. Tapi rupanya itu hanya tipu daya langit.

Untuk beberapa lama, langit kembali cerah. Sebagian besar yang sudah telanjur duduk pun menetap di dalam ruangan, sedangkan saya kembali ke halaman pada kelompok saya yang telat pindah sampai lalu hujan deras benar-benar turun.

Berbagi dalam satu meja.
Ternyata, banyak juga yang berbakat melukis keramik, yang sayang saya tidak termasuk di antaranya. Setelah sesi foto bersama dengan mengangkat hasil karya masing-masing, gelas-gelas itu dikumpulkan di meja depan. Sementara penutupan oleh pejabat Dispora, beberapa peserta dipanggil ke depan secara acak-tidak-acak untuk memberikan testimoni dan sebagainya. Sempat juga yang hasil karyanya unik diminta untuk menjelaskan tentang gambar mereka (untungnya bukan saya). Tentunya mereka berharap acara semacam ini akan diadakan lagi barang sebulan sekali.

Foto bersama.
Hasil akhir coretan saya. Bagian dalam menggambarkan keadaan jiwa yang psychedelic,
bagian luar berupa padang rumput yang bergoyang menenteramkan pada hari cerah. Eaaa!

Proses akhir prakarya tanah liat ini memerlukan peralatan tertentu, katakanlah glasir dan tungku pembakaran, sehingga makan waktu yang lebih lama dan tempat khusus. Para peserta baru dapat melihat hasil akhir karya mereka pada 28-29 November 2019 nanti di kantor Dispora. Mereka boleh membawa pulang karya mereka, dan sepertinya mesti ada barang satu-dua yang disisakan sebagai kenang-kenangan untuk Dispora. Mudah-mudahan "kepala" si aa selamat dari tangan para pengagum yang berencana menjualnya ke T*k*p*d**.

Terima kasih, Dispora! Semoga anak muda Kota Bandung semakin inovatif dan kreatif!

Pembaruan, 3 Desember 2019

Sejak sehari sebelumnya, hasil prakarya sudah dapat diambil di kantor Dispora Kota Bandung di Jalan Tamansari. Tapi saya baru mengambilnya pada tanggal ini. Beginilah hasil prakarya saya setelah dipanggang dan entah diapakan lagi:

Biar wajah berminyak, senyum tetap terulas!
Perabot makan: mangkuk kecil, gelas, dan piring,
yang tidak siap digunakan, huhuhu.
Sedihnya, ada pernak-pernik yang hilang. Bisa dilihat, di sekeliling piring saya menambahkan hiasan berupa bola-bola kecil (soalnya enggak ada ide lagi sih!). Sekarang, ada dua bola yang menghilang. Saya juga menambahkan hiasan pada mangkuk kecil, yang pura-puranya dua helai kumis masing-masing di kanan dan di kiri. Setelah diproses, yang tinggal hanya satu "kumis"; itu juga copot. Hiasan lain yang pura-puranya kuping kucing juga copot yang sebelah kiri, sehingga saya sambung lagi di rumah dengan menggunakan lem UHU. Tapi toh ini masih mending, sebab saya lihat hasil punya yang lain-lain ada yang retak parah malah mungkin ada juga yang hancur.

Tidak terpikir juga oleh saya untuk bawa koran bekas sebagai pembungkus keramik--pengaman agar tidak kenapa-kenapa selama di perjalanan. Jadi saya masukkan saja semua ke kantong kain, lalu ke dalam ransel, secara berhati-hati. Untunglah, sesampai di rumah, barang-barang itu masih utuh.

Terlepas dari semua itu, secara keseluruhan, hasil prakarya ini memang tampak lebih menarik. Permukaannya jadi mengilap, bisalah dibilang sebagai keramik. Biar begitu, ketika saya raba, ternyata teksturnya tidak seluruhnya halus--ada juga yang kasar; saya jadi ragu untuk menggunakannya sehari-hari, hahaha, biarlah menjadi pajangan saja dalam lemari kaca!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain