Senin, 22 Oktober 2012

Minta tolong kok sama batu?


Sebuah batu besar tahu-tahu muncul di sawah milik Karto. Warga desa penasaran. Kepala desa dan paranormal menaruh sesaji di puncak batu, esoknya turun hujan. Seorang kakek buta menebar kembang di sana, esoknya bisa melihat. Sejak itu warga desa mengikuti jejak mereka. Keajaiban demi keajaiban terjadi. Karto menangkap peluang bisnis. Ia membuat kotak amal, banyak warga menyumbang agar semakin mendapat berkah. Karto menjadi kaya.

Kepala desa juga ingin dapat untung. Ia mengklaim sawah Karto sebagai tanah milik desa. Karto marah. Tak satupun warga mau menolong. Minta pada batu pun tak diberi.

Mendadak kepala desa muntah darah lalu mati. Warga menuduh Karto dendam pada kepala desa. Segala miliknya diporak-porandakan.

Haji Darno kemudian mengambil alih pengelolaan batu ajaib. Ia bangun tembok tinggi di sekitar batu, lengkap dengan keramik, kantin, lapangan parkir, tarif masuk, dan sebagainya. Pada hari pembukaan batu ajaib lenyap begitu saja. Haji Darno jatuh dan tak pernah bangun lagi.

Cerita diakhiri dengan paragraf ini:

Beberapa hari kemudian, sebuah batu ajaib muncul di desa lain. Kali ini dengan ukuran yang jauh lebih kecil. Saking kecilnya, batu itu bisa dicelupkan ke dalam gelas oleh penemunya. Warga pun kembali ramai berdatangan dan mengharapkan keajaiban bisa terjadi sekali saja dalam hidup mereka.

***

sumber gambar:
http://elzulaikha.multiply.com/journal/item/22

Saya biasanya kurang menikmati cerpen koran, tapi cerpen satu ini betulan menarik. Ialah cerpen berjudul “Batu”, yang dikarang oleh EkaMaryono, dan dimuat di Republika edisi 10 Juli 2011. Saya mendapati satir, dan ketawa-ketawa sendiri di akhir. “Ponari Sweat” gitu loh, siapa yang sudah lupa? Cerpen ini seolah meledek kegoblokan masyarakat yang masih percaya takhayul. Juga karakter-karakter licik macam Karto, kepala desa, dan Haji Darno yang mau ambil untung sendiri—semua diganjar kematian.<


sekadar ngerjain latihan dari sini

2 komentar:

  1. Waa, blog kamu bagus! Seneng mbacain 'pembacaan'-nya, hehehe. *langganan*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Kang Andika. Saya juga seneng ngubek2 blog Kang Andika, nambah wawasan banget terutama soal buku sama film, pingin bisa ngulas kayak gitu juga :D Nuhun udah sudi mampir...

      Hapus

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain