Kamis, 25 April 2019

The Vanished: The "Evaporated People" of Japan in Stories and Photographs

Gambar dari Goodreads.
Pada suatu waktu dalam hidupnya, sebagian orang mungkin ingin menghilang. Setidaknya begitulah pengakuan yang saya dengar dari beberapa teman dekat saya. Saya pun pernah merasa begitu. Demikian juga fotografer buku ini yang urun kata dalam prolog dan epilog.


Fenomena ini mungkin sebenarnya enggak unik hanya di Jepang. Indonesia sendiri punya lagu "Bang Toyib" yang menyinggung isu ini. Belum lagi orang-orang yang hilang pada masa Orde Baru. Di belahan dunia lain, pemerintahan diktator juga menghilangkan banyak orang. (Kok jadi melebar sih.)

Paling tidak, buku ini membuyarkan generalisasi orang Jepang bunuh diri ketika sudah mandek dalam hidup. Rupanya sebagian orang masih menghargai kehidupan, sehingga mereka lebih memilih untuk kabur dan memulai kehidupan baru di tempat baru dengan nama baru--betapapun rendahannya.

Buku ini juga menunjukkan putaran nasib yang dapat berjungkir balik secara drastis. Sebagian orang yang diceritakan menghilang dalam buku ini asalnya punya pekerjaan bagus, kemungkinan masa depan yang cerah, atau kehidupan tenteram--malah cenderung membosankan. Tetapi, kemudian, karena melakukan suatu kesalahan, atau ada faktor eksternal, terjadi titik balik yang membukakan kehidupan baru bagi mereka--semacam trigger.

Agaknya "evaporated people" (johatsu) fenomena sosial yang sejalan dengan hikkikomori--sama-sama orang yang tersingkir dari masyarakat. Hanya saja hikkikomori menghilang di kamar di rumah orang tuanya, semacam versi kekanak-kanakkan dari yang satunya.

Buku ini kutamatkan dalam beberapa jam saja. Mungkin karena ini merupakan buku terjemahan dari bahasa Perancis, sehingga bahasa Inggrisnya cukup mudah dan topiknya memang menarik bagi yang sedang merasa berat dengan kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain