Rabu, 24 April 2019

Hancurkan Ego Diri

Gambar dari Goodreads.
Ego diri yang dimaksud buku ini khususnya berupa penyakit ujub atau berbangga diri, seolah-olah segala pencapaian yang diraihnya merupakan hasil usaha sendiri. Banyak orang berpikir demikian, padahal dalam kerangka Islam, semua kebaikan terjadi berkat pertolongan dan rahmat Allah. 

Agaknya ujub merupakan perasaan yang halus sekali, kerap kali tebersit secara sadar atau tidak. Apalagi di dunia yang didominasi oleh pandangan sekuler ini, yang sering kali meniadakan peran Tuhan dalam segala sesuatu, sepertinya orang mudah sekali untuk tergelincir ke dalam perasaan ujub.

Dalam dunia kerja yang kompetitif, misalnya. Bukankah sejak melamar kerja orang mesti menonjolkan malah membuat-buat segala kelebihan dirinya sehingga berbeda dari sekian ribu pelamar lain? Padahal "kelebihan hanyalah sejenis fitnah dan ujian" (halaman 153). Belum lagi sekarang ini bermunculan banyak pemimpin muda, atau forum-forum/pelatihan-pelatihan yang ingin mencetak pemimpin muda. Padahal, menurut seseorang bernama Syafi'i di halaman 223, "Apabila anak muda tampil sebagai pemimpin, maka akan terlewatkan banyak ilmu".

Belum lagi dalam dunia media sosial yang apa-apa pakai filter ....

Bisa dibilang buku ini cukup memusingkan.

Biar begitu, tentu saja buku ini sarat gagasan menarik. Misalnya saja:

- pentingnya membersihkan jiwa sebelum menimba ilmu/memulai usaha (halaman 26)
- berbuat dosa dan salah itu sesungguhnya perlu dalam kehidupan manusia untuk menghindarkannya dari sifat ujub (halaman 27, 67)
- surat Al-Fatihah yang dibaca pada setiap rakaat salat itu jika dimaknai sungguh-sungguh merupakan pernyataan antiujub dan antiriya (halaman 48)
- ketika usaha kita tidak kunjung mendapat hasil yang tidak dikehendaki, boleh juga itu hikmah agar kita terhindar dari ujub (halaman 75)
- maka kemalangan merupakan bagian dari pendidikan Rabbani yang harus disyukuri sebab menghindarkan kita dari ujub, meskipun, di halaman lain, disebutkan bahwa kesialan-kesialan terjadi karena terputusnya bantuan Allah yang disebabkan oleh diri sendiri (halaman 95, 97)

Di satu sisi kita disuruh beramal saleh sebanyak-banyaknya, di sisi lain kita enggak bisa mengharapkan rahmat Allah semata-mata dari amal kita--seolah-olah Allah memotivasi manusia untuk beramal menurut logikanya, tetapi toh kekuasaan-Nya berjalan di luar akal manusia (halaman 107).

Lalu bagaimanakah harga dari usaha manusia ketika usaha itu terjadi semata-mata karena pertolongan dan rahmat Allah? At least, we try. Katanya, Allah ingin melihat usaha maksimal manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain