Kamis, 28 Februari 2019

Petunjuk Mendetail tentang Cara Membuat Manga yang Cocok bagi Pemula yang Sama Sekali Tidak Berbakat namun Berkemauan Kuat

(Lagu untuk mengiringi pembacaan ini:)





Suatu ketika pada 2003 di sebuah SMP di Kodya Bandung …



Ketika kembali duduk di bangkunya, Fazaha memerhatikan di kolong ada buku lumayan besar dengan sampul berwarna. Fazaha menarik keluar buku dalam plastik bersegel itu.

sumber gambar

How to Draw and Create Manga

Fazaha tercengang.

Ia membuka segel. Rupanya ada dua buku: volume satu dan volume dua. Ketika membalik sampul buku volume pertama, Fazaha menemukan secarik kertas bertulisan:

JAHE-CHAN
BAIKAN YUK
^_^

Fazaha gondok. Ia menoleh ke seberang kelas 1A. Alfian melambaikan tangannya dengan girang. Fazaha mendesah. Ia kembali pada buku itu. Namun guru keburu datang. Cepat-cepat ia menutup dan mendorong buku itu ke kolong.



Alfian seakan-akan sudah tahu Fazaha akan menghampirinya sepulang sekolah.

“Ini apa?” Fazaha masih belum mau tersenyum. Ia menyorongkan plastik berisi dua volume buku itu.

“Buku.

“Iya, tahu, ini buku!” sahut Fazaha. “Maksudnya apa?”

“Buat kamu.”

“Beneran?”

Alfian mengangguk-angguk.

Fazaha mengeluarkan buku volume pertama. Ia membuka sampul belakangnya lalu memperlihatkan halaman terakhir. Sebuah tanda tangan dengan pulpen memenuhi hampir seluruh halaman itu. Di bawahnya ada nama: Risky.

“Ini punya orang?”

“Oh!” Alfian terkejut, seakan-akan baru mengetahui adanya tanda tangan itu. “Iya, memang asalnya itu punya Kak Iki. Tapi katanya boleh buat kamu.”

“Heh?”

“Sekarang kita baikan, kan, Jahe-chan?”

“Entar dulu! Kenapa aku dikasihnya buku bekas?”

“Tapi kan masih bagus? Itu Kak Iki belinya masih baru lo!”

Benar kata Alfian. Kondisi buku itu memang seperti yang belum pernah disentuh, walaupun tidak terbungkus ketat seperti di toko.

Namun Fazaha tidak secepat itu percaya. “Bener, dikasih buat aku?”

“Beneran! Kata Kak Iki boleh!”

“Jangan-jangan kamu ngambil enggak bilang-bilang!”

“Eeeh, enak aja!”

Fazaha bimbang. Ia baru sekilas melihat-lihat isi buku itu. Kelihatannya isinya keren dan sesuai dengan yang ia perlukan. Ia ingin membaca buku itu betul-betul dengan leluasa. Tetapi, bisakah Alfian dipercaya? Mengingat ulah cowok itu sebelumnya ….



Ketika itu, Fazaha keluar dari ruang mading sekolah sambil menahan tangis. Ia lalu terduduk di balik bangunan sekolah yang sepi. Di tempat itu kadang-kadang ia melewati jam istirahat berdua dengan Alfian sambil makan jajanan. Ketika Fazaha sedang mengusap air mata, Alfian muncul.

“Jahe-chan! Kamu kenapa? Kamu habis dijahatin orang?!”

Sambil menahan isak, Fazaha bercerita, “Komik aku dibilang jelek.” Lalu tangisnya keluar lagi.

“Siapa?!”

“Ya, enggak tahu!" Gulungan-gulungan kertas itu masuk ke kotak saran mading tanpa diberi nama. "Terus, yang ngomen bukan cuma dia aja ….” Fazaha menangkupkan kepalanya ke pangkuan. “Aku enggak bisa bikin komik ….”

“Jahe-chan, kamu jangan patah semangat. Komik kamu baru pertama kali dimuat di mading, kan?”

Tangis Fazaha bertambah kencang. Walaupun komiknya baru sekali itu tampil di mading sekolah, gambarnya telah berkali-kali terbit di Bobo serta memenangkan lomba. Tetapi, rupanya, menggambar komik sama sekali berbeda dari gambar anak-anak yang biasa dibuatnya. Ketika menggambar komiknya yang akhirnya dicela orang itu, tidak terhitung berapa kali Fazaha menghapus dan menggambar ulang. Selain itu, ia harus mencari cerita yang menarik. Karena tenggat waktu, memang kemarin ia asal saja mencomot dari cerpen di majalah remaja milik kakaknya.

Pokoknya bikin komik itu rumit sekali!

“Jahe-chan, jangan menyerah. Nanti kalau bikin komik lagi, lihatin ke aku dulu aja.”

Fazaha tahu Alfian suka membaca komik. Mungkin Alfian memang bisa membantu Fazaha untuk membuat komik yang lebih baik.

Beberapa minggu kemudian, Fazaha selesai membuat komik baru. Kali ini jumlah halamannya lebih banyak. Ia menyerahkan komik itu kepada Alfian.

“Aku bawa pulang, ya.”

Fazaha mengangguk.

Besoknya Fazaha menanyakan komiknya kepada Alfian. Alfian bilang ia belum selesai memperbaiki komik Fazaha.

“Apanya yang perlu dibenerin?”

“Ada deh! Pokoknya nanti komik kamu jadi lebih menarik.”

Fazaha mengerutkan kening.

Hari demi hari Fazaha lalui tanpa absen menanyakan komiknya kepada Alfian. Alasan lainnya, “Entar tunggu kakak aku pulang. Aku mau lihatin komik kamu ke Kak Iki. Kak Iki baru pulang Sabtu.”

Fazaha menunggu.

Ketika hari yang dinantikan tiba, Fazaha menangis lagi melihat komiknya. Alfian ternyata telah mengacak-acak komiknya! Setiap muncul karakter perempuan dalam komik itu, Alfian menghapus bagian dada dan paha ke bawah, kemudian menggambarnya ulang. Dadanya menjadi lebih besar. Rok atau celana ditinggikan sehingga pahanya menjadi terbuka.

Komik itu sampai ringsek karena digulung Fazaha kemudian dipakai untuk menggebuki Alfian sekuat-kuatnya.

Fazaha tidak mau berbicara kepada Alfian lagi.

Sampai Alfian memasukkan kedua volume buku itu ke kolong bangkunya.



Fazaha sangat menginginkan buku itu. Kalau ia beli sendiri, sepertinya harganya cukup mahal.

“Ya udah, aku pinjam dulu, ya.”

“Kan memang buat kamu.”

“Ih, aku enggak percaya sama kamu!”

“Eh!? Tapi kita udah baikan, kan? JAHE-CHAAAN!”

Fazaha berlari secepat-cepatnya dari Alfian.



Begitu sampai di rumah, di kamarnya, Fazaha langsung mengeluarkan buku dari plastik. Kedua buku itu masing-masing tebalnya hanya delapan puluhan halaman dan terdiri dari empat bab.

Dua bab awal dalam volume pertama mengajarkan cara menggambar kepala dan wajah serta tubuh dan gerakan. Rupanya untuk membuat bagian-bagian tubuh itu diperlukan sketsa lebih dahulu. Kalau begitu, Fazaha membayangkan, nantinya tetap saja akan banyak menghapus juga. Tetapi, cara ini mestilah akan membuat gambarnya menjadi lebih rapi.

Buku itu mendetail sekali dengan menunjukkan cara menggambar kepala dan wajah dari berbagai sudut: depan, samping, ¾ depan, ¾ belakang, ¾ atas, ¾ depan atas, ¾ depan bawah, termasuk tentang pergerakan mulut dan perbedaan bentuk mata dari sudut yang berlainan itu. Belum lagi cara menggambar tiap-tiap objek wajah: mata, hidung, bibir dan mulut, rambut, sampai ke perubahannya agar menghasilkan beragam ekspresi.

Terungkap pula rahasia menggambar tubuh yang ternyata dengan lebih dahulu membuat kerangka seperti layangan kemudian bentuk-bentuk seperti tabung, kubus, bola, dan sebagainya. Sebelum mencoba membuat komik, Fazaha lebih terpaku kepada kepala dan wajah saja sebab itulah yang paling menarik. Ia terkesan dengan mata ala komik-komik serial cantik Jepang yang besar berbinar-binar, juga senang bermain-main dengan gaya rambut. Tetapi, ketika membuat komik, ternyata ia kesulitan meneruskan dari bagian kepala itu ke bawah. Sudah rapi-rapi di bagian atas, eh, tubuhnya tidak sesuai.

Apalagi ketika ia ingin menggambar gerakan tangan. Kalau di gambar anak-anak yang biasa dibuatnya, dengan mudah ia menggambar lekukan-lekukan jari yang kadang jumlahnya hanya empat pada satu tangan. Tetapi, dalam komik gaya Jepang ini, tangan mesti digambar dengan mendetail. Ia ingin membuat jari-jari yang lentik seperti yang betulan, tetapi betapa susahnya! Ternyata, menggambar telapak tangan, juga kaki, memerlukan sketsa lebih dahulu juga.

Ada perbedaan dalam menggambar tiap-tiap bagian tubuh cowok dan cewek, yang disesuaikan lagi dengan usia karakternya. Buku itu juga menujukkan cara menggambar karakter chibi serta pakaian yang ternyata bergantung kepada jenis kain, pergerakan badan, bahkan pengaruh angin!

Kemudian ada yang dinamakan inking atau meninta dan tracing atau menjiplak. Dalam membuat komik kemarin, Fazaha hanya mengandalkan kertas, pensil, penghapus, dan penggaris. Rupanya bagi komikus profesional, ada peralatan lain yang harus dimiliki. Mulai dari kertas, pena, sampai tinta, ada banyak macam dengan kegunaan masing-masing. Tidak hanya itu, ada juga peralatan besar seperti meja tracing, mesin fotokopi, bahkan komputer!

Menyusun cerita pun ternyata tidak sembarangan. Ada tema, gaya cerita, dan plot yang mesti ditentukan. Menyusun panel ada triknya tersendiri. Ada berbagai cara membuat latar belakang serta bentuk balon kata dengan efek yang berbeda-beda pula. Membuat komik sebaiknya direncanakan dulu di kertas lain!

Fazaha menutup volume pertama dengan kewalahan.

Setelah diam sejenak, ia menguatkan diri untuk membuka volume kedua. 

sumber gambar

Sepintas, isi bab kesatu volume kedua sepertinya tidak begitu berbeda dengan yang ada di volume pertama. Baru Fazaha menyadari bahwa gaya dalam komik Jepang itu berbeda-beda. Ada yang simpel, ada yang realistis dengan lebih banyak detail, dan lain-lainnya. Padahal sebelum ini ia memandang komik Jepang dalam satu gaya saja, ya … gaya Jepang.

Kemudian ada latar belakang! Sebelumnya Fazaha hanya berfokus pada manusia. Rupanya apa yang ada di belakang tokoh juga harus diperhatikan! Buku itu memberi petunjuk menggambar objek-objek alam seperti batu, pohon, rumput dan tanah, sampai bangunan dengan menggunakan perspektif. Kebetulan Fazaha sudah mendapatkan sedikit materi menggambar perspektif dalam pelajaran Seni.

Ada cara yang lebih gampang untuk membuat latar belakang daripada dengan menggambar perspektif, yaitu dengan menjiplak foto atau gambar di majalah. Tetapi, cara itu memakan banyak modal. Malah, kalau mau lebih canggih lagi, komputer dan scanner diperlukan. Menghasilkan gambar menggunakan komputer sama sekali tidak terbayang oleh Fazaha sebelumnya.

Penggunaan komputer dibahas lebih lanjut di bab ketiga. Buku itu bilang, penggunaan komputer tidaklah harus. Malah, keahlian menggambar lebih terasah jika semuanya dikerjakan dengan tangan. Tetapi, penggunaan komputer dapat menyingkat waktu dan menyediakan efek-efek yang berbeda. Kalau menggunakan komputer dan scanner, Fazaha mesti mempelajari software-software, misalnya Adobe Photoshop.

Fazaha membuka bab terakhir dalam buku itu, lalu tersadar. Tidak saja harus menguasai aneka cara menggambar baik dengan tangan maupun komputer, ia juga mesti pintar mengkhayal untuk membuat kisah yang mengasyikkan. Ketika menggambar, tentu saja Fazaha sambil mengkhayal yang kemudian ia tuangkan di kertas dengan pensil, spidol, atau krayon dan sebagainya. Tetapi khayalannya tidak bergerak ke mana-mana, tidak menjadi cerita!

Buku ini juga menjelaskan cara-cara untuk membuat kisah yang menghibur. Cerita harus unik, masuk akal, rapi, jelas, tidak membingungkan, menampilkan tokoh-tokoh yang persis dengan orang-orang di kehidupan nyata, mengandung banyak kejutan, hingga membikin pembaca penasaran dan geregetan.

Sebelum diwujudkan menjadi komik, cerita sebaiknya dituliskan lebih dahulu untuk menjelaskan isi tiap-tiap panel. Peletakkan panel-panel tersebut dalam satu halaman mestilah memudahkan orang untuk membacanya. Mangaka harus pintar memainkan sudut pandang dalam tiap-tiap panel karena suasana yang ditampilkan juga akan berbeda-beda.

Fazaha menutup buku dengan puyeng.

Tuh, kan, bikin komik itu memang rumit! Tetapi, setidaknya buku ini telah memecah kerumitan itu menjadi penjelasan-penjelasan yang terperinci. Orang yang tidak berbakat sekalipun bisa saja membuat komik asalkan mau mengikuti petunjuk buku ini dengan sungguh-sungguh dan bertekad keras.

Tiap halaman dari kedua volume buku ini membutuhkan latihan tersendiri. Entah berapa lama waktu yang mesti dihabiskan sampai Fazaha dapat menguasai setiap keterampilan yang diperlukan untuk membuat komik yang baik. Fazaha tidak bisa sekadar meminjam buku ini. Ia harus memilikinya.

Kalau beli sendiri, harganya berapa, ya?

Mama mau membelikan tidak, ya?

Kalau pakai uang saku sendiri, Fazaha khawatir tidak bisa jajan untuk beberapa lama.

Tetapi, bukankah Alfian bilang buku ini memang untuk dia?

Fazaha merasa masih belum bisa memercayai anak itu. Ia tidak mau diberikan barang curian.

Terlintas gagasan di benaknya.

Ah, tidak, tidak, itu pasti memalukan!

Tetapi ….



Keesokan harinya di kelas, Fazaha menghampiri Alfian.

“Aku mau ketemu sama kakak kamu.”

“Eh, kenapa?”

“Pengin mastiin bukunya memang buat aku.”

Alfian manyun seraya semakin menyipitkan matanya. “Kamu masih enggak percaya sama aku.”

“Gimana?” kejar Fazaha.

Alfian mengembuskan napas. “Ya udah ….”

“Ya udah apa!?”

“Ya entar aku bilang sama kakak aku.”

“Bener, ya!?”

“… iya ….”

“Aku enggak mau percaya sama kamu sampai kamu bener-bener ngebuktiin …” Fazaha mengguncang-guncang kerah seragam Alfian.

“... iyaaa …”



Sulit memulai pembacaan buku ini tanpa ikut mencorat-coret sketsa -_1



... bersambung ke NaNoWrimo 2019, kalau Allah menghendaki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain