LAINNYA

Sabtu, 09 Januari 2010

minggu pertama menjalani kehidupan melas

salah satu isi resolusi saya untuk tahun 2010 ini adalah anggaran pengeluaran hanya 100.000 per minggu. pengeluaran untuk segalanya. termasuk nabung. salah satu isi resolusi saya pula untuk meningkatkan anggaran tabungan. yang itu artinya mengurangi jatah makan saya. inilah masalah.

latar belakang saya mengeluarkan resolusi ini adalah karena saya menyadari pengeluaran saya kemarin-kemarin banyak sekali. dalam seminggu saya bisa beberapa kali narik duit atm. sekali narik 50-100.000. tahu deh berapa ratus ribu bisa saya habiskan dalam seminggu meskipun saya merasa tidak royal-royal amat. maksudnya, saya mengambil segitu insya Allah memang untuk dibelikan hal-hal yang cukup penting dalam menyokong kehidupan saya. makanan, cemilan, perabotan, semacam itulah. lagi, saya kan jarang main apalagi hura-hura. jadinya pengeluaran saya cuma untuk itu-itu saja, bahkan beli pakaian pun tidak pernah. namun demikian, saya masih merasa itu berlebih.

saya merasakan suatu ketidakenakan hati pada bapak saya, tidak usah dijelaskan karena bisa panjang ceritanya. meskipun dia belum pernah protes atau mengultimatum agar saya membatasi pengeluaran, namun saya tahu jauh di bandung sana keluarga saya pun tengah berhemat. terakhir kali bertemu dengan adik-adik saya, saya bisa merasakan bahwa mereka pun tidak bisa lebih 'royal' dari saya, seenak hati membelanjakan duit untuk beli cemilan dengan alasan lagi stres misalnya. saya tahu mereka pada rajin menabung juga untuk bisa membeli sendiri apa yang mereka suka karena mereka tidak bisa selalu minta pada orangtua. di amerika sana konon anak umur 18 tahun sudah tinggal pisah dari orangtua dan menyokong kebutuhan finansialnya secara mandiri. sementara itu di sini, di indonesia, umur 18 tahun saya sudah berhasil tinggal pisah dari orangtua, tapi untuk menyokong kebutuhan finansial secara mandiri? kapan bisa ya?

bukti lain dari berlebihannya saya dalam mengambil duit adalah gelambir di dagu saya. ini menyebalkan. saya merasa kos atau tidak, tidak ada bedanya. saya tetap gendut. dan entah kenapa saya tidak suka itu. mungkin saya korban stereotip pasar. hindarkan kegendutan, enyahkan kulit hitam. maka dari itu, dengan pembatasan pengeluaran yang pastinya berdampak juga pada pembatasan makan (karena anggarannya sedikit!) saya berharap gelambir di dagu ini bisa lenyap. kalau untuk mencerahkan kembali warna kulit sih kayaknya saya harus mendekam dulu berbulan-bulan di rumah. sayangnya saya belum punya waktu untuk itu.

maka dari itu, saya harap pembatasan pengeluaran ini, selain agar bisa menguruskan diri, juga supaya saya lebih terdorong untuk mencari penghasilan sendiri guna menyokong kebutuhan saya.

minggu pertama di tahun 2010, saya telah mencoba dan melewatinya.

beginilah yang saya alami.

pada tanggal 1 saya ambil duit lalu belanja keperluan, tapi tidak sampai 50.000. 2000 rupiah saya belikan untuk setandan pisang rebus. sisanya saya hamburkan di warnet karena saya mau buat blog, selain itu juga karna sambil menemani teman. hari itu saya masih merasa kaya raya.

sabtu. saya tidak sarapan tapi saya makan siang. saya makan di warung yang tidak biasanya kemudian saya bayar kalau tidak salah 6000 rupiah. malamnya, kalau tidak salah lagi, saya mengganjal perut dengan biskuit oreo coklat stroberi yang saya beli kemarinnya.

saya membagi uang yang tersisa sebagai jatah pengeluaran per hari. hasilnya adalah 5 tumpukan uang receh. masing-masing tumpukan nominalnya tidak sampai 3000 rupiah. dan inilah jatah makan saya per hari. masya Allah. saya masih punya jatah 30.000 untuk minggu itu yang belum saya ambil dari atm. kalau anggaran untuk tabungan 28.000, berarti saya masih punya 2000 lagi untuk dibagi-bagi menambahi kelima tumpukan ini. kalau saya hitung-hitung, dalam sehari saya bisa makan burjo satu mangkuk dan 1 buah potong. waw. selamat datang kehidupan melas.

minggu. saya mengganjal perut di pagi hari dengan menghabiskan sisa biskuit oreo coklat stroberi kemarin malam. keberuntungan datang. siangnya saya ke undangan pernikahan mantan mbak kos dan di sana saya makan hampir semua menu yang ada. saya berharap saya bisa tahan tidak makan sampai besok pagi. jatah hidup hari itu pun bisa saya alokasikan untuk menambah jatah hidup hari esok.

senin. saya tahan tidak sarapan hingga waktu makan siang tiba. siang itu sepulang ujian, saya masak mi goreng jumbo (persediaan) kemudian saya memakannya dengan belut kering dan kerupuk (persediaan juga, dibelikan bude sudah dari tahun kemarin). cukup kenyang. tapi sorenya saya merasa lemas dan butuh makan. saya takutnya jika saya bertahan untuk tidak makan, saya malah jadi malas makan beneran untuk seterusnya dan itu akan berbahaya bagi kelangsungan hidup saya. akhirnya saya beli nasi meong dua bungkus di angkringan, masing-masing seharga 900 rupiah. malamnya saya nyicip sedikit-sedikit mi rebus teman saya yang datang menginap.

selasa. pagi hari saya makan di warung yang tidak biasanya lagi dengan nasi + sarden + tumis kacang panjang + pisang goreng. padahal sebetulnya saya ingin makan di warung langganan dengan makanan ini dan itu yang sudah saya rencanakan sebelumnya sehingga harganya nanti sesuai dengan anggaran. ternyata saya datang kepagian. warungnya sudah buka tapi makanannya yang belum ada. akhirnya saya pergi ke warung lain di mana jenis-jenis makanan yang tersaji saya tidak bisa perkirakan harganya. untung saja saya bersama teman saat itu. dia akhirnya nombokin 2000, setelah sebelumnya membayar semua yang saya makan. habis itu dia membagi cemilannya dengan saya pula. teman yang baik. malamnya, saya kelaparan sementara saya terjaga sampai tengah malam karena tidak ingin melewatkan menit-menit pergantian umur, selain bahwa saya harus ngelarin tugas yang harus dikumpul esoknya. saya mengompensasi kelaparan itu dengan mengemut ber-sachet-sachet persediaan susu kental manis coklat. lumayan berkalori meski lapar tetap terasa dan saya berharap esok pagi cepat datang sehingga saya bisa beli makan.

rabu. hari ini adalah hari ulang tahun saya. saya sarapan dengan nasi kuning + bala-bala dengan harga 2000 rupiah. siangnya saya sudah lapar lagi. mengingat sisa uang receh yang ada di dompet, saya hanya bisa beli burjo. saya menahan lapar sesiangan itu sambil ngenet. nantilah beli burjonya agak sorean supaya malamnya tidak lapar-lapar amat. di facebook saya tak kuasa tidak mencantumkan di status saya suatu ironi. hari ini adalah hari ulang tahun saya. banyak teman yang minta traktir dan saya cuma bisa senyum-senyum salah tingkah. hari ini saya merasa bersinar. istimewa. tapi kenapa saya justru kelaparan? begitulah kira-kira isi status terbaru saya saat itu. maka sore pun datang. dengan penuh pengharapan saya menyambangi warung burjo langganan. ibu-ibu pemilik warung bilang kalau kacang ijonya belum jadi, cuma ada ketan hitam doang. ah, saya jadi tidak berhasrat. maka mundurlah saya dan malah beli gado-gado di warung tenda pinggir jalan. 4500. tak apalah. ada duit jatah minggu depan. ya, seharusnya saya baru narik duit atm lagi kalau tidak kamis ya jumat. namun karena saya harus ngeprint dan ngejilid tugas (total 14.000) sementara uang yang tersisa hanya 'cukup' untuk makan, mau tak mau saya narik deh. 100.000. maka sore itu sesampainya di kos langsung saya habiskan si gado-gado. alhamdulillah, cukup kenyang. subhanallah. sekitar jam 5-an, datang sms dari mbak desi, teman saya yang novelis. isi smsnya menyatakan bahwa dia tahu saya kelaparan (pasti karena baca status facebook saya) dan dia hendak mengajak saya nanti malam makan mi ayam barwo. dia yang bayar. saya langsung shock. ya ampun. apa ini?? betapa pedulinya dia sama saya... yang jelas saya langsung tidak enak hati. saya butuh waktu beberapa lama untuk mengsmskan jawaban yang baik, yaitu saya mengiyakan ajakannya tapi saya akan bayar sendiri. dengan cepat mbak desi membalas kalau saya tidak boleh begitu. dia tetap akan membayari. walah. padahal perut sudah cukup kenyang, tapi tak enak juga menolak rezeki kan? maka ya apa boleh buat. malam itu saya kenyang untuk yang kedua kalinya. sungguh ironi lagi. tradisinya yang ulang tahun membayari, ini malah dibayari. sesampainya di kamar kos kembali, belum berapa lama saya duduk, mbak acid, salah seorang tetangga kos saya, membuka pintu kamar saya dan bertanya apakah saya sudah makan apa belum. dia bilang dia tadi baca status saya di facebook kalau saya kelaparan. oh, tidak! saya langsung bilang saya sudah makan tadi dibayari teman. setelahnya saya merasa terenyuh akan kepedulian mbak-mbak ini terhadap saya. ah, rasanya tidak cukup rasa terima kasih, biar pun saya tidak mengumbarnya. malam itu saya menyadari, betapa facebook dapat menyambung hidup seseorang. terima kasih juga, facebook! :') mungkin suatu saat kalau benar-benar kepepet saya akan pasang status 'kelaparan' lagi.

mengenai kebutuhan minum, kebetulan persedian air di galon juga makin lama makin menipis hingga akhirnya saya habiskan juga hari ini. karena malas masak air keran, akhirnya saya memanfaatkan air minum gratis di kampus. senin, saya bawa 4 botol plastik ukuran 600 ml untuk diisi penuh. estimasi saya, kebutuhan minum saya sehari ya segitu. selasa saya lakukan lagi. saya melakukannya sambil berharap semoga tidak ada orang yang melihat saat saya sedang mengisi penuh botol (dan ternyata tidak hanya satu) dan atau tahu kalau saya melakukan ini karena saya sedang menjalani kehidupan melas yang memprihatinkan. dan lama-lama saya bukannya merasa senang juga karena dapat memanfaatkan fasilitas umum untuk kepentingan pribadi. jujur, saya juga menyadari bahwa lama-lama tindakan ini tidak bisa dibenarkan! puncaknya adalah rabu, pada hari di mana saya merasa bersinar sekaligus hina dina. saya merasa tidak tahu diri. lebih parah lagi, tidak punya harga diri. saya tidak ingin mengulanginya lagi. mending masak air keran sendiri dah. boleh sih memanfaatkan air minum gratis di kampus, tapi secukupnya saja karena memang sedang haus pada saat itu, bukannya untuk memenuhi kebutuhan pribadi sehari-hari. merampok itu namanya. seperti peminta-minta saja, tidak mau usaha sendiri. maka keesokkan harinya saya tidak melakukannya lagi.

kamis. hari terakhir dari minggu ini, akhirnya. saya sarapan 4000 rupiah. 1000 rupiahnya untuk pisang--saya tidak melupakan buah dong. saya menghabiskan jatah minggu itu. sisanya saya masukkan ke kenclengan yang beredar di forum fiksi flp jogja. karna saya lemas dan lapar, akhirnya saya sisihkan 2000 yang kiranya merupakan jatah minggu depan untuk membeli seporsi burjo campur. mbak acid masih sempat tanya lagi apakah saya sudah makan apa belum. kebetulan saya sudah makan burjo jadi saya bisa jawab kalau saya sudah makan dan hilanglah kesempatan untuk merendahkan diri.

maka pada hari terakhir dari minggu pertama kehidupan melas ini, saya coba berefleksi.

hari ini, selain lemas, mood saya juga sedang tidak baik. entah gara-gara kurang makan dari biasanya itu atau memang karena mood saya yang benar-benar sedang tidak baik. saya bertanya-tanya, apakah orang yang sedang diet ketat (yang benar-benar gendut dan berat badannya harus turun) merasakan stres ini? kelaparan di kala malam, hasrat makan yang tak tersampaikan, pikiran melayang-layang... namun poin paling penting yang saya rasakan adalah, saya kira saya mulai bisa meresapi penderitaan kaum papa.

mereka yang dalam seminggu belum tentu penghasilannya sampai 100.000 padahal yang harus mereka hidupi bukan diri mereka sendiri saja (sedangkan saya, 100.000 itu baru buat diri saya sendiri);

anak-anak kecil kurang gizi yang terkena busung lapar itu, mereka sampai begitu, apakah karena mereka makan lebih sedikit daripada apa yang saya makan beberapa hari ini yang saya anggap sudah sedikit (ya setidaknya kurang dari biasanya?)?;

mereka yang sampai harus memunguti beras kotor, nasi sisa, untuk diolah dan mereka makan lagi... apa mereka tidak sanggup membeli yang baru? sebegitu melaskah hidup mereka?

di tengah deraan rasa yang tak menentu, karena rasa lemas, lapar, dan mood jelek, saya hanya bisa memangku dagu di atas kasur dan termangu. meresapi rasa lapar ini. yakin bahwa saya tidak sendiri.

kalau sudah begini, maka timbul semangat lagi dalam diri saya untuk meneruskan bertahan dengan anggaran makan minim. kemarin, saya melihat seorang bapak sedang mengikat tumpukan kardus, sementara beberapa tumpukan koran dan tumpukan kardus lainnya ada juga mengelilinginya. saya menerka, apakah bapak tersebut hidup dari menjual tumpukan kardus dan koran tersebut? apakah hasil penjualannya cukup untuk meredam rasa laparnya sehari-hari? juga untuk meredam rasa lapar para anggota keluarganya? di tengah kelesuan karena merasa hina dina dengan kehidupan sok prihatin ini, percik semangat kembali menjalar....

saya teringat salah satu dosen saya, di tengah suatu perkuliahan, pernah bilang kalau cara makan yang baik dan menyehatkan adalah dengan makan secara 'sadar'. terkadang kita tidak sadar kalau kita sedang makan. kita makan sambil mengobrol, buru-buru, saking ganasnya sampai lupa ngunyah, atau apa, sehingga tidak benar-benar menikmati apa yang kita makan. nah, cara makan secara 'sadar' itu ya dengan mengunyah sampai eneg alias 32 kali, sampai makanan benar-benar halus kayak makanan bayi dan lebih mudah dicerna. akibat dari mengunyah lama itu juga kita jadi cepat kenyang dan tidak makan berlebihan. setelah kuliah tersebut, yang padahal tentang satwa liar, saya makan sambil menghitung kunyahan sebanyak 32 kali baru ditelan. namun kebiasaan saya makan sambil buru-buru tidak bisa hilang. tidak jarang pula hitungan saya meloncat dari 11 langsung ke 32. usaha mengunyah sampai 32 kali ini pun tidak bertahan lama. tapi sekarang rasanya saya harus menerapkannya lagi. maksudnya, saya harus benar-benar 'sadar' kalau saya sedang makan karena saya belum tentu dapat makan seperti itu lagi pada hari itu juga. mungkin baru bisa besok pagi atau besoknya lagi. mungkin dengan meresapi kenikmatan makan nasi yang frekuensinya bisa jadi hanya sehari sekali itu saya bisa lebih mensyukuri hidup dan berbahagia karenanya.

dan lebih terdorong untuk peduli sama orang yang hidupnya susah dan berkekurangan. apa yang telah saya jalani ini barulah menumbuhkan sepersekian persen empati sosial dalam diri saya. masih butuh waktu yang tidak sebentar agar empati yang tumbuh cukup untuk menjadikan saya seorang filantropis. menggerakkan saya agar benar-benar berbuat dan tidak sekedar merasa.

maka kamis petang, saya keluarkan sisa jatah uang untuk minggu depan dan saya bagi-bagi untuk anggaran hidup 7 hari ke depan. saya juga masih harus menganggarkan untuk beli pulsa karena masa aktif pulsa saya akan berakhir. dan tampaknya saya tetap harus masak air keran untuk minum karena harga galon bisa untuk anggaran makan 2 hari. tak lupa uang untuk tabungan saya sisihkan lebih dulu. setelah uang dibagi-bagi, secara dari kemarin sudah ada jatah minggu depan yang terpakai, ternyata dalam sehari jatah hidup saya tidak sampai 5000 rupiah. sekiranya saya masih ada jatah 10.000 lagi yang belum terambil, tapi memang ada atm yang menyediakan pecahan 10.000-an? setahu saya di ugm yang tersedia minimal cuma pecahan 20.000, itu pun letaknya cuma di bank mandiri jakal.dan 10.000 itu, kalaupun dibagi untuk 7 hari maka per hari paling tidak cuma menambah tidak sampai 1500 rupiah. tapi lumayanlah, bisa buat beli nasi meong. 1 atau 2, kalau bisa nemu angkringan yang murah.

jadi malam itu saya cuma bisa mengelus perut saya yang terancam terserang perih pada bagian dalamnya. dan setelahnya saya akan menyesap susu kental manis saja sambil berharap esok pagi cepat datang dan saya bisa makan nasi beserta lauk pauknya lagi.

o, day, yakin mau meneruskan kehidupan melas?

kenapa tidak? balita busung lapar saja bisa!

(:p) 07-080110-12.35am

Tidak ada komentar:

Posting Komentar