LAINNYA

Sabtu, 31 Agustus 2013

Belajar Jerman, Mengapa Tidak? (2 dari 2)

...bagian satu di posting sebelumnya

Deutsche Welle Warum Nicht

sumber
“Warum Nicht” rupanya program belajar bahasa Jerman yang merupakan kerja sama antara radio Suara Jerman ali­as Deutsche Welle dengan Goethe-Institut. Program ini terdiri dari 4 series yang masing-masing berisi 26 chap­ter (plus Appendix 1-6). Masing-masing chapter be­ru­pa audio (mp3) dan teks (pdf) yang bisa dimanfaatkan se­cara online maupun diunduh secara cuma-cuma(!). (Ber­bahagialah yang tidak punya dana untuk kursus di tem­pat-tempat tertentu.)

Materi dalam program ini sesuai bagi yang baru mem­pe­la­jari bahasa Jerman alias level A1 sampai level B1. Buat yang belum tahu (sebagaimana saya sebelum membaca brosur dari Goethe-Institut), kompetensi berbahasa Jer­man di Goethe-Institut dinilai melalui beberapa jenjang uji­an. Jenjang terbawah adalah A1, lalu A1, B1, B2, C1, hing­ga C2. Untuk jenjang A1 (tos dulu), kemampuan yang dilihat adalah: mengenali, memahami, dan meng­gu­na­kan kalimat-kalimat sederhana untuk menjelaskan hal-hal konkret dalam kehidupan sehari-hari, serta; dapat ber­komunikasi dengan bahasa yang sederhana jika la­wan bicara berbicara lambat, jelas, dan bersedia mem­ban­tu jika timbul kesulitan berkomunikasi.

Sajian utama “Warum Nicht” adalah audio. Men­de­ngar­kan­nya seperti mendengarkan radio. Seandainya internet be­lum tren, mungkin pada jam tertentu kita akan duduk di sam­ping radio, lalu mencari frekuensi Deutsche Welle. Be­gitu program dimulai, telinga pun terpancang, mata me­nerawang, kaki digoyang-goyangkan, sedang jemari ta­ngan ditautkan di atas lu­tut. Mungkin sesekali kita meng­ambil pulpen dan notes yang telah disiapkan di de­kat radio, lalu mencatat poin-poin yang dianggap penting.

Yang membuat “Warum Nicht” makin menarik menurut sa­ya adalah karena yang disajikan bukan sekadar materi (ta­ta bahasa dsb.). Melainkan karena materi itu diangkat da­ri percakapan-percakapan yang membentuk alur cerita yang dapat membangun keingintahuan kita. Dalam durasi tidak lebih dari seperempat jam, tiap chapter me­ngisahkan (melalui percakapan) kejadian-kejadian ter­ten­tu dalam kehidupan seorang pemuda bernama An­dreas. Ia mahasiswa Jurnalistik yang juga bekerja se­ba­gai resepsionis di Hotel Europa. Usianya sekitar 25 tahun.

Mungkin Ex seperti ini
sumber
Selain Andreas, tokoh-tokoh lain yang muncul secara kon­tinyu adalah Frau Berger (manager hotel yang hobi ber­nyanyi), Hanna (petugas kebersihan hotel), Dr. Thür­mann (dokter asal Berlin kelahiran Leipzig yang me­ru­pa­kan tamu langganan hotel), dan… yang bikin cerita ini aja­ib adalah kehadiran sesosok makhluk gaib (de: Kobold, en: elf, id: dedemit) bernama… Ex. Ex mendadak mun­cul saat Andreas membaca buku tentang Hein­zel­männ­chen (sosok serupa elf yang suka membantu pe­ker­ja­an manusia di malam hari). Secara tidak sengaja An­dre­as mengucapkan kata ajaib yang mengeluarkan Ex da­ri buku. Sejak itu Ex selalu mengikuti Andreas ke ma­na-mana. Namun karena wujud Ex tidak kasatmata (de: un­sichtbar) sementara suaranya dapat terdengar dengan je­las, keceriwisannya kerap menimbulkan kebingungan ba­gi orang-orang di sekitar Andreas.

Ada saja masalah bahkan kekonyolan yang terjadi dalam ke­hidupan sehari-hari Andreas, apalagi interaksi dengan atau antar tamu-tamu hotel. Tapi tidak hanya itu, kita juga ke­mudian dikenalkan dengan berbagai aspek dalam ke­hi­dup­an orang Jerman secara umum. Profesi Andreas se­ba­gai jurnalis radio yang melakukan reportase ke mana-ma­na membuatnya dapat berbagi banyak wawasan ke­pa­da para pendengar.

Loreley
Di series 2 saja misal, kita diajak menelusuri asal-usul na­ma Aachen (kota di mana Andreas sekolah dan be­ker­ja) serta mengetahui legenda seputar Loreley (batu besar yang bersempadan dengan Sungai Rhein—de: Rhine).

Di series 3, kita diajak menjelajahi Berlin dan diceritakan me­­nge­nai tembok yang pernah memisahkan Jerman men­ja­di dua bagian. Runtuhnya tembok Berlin menjadi mo­men­tum yang agaknya berdampak cukup signifikan bagi war­ga Jerman, khususnya di daerah-daerah sebelah timur.

Di series 4—ketika Andreas sudah menyelesaikan se­ko­lah­nya di Aachen dan berhenti bekerja di Hotel Europa, ki­ta lebih sering lagi diajak jalan-jalan ke wilayah timur dan mengenal sejarah, sumber daya alam, hingga ke­bu­da­yaan yang berarti bagi warga Jerman. Sebut saja ke­hi­du­pan agraris di Bradenburg dan puisi tentang kakek-ka­kek yang menawarkan pir dari dalam kubur, nasib industri ka­pal di Rostock, bagaimana penambangan batu bara me­­matikan desa demi desa, sampai ke­in­dah­an alam di Thüringen yang menjadi inspirasi bagi sa­lah satu karya Goethe.

Sejauh ini, “Warum Nicht” adalah pembelajaran bahasa Jer­man paling “menyenangkan” yang bisa saya temukan. De­ngan audio saja, materi dituturkan sedemikian santai, bah­kan diselingi oleh penggalan musik klasik pada salah sa­tu pergantian sesi, sehingga tanpa menengok teks pun ra­sa-rasanya kita sudah bisa mengerti—asal kita betul-be­tul mendengarkan. (Program ini mungkin sekaligus bi­sa menjadi sarana berlatih mendengarkan yang baik.) Da­lam chapter 1 pun kita tidak dituntut untuk segera me­nger­ti kata per kata dalam bahasa Jerman yang di­per­de­ngar­kan. Malah kita diminta untuk terbiasa dulu men­de­ngar (bu­kan mendengarkan) bagaimana orang-orang Jer­man ber­bi­cara. Dari suasana yang ditimbulkan suara-su­a­ra itu, ba­rulah kita menangkap konteksnya.

Tapi pemahaman kita tentu akan lebih jelas jika dibarengi de­ngan pembacaan teks. Supaya kita tidak hanya me­nge­tahui bagaimana suatu kata diucapkan, tapi juga di­tu­lis­­kan. Teks terdiri dari ringkasan tata bahasa yang di­pe­la­jari, dialog (maupun materi siaran Andreas) yang di­per­de­ngarkan, kosakata, dan tentu saja latihan(!). (Tapi se­jak series 4, kosakata tidak lagi disertakan.) Kompilasi ring­kasan tata bahasa dan kosakata, dialog yang sudah di­terjemahkan ke dalam bahasa pengantar, dan kunci ja­wab­an tersedia dalam Appendix.


Program lainnya

Program belajar bahasa Jerman dari Deutsche Welle bu­kan cuman “Warum Nicht”. Ada banyak program lain yang disesuaikan dengan jenjang kompetensi. Untuk le­vel A1 saja, ada lima program yang bisa dicoba. Selain “Wa­rum Nicht”, yaitu “Deutsch Interaktiv” (A1-B1 dalam 30 lessons dan sepertinya paling komprehensif dengan ada­nya video dan tes), “Mission Berlin” (A1-B1 dalam 26 epi­sode yang dirancang penuh aksi), “Radio D Part 1 (A1-A2 dalam 26 episode dan sepertinya paling “mudah” di antara program-program lain), serta Audiotrainer (A1-A2 dalam 100 lessons yang untuk mp3-nya mending un­duh dari www.book2.de sekalian berkunjung—pokoknya sur­ga bagi peminat kursus bahasa gratisan!).

Dan yang amat sangat perlu diperhatikan adalah pro­gram-program di Deutsche Welle terdiri dari 30 bahasa—sa­lah satunya adalah bahasa Indonesia. Hal ini baru sa­ya sadari setelah mengikuti separuh kursus “Warum Nicht”—tepatnya chapter 12 series 3—dalam bahasa Ing­gris. Sampai-sampai saya pikir kegunaan saya belajar ba­hasa Inggris selama ini ternyata untuk menjembatani sa­ya belajar bahasa lain (ya benar juga sih). Mengingat pi­lihan bahasa Tagalog, Melayu, bahkan Jepang saja ti­dak tersedia, entah kenapa saya merasa bangga. Dari ar­ti­kel yang ditulis Dr. Heinrich Soemann (duta besar Jer­man di Indonesia), kemudian saya tahu kalau negeri ini ru­­pa­nya telah menjalin persahabatan erat de­ngan Jer­man sejak proklamasi kemerdekaannya dan mung­kin sa­tu-satunya negara di Asia(?). Banyak sekali orang pen­ting di Indonesia yang pernah mengenyam pen­didikan di Jer­man—termasuk yang tersangkut kasus apa-itu baru-baru ini. 

Jadi, dengan sarana yang melimpah lagi cuma-cu­ma ini, me­ngapa tidak belajar Jerman?[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar