LAINNYA

Senin, 25 Oktober 2010

Dar Der Dor DR FSC 22-23 Oktober 2010!

Kuartet CDNV beraksi lagi di Hargobinangun. Jika dulu kami melakukan survei, kali ini adalah waktunya eksekusi!

Adalah acaranya bernama Development Ring (DR) yang merupakan bagian terakhir dari alur kaderisasi dalam Forestry Study Club (FSC)—kelompok studi di Fakultas Kehutanan UGM. Selain kami berempat, acara ini didukung juga oleh Mas Birama (anggota lain Dewan Konsultatif—DK—selain saya dan Nurdin), Mbak Indira dan Afifi selaku pemateri tentang cikal bakal Rumah Riset FSC di Hargobinangun, serta Dewangga sang pemateri Analisis Sosial.

Dan tentu saja… acara ini tak bakal meriah kalau tidak ada mereka: pasukan Pengurus Harian (PH) FSC 2010! Mereka adalah Lido (ketua), Tyas (sekretaris), Anggren (bendahara), Alfa, Ocha, Edi, Ali, Rina, dan Rheffy… yang demi meratanya keadilan tidak saya sebut semua jabatannya di lembaga karena saya tak hapal. Lengkapnya anggota pasukan membuat saya salut sekali pada mereka—meski mereka mengaku tak kompak sebelum ini!

Sayang sekali, salah seorang eks PH periode sebelumnya, Suryadi, tak bisa menyertai karena tak ada motor. Jadilah ia hanya melepas kepergian kami di bawah rindangnya trembesi pada masa yang menggelap. Juga bertemankan seekor celeret.

Kuartet CDNV melaju dari kawasan UGM tepat saat azan magrib. Kami solat di suatu masjid yang kami temukan di pinggir jalan. Seekor orong-orong menyambut kedatangan kami. Betapa menakjubkannya insting pemburu Cah!


Kami tiba di penginapan Restu Ibu, Kaliurang, tepat saat para PH cewek hendak menunaikan solat isya. Para cowok sudah di masjid. Cah dan Nur lekas menyusul. Setelah kewajiban satu ini tertebus, kami berembuk merangkai acara untuk kami jalani malam itu. Sebungkus besar kerupuk berputar dalam lingkaran kami untuk mengganjal perut. Bisa diduga, acara pertama kami adalah MAKAN MALAM. Kendati nasi sudah tertanak dalam rice cooker, kami memutuskan untuk menggunakannya sebagai sarapan besok. Jadi kami akan makan di luar penginapan bersama-sama!

Sementara Nur survei tempat makan, kami foto-foto di depan penginapan. Setelah bertemu beberapa alternatif, kami menembus dingin dan hening malam. Terpana sebentar di Monumen Monyet Mesum--inilah penampakannya yang sempat saya ambil di siang hari.


Bingung sejenak di tempat makan terdekat, sampai akhirnya kami terdampar di suatu tempat makan yang kalau tak salah bernama Girimulyo. Di sana saya memesan bakmi godog—sebagaimana sebagian besar yang lain—dan wedang tomat—di mana hanya saya saja yang pesan. Bakmi godognya ternyata mi rebus biasa yang dimodifikasi. Dan bertambah satu orang lagi selain Nur, yaitu Rheffy, yang mengira saya dari Bogor. Sama-sama sejuk sih, memang (:p).

Jalan berhati-hati karena perut masih penuh terisi, kami kembali ke penginapan. Mbak Indira sudah cukup lama menunggu di sana. Padahal ia sudah makan malam dan tidak boleh menginap, tapi ia bertahan demi menceritakan kami asal mula terbentuknya Rumah Riset FSC di Hargobinangun. Setelah tujuannya tersampaikan, Mbak Indira undur diri. Afifi menggantikannya. Rekaman saya pada sesi ini mencapai tiga halaman tersendiri—saya mengetiknya di netbook baru Vina lo!

Kami sempat melakukan ice breaking. Mengapa Nur sampai terpikir sebuah permainan klise, itu tak penting. Para PH amat kooperatif untuk menjadikan permainan itu tak lepas dari gelak tawa dan kami cukup gembira sesudahnya—tampaknya.

Eng ing eng, Dewangga datang juga dengan motornya. Ganti dirinya menjelaskan tentang analisis kondisi lapangan (disingkat jadi anakonda). Ternyata sebagian peserta sudah mendapat materi hampir serupa dari mata kuliah Partisipasi dan Pemberdayaan Masyarakat, olala…

Usai materi, para PH melingkar untuk mendiskusikan tugas yang akan mereka emban esok hari. Golongan “tua” kemudian terpisah jadi kubu dewasa kanak-kanak yang menonton kartun One Piece dan kubu dewasa pembelajar yang mendiskusikan hutan kota lantas lanjut ke lain-lain hal. Para PH cewek tahu-tahu sudah pada mendekam di kamar. Ali entah sejak kapan kabur ke tempat tidur. Lido dan Edi bertahan di ruang tengah dalam pembicaraan yang insya Allah bernas bersama kami angkatan 2007 ke atas. Menjelang jam satu dini hari, saya akhirnya menyerah juga untuk menemani Vina rebah di kamar.

Terbangun pada subuh. Hebatnya, saya tak tiduran lagi di kasur sesudah itu. Saya membaca novel Lolita sembari terkantuk-kantuk. Sesekali melakukan hal lain, menemani yang masak nasi misalnya, untuk menggusah kantuk. Entah yang lain berbuat apa. Tahu-tahu hari terang. Lauk buatan pengurus penginapan datang. Tak sabar menunggu para PH berkoordinasi untuk kegiatan mereka sehabis ini. Ingin lekas mengisi perut dengan nasi dan teman-temannya untuk mengusir angin.

Sebelum golongan “tua” lepas para PH di ambang pintu penginapan, terlebih dulu kelompok PH yang kemarin malam kalah permainan menampilkan sebuah drama. Tawa dan tawa. Tapi tak kalah banyak juga dengan kernyitan heran karena adegan-adegan GJ.

Afifi pergi. Para PH pergi. Mas Birama pergi. Cah dan Nur juga pergi, disusul Dewangga. Saya dan Vina membereskan penginapan dilanjut memasak nasi untuk makan siang. Agenda kami setelah itu adalah jalan-jalan. Saya berharap dengan begitu angin di dalam tubuh saya akan terkeluarkan. Selain itu, saya memiliki tujuan lain yaitu pelataran parkir Hutan Wisata Kaliurang dengan misi: bersua kembali dengan mas ganteng keriting berkacamata!

Alkisah, pada suatu Minggu di Januari 2010, saya mengantar teman-teman sekelas saya waktu SMA tamasya ke Kaliurang. Naik bis dengan rute Yogyakarta-Kaliurang ke sana, pemberhentian terakhir kami adalah Terminal Kaliurang. Ramai nian di sana kala itu. Sebelum memasuki kawasan hutan wisata, kami putar-putar cari sesuatu yang dapat dibeli. Dan saya terpikat oleh seorang mas ganteng keriting berkacamata yang tampak tak lazim duduk berdampingan dengan seorang mbak difabel. Mbak difabel yang menjual pernak-pernik untuk oleh-oleh. Hubungan apa di antara mereka, hingga kini masih jadi teka-teki yang jadi inspirasi untuk membikin sebuah kumpulan cerpen.

Maka, pada kunjungan kedua saya kali ini, tidak saya temukan keramaian sebagaimana pada waktu itu. Hanyalah barisan polisi yang mengisi tanah lapang di seberang lokasi berjualan dua orang dengan hubungan misterius itu, yang tentu saja tak saya temukan mereka—atau mas gantengnya saja tak mengapa deh—kali ini. Padahal ini Sabtu, yang harusnya merupakan hari ramai berkunjung. Mungkin karena Gunung Merapi sedang berisu?

Sudah terlanjur sampai sana, kami akhirnya masuk ke balik gerbang hutan wisata dengan membayar karcis seharga dua ribu rupiah. Saya memilih rute yang berbeda dengan dulu saya dan teman-teman sekelas SMA lalui. Akibatnya, kami jadi langsung bersua dengan Tlogo Putri yang tidak memberikan pelangi karena kurangnya terik mentari. Vina hendak ke gardu pandang. Sayangnya, jalan menuju ke sana ditutup tumpukan dedaunan. Menurut keterangan seorang perempuan pedagang, jalan itu ditutup pada pagi hari.

Ada jalan lain ke Roma, hm, gardu pandang. Kami turun dan eng ing eng, alhamdulillah buat saya sebenarnya karena sudah tahu rasanya mendaki tangga berbatu sejauh 800 meter (terasa seperti berkilo-kilometer dengan medan sedemikian rupa!), ternyata jalan lain menuju ke sana juga tertutup.

Vina tak tertarik dengan kawasan piknik, sehingga kami meninjau sebentar bangunan klinik di sana yang memang hanya bangunan. Isinya nihil. Dua ribu rupiah kami termanfaatkan dalam waktu singkat. Kami ke luar gerbang. Sebelum kembali ke penginapan, saya mengajak Vina mengudap wedang ronde. Lagi-lagi tujuannya ialah untuk membuang angin dalam perut.

Di perjalanan kembali ke penginapan, kami menemukan aspal yang bolong. Vina yang ngeh pertama kali. Bolongnya aspal jadi fenomena luar biasa yang mengundang hasrat ingin mengabadikan jika mana dari bolongnya aspal tersebut ke luar air! Bedakan dengan kubangan loh ya. Kubangan menampung air, ya, tapi tidak memancarkannya sebagaimana yang kami temukan!



Dalam perjalanan kembali ke penginapan ini, kami mengambil rute yang berbeda dengan perjalanan pergi (yang ternyata membuat kami mengambil jalan memutar yang cukup jauh). Kami hanya butuh waktu jauh lebih singkat dalam perjalanan kembali ini. Mendung bercokol di atas kami. Para PH sudah kembali dari ekspedisi lapangan mereka. Menanti kami untuk makan siang bersama—dengan sop, kerupuk, dan sambal yang amat nikmat.

Usai makan siang, para PH melingkar di ruang tengah dengan papan tulis di muka. Mereka mendiskusikan hasil jalan-jalan mereka tadi sembari menunggu Mas Nurdin sang evaluator. Vina berusaha tidur karena semalam tidurnya tak nyenyak. Berkat Ali yang menjarah Lolita, saya jadi bisa menuntaskan tugas saya mengoreksi pre test AAI. Setelahnya baru saya tega menjarah kembali novel itu dari pangkuannya agar ia bisa lebih konsentrasi pada diskusi para koleganya yang berlangsung seru.



Sesekali saya alihkan pandang dari novel ke arah mereka. Tidak kalah menarik apa yang mereka cekcokan, dari susu sampai rebung. Kendati Lido adalah manusia yang agak janggal untuk dijadikan pemimpin, setidaknya ia tak putus asa memberi hiburan bagi para anak buahnya. Humoris adalah salah satu sikap terpenting yang harus seorang ketua miliki bukan? Ocha yang ceriwis kontras dengan Ali yang tampak tak bergairah. Yang lain, saya kira cukup terjaga semangatnya.

Sebagai eks PH sekaligus DK yang diragukan kemumpuniannya, saya berusaha urun sesuatu. Untung didengarkan, haha. Satu poin penting yang saya sampaikan adalah mengenai hal paling terwarisi dari PH periode sebelumnya untuk PH periode sekarang yaitu: ketidakkompakkan!

Nur dan Cah tak kunjung datang. Para PH mulai bertanya, tak sabar ingin pulang, kendati mereka merasa mendapat banyak hal dari apa yang mereka lakukan hari ini. Hanya Ocha sih sebetulnya, yang paling sering saya dengar ia ungkapkan begitu. Semoga yang lain pun merasakan hal yang sama. Atas kebaikan hati Vina yang tak jadi bisa tidur, saya menelepon Nur. Nur bilang ia akan tiba kembali ke penginapan sekitar pukul empat sampai setengah lima sore. Sebagai informasi, Nur dan Cah sedang jadi numerator seorang teman kami, Putro, yang mengambil skripsi tentang penambang pasir. Saya tak menyangka kemudian kalau mereka mengambil data di Magelang—dikira tak jauh dari lokasi DR.

Azan ashar bergema. Untuk mengisi waktu hingga kedatangan Nur dan Cah, saya dan Vina menyusul Ali bermain bola sepak dengan beberapa orang bocah di tanah lapang samping penginapan. Berturut-turut, berganti atau bertahan, Lido, Alfa, Rheffy, dan Ocha pun serta. Saya, Vina, Ali, dan Rheffy selalu berada di kubu yang sama—Alfa sempat turun—melawan para bocah, Lido, dan Ocha. Sementara saya lihat selama kami main, Tyas dan Anggren mengurus penginapan sedangkan Alfa atau Rina mengambil potret kami. Kami, yang capek lebih karena tertawa ketimbang mengejar-ngejar bola. Sesekali melampiaskan sebal dengan kecurangan para bocah demi kemenangan—ya maklum juga sih tubuh kami lebih besar. Beberapa kali saya tertawa jumawa karena berkat saya pakai rok, gawang kubu saya jadi terselamatkan. Inilah kekuatan perempuan!

Untuk mengenang momen yang menggembirakan hati ini (juga menguras stamina Ali—striker handal kubu saya!), kami tak lupa berfoto! Seseorang memberitahu saya bahwa rok saya robek.

Melepas lelah usai bermain bola habis-habisan, saya solat ashar, packing, dan mengaso bersama teman-teman. Tidak hanya ide-ide penelitian, Ocha senang karena berkat acara DR ini ia jadi bisa menemukan potensi-potensi, di antaranya potensi sebagai pemain bola. Saya dan Rheffy sampai kepikiran untuk membuat klub kebugaran di FSC. Juga Rheffy tampaknya ingin FSC berpartisipasi dalam Pekan Olah Raga Kehutanan (PORHUT) besok dengan tim futsal putri, waha.

Alhamdulillah, Nur dan Cah—keduanya tampak lelah—datang juga akhirnya. Evaluasi dengan Mas Nurdin yang sudah malang melintang dalam dunia organisasi berlangsung hanya dalam waktu sekitar seperempat jam. Berkat keinginan pulang lekas yang membayangi sejak sebelum keberangkatan ke lokasi DR, kami tidak butuh waktu lama untuk meninggalkan penginapan.

Sebetulnya acara DR ini dirancang untuk dua malam satu hari, dengan acara masak bersama pada malam kedua. Namun karena ada ketidakkonsistenan pengurus dalam menetapkan sewa, acara masak bersama ditiadakan supaya kami menginap hanya satu malam—yang artinya dua ratus ribu rupiah kami bisa dialokasikan untuk lain hal. Saya lihat para peserta putri girang karena ini. Meski demikian, saya ingin saksikan mereka dapat mempertahankan semangat DR ini sampai dua bulan kemudian—yang konon sudah akhir kepengurusan.

Setelah kebersamaan PH FSC 2010 terekam dalam kamera, berbondong-bondong kami menembus kabut yang menyerbu. Karena Mas Birama tak jadi datang kembali, Nur-Ali-Cah harus cenglu (bonceng telu--satu motor dinaiki tiga orang).



Maaf, kepada mereka yang telah membersamai saya selama semalam sehari yang meriakan ini, untuk segala yang kurang layak, kurang menyenangkan, dan kurang memuaskan dari saya. Semoga kita selalu dalam semangat dalam usaha perbaikan dunia, diri kita dan masyarakat, dengan mengenang kata-kata Dewangga pada malam materi yang amat mengena bagi saya ini:
“Sebesar-besarnya permasalahan pribadi, itu adalah hal kecil. Sekecil-kecilnya permasalahan masyarakat, itu adalah hal besar.”
Juga sebuah lelucon dari Lido yang kiranya dapat mewakili keceriaan tawa kita (karena hanya ini yang saya ingat benar, haha, selain gombel ingusnya yang berupa selimut garis-garis),
“Kalau aa kan di Bandung, kalau ee? Di septic tank.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar