LAINNYA

Sabtu, 09 Oktober 2010

Futsal Para Calon Konservasionis di Atas Rumput Sintetis


Liga Futsal Forestation (LFF) merupakan gelaran tahunan Forestation, Himpunan Mahasiswa Jurusan KSDH FKT UGM. LFF 2010 diadakan di The Next 2 yang terletak di dalam sebuah gang di tepi Jalan Urip Sumoharjo a.k.a. Jalan Solo. Ancer-ancernya: samping Giant. Giant kemudian menjadi tempat singgah kedua saya pada malam 8 Oktober 2010 lalu.

LFF dibuka dengan pertandingan antara angkatan 2009 dengan angkatan 2010. Hah, ada KSDH 2010? Tentu tidak, kawan. Sejak fakultas mencanangkan kurikulum ala General Forestry, tidak ada lagi penjurusan, melainkan pilihan minat. Sampai kapan pun mungkin tidak akan ada yang namanya KSDH’ 10, maupun KSDH’11, KSDH’12, KSDH’13, dan seterusnya. Namun tulisan ini tidak ditujukan untuk membahas eksistensi HMJ akibat adanya kebijakan kurikulum baru. Menurut keterangan anak 2009 yang saya lupa siapa, sebelum LFF anak 2010 diberi undangan. Barangsiapa berminat, mari ikut. Saya kira ini dilakukan untuk mengarahkan minat anak 2010 pada jurusan KSDH.

Supaya adil pula kiranya, saya lihat wasit yang eksis di lapangan bukanlah salah seorang dari suatu angkatan. Adalah seorang yang Rasya sebut sebagai temannya dari KPMB (Keluarga Pelajar Bandung Cimahi) bernama Teguh, angkatan 2006, asal SMAN 8 Bandung, mahasiswa FTP UGM.

The Next 2 memiliki sebuah lapangan yang luasnya tak saya ukur. Rumputnya tentu saja sintetis. Para pemain dikurung dalam jaring-jaring. Jika penonton duduk terlalu dekat, dia bisa saja kena hantam bola atau tubuh pemain yang tersungkur ke luar garis. Kesan pertama saya mendatangi arena permainan futsal yang dikomersilkan ini adalah miris. Mereka seharusnya bisa mendapatkan kesenangan ini secara gratis.

Sepertinya saya pernah hidup dalam masa di mana yang seperti ini belum ada—entah kapan mulai marak. Pada masa itu, para lelaki dapat berbagi kesenangan mengejar bola tanpa harus mengeluarkan uang. Ya, kecuali kalau mau beli barangnya pendagang es nong-nong yang sengaja mangkal di tepi lapangan. Kini lahan-lahan berumput yang menyelamatkan utuhnya uang saku itu satu per satu mulai ditumpuki material bangunan. Parahnya lagi kalau yang dibangun di sana adalah arena permainan futsal, dengan atap, rumput sintetis, jaring-jaring, kipas angin… Hijau, ya, tapi tidak menyerap air.

(+) Kamu butuh uang?
(=) Ya, mau nggak mau, selalu.
(+) Sama seperti kamu, para penggusur kawasan penyerap air juga butuh uang. Seenggaknya mereka udah nggak banyak minta uang lagi sama orangtua mereka.

Oke.

Para peramai permainan bisa memilih untuk melangsungkan tugas mereka di atas atau di bawah.

Kalau di bawah, mereka diberi bangku-bangku panjang dengan jarak sekitar setengah meter dari jaring-jaring pembatas lapangan. Tidak bisa lebih jauh dari itu. Seperti yang saya sudah kemukakan, bisa saja sewaktu-waktu mereka kena hantam.

Kalau di atas, adalah sebuah beranda kayu dengan tempat duduk dan meja dari kayu juga namun berwarna lebih gelap. Masih bisa kena hantam bola juga sih, kalau ada pemain yang melakukan tendangan home run. Dan menciptakan horor apabila ada seorang calon pemain sengaja menandak-nandakkan diri, membuat yang dipijaki bergoyang-goyang. Entah berapa jumlah maksimal orang yang dapat ditampung rangkaian kayu ini. Saya takut saja kalau sekali-sekali roboh, melihat banyaknya orang di sana. Baik yang menonton maupun berganti baju. Tidak disarankan bagi anak kecil yang tak awas akan dirinya untuk menaiki beranda ini.

Saya sempat menonton dari atas saat masih pertandingan antara 2009 dengan 2010. Para pemain tampak lebih jangkung dan jantan dengan sepatu, kaos kaki panjang, dan kostum bola mereka.

Ingatan melayang pada masa 8 – 9 tahun lalu, saat saya masih siswi kelas 1 SMP. Kelas saya berada di lantai dua. Sebidang kecil lapangan membentang di depan gedung. Seringkali setiap jam istirahat, saya melongok ke bawah dari balik dinding pembatas. Menemukan para pemain favorit saya di sana—entah dari kelas sendiri maupun dari kelas atas alias kakak angkatan. Namun tetap yang dijagokan adalah kelas sendiri.

Pada semester dua, permainan tidak hanya berlangsung di lapangan, tapi merambah sampai beranda para penonton. Saya dan para teman sekelas—kadang ada tambahan pemain dari kelas sebelah—kerap bermain di sana dengan bola plastik. Yang akan menyakitkan kalau kena tubuh pada saat meluncur dengan kecepatan tinggi. Kadang bola kami terjatuh ke bawah, menyeruak di tengah permainan yang sama, yang dilakukan oleh para laki-laki yang lebih jago.

Dan kami tidak harus mengeluarkan uang sehelai pun untuk ini. Bola plastik selalu bisa didapat dengan cuma-cuma—entah dari mana asalnya.

Masa SMP berlalu dan saya semakin jarang melakukan permainan ini lagi. Hingga pada suatu malam saya terdampar di suatu arena permainan futsal di Jogja. Di tengah pertandingan antar cewek angkatan saya dengan angkatan 2008, saya mengajukan diri untuk ikut main. Hawa di balik jaring-jaring terasa dingin. Tak lama saya mengonversi hawa dingin itu dengan hawa panas yang menguar dari tubuh. Berkat keterampilan saya yang tak lagi pernah diasah, angkatan saya kebobolan tiga angka dalam selang waktu yang hanya sebentar saja. Saya pun ditarik lagi.

Berkat sebuah TV di ranah penjualan makanan-dan-entah-apa-lagi, rombongan penggembira KSDH terbagi jadi dua koloni. Satu, yang setia mendukung para pemain maupun yang akan main di dalam jaring-jaring. Dua, yang berkerumun di depan TV untuk menonton pertandingan bola antara Indonesia dengan Uruguay, kalau tak salah. Tiga, kalau ditambah saya dan Riezha, juga Vina, yang malah menjauh dari tempat tersebut untuk berburu sesuatu yang dapat dimuat mulut.

Saya sadari bahwa saya sudah tidak tertarik lagi pada perkara tendang menendang bola. Setidaknya malam itu tidak ada yang menagih kontribusi saya untuk sewa arena, hehe…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar