Sabtu, 26 Oktober 2019

Seminar tentang Gaya Hidup di Indonesia pada Masa Revolusi dan Kini: dari Kuliner hingga Teknologi Komunikasi

Baru-baru ini, Himpunan Mahasiswa Sejarah Universitas Padjajaran mengadakan History Days 2019. Acara yang diadakan meliputi lomba karya tulis ilmiah, bedah buku tentang Tan Tjeng Bok, seminar nasional "Gaya Hidup pada Masa Revolusi Indonesia (1945-1949)", serta lomba photo story. Mereka menggunakan tema: "Citra Diri: Gaya Hidup Masa Lalu sebagai Identitas Masa Depan". Tujuannya agar generasi milenial peka terhadap perkembangan gaya hidup sehingga mencintai tanah air(?). Jargonnya: Without history, there is no memory.

Saya berkesempatan untuk mengikuti acara seminar nasional pada Kamis, 24 Oktober 2019. Acara yang mestinya dimulai pada 12.30 WIB ini baru dimulai pada sekitar pukul satu seperempat. Pada waktu itu, jumlah peserta sudah lumayan banyak, yang tidak hanya terdiri dari mahasiswa/i Sejarah Unpad, tapi hadir pula mahasiswa dari Unair Surabaya, bapak-bapak, dan mbak-mbak.


Pembicara pertama adalah Fadly Rahman, M.A., penulis buku Rijsttafel (diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama). Di samping dosen prodi Sejarah Unpad, beliau juga pernah mengikuti Program Residensi Penulis Indonesia dari Komite Buku Nasional di Belanda. Bisa dibilang, beliau ini "sejarawan kuliner". Pemaparannya dibuka dengan mengungkapkan eksistensi manusia melalui aktivitas makan serta definisi "kuliner Indonesia". 

Ada ribuan jumlah makanan yang dapat digolongkan sebagai kuliner Indonesia. Namun rupanya banyak di antara makanan itu yang berasal dari kebudayaan asing. Contohnya: tahu dari Cina, kari dari India, sop dari Belanda, dan seterusnya. Jadi kuliner Indonesia terdiri dari rupa-rupa masakan daerah, Eropa, Tionghoa, India, dan Arab. Sebelum kemerdekaan, ada istilah "Indische keukeun" untuk menyebut aneka masakan dari tradisi Belanda, Cina, dan nusantara.

Setelah kemerdekaan, pengaruh asing dalam tradisi masak-memasak tidak bisa disingkirkan begitu saja. Meniru perempuan-perempuan Eropa pada masa kolonial, para wanita Indonesia pun suka berkumpul dalam acara demonstrasi memasak. Dalam upaya memodifikasi pengaruh asing agar sesuai dengan selera Indonesia, terbit berbagai buku masak. Misalnya, Boekoe Masak-masakan karya Chailan Sjamsu yang terbit pada 1948 juga Masakan djeung Amis-amis (dalam bahasa Sunda) yang cetakan keempatnya terbit pada 1951--keduanya oleh Balai Pustaka. Presiden Soekarno pada sekitar waktu itu (1960) pula mencetuskan gagasan untuk menerbitkan buku masak nasional, yang akhirnya terbit pada 1967 dengan judul Mustika Rasa.

Pembicara kedua yaitu Dr. R. M. Mulyadi, M.Hum., yang juga dosen prodi Sejarah Unpad. Beliau membuka dengan menjelaskan mengenai definisi "gaya hidup" (lifestyle) itu sendiri, yang rupanya mesti dibedakan dengan cara hidup sehari-hari (daily life). Gaya hidup merupakan pilihan dalam menghabiskan uang, mengisi waktu luang, dan sebagainya, yang berbeda-beda antarkelas sosial, meliputi aktivitas, minat, dan opini. Bisa dibilang, lifestyle berlaku pada orang yang taraf hidupnya sudah nyaman sehingga memungkinkan dia untuk memiliki pilihan. Adapun daily life merupakan keseharian yang dijalani karena tidak ada pilihan lain.

Beliau memberikan gambaran akan kehidupan pada masa revolusi dulu (1945-1949). Betapa, dalam suasana pengungsian, anggota Persib tetap berlatih, anak-anak tetap bermain bola. Betapa orang-orang Belanda tidak mungkin turun ke jalan, atau akan diarak dan ditembaki sebagai wujud balas dendam karena dulu tentara mereka pun suka menghabisi bumiputra seenaknya.

Pembicara ketiga, Dani Akhyar, yang Head of Community Development PT Smartfren Telecom Tbk, walaupun tidak berlatar belakang pendidikan Sejarah (tapi ITB), dengan cerdiknya mengaitkan antara tema seminar dan produk teknologi yang ditawarkannya. Beliau menunjukkan betapa pemuda masa lalu berevolusi dengan menegakkan bendera merah putih adapun masa sekarang dengan mengangkat tongsis, tahap-tahap revolusi industri, hingga bagaimana gaya hidup generasi sekarang menyangkut pilihan aktivitas dengan smartphone-nya: mau browsinggaming, shopping, streaming, atau ...?

Pak Dani sedang menjelaskan bedanya cara revolusi pemuda dulu dan sekarang.
Sesi tanya jawab dibuka dua kali, masing-masing memberikan kesempatan pada dua penanya.

Dalam sesi tanya jawab pertama, pertanyaannya mengenai hal sebagai berikut.
  1. Sikap masyarakat pada zaman revolusi terhadap kalangan yang mengikuti budaya Barat--mengingat orang kita punya budaya "nyinyir"
  2. Resep asli Indonesia
Jawaban untuk pertanyaan pertama: Memang ada pertentangan-pertentangan budaya semacam itu. Ada kalangan nasionalis radikal yang mencibir kaum bumiputra yang keeropa-eropaan. Pada masa revolusi, kalangan nasionalis radikal ini melakukan sweeping terhadap kaum elite tersebut. Bangunan-bangunan bergaya Barat pun pada dihancurkan. Di Minang, makan roti saja dianggap kafir. Menariknya, orang Minang sendiri disebut kafir oleh orang Aceh sebab mereka yang pertama-tama menerima pendidikan Barat. Selain itu, ada banyak tokoh nasional yang beristrikan orang Barat. Sebut saja Sutan Sjahrir dan dr. Cipto Mangunkusumo.

Jawaban untuk pertanyaan kedua: Di antara resep asli yang terus bertahan adalah lalap--entahkah kukus atau mentah. Lalap sudah disebut-sebut dalam prasasti dari abad 8-10 M. Di samping itu, ada juga ayam koneng, ayam ungkep, pecel, rawon, rambak, dawet, dan seterusnya. 

Soal dalam sesi tanya kedua: 
  1. Semakin cepatnya perkembangan teknologi
  2. Kuliner Indonesia sebagai tanggapan masyarakat akan sulitnya pangan pada masa itu, serta cara mengisi waktu luang secara produktif
Penanya pertama dijawab oleh Pak Dani, yang menerangkan tentang sejarah perkembangan teknologi mulai dari mesin uap, penemuan semikonduktor, hingga smartphone zaman sekarang yang upgrade tiap beberapa bulan sekali.

Pertanyaan pertama dari penanya kedua dijawab dengan penjelasan bahwa nasionalisasi pengaruh asing dalam kuliner bukan hanya pada perubahan nama, melainkan juga mencakup penggunaan bahan lokal. Misalnya saja, terigu diganti dengan tepung dari beras, sagu, singkong, atau sorgum--yang tumbuh di Indonesia--agar tidak bergantung pada impor. Pada masa itu juga ada gagasan perbaikan gizi masyarakat dari I. J. Kasimo, dengan meningkatkan konsumsi produk hewani serta domestikasi hewan ternak. Sudah disadari pula betapa konsumtifnya masyarakat akan beras. 

Pertanyaan kedua dijawab lagi oleh Pak Dani yang--menariknya--mengatakan bahwa caranya untuk mengisi waktu luang secara produktif adalah dengan joging atau renang. Enggak main smartphone, Pak?

Seusai acara, saya dan teman membahas tentang acara tadi. Kami berpikir bahwa semestinya Pak Mulyadi yang menjadi pembicara pertama, agar terlebih dulu menerangkan tentang pengertian gaya hidup dan seterusnya. Baru kemudian Pak Fadly yang tampil, mengangkat kuliner sebagai sampel dari gaya hidup. Adapun Pak Dani memang apik sebagai penutup, seolah-olah menonjolkan betapa gaya hidup masyarakat zaman sekarang cenderung berpusat pada smartphone saja--sehubungan dengan produk yang diangkatnya. 

Juga disayangkan acara ngaret sampai lebih dari satu jam, padahal dalam durasi waktu tersebut tentu ada banyak hal lain yang bisa disampaikan.

2 komentar:

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain