tiap hari aku mengurusmu
mau tidak mau
karena kamu mendatangiku terus
tiap hari aku memendam emosi dan rasa
aku pantau terus perkembanganmu
aku berusaha berbuat sesuatu agar kamu bisa jadi yang terbaik.
seandainya aku bisa mengabaikanmu, itu pun dengan keyakinan bahwa suatu saat aku akan kembali padamu
namun rupanya kita belum bisa berpisah
segala jemu, segala jenuh, bagaimana bisa kutahankan sedang itu tidak ada?
aku tidak mengerti.
kamu adalah pemberian dari Tuhan.
patutnya aku syukuri. akan aku lakukan.
ah, sayang,
bagaimanapun kamu jadinya nanti,
...hahh...
aku belum bisa menemukan kata-kata yang pas untuk membuncahkan perasaan padamu ini di dadaku.
Buruk untuk Jantung (1/3) (Yasutaka Tsutsui, 1979)
-
Firasatku ternyata benar.
Seperti yang sudah kuduga, firasat itu memberitahuku akan adanya “dinas
pulau” sampai-sampai Manajer Departemen tergesa memangg...
1 minggu yang lalu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar