LAINNYA

Rabu, 10 Maret 2010

Bandung – Kutoarjo – Jogja: Perjalanan Berisi Kenikmatan dan Kesialan yang Datang Silih Berganti, Bagian 1 dari 4

Perjuangan menggapai gerbong yang benar

Begitu saya mendekat, bapak petugas bertubuh gempal di balik satu-satunya loket yang buka itu malah menghilang. Papa mengetok kaca loket berkali-kali sampai kepala orang tersebut muncul lagi. Tak berapa lama, ia kembali ke balik loket. Saya bilang padanya bahwa saya mau beli tiket Kutojaya. Bapak itu meminta saya untuk menunggu sebentar. Katanya, gerbongnya sudah penuh, tapi keretanya kan panjang (kereta kan emang panjang?), jadi kemungkinan ada tambahan tempat duduk (apa bedanya dengan tambahan gerbong? Bapak itu tidak mengakuinya).

Papa tetap berdiri di depan loket sementara saya mundur, memberi ruang bagi mereka yang datang setelah kami. Membiarkan mereka—sesama calon penumpang Kutojaya—mengetahui kemudian bahwa mereka harus menunggu sampai ada kepastian bahwa ada tambahan tempat duduk. Keretanya kan panjang..

Kutojaya adalah nama kereta ekonomi yang berangkat pukul 21.30 WIB dari Stasiun Kiaracondong Bandung dan tiba di Stasiun Kutoarjo pukul 5.30 WIB (itulah yang tertera di karcis).

Seorang bapak yang saya temui di Kahuripan (kereta ekonomi untuk jarak Bandung – Kediri dan sebaliknya) sekitar dua hari sebelum ini menyarankan kepada saya untuk kembali ke Jogja menggunakan Kutojaya saja. Kereta ini berangkat dari Kiaracondong dan tidak sepenuh Kahuripan karena jarak yang ditempuh lebih pendek. Pasti dapat tempat duduk, tidak rebutan. Bahkan kalau sedang sepi, kita bisa mendapatkan tiket bebas tempat duduk alias kita bebas memilih mau duduk di mana. Menurut keterangan bapak tersebut, Kutojaya akan berhenti di Kutoarjo sekitar pukul 5.10. Pramex (Prambanan Express, kereta jarak Solo – Kutoarjo yang otomatis melewati Jogja juga) akan datang sekitar setengah jam kemudian. Saya akan sampai di Jogja sekitar pukul tujuh lebih. Masih bisa ikut kuliah jam sembilan, pikir saya. Dan tidak harus naik Kahuripan lagi yang keadaannya mengenaskan seperti ini..

Pada waktu itu, 25 Februari 2010 malam, Kahuripan sepertinya sedang penuh-penuhnya. Saya menaiki kereta ini dari Stasiun Lempuyangan, Jogja, dengan harga tiket Rp 24.000,00. Mungkin karena tanggal 26-nya tanggal merah. Saya termasuk beruntung malam itu. Saya bisa mendapatkan tempat duduk meski di tepi dan sesekali harus terbangun saat ada pedangan asongan lewat dan dengan seenaknya menyenggol-nyenggol. Banyak penumpang lain yang tidak kebagian tempat duduk. Mereka harus berdiri dan kalau mereka mau tidur mereka jongkok. Tidur mereka jelas tidak nyenyak. Sesekali pedagang asongan datang, memaksa mereka memberikan jalan agar ia bisa lewat. Sambil memendam kekesalan karena saya sedikit-sedikit jadi ikut terbangun juga, saya menaruh iba pada mereka. Mereka pasti lebih menderita dari saya. Dan sebagian di antara mereka adalah perempuan. Tidak ada yang namanya etika di mana seorang laki-laki seharusnya memberikan tempat duduknya bagi perempuan yang berdiri. Semuanya menjadi egois. Siapa cepat (atau beruntung) ia dapat. Saya bersyukur tidak ada nenek-nenek berdiri di dekat saya.

Ingatan saya melayang pada suatu malam di bulan Oktober, ketika saya hendak kembali ke Jogja dari Bandung menggunakan Kahuripan. Akang-akang di balik loket mengatakan bahwa tiket tempat duduk di Kahuripan sudah penuh. Ia menawarkan saya untuk naik Kutojaya saja, nanti disambung Pramex. Waktu itu saya pikir betapa ribetnya harus naik dua kali. Yang pasti-pasti ajalah! Saya tidak peduli. Saya tetap membeli tiket Kahuripan meskipun itu tiket berdiri. Setelah mendapatkan tiket, saya masuk ke dalam peron. Sambil menunggu kedatangan kereta yang ternyata berangkat dari Padalarang, saya melihat sebuah kereta ekonomi yang belum berangkat tampak lengang isinya. Itukah Kutojaya? Kahuripan pun datang. Para calon penumpang mengejar-ngejar pintu masuk gerbong seolah-olah kereta itu tidak akan berhenti. Setelah kereta berhenti, mereka berebut masuk. Berebut tempat duduk. Saya yang pegang tiket berdiri berusaha tetap santai. Menerima kenyataan bahwa saya terancam berdiri dari Bandung sampai Jogja semalaman. Saya tidak harus berebut tempat duduk karena tiket yang saya pegang menyatakan saya tidak punya hak untuk duduk kecuali kalau orang yang duduk di sana sudah turun atau tidak menggunakan haknya. Dan yang terjadi adalah malam itu menjadi perjalanan naik kereta ekonomi paling tidak menyenangkan yang bisa saya ingat.

Maka, 28 Februari 2010 pun menjadi tanggal bersejarah di mana untuk pertama kalinya saya naik Kutojaya, a friendly economic train. Dari Bandung ke Kutoarjo. Seperti apakah rasanya singgah di Stasiun Kutoarjo nanti?

Saya menaruh barang-barang saya yang lumayan berat di atas sebuah kotak kelabu. Sesekali saya mengamati papa. Memang seorang ayah itu harus selalu sedia berkorban di mana dan kapan saja. Saya agak terenyuh juga ia mengantri untuk saya (meski akhirnya ia tidak mengantar saya sampai melewati peron, pasti karena harus bayar lagi).

Bapak petugas bertubuh gempal di balik loket tadi pergi ke ruang kepala stasiun. Ia menelepon kepada entah siapa. Orang-orang di belakang papa jumlahnya makin banyak. Beberapa lama kemudian, bapak itu kembali. Papa langsung sigap membeli tiket. Demikian saya. Dengan sigap pula saya mendekat untuk bilang, “Yang deket jendela, ya, Pak!” Selembar uang dua puluh ribu (yang entah uang dari dompet saya atau dari saku celana papa) ditukar oleh selembar tiket dan sekeping logam lima ratus kuningan oleh bapak petugas. Tempat duduk 10 A gerbong 7. Alhamdulillah. Papa bertanya apakah saya mendapat tempat duduk sesuai dengan yang saya inginkan.

Saya pamit pada papa dengan menyalaminya sementara kepada ibu saya tadi saya pamit hanya dengan meneriakinya. Sok buru-buru.

Saat itu sudah sekitar pukul sembilan malam saat saya memasuki peron. Terdengar pemberitahuan bahwa kereta Kutojaya akan segera tiba dari arah timur di jalur enam. Di sepanjang jalur tersebut sudah terlihat banyak orang menanti. Suatu pemandangan yang bikin males. Asumsi saya, gerbong tujuh adalah gerbong yang datang paling belakang. Saya mengira-ngira gerbong itu nanti akan berhenti di mana, di situlah saya akan berdiri. Mestilah di sana tidak begitu banyak juga orang yang menanti.

Namun sebelum itu, saya harus mencari toilet. Saya pikir lebih baik saya pipis di stasiun daripada di kereta. Meski saya menyesal juga kenapa saya tadi tidak pipis saja dulu di rumah secara di stasiun (Kiaracondong) toiletnya juga jorok kayak mana... Hiii... Saya menitipkan plastik oleh-oleh pada bocah penjaga toilet. Tidak lama, saya sudah mengambilnya lagi dan bergegas mendekati jalur enam. Bidang berumput yang saya injak tak kentara memperlihatkan beceknya. Saya tidak peduli kaki saya jadi kotor.

Dari kejauhan di arah timur, terlihat bulatan-bulatan cahaya lampu kereta perlahan mendekat. Dua deret lokomotif saya sambut. Berturut-turut saya menghitung gerbong penumpang yang mengekor di belakangnya. 1... 2... 3... 4... 5... 6... 7... 8... Pas. Saya sempat dengar tadi bapak petugas bertubuh gempal itu bilang total gerbongnya ada delapan. Berarti saya nanti akan naik gerbong kedua dari belakang.

Gerbong-gerbong itu berhenti. Para calon penumpang mendekat ke pintu. Tidak begitu ramai di sini saya kira, di tengah sana mesti ramai sekali. Wajah-wajah kelelahan dengan menenteng bawaan yang beratnya bervariasi turun. Saya menerka-nerka dari mana sebetulnya asal kereta ini. Apakah dari Kutoarjo? Padahal saya kira kereta ini stay saja di Kiaracondong sejak awal. Kereta yang menanti kedatangan penumpang, bukannya sebaliknya.

Suara dari speaker berkumandang lagi meminta para calon penumpang membiarkan dulu para penumpang sebelumnya turun sampai habis. Semua penumpang mendapatkan tempat duduk. Tenang saja. Oke, baiklah, percaya deh. Dalam hati terbersit prasangka. Kutojaya memang teman yang baik bagi kami para calon penumpang berduit minim. Kereta ekonomi yang memanusiakan penumpang. Tidak akan ada mereka yang berjejal hingga tidak kebagian tempat duduk lalu harus duduk di lorong, disenggol-senggol dan diganggu para pedagang asongan setiap saat. Tidak akan ada tempat duduk berkapasitas dua orang diisi bertiga.

Sambil turun, wajah-wajah kumal itu membawa serta sampah-sampah dari dalam kereta ke luar. Mereka menendang-nendang sampah-sampah yang menghalangi jalan mereka itu (siapa juga yang buang?). Gumpalan tisu. Botol plastik. Botol kaca minuman penambah stamina. Seseorang mengeluhkan sampah yang dapat membahayakan itu. Seorang mas-mas yang sabar menunggu di balik pintu hendak mengambilnya namun saya keburu menendang benda itu ke rumput. Jika benda itu sampai pecah di tengah jalan, bisa-bisa ada kaki akan terluka—terutama kaki yang tidak tertutup sempurna. Kaki saya yang hanya beralaskan sandal jepit misalnya.

Kami, para calon penumpang di luar gerbong, menunggu para penumpang sebelumnya turun dengan sabar. Kami yakin kami akan mendapatkan tempat duduk. Kami memegang tiket bernomor. Suara dari speaker juga telah mengingatkan kami. Namun anehnya, masih saja ada perasaan was-was ingin cepat-cepat masuk ke dalam gerbong.

Saat kami mencoba masuk ke dalam gerbong, tahu-tahu ada penumpang yang masih hendak ke luar. Penumpang itu mengingatkan kami untuk membiarkannya turun dulu. Hal ini berkali-kali terjadi. Berkali-kali sudah saya menapaki tangga gerbong—mengira penumpang di dalam sudah turun semua—namun harus turun lagi kemudian. Ternyata masih ada penumpang yang belum turun. Di sinilah kesabaran diuji. Muncul perasaan, mbok ya kalau turun tuh sekalian semua gitu loh, jangan sedikit-sedikit kayak gini... Kalau antar calon penumpang dengan penumpang sebelumnya tidak ada saling pengertian, maka bisa-bisa arus ke luar masuk gerbong akan macet. Saya merasakan betapa tidak enaknya didorong-dorong, berdempet-dempetan, dan terjepit di sana. Biasanya saya akan mengalah. Saya akan turun lagi dan membiarkan yang turun duluan. Tapi kadang di belakang saya ada lagi calon penumpang yang tidak sabaran. Ia tidak mau turun lagi. Ia diam saja di situ. Akibatnya saya terjebak. Mau ke luar lewat celah satunya, tidak bisa. Di sana sudah dijejali oleh orang-orang yang hendak turun maupun merangsek ingin segera masuk.

Ada ibu-ibu yang sudah menaiki tangga gerbong dan tidak mau turun lagi ketika ada penumpang lagi yang hendak turun. Ibu itu bergeming saja di tempatnya, padahal para penumpang dari dalam membutuhkan ruang yang lebih untuk dapat keluar. Bisa dirasakan betapa kesalnya melihat kejadian ini. Ada pula ibu-ibu yang memilih untuk masuk ke WC saja daripada harus turun lagi. Ini masih mending. Saya juga terpikir seperti itu. Tapi saya tidak mungkin mendesak ibu-ibu itu untuk lebih masuk ke dalam WC, jadilah saya turun lagi.

Setelah beberapa kali turun dan naik, yakinlah saya bahwa saya sudah bisa benar-benar memasuki gerbong karena penumpang di dalamnya sudah turun semua. Akhirnya, saya bisa menuju ke tahap selanjutnya: mencari tempat duduk. Dengan menafikan sampah berwarna-warni yang berserakan di mana-mana, saya mencari-cari tempat duduk nomor 10 di sisi kanan gerbong. Dapat. Sudah ada dua orang bapak-bapak di sana. Yang satu duduk (di seberang tempat duduk nomor 10) sementara yang satu lagi berdiri. Ketika saya mendekat, bapak yang berdiri tampak heran.

“10 A?” tegur saya.

“Tapi ini sudah dipesan,” kata bapak itu sambil tangannya mengisyaratkan bahwa ketiga huruf alfabet yang menandai sederet tempat duduk itulah yang ia maksud.

“Ini gerbong berapa?”

“Gerbong dua.”

Saya agak tercengang. Membayangkan pergulatan keras yang harus saya hadapi di pintu tadi demi bisa masuk ke dalam gerbong ini. Baiklah, saya harus pindah. Saya hendak pindah ke gerbong tujuh yang terasa amat jauhnya itu lewat gerbong-gerbong lain tanpa harus turun lagi. Tapi itu ide buruk. Gelombang penumpang yang baru naik segera melanda. Saya tidak mungkin berjalan menembusnya. Memaksakan diri adalah ide yang buruk. Lewat arah satunya, turun lagi dari gerbong dan lewat jalan di luar? Itu lebih baik. Namun sama saja. Orang-orang sudah berbondong-bondong menyerbu masuk ke dalam kereta dari arah satunya lagi itu. Saya terduduk di tempat duduk nomor 10 yang bukan hak saya itu. Berusaha tetap sabar dengan beramah-ramah. “Saya duduk di sini dulu sampai sepi! Nggak bisa jalan!”

Ketika ada kesempatan, saya bangkit dari situ. Saya turun dari gerbong dan berjalan ke arah barat, menapaki rumput becek, sambil menghitung... 1... 2... 3... 4... 5... 6... 7... Saya menaiki gerbong tersebut. Keadaannya sama saja ternyata. Masih banyak orang berdesakan mencari tempat duduknya. Dorongan-dorongan tak sabaran masih harus saya rasakan. Ah, itu tempat duduk nomor 10! Seorang bapak-bapak sudah menaruh bawaannya di sana, namun kelihatannya seseorang di hadapannya memberitahunya bahwa ini bukan gerbongnya. Saya bertanya pada seorang ibu-ibu yang sudah duduk di belakang saya, “Ini gerbong berapa?”

“Gerbong enam.”

Padahal saya merasa tidak salah hitung tadi.

Saya lupa entah bagaimana caranya—menunggu lorong sepi atau turun dari gerbong lagi—untuk bisa sampai di gerbong tujuh. Gerbong yang kali ini tampak sedikit lebih lengang. Saya melihat bapak-bapak yang salah gerbong tadi sedang menaikkan bawaannya di tempat barang di atas tempat duduk nomor 10. Saya langsung melempar ransel saya ke sisi dekat jendela, mengamankan teritorial. Bapak itu tampak kaget saat berbalik dan melihat sudah ada ransel saya di situ. Ia tidak menyadari kedatangan saya. Dengan mantap saya katakan padanya bahwa tempat duduk saya nomornya 10 A. Kali ini saya tidak salah tempat.

bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar