LAINNYA

Rabu, 24 Oktober 2012

Politik Apartheid, Nestapa Pedagang, dan Hubungan Suami-Istri


“The Train from Rhodesia” (1949) merupakan cerpen karangan Nadine Gordimer (lahir 1923), seorang pemenang nobel Sastra dari Afrika Selatan. Cerpen ini  secara subtil mengungkapkan kritik terhadap politik apartheid.

Cerita dibuka dengan kedatangan sebuah kereta, yang kemudian berhenti di sebuah stasiun.

The train come out of the red horizon and bore down toward them over the single straight track.

Seorang wanita muda di dalam kereta, didekati seorang pria tua. Melalui jendela pria tua tersebut menawarkan dagangannya yang berupa ukiran kayu berbentuk hewan. Si wanita tertarik dengan ukiran kayu berbentuk singa, suaminya pun berminat untuk membelikannya. Tetapi kemudian wanita tersebut memutuskan bahwa harga singa ukiran tersebut terlalu mahal. Ia pun pergi dari tempat itu, lalu duduk di bangku seraya merenung.

Kereta kembali berangkat. Si suami mendekati istrinya dengan singa ukiran di tangan. Ia berhasil mendapatkan benda tersebut seharga dua shilling lebih murah. Apa nyana, si istri malah marah.

If you wanted the thing, she said, her voice rising and breaking with the shrill impotence of anger, why didn’t you buy it in the first place? If you wanted it, why didn’t you pay for it? Why didn’t you take it decently, when he offered it? Why did you have to wait for him to run after the train with it, and give him one-and-six! One-and-six!

Si istri pun tidak mengacuhkan suaminya lagi, membiarkan singa ukiran tersebut jatuh begitu saja.

Kereta pun kembali berjalan.

The train had cast the station like a skin. It called out to the sky, I’m coming, I’m coming; and again, there was no answer.

IMHO. Kereta bak sebuah garis yang membelah jalanan, seperti politik apartheid yang memisahkan manusia berdasarkan warna kulit. Kereta meraung-raung dengan sirenenya, tapi tidak ada satupun yang memedulikan. Seakan menggambarkan kondisi pada masa politik apartheid dilangsungkan, tidak ada yang cukup acuh untuk mengubah keadaan. Hingga orang-orang seperti Nadine Gordimer sampai Nelson Mandela bersuara.

***

Saya coba membayangkan sekiranya latar cerpen ini adalah Indonesia, masa kini, dan bukannya Afrika Selatan, masa lalu. Di Afrika Selatan, warna kulit membedakan kelas. Di Indonesia, kulit sama cokelat tapi perbedaan kelas tetap nyata. Kesenjangan amat terasa. Hotel setinggi puluhan lantai menjulang sendiri di tepi pemukiman padat nan kumuh, duh! Cek Jalan Gatot Subroto di Kota Bandung tuh.

Rasakan pengalaman berkendara dengan kereta di Indonesia, di Pulau Jawa, di jalur Jogja-Bandung saja misal. Menjelang sore, kereta telah sampai di sebuah stasiun di Garut—atau sekitar itu.

“Duk! Duk!” badan kereta dipukul-pukul.

“Bu, minta duit…!” suara anak-anak kecil riuh menyusul.

“Duk! Duk!” di sini, di sana, di mana-mana di sepanjang badan kereta.

Belum lagi, “Quaquaqua…”, atau “Mijonmijonmijon…”, dan “Ayamayamayam…”

Kejadian sebagaimana di cerpen Nadine Gordimer mungkin saja terjadi. Tidak cuman di kereta, ayo beralih ke pasar. Calon pembeli menawar dengan harga serendah mungkin, tidak dikasih, tinggalkan. Pedagang, apabila telah sampai taraf putus asa karena barangnya memang tidak laku-laku, akan mengejar calon pembeli. Kasih dengan harga semau calon pembeli, atau coba ajak bernegosiasi lagi.

Memang patut apabila istri memarahi suami. Menawar barang hanya untuk bersenang-senang. Membayar dengan harga yang tidak pantas. Bikin si pedagang sampai mengejar-ngejar. Suami tidak tahu betapa berarti bagi si pedagang apabila barangnya laku, biarpun cuman satu. Dasar suami iseng.

Beberapa kritik mengenai cerpen ini memposisikan suami sebagai karakter yang tidak simpatik. Adapun saya juga melihat sisi yang menunjukkan bahwa suami sebetulnya sekadar ingin menyenangkan istri, sedang bargaining for fun itu hanya implikasi dari kejadian yang dimulai oleh istri. Sekiranya istri tidak urung membeli singa ukiran tersebut, kejadian suami-bayar-terlalu-murah-sampai-bikin-pedagang-lari-lari-padahal-sudah-tua kan tidak perlu terjadi. Toh suami juga sampai lari-lari untuk menunjukkan pada istri bahwa ia telah memperoleh barang yang semula diinginkan istri, tapi istri tidak menghargai. Suami tidak menghargai pedagang, suami tidak dihargai istri.

Di sisi lain istri tidak jadi membeli singa ukiran bukan hanya karena harga yang mahal, melainkan juga karena mereka sudah membeli banyak barang serupa, dan istri sedang galau akan hubungannya dengan suami. Ia merasa asing dengan suami, yang sayang sekali sebabnya tidak dijelaskan lebih dalam oleh pengarang. Bisa jadi suami tertarik pada istri, tetapi istri menikah dengan suami tidak dilandasi dengan cinta. Bagaimanapun suami dan istri menaiki “kereta dari Rhodesia” itu karena mereka baru pulang dari bulan madu. Baru permulaan. Coba lihat setelah bertahun-tahun lagi, setelah satu sama lain telah semakin mengenal, masihkah istri merasa asing dengan suami?   

Kompleks juga cerpen ini. Politik apartheid tidak hanya memisahkan yang putih dengan yang hitam, tapi berpotensi juga terhadap suami dengan istri.***


(dari "The Harper Anthology of Fiction" oleh Sylvan Barnet, 1991, HarperCollins Publishers Inc.) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar