LAINNYA

Selasa, 01 Mei 2012

PerNoWriMo: Bibi (2) -- 2 dari 4

Bibi (2)
Seorang tetangga mendatangi rumah pada suatu sore. Salah satu lubang hidung anaknya disumbat tisu. Memar mewarnai pelipis dan sekitar mata kiri sang bocah. Ibunya mencak-mencak di depan Bibi. Kali ini Sari tak mau ikut. Ia diam saja di dapur dan menyibukkan diri sementara Bibi dimaki-maki.
“Kurang ajar! Masak anak saya dilempar pakai truk? Memangnya anak saya ini apaan?! Ya Gusti…”
Pandangan Bibi yang nanar menyapu lantai. Mulutnya melantunkan permohonan maaf dengan amat lirih. “Ya… Ya… Bu… Nanti saya kasih tahu anaknya…”
“Jangan cuman kasih tahu anaknya, kasih tahu juga ibunya! Punya anak kok ya enggak bisa ngedidik…”
Jantung Bibi serasa diperas. Adalah tanggung jawabnya untuk membesarkan anak-anak sementara ibu mereka berkutat nyaris sehari penuh di kantor. Sekuat mungkin ia menahan agar tubuhnya tidak gemetar.
Wanita tersebut mengumpat seraya menyeret anaknya pergi dari halaman.
Selepas kepergian mereka, Bibi mencari-cari selopnya. Rara yang sedari mula mengintip kejadian tersebut keluar dari balik pintu depan. “Mau ke mana Bi?” tanya gadis cilik itu pelan. Ia tak kalah gentar dari Bibi.
“Mau cari Adek…” kata Bibi. “Sudah Mbak Rara di rumah saja ya…”
Rara memang tidak berminat untuk ikut mencari Raka. Kegalauan Bibi masih bisa Rara rasakan hingga sosok nenek itu menghilang di belokan jalan. Garis-garis lembayung membayang di langit. Rara menutup pintu lalu berlari mencari tempat yang terang di dalam rumah.
Bibi mengangkat kain hingga sebagian betisnya tersingkap. Tapak selopnya beradu dengan aspal berbatu. Ia tidak terpikir apapun mengenai di mana kira-kira keberadaan Raka. Hanya nyalang matanya pada apapun di sekitarnya. Bibirnya komat-kamit mengucurkan doa agar petunjuk dari Yang Maha Tahu mengarahkan langkahnya.
Wajahnya mengernyit tepat ketika ia mendapati lapangan kosong-melompong. Ia mengelus-elus dada. Terasa ada sesuatu yang dipelintir di dalam sana. Ia memelankan langkah. “Dek… Dek Raka…” Kepala beberapa ekor gagak menengok ketika suara parau itu mengudara.
          Dari balik pagar rumah yang tengah dilewati, seorang wanita muda menegurnya. Wanita itu menunjuk arah menuju sawah. Ia melihat Raka berjalan ke sana.
Ketenangan membercak di atas nyeri Bibi. Ia mengucapkan terima kasih pada wanita itu. Langkah Bibi menjadi lebih wajar meski masih diliputi ketidakpastian. Barulah ia berucap syukur ketika melihat sosok itu di atas hamparan rumput.
Kepala bocah itu tengadah ke angkasa dengan mulut menganga. Ia begitu terkesima ketika beberapa ekor merpati mendarat di pundak pria di sebelahnya.
“Dek… Dek Raka…” Bocah itu menoleh. “Ayo pulang yuk…”
Cengiran yang diulas bocah itu memamerkan barisan gigi yang kecil-kecil lagi putih. Matanya lebur menjadi garis. Semburat jingga runtuh di atas kepalanya.
Bibi kira bocah itu akan berlari ke arahnya, menyeruduk ke dalam pelukannya. Tapi Raka malah terus melewatinya. Kepalanya teleng. Ekspresi pada wajahnya meneriakkan kata-kata, “Ayo kejar aku Bi!” Kecemasan Bibi kian jadi. Ia mengangkat kainnya lagi. “Oalaaah…” desahnya panjang. “Bibimu ini udah enggak kuat lari, Dek…” Tapi kemudian ia tetap tergopoh-gopoh.
Bocah itu lari cepat sekali bagaikan ahli. Dalam pelarian ia merasakan sensasi mendebarkan. Akankah Bibi berhasil menangkapnya? Selama ini ia membayangkan jarit Bibi, yang biasa dipakai untuk menggendongnya, juga berfungsi sebagai selendang terbang. Bibi akan menyibakkan kedua ujung jarit tersebut lalu melesat ke atas. Raka mendongak. Ia berharap melihat sosok Bibi dilatari kelamnya awan. Meski tidak menemukan apapun selain formasi kawanan burung yang hendak pulang ke sarang, dayanya untuk melanjutkan pelarian tetap ada.
Sebentar lagi Raka akan melewati jalan menuju rumah. Tapi ia tidak ingin pelariannya usai begitu saja. Ia tidak menoleh ke belakang sama sekali. Ia tahu Bibi akan selalu mengejarnya. Ia bisa merasakannya. Ia ingin Bibi menangkapnya lalu bersama-sama mereka pulang.
Jalan raya menghadang. Tidak ada kendaraan yang berlalu dengan kecepatan pelan. Ini adalah jalan penghubung kabupaten dengan kotamadya. Bibi selalu menggenggam tangan Raka dengan erat jika mereka hendak menyeberang. Ada bakso yang lezat di sisi jalan satunya. Mereka cukup sering membeli ke sana. Dan menyeberang adalah hal yang mudah. Tengok kanan. Kendaraan masih menyerbu. Tunggu sampai arusnya mereda. Sudah? Kendaraan seperti tidak kunjung berhenti. Raka bingung. Ia menoleh ke belakang dengan gelisah. Bisa-bisa Bibi keburu sampai. Saat itulah mata sipit sang bocah menangkap sepasang orang yang hendak menyeberang juga. Dengan gesit langkah-langkah kecilnya menjejeri mereka. Ternyata pembatas jalan ini tinggi juga. Raka merasa lebih mudah menaikinya ketika ada tangan Bibi menarik sebelah tangannya, atau sekalian mengangkat badannya yang subur itu. Tapi Raka bisa melakukannya sendiri! Bocah itu menyimpan sorakannya untuk ia tunjukkan nanti, saat Bibi sudah sampai di tepi jalan. Sementara itu ia menanti sambil bersandar pada tiang lampu. Ia memantulkan-mantulkan punggungnya pada tiang tersebut seraya sesekali pandangannya teralih ke tepi jalan. Itu Bibi!
Raka mengangkat kedua lengannya setinggi mungkin seraya melambai lalu melonjak-lonjak. Terpancar sekilas kelegaan di wajah panik Bibi sebelum kembali mengawasi laju kendaraan. Bibi ingin lekas menyeberang. Raka tidak memerhatikan kerut-kerut yang tidak biasa di wajah Bibi. Ia terus melonjak-lonjak. “Bibi! Aku bisa nyeberang lo! Bibiii!” teriaknya sekencang mungkin untuk menyemangati.
Orang-orang di samping Bibi bergerak dengan langkah cepat. Bibi menyusul dengan tertatih-tatih. Mendadak ia tercekat. Tepat ketika orang-orang di sampingnya tadi telah mencapai pembatas jalan, sebuah bis menyalip sedan lantas menerobos ruang yang ada. Sopir bis tidak memperhitungkan adanya wanita tua yang gagal melanjutkan langkah. Benturan keras antara tubuh manusia dengan dinding depan bis berkecepatan tinggi serta-merta memalingkan banyak wajah. Seluruh ban di bagian kanan bis itu melindas tubuh Bibi, disusul ban dari mobil-mobil lain yang tak sempat menghindar. Jeritan dan seruan membumbung bersama polusi di udara.
Raka tak memerhatikan bagaimana ada kendaraan yang seketika berhenti dan tetap melaju. Ia tidak melihat orang-orang yang berlarian searah dengan ceceran darah, meski ia mengikuti mereka. Getaran merambati setiap langkahnya. Setiap langkahnya berpijak ke paving block, seketika itu kakinya terasa goyah. “Bibi… Bibi… Bibi…” gumamnya tanpa henti dengan tatapan nanar sekaligus setengah sadar. Aliran udara menyetrum pelan sekujur lehernya, telinganya, lantas merembet ke tepian lengannya… Dengan gontai kakinya menuruni pembatas jalan, “awas!”, dan dua buah kendaraan berdesing bagai peluru di belakangnya. Ia menyentuh orang-orang yang ia lalui tanpa melihat mereka. Ia hanya ingin memegang sesuatu.
Seseorang berjengit ketika  merasa ada sesuatu yang mencengkeram pergelangan tangannya. Seorang anak kecil. Tatapan bocah itu terpaku pada sosok yang terkapar dalam genangan darah di aspal. Sosok dengan posisi tubuh yang ganjil. Lengan dan kaki tidak mengarah ke semestinya. Rambut kelabu terburai menutupi sebagian wajah. Mulut terbuka setengah. Mata membeliak ke arah berlawanan. Salah satu bola mata yang nyaris mencuat dari rongganya mengarah tepat ke sang bocah. Cengkeraman di pergelangan tangan mengencang.


...bersambung ke besok: Raka (1) 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar