LAINNYA

Sabtu, 15 Oktober 2011

(When) Turtle (Really) Can Fly

Judul : Joshua Joshua Tango
Pengarang : Robert Wolfe
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2008

Belum cek kapan film “Turtle Can Fly” diproduksi. Novel ini sendiri diproduksi tahun 2004 di Amsterdam. Bisa jadi pengarang novel ini terinpirasi si film lalu membuat novel yang membuktikan kalau kura-kura memang bisa terbang—karena dalam si film yang bertajuk demikian sama sekali tidak ada adegan kura-kura terbangnya. Atau malah si pembuat film yang terinpirasi dari si novel. “Kura-kura dalam novel ini kok bisa terbang? Kayaknya bagus buat judul film.”—meski, sekali lagi saya katakan kalau dalam film tersebut sama sekali tidak ada adegan kura-kura terbangnya!

Ada Nobita dengan Doraemonnya, Timmy Turner dengan Cosmo dan Wanda—fairly odd parents-nya, lalu sekarang Marcel dengan Joshua. Mungkin impian dasar setiap anak yang lemah dan kesepian untuk memiliki seorang teman yang bisa selalu diandalkan.

Bukan robot kucing maupun sepasang peri bersayap, kali ini sang teman berwujud kura-kura ajaib dari Brasil. Ia tidak hanya bisa terbang, tapi juga berpikir, menyanyi, menari tango, bertelepati, bergurau, dan narsis. Novel ini menceritakan bagaimana kehadirannya dapat mengubah kehidupan seorang anak.

Mulanya Marcel Groen hanyalah seorang anak bertubuh kecil dan berambut kribo merah yang tersingkir dari pergaulan. Ia kikuk, kadang sikapnya kasar, sesekali bertindak pengecut, namun sebenarnya memiliki banyak potensi. Ibunya kabur, orang-orang di sekolahnya menyebalkan, ayahnya terlalu sibuk bekerja, penjaganya rese, belum lagi ada sepasang kakak-beradik yang suka mengganggunya setiap pulang sekolah.

Suatu hari ayah Marcel membawa pulang kura-kura tersebut, yang mulanya dinamai Herman, untuk objek penelitiannya. Ditengarai sang kura-kura memiliki kemampuan berpikir setaraf manusia, bahkan lebih, sehingga ayah Marcel yang peneliti hendak memasang alat untuk mengetahui aktivitas otak hewan tersebut.

Awalnya keberadaan Herman membuat Marcel takut—apalagi ketika kura-kura itu mulai coba berkomunikasi dengannya. Namun lama-lama Marcel bisa menerima sang kura-kura yang ternyata bernama Joshua.

Dengan kemampuan telepati yang dimiliki Joshua, Marcel bisa berkomunikasi dengan kura-kura tersebut hampir di setiap waktu. Kura-kura itu membantunya memberi jawaban oke di kelas—yang membuat Marcel jadi menarik bagi seorang cewek. Joshua juga membantu Marcel menghindar dari duet maut Luc dan Ed Jabrik.

Ketika Joshua mulai dipasangi alat oleh ayah Marcel, yang menyebabkannya tidak bisa melakukan aktivitas apapun supaya jati dirinya tidak terkuak, Marcel pun berusaha agar ia bisa terus bermain dengan Joshua. Satu-satunya cara adalah Marcel harus memberi Joshua tenaga mimpi agar Joshua bisa terbang. Aktivitas sang kura-kura tidak akan terdeteksi oleh alat yang hanya berfungsi hingga ketinggian tertentu tersebut.

Tenaga mimpi didapatkan dari mereka yang memiliki keinginan untuk mewujudkan mimpi mereka. Tentu saja keinginan ini berwujud tindakan. Marcel mencari-cari apa mimpinya. Ia pun mulai berlatih sepak bola. Ia juga mengirim surat pada ibunya.

“Kalau orrang melakukan sesuatu yang benarr-benarr diinginkannya, sesuatu yang selalu jadi impiannya, dengan sendirrinya akan muncul tenaga mimpi.” (hal. 62)

“…kau ingat tenaga mimpi, pusatkan pikirranmu pada apa yang benar-benar kauinginkan…” (hal. 67)

Ya. Memang Joshua bicara dengan r tebal. Bayangkan betapa telitinya dia yang harus mengetik dialog sang kura-kura.

Usaha Marcel tidak hanya memberikan sang kura-kura tenaga mimpi untuk terbang—tapi juga memberikan perubahan bagi kehidupan Marcel sendiri.

Karena Joshua bisa jalan-jalan lagi, mereka jadi mengalami berbagai petualangan seru. Misalnya ketika Joshua ingin mendapat ijazah penerbangan bertenaga mimpi. Petualangan ini mempertemukan mereka dengan seorang penyiar radio yang nantinya juga berperan dalam mewujudkan mimpi Marcel. Inilah buah dari mengambil berbagai risiko.

Dengan kemampuan terbangnya pula, Joshua menunjukkan pada Marcel bahwa di atas awan pekat yang menurunkan hujan ada langit cerah di mana lingkup pandang kita bisa lebih luas.

Langit terbentang luas dan berwarna biru cerah, matahari bersinar di cakrawala. Kabut yang barusan mereka tembus mengawang mengitari mereka bagaikan busa sabun mandi. Gumpalan awan berwarna putih dan abu-abu. Membentang ke segala penjuru seperti dalam pemandangan pegunungan khayalan. Mangkuk sup selebar laut. Begitu menyesakkan rasanya tadi, begitu luas rasanya sekarang, ada tempat untuk semuanya, untuk seluruh dunia, untuk lebih banyak daripada seluruh dunia!


“Kau tidak perrcaya saat kau kehujanan di bawah, tapi di atas selalu ada ini yang menanti.” (hal. 279)

“…Apa dalam kepalamu yang bikin bisa melihat pikirranmu?”

“Aku tidak tahu, Joshua. Kadang-kadang pikirannya kelihatan begitu saja. Mungkin ada sesuatu di bagian belakang kepalaku yang melihat pikiranku itu. Ya, mungkin ada semacam cahaya di bagian belakang kepalaku.”


“Kau benarr. Kau selalu punya mataharri di bagian belakang kepalamu yang kadang-kadang tidak kelihatan karrena terrtutup awan.”


“Orrang kadang punya pikirran yang sangat indah di atas sini. …” (hal. 280)

How subtile…

Menurut Joshua, keberanian adalah ketika kita takut tapi kita tetap melakukan sesuatu. Orang yang tidak takut tidak memerlukan keberanian. Orang takutlah yang memerlukan keberanian supaya ia bisa tetap melakukan sesuatu. Seolah Joshua telah menyuntikkan efek kata-kata tersebut padanya, Marcel jadi berani untuk melakukan banyak hal.  Misalnya saja ia berani mengambil bola yang tercebur ke kali. Aksinya malah membuat seorang pria ikut tercebur juga. Namun ia berani pula untuk minta maaf pada pria tersebut.

Ia juga berani menantang Jan-Miller, kapten tim sepak bola sekaligus musuhnya di sekolah, untuk adu penalti. Berkat latihan yang terus-menerus—yang mulanya untuk persediaan tenaga mimpi Joshua, Marcel jadi ahli dalam melakukan tendangan penalti. Meski tidak bisa memenuhi tantangannya, dan ia malah kabur gara-gara itu, ia telah menunjukkan kemampuan yang membuatnya dimasukkan dalam tim sepak bola sekolah.

Klimaks cerita berupa pertandingan antara tim sepak bola sekolah Marcel melawan tim sepak bola sekolah Jabrik bersaudara. Namun sebelum itu Marcel dihadapkan pada dilema. Joshua akan dipulangkan ke Brasil karena penelitian ayah Marcel tidak kunjung berhasil. Namun Joshua bisa tetap tinggal apabila Marcel membocorkan rahasia Joshua pada ayahnya. Mana yang akan Marcel pilih?

Namun ada satu hal lagi soal pikiran yang sering ditekankan Joshua pada Marcel—yang agak pencemas— sepanjang cerita ini. Berkali-kali Joshua mengingatkan Marcel agar tidak mengikuti pikiran. Pikiran tidak selalu benar. Kamu telah berlatih. Kamu telah punya kemampuan. Biarkan kemampuanmu yang menunjukkan keadaan yang sebenarnya, jangan sampai pikiran mempengaruhi.

“Jelas kau merrasakannya, dan bagimu itu kenyataan. Karranganmu jadi kenyataan untukmu sendirri. Bagi Kolonel juga begitu—bagi dia, perrang benarr-benarr ada.”

“Oke. Tapi kalau mesti menembak tendangan penalti, kita merrasakan tekanan, itu kan biasa. Itu kan tekanan betulan?”

“Hanya kalau kau karrang sendirri. Kalau kau tidak mengarrangnya, tekanan itu tidak ada.” Joshua meletakkan bola pada titik penalti. “Kalau mau menembak tendangan penalti dengan tenaga mimpi, kau tidak mengarrang apa-apa. Tidak ada tekanan, tidak ada apa-apa. Kau tanya apa yang benarr ada. Apakah bola betulan ada?” Dia terus menatap Marcel sampai anak itu mengangguk. “Apa gawang benarr ada?”

“Ya,” jawab Marcel.

“Apa kiperr benar ada?”


“Kaulihat? Apa yang benarr ada? Bola, gawang, kiperr. Yang lain tidak penting—yang lain-lain cuma pikirran, karrangan. Lepaskan itu, carri kesunyian, lantas bum! Bahwa kau harrus mencetak gol, itu pikirran yang harrus di kepalamu.”

“Ya, kau gampang bicara. Buat aku tidak segampang itu, tahu!” tukas Marcel.

“Justrru karrena itu kita latihan,” kata Joshua. (hal. 143-144)

Marcel diam sebentar. Semua menatapnya. “Triknya adalah,” katanya lambat, “tidak menghiraukan pikiran. Kepala kita ini banyak maunya. Kosongkan saja. Kalau kepala kosong, kaki kita lebih mengerti dia harus berbuat apa. Tinggal lihat saja, jangan banyak pikir, dan kalau kepala kosong, kau akan merasakan sendiri kapan saat untuk menendang.”

“Apa itu yang kaulakukan?” tanya Klaas. “Kupikir kau banyak berlatih.”

Marcel mengangguk. “Tentu aku banyak berlatih, kakiku ini mesti belajar menendang. Tapi kalau kau sudah bisa menendang, apa yang ada di kepalamu lebih penting.” Klaas tetap menatap sepatunya. Marcel berbicara lebih lirih sedikit, “Dan gagal tidak terlalu buruk. Yang penting kau mencoba.” (hal. 347-348)

Yang saya bingungkan adalah kemampuan yang dimaksud di sini adalah kemampuan motorik—menendang. Bagaimana dengan kemampuan kognitif yang justru melibatkan pikiran, seperti membaca dan menulis? Bagaimana kita bisa memisahkan pikiran dari kemampuan yang melibatkan pikiran?

Saya sudah berprasangka akhir cerita ini akan sedih—meski ketika membacanya ternyata saya tidak sedih-sedih amat. Teman Marcel yang berupa manusia—ya akhirnya ia punya teman manusia juga, namanya Duca—tetap akan dipulangkan ke negara asalnya, Kosovo, meski sang jagonya sepak bola tersebut masih bisa tinggal lebih lama di Belanda. Belum jelas juga apakah ibu Marcel bakal kembali dari India atau tidak. Setidaknya Joshua jadi bisa bernyanyi keras-keras lagi. Entah apakah Marcel bisa mempertahankan atau menjadikan kehidupannya lebih baik lagi setelah kepergian Joshua. Eh, maaf, spoiler.

Paling yang saya herankan adalah ketika Joshua terbang siang-siang. Atau bisa pula malam. Kok hebat sekali ya sesering itu ia terbang tapi tidak pernah ketahuan siapa pun? Belum lagi dengan Marcel ikut terbang dengan duduk di atas punggungnya. Tapi kalau difilmkan mesti fantastis sekali. Pas ditonton di pagi hari sambil sarapan, atau mungkin saat siang akhir pekan.

Cerita yang berlatar di Belanda, dengan nama jalan yang diakhiri –straat, memberi kesan tersendiri akan kehidupan biasa kini di negara penjajah negeri kita zaman lampau itu. Beberapa adegan terjadi di kali dan mengingatkan saya bahwa Belanda adalah negara yang dibangun dengan membendung sungai bukan? Atau laut, eh? Beberapa tempat di Indonesia, seperti Jakarta dan Bali, memang disebut-sebut. Sungguh masih dekat kita bagi mereka rupanya.

Tidak perlu kerumitan untuk menyampaikan sesuatu yang berarti dalam kehidupan. Novel ini membuktikannya. Gaya bahasa yang ringan membuat novel ini seolah cocok bagi pembaca anak-anak. Sebagaimana film “The Adventure of Lavagirl and Sharkboy” yang dikemas sebagai film anak-anak, namun adakah anak-anak yang sudah ngeh dengan istilah “the stream of counsciousness”? Selain itu tebal halaman novel ini lumayan dan ukuran font-nya tidak bisa dibilang besar juga. Semoga anak-anak tidak lelah membacanya.

Namanya juga fiksi. Perlu diingat bahwa seberapapun novel ini menginspirasi, perubahan tidak mesti terjadi secepat yang Marcel alami. Dalam cerita ini pun keadaan tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya komunikasi di antara Marcel dengan Joshua putus. Marcel harus berjuang dengan dirinya sendiri.

Lagipula kita tidak bisa mengharap tahu-tahu ada kura-kura ajaib mendatangi kita kan? Namun mungkin itu intinya. Keajaiban akan mendatangkan perubahan. Marilah kita cari keajaiban tersebut—yang wujudnya tidak harus berupa kura-kura bertingkah laku manusia. Atau mungkin keajaiban adalah perubahan itu sendiri. Sesuatu yang ganjil, aneh, jarang ada, tidak seperti biasa, mengherankan—biasanya tidak nyaman dengan keadaan seperti itu. Tapi kamu ingin berubah tidak?

Waktu saya ke Bandung akhir September – awal Oktober lalu, di bazaar buku belakang TB Gramedia Jalan Merdeka novel ini dijual hanya sepuluh ribu rupiah. Saya tidak menyangka ternyata novel ini oke punya! :-)   
“…Dalam kehidupan ini kau masih akan mendapatkan banyak teman baik, dan kau akan berrteman dengan merreka untuk selamanya, walaupun kau tidak berrtemu merreka setiap harri. Malah meskipun kau tidak berrtemu merreka lagi untuk selamanya, merreka ada di dalammu. Atau malah sedikit di luarrmu. Karrena mempunyai teman sejati berrarrti sedikit merrangkak keluarr darri dirrimu sendirri. Kalau punya teman sejati, kau membangun sedikit jembatan keluarr dirrimu sendirri. Jembatan yang tidak tampak, dan setiap teman sejati ikut membangun sedikit jembatan itu. Jadi walau kau tidak berrtemu teman sejati itu lagi, dia selalu hadirr.”

“Apa Mama juga bagian dari jembatan itu?”

“Lebih tepat dikatakan ibumu adalah penyangga jembatan itu. Merrupakan cinta yang sudah ada sebelum kau ada. Berrteman adalah upayamu sendirri, dan itu membuatmu merrasa ada sesuatu yang menjadi milikmu sendirri.”

“Dan jembatan itu menuju ke mana?”

“Ah, itu perrtanyaan yang terrlalu indah untuk dijawab.” (hal. 376-377)

Jadi ke mana ya? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar