LAINNYA

Rabu, 17 Februari 2010

Sang Legenda yang Mencoba untuk Tetap Eksis


Judul : Lupus Returns: Cewek Junkies
Pengarang : Hilman
Penerbit : Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2007
Tebal dan panjang halaman : 176 hlm; 11 cm

Lupus kembali! Ia mendobrak portal yang membatasi era 80 – 90’an dengan era 2000-an. Dengan susah payah ia berusaha untuk beradaptasi. Lulu kenal friendster, Lupus berhadapan dengan mobil matic, sementara Boim dan Gusur nonton DVD Kuntilanak. Mereka terasa seperti tante dan om-om ringkih yang memaksa jadi anak muda jaman sekarang. Mengusung gaya New Order padahal sudah jamannya Goodnite Electric. Saya bisa mendengar Lupus cs berdiri di portal sambil menyanyikan Forever Young-nya Alphaville.

Bagaikan nasi kemarin lusa yang dibubuhi bayam yang matang baru saja. Bayamnya sih segar, sesegar tebak-tebakkan, adegan, dan dialog aneh dalam buku ini yang bikin ngakak. Tapi nasinya, basi mah ya basi aja... Mungkin karena sang penulis sudah sedemikian profesionalnya di bidang penulisan sinetron, ceritanya juga jadi ikut-ikutan begitu. Tak dikejar, maka tak tayang.

Beginilah ceritanya...

Lupus putus sama ceweknya yang seksi abis, Vera. Vera yang cheerleader soalnya lagi kepincut sama atlet basket, Restu. Beruntung Lupus segera menemukan cewek pengganti Vera yang tak kalah cantiknya... Nessa namanya. Cewek yang rada-rada ajaib ini berhasil mengembalikan Lupus menjadi cowok periang. Ternyata, Nessa punya masa lalu kelam. Dia mantan junkies! Mengetahui kenyataan itu, Lupus jadi gamang. Hubungannya dengan Nessa merenggang. Vera yang mengetahui itu memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meraih Lupus kembali karena Restu ternyata selingkuh! Sementara itu, mantan cowok Nessa, Dito, yang mengaku sudah tobat, datang untuk membawa Nessa kembali. Ternyata Dito bohong. Dia masih jadi bandar narkoba. Nessa berusaha melarikan diri darinya. Lupus sampai jauh-jauh datang dari Jakarta ke Bali untuk memperbaiki hubungannya dengan Nessa. Eh, Lupus malah dihajar Dito cs. Trio Lulu, Boim, dan Gusur pun menyusul Lupus saat itu juga untuk menyelamatkannya. Dito cs berhasil diringkus polisi. Lupus dan Nessa jadian lagi deh! Tamat begitu saja.

Sinetron banget gak seh lo...

Memang sudah lama saya tidak baca Lupus. Perasaan, Lupus jaman dulu ceritanya tidak begini amat. Lagipula sekarang sudah bukan jamannya dia lagi. Biarlah dia menjadi legenda. Penciri muda-mudi era 80 – 90-an. Sekarang mah jamannya teenlit, atuh, euy... Mengapa dia harus memaksa muncul padahal sudah bukan jamannya? Seharusnya dia sudah punya istri dan beranak pinak, setidaknya dua!

Untunglah gaya penulisan ngocol dan tebak-tebakkan yang bikin ngakak cukup jadi penyegar. Amat menghibur. Salah satu tebak-tebakkan yang bikin saya ngakak adalah salah satu tebak-tebakkannya Lulu ke Lupus (saya lupa halamannya yang mana, jadi tidak saya kutip tapi saya tuliskan lagi seingatnya),

Lulu : “Burung apa yang bisa nempel di dinding?”
Lupus : “Burungnya cicak!”

Belum lagi tingkah Lupus cs yang aneh-aneh. Misalnya, dalam salah satu cerita, Lulu sedang berulang tahun dan Lupus cs berniat memberinya kado istimewa. Sebuah kado seukuran kardus TV. Isinya orang.

Ini saya kutip saja salah satu dialog yang menurut saya aneh (aneh yang menggelikan, bukan aneh yang bikin dahi berkernyit),

“Cekak nih, lagi cekak. Wakakakak...!”
“Cekak tapi kok bisa cekakakan gitu?”
“Ih, siapa yang cekakakan? Gue kan cekikikan?”
(hal. 13)

Namun tidak selalu gaya penulisan menyegarkan cerita. Beberapa deskripsi sekiranya bisa lebih disederhanakan bahasanya. Misalnya deskripsi tentang tubuh Vera, keintiman hubungan antara Vera dengan Restu, atau malah antara Lupus dengan Nessa. Kalau saya sih risih bacanya. Apa cowok memang begitu ya bahasanya?

Kalau kamu hanya ingin terhibur dengan bacaan super ringan, buku ini bisa jadi alternatif. Dibandingkan dengan teenlit-teenlit yang sudah ceritanya tidak mutu, gaya penulisannya garing pula, saya menyarankan untuk membaca buku ini saja. Terbukti ampuh mengundang tawa, setidaknya pada saya.


sumber gambar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar