LAINNYA

Rabu, 04 Agustus 2010

Liburan Bersama Si Kancil

Ini adalah pengalamanku saat libur kenaikan kelas ke 5 SD. Seperti biasa, kalau sudah waktunya liburan, orangtuaku pasti menawarkanku untuk berlibur di Desa Cikapayang. Desa Cikapayang adalah kampung halaman ayahku. Di sana banyak tinggal sanak saudara beliau, seperti Kakek-Nenek, Uwak Ono, Bibik Esti, dan lain-lain. Meski sudah sering liburanku ke sana, aku tidak pernah bosan. Apalagi kali ini aku mengajak sahabatku, Vido, ikut serta.

Keluarga Vido adalah keluarga ilmuwan. Papinya Vido suka menciptakan macam-macam alat. Vido sendiri adalah anak yang jenius, menurutku. Meski aku sudah bersahabat dengannya sejak kelas 1 SD, aku masih sering tidak dapat memahami apa yang ia katakan. Namun demikian persahabatan kami erat sekali, seperti permen karet yang menempel di kolong bangku. Vido juga anak bandel karena ia suka meminjam alat ciptaan Papinya tanpa izin. Gara-gara itu, aku selalu mengalami petualangan seru kalau bersamanya.

Pada liburan itu, Vido membawa alat ciptaan terbaru Papinya. Alat itu bentuknya seperti headphone, tapi tanpa kabel, dan ada mic-nya. Kata Vido, dengan alat tersebut kita dapat berbicara dengan hewan. Vido membawakan dua, satu untukku, dan satu untuknya. Kata Vido lagi, alat tersebut hanya ada dua di dunia dan belum tentu akan diciptakan lagi. Cetak birunya rusak saat rumah Vido kebanjiran awal tahun ini. Karena takut merusakkannya, maka aku urung memakainya. Vido jadi ikut-ikutan deh. Lagipula, tanpa alat itu, hari-hari kami di Desa Cikapayang sudah mengasyikkan.

Karena banyak sanak saudara di sana, maka tempat kami tidur saat malam tidak tetap. Kadang kami tidur di rumah Kakek-Nenek, kadang di rumah Uwak Ono, kadang di rumah Bibik Esti… malah kadang di rumah teman-temanku. Karena seringnya ke desa ini, aku dekat dengan beberapa anak yang sebayaku. Tentu saja Vido kukenalkan pada mereka.

Karena aku dan Vido tinggal di kota besar, maka yang biasa kami mainkan, kalau bukan game komputer, Xbox, atau PS 2, ya mencoba alat-alat ciptaannya Papi Vido. Kami biasa mencobanya sambil main detektif-detektifan, misalnya dengan melacak siapa pencuri di kelas atau menguntit orang asing yang kelihatannya jahat. Tapi di desa ini, bagi Vido, setiap hari adalah saatnya mencoba permainan baru. Permainan yang mungkin hanya bisa dilihatnya dalam tayangan “Bocah Petualang” di TV. “Aduh, sayang saya lupa bawa handycam,” begitu keluh Vido, setiap teman-temanku di desa mengenalkannya pada suatu permainan. Mereka menunjukkannya cara membuat kolecer dari pelepah daun, berjalan dengan egrang, atau serunya bermain laher. Karena memori ponsel Vido juga penuh berisi file-file yang sayang kalau ia hapus, kenangan akan berbagai permainan tersebut hanya masuk memori otaknya saja.

Kalau tidak mencoba permainan tradisional, maka kami akan melakukan penjelajahan. Kutunjukkan pada Vido tempat-tempat menarik di mana kami bisa pura-pura menjadi pemburu harta karun. Hutan, bukit, dan kali mana di Desa Cikapayang ini yang belum aku dan teman-teman desaku jelajahi? Kami merasa jadi penguasa Desa Cikapayang setiap kali berhasil mencapai bukit tertinggi yang bisa dilihat dari rumah kami.

Kadang pula Kakek atau Uwak Ono mengajakku dan Vido ke sawah. Karena sedang musim panen, maka yang kami lakukan di sawah adalah bantu mencabuti batang padi. Wah, tak terkira melelahkannya! Kami bekerja di bawah terik matahari. Tapi menyenangkan juga loh! Setelah batang padi yang terkumpul cukup banyak, kami suka tidur-tiduran di atasnya sambil melihat awan putih berarak di langit biru cerah. Rasanya hati ini tentram sekali. Belum kalau sudah saatnya makan siang. Padahal lauknya bukan chicken nugget atau ayam crispy, hanya ikan asin dan sambal teri, namun terasa nikmat sekali.

Biasanya setelah makan siang, kami sudah malas bergerak. Maka kami tidur-tiduran di saung sambil merasakan angin sepoi-sepoi membelai tubuh kami. Kalau matahari sudah agak condong dan kantuk kami sudah hilang, kami suka berlari-lari menyusuri pematang sawah. Sekembalinya liburan nanti, teman-teman kami di sekolah pasti akan mengomentari kulit kami yang gelap terbakar.

Suatu hari, Uwak Ono mengajak kami menengok kebunnya. Sepanjang jalan, Uwak menceritakan keadaan kebunnya yang hampir gagal panen itu. “Harusnya bulan ini Uwak udah bisa panen timun banyak. Tapi timun Uwak banyak yang hilang! Sebagian malah ada yang dicampakkan gitu aja, nggak dihabiskan. Nggak tau ini, sama babi hutan atau apa…”

Aku dan Vido diam saja mendengar celoteh Uwak. Padahal kami sering main ke hutan, tapi belum pernah kami bertemu babi hutan. Seram juga kalau suatu saat kami sampai bertemu. Semoga saja tidak.

Dari kejauhan, terlihat hamparan kebun Uwak. Di salah satu sisinya tampak sesosok bebegig. Kukenali topi yang dikenakan oleh bebegig itu adalah milikku. Karena robek saat dipakai bermain, akhirnya kutinggalkan saja topi itu di desa saat liburan entah kapan. Sebatang bunga diselipkan pada salah satu sisi topi, membuat si bebegig tampak cantik. Belum lagi blus longgar kembang-kembang yang dikenakannya. “Namanya Rosalinda,” kata Uwak. Aku dan Vido saling pandang sambil terkikik geli.

Semakin dekat, sadarlah kami kalau ada sesuatu yang menempel pada badan boneka jerami tersebut. Seekor hewan! Ukurannya hampir sebesar kelinci. Warnanya coklat, tapi ada juga bagian tubuhnya yang berwarna putih. Kupingnya bulat. Matanya hitam. Lucu sekali! Ia bergerak-gerak gelisah. O, rupanya kaki-kakinya menempel pada blus Rosalinda. Ia berusaha melepaskan diri, tapi tidak bisa. Entah apa yang Uwak lumuri pada kain tersebut hingga begitu kuatnya menjerat kaki seekor hewan.

“Tah… Ieu nu sok maok timun Uwak!” seru Uwak gemas. “Raos yeuh, mun digulai…”

“Itu apa, Uwak?” tanya Vido, yang selalu lebih sigap dan kritis daripadaku. Aku sendiri masih terpesona akan hewan tersebut.

Uwak menurunkan keranjang yang sedari tadi dipanggulnya. Dengan hati-hati, dilepaskannya si Kancil dari jerat. “Ini teh Kancil…”

“Kancil?!” Bak bertemu artis, aku dan Vido sama-sama takjub. Kancil yang itu? Kancil yang kalah bertanding dengan siput? Kancil yang katanya anak nakal dan suka mentimun serta jangan diberi ampun? Ya ampun! Pantas saja, rasanya aku seperti pernah lihat di mana… Ternyata berbeda dengan yang digambarkan dalam kartun! Kancil yang ada di buku ceritaku rasanya berukuran lebih besar.

“Saya udah pernah liat kancil yang di kebun binatang sama yang di artikel. Tapi saya belum pernah liat kancil yang bukan di kebun binatang sama yang bukan di artikel,” gumam Vido. “Ini kancil yang ada di habitat aslinya…!”

Aku bahkan belum pernah melihat kancil secara langsung sama sekali, padahal aku yang lebih sering main ke desa! Tidak adil!

“Ih, jangan digulai atuh, Uwak. Kasian,” kataku. Masak hewan selucu itu mau disembelih? Aku tak akan tega memakannya! Lebih baik aku pelihara! Uwak akan mengizinkan tidak ya? Mama akan mengizinkan tidak ya? Mengingat apa yang dilakukannya pada anak kucing yang kuselundupkan suatu kali, sepertinya tidak. Padahal kalau kupelihara, tentu akan kuberikan si Kancil mentimun sepuasnya, setiap hari! Ia tidak harus mencuri lagi di kebun Uwak dan terancam jadi santapan. Mataku tak lepas dari bagaimana Uwak memasukkan si Kancil ke dalam keranjang. Vido juga. Si Kancil tampak pasrah saja, membuatku makin iba.

“Besok pagilah, suruh si Euis masak.” Uwak seakan tidak mempedulikan omonganku. Ia memastikan keranjangnya tertutup rapat agar tidak ada celah bagi si Kancil untuk meloloskan diri. “Yuk, bantu Uwak ngambilin timun yuk!”

Sembari keliling kebun untuk memanen mentimun yang selamat dari gigitan si Kancil, aku terus merengek pada Uwak agar si Kancil tidak dimasak, melainkan dipelihara saja. Aku memintanya membuatkan kandang. Si Kancil bisa tinggal di sana, jadi ia tidak akan pergi ke mana-mana. Kebun Uwak akan aman. Aku akan lebih sering main ke desa untuk menjenguk hewan lucu tersebut. Uwak hanya mengiyakan saja. Tapi aku tidak yakin ia bakal benar-benar melakukan itu.

Sepanjang jalan menuju rumah Uwak kembali, aku dan Vido menjaga jarak dari Uwak. Ini kami lakukan agar Uwak tidak bisa mendengar rapat penting di antara aku dan partner-ku itu.

“Kayaknya ini saatnya kita pakai alatnya si Papi, Ghir!” ucap Vido antusias. Aku tercengang. Hampir saja aku lupa kalau Vido membawa headphone penerjemah suara hewan! Aku mengangguk-angguk dengan penuh semangat.

“Saya juga pingin ngomong sama si Kancil, Vid!”

“Saya pingin tau, si Kancil itu sebetulnya selicik yang ada di buku cerita apa nggak!”

Aku masih mengangguk-angguk.

“Saya juga pingin tau apa kata-kata terakhirnya si Kancil sebelum besok digulai sama Uwak kamu. Kancil kan masih sodaraan sama rusa, Ghir. Rusa itu termasuk daging mahal loh! Seenggaknya, meskipun saya nggak bisa bawa pulang foto-foto pas di sini, saya udah ngerasain daging kancil kayak gimana.”

Aku menyaksikan seringaian Vido dengan ngeri. “Uwak… Uwak…” panggilku segera, setengah merengek. “Kancilnya nggak bakal jadi dimasak kan..?”

Uwak tidak menjawab. Senyumnya penuh misteri. Aku jadi sangat gelisah. Melalui celah-celah keranjang, terlihat si Kancil bergelung dengan malangnya.

Sesampainya kembali di rumah, Uwak menuju halaman belakang. Aku baru tahu kalau Uwak memakai getah nangka sebagai penjerat si Kancil. Sementara Uwak mulai membersihkan si Kancil dari getah yang melekat di tubuhnya, aku dan Vido mengambil headphone penerjemah suara hewan. Berdebar rasanya hati ini karena suatu hal yang hendak dilakukan untuk pertama kalinya. Aku akan bisa mengerti apa yang hewan-hewan bicarakan, dan balas bicara juga pada mereka! Sepanjang perjalanan menuju tempat si Kancil dibersihkan, Vido menjelaskan padaku cara kerja alat tersebut.

“Jadi, seinget saya prinsip kerja alat ini tuh dengan menyamakan gelombang suara hewan dengan gelombang suara kita. Yang buletan ini tuh buat nyamain frekuensi gelombangnya. Caranya diputer gini nih... Trus… blablabla…” Aku coba mengerti penjelasan Vido tapi kedengarannya rumit sekali. Mungkin suatu saat harus diciptakan pula headphone penerjemah penjelasan Vido! “…trus akhirnya kita bisa ngerti omongannya hewan deh! Hati-hati pakenya ya Ghir!”

“Aa.. Iya…” Tak mau aku membayangkan ledakan amarah Papi Vido kalau alat yang tak ada tiga atau empat atau lima dan seterusnya ini sampai kena suatu apa.

Vido memasang alat tersebut di kepalanya. Aku juga. Keajaiban pun kualami! Bisa kudengar burung-burung di pepohonan sana tengah bergosip, eongan si Pelong—kucing Bibik—yang memang bermakna minta makan, lantunan salam dari para semut pekerja di dinding rumah, dan lain-lainnya. Wow… Aku tak mempercayai pendengaranku! Jangan-jangan ini bukan suara asli mereka, melainkan hanya rekaman dalam headphone unik ini saja? Aku bisa melihat Vido sama terkesimanya denganku. Kenapa ya, kami terlalu takut untuk memakai alat ini kemarin-kemarin? Padahal aku penasaran apa yang diperbincangkan para kecebong di kali…

Terlihat Uwak sudah hampir selesai membersihkan si Kancil. Begitu kami mendekat, Uwak terperangah melihat benda yang melingkar di atas kepala kami. “Nanaonan eta?”

“Gaya atuh, Uwak… Lagi musim di kota mah,” alasanku. Vido mendukung dengan cengirannya. Uwak menggeleng-gelengkan kepala. Komentarnya, “Aya-aya wae…

Uwak lalu menawarkan siapa tahu kami mau memegang si Kancil. Ia hendak mengambil kurungan ayam untuk menawan hewan tersebut sementara waktu. Tentu saja kami mau! Aku dan Vido berebut hendak memeluk si Kancil. “Jangan sampai lepas, ya!” Uwak memperingatkan. Akhirnya Vidolah yang memegang hewan tersebut sementara aku mengelus-elus rambutnya yang kasar. Entah apa yang tengah dirasakan Kancil tersebut. Ia tampak anteng saja. Mungkin juga matanya menyorotkan ketakutan. He, kenapa aku tidak langsung tanya saja? Ciptaan terbaru Papi Vido ini harus diuji kan?

Aku menyenggol pinggang Vido. “Apa?” Vido tampak terganggu. “Ngomong apa? Ngomong apa?” tanyaku antusias. Ekspresi Vido menyatakan, “Oh iya ya…” Ia mengarahkan mic yang tergantung di bawah telinganya agar tepat berada di depan mulut. Tapi belum sempat mengatakan apapun, Uwak sudah kembali dengan membawa kurungan. Dengan hati-hati, Vido membantu Uwak memasukkan si Kancil ke dalamnya. “Jagain dulu ya,” kata Uwak lagi setelah itu. “Uwak mo ambil pemberat dulu biar kancilnya nggak kabur.”

Selagi Uwak pergi, pikiranku sibuk mencari kata-kata pertama yang hendak kulontarkan pada si Kancil. Harus kata-kata yang tepat, sebab ini akan jadi kata-kata pertamaku yang dimengerti hewan! Baru saja Vido hendak mengeluarkan suara untuk memulai cakap dengan si Kancil, Uwak sudah datang lagi dengan sebuah cobek. Ditaruhnya cobek itu di atas kurungan dalam posisi telungkup. “Hayo, ada yang mau ikut Uwak ke sawah lagi, nggak?” sahutnya kemudian sambil mengamat-amati hasil kerjanya. Aku dan Vido kompak menggeleng. Kami telah mendapat mainan baru yang bakal jauh lebih seru! Aku tak sabar hendak memamerkannya nanti pada teman-temanku yang lain.

Uwak pun pergi lagi. Begitu ia jauh, langsung pandangku dan Vido kembali menyerbu si Kancil.

“Tes tes, satu dua tiga, satu dua tiga…” Itu kata-kata pertama Vido. Ia mengajarkan si Kancil bagaimana cara berhitung! “Hei, Kancil, kamu bisa ngerti suara kita nggak? Halo, Kancil?”

Si Kancil mendongak. Seandainya hewan dikaruniai wajah ekspresif bak manusia, tentu terlihat terkejutlah si Kancil. “Aku tidak menyangka. Bisa bercakap-cakap dengan manusia!” cicitnya. Terdengar jelas sekali!

“Papimu keren, Vido!” bisikku. Vido tersenyum jumawa.

“Hai, Kancil. Boleh kita kenalan sama kamu? Nama saya Ghira!” seruku, tak bisa menahan luapan gembira. Apalagi ketika si Kancil menoleh ke arahku! Waw! Seekor Kancil, yang selama ini kisah tentangnya hanya bisa kuketahui lewat buku saja, kini aku bertemu langsung dengannya! Kami bisa berbincang pula! Mungkin bakal seperti ini pula rasanya kalau aku mendapat kesempatan yang sama dengan Presiden Obama—siapapun itu?

Vido terkikik menyaksikan sikap norakku. Tapi aku tahu ia juga merasakan hal yang sama denganku. Wajahnya sumringah sekali. “Saya Vido.”

“Kamu ada nama, nggak?” tanyaku lagi. Si Kancil terlihat bingung. Aku putuskan untuk tidak mendesaknya tentang itu. Sepertinya cukuplah memanggilnya si Kancil saja.

“Hei, manusia, apa yang akan kau lakukan terhadapku? Mengapa aku dikurung begini?” Sepasang mata bola si Kancil beredar ke kanan dan kiri, antara aku dan Vido yang tengah jongkok. Dari nada suara yang tertangkap oleh headphone-ku, ia sepertinya memang ketakutan.

“Vido, kenapa sih alat ini kok nerjemahin suara kancilnya pake bahasa baku? Rasanya aneh dengernya…” Aku menutup mic dengan jemariku agar si Kancil tidak bingung pula dengan apa yang kuutarakan pada Vido. Vido mengangkat bahu. Kilahnya, “Nggak papa. Biar nilai Bahasa Indonesia kita bagus, Ghir!”

Aku manggut-manggut. Kutatap lagi si Kancil. Aku hendak bicara lagi padanya, sampai aku teringat sesuatu. “Kalau kita bales ngomong ke dia pake bahasa nggak baku, kira-kira dia bakal ngerti nggak?”

Vido menggeleng. Lebih seperti karena ia memang tidak tahu, ketimbang menjawab “nggak”. Tidak ada yang bisa kulakukan selain mencoba. Apalagi karena si Kancil protes terus akan penyekapan sepihak ini. Seandainya cicitannya itu tak berupa bahasa manusia, mungkin aku tidak akan lebih iba. “Maaf, Cil. Abis kamu suka makanin timun di kebun Uwak saya. Panennya kan jadi dikit…”

“Tapi aku kan butuh makan!”

“Tapi kayaknya kamu nggak harus makan sebanyak itu deh…” balas Vido.

“Jangan salahkan aku! Salah sendiri mengapa mentimunnya begitu enak dan menggiurkan!”

Aku tersentuh dengan jawaban itu. Terdengar seperti pujian. Aku tahu betapa telatennya Uwak dalam merawat tanamannya. Vido mendorong pundakku agar aku berbalik arah. Ia juga. Sepertinya ia hendak mengadakan rapat kilat. Sementara di belakang punggung kami terdengar rontaan si Kancil, “Keluarkan aku! Keluarkan aku!”, Vido menyingkirkan mic dari depan mulutnya dan bicara setengah berbisik, “Ghira, saya nggak suka sama si Kancil ini.”

“Kenapa? Dia kan lucu…”

“Nyebelin sih kayaknya. Mending kita ke rumah si Ari aja yuk, yang di akuarium rumahnya ada ikan lele itu.” Vido terus membujukku. Katanya, berbincang dengan ikan lele tentu tidak kalah menarik. Ia ingin tahu apa komentar ikan lele saat diberitahu bahwa kumisnya dijadikan mode oleh seorang pelawak, tapi embel-embel yang dipakai pelawak tersebut di belakang namanya bukanlah “Lele” melainkan “Arwana”. Kedengarannya menarik. Tanpa pikir panjang, kami tinggalkan si Kancil yang seolah tiada lelah merengek minta dilepaskan dari kurungan.

Selanjutnya, seharian itu kami mencari berbagai macam hewan yang kira-kira asyik diajak berbincang. Mulai dari kucing, burung, kerbau, ikan, lintah, angsa, bekicot, ulat bulu, bebek, sapi, tapir, kangguru, orangutan, gorila, sampai anjing laut (aku becanda, hehe…), dan setiap hewan ternyata memberikan respon yang berbeda!

Kami berusaha menegur ikan-ikan di kali. Tapi entah terhalang oleh air atau memang tampang dongo para ikan itu sungguhan, mereka seolah tak mendengar kami. Gerak mulutnya ternyata memang untuk menghisap air, bukannya ia sedang mengucap apa. Hewan yang paling oportunis adalah kucing. Si Pelong baru mau mengungkap kelakuan si kucing garong setelah kami memberinya ikan asin. Kami juga sempat mengorek keterangan dari seekor keong apakah ia memang beracun, tapi jawaban yang dikeluarkannya sangat amat la…m…b…a….aaaa…a…t sekali. Kami bahkan tidak bisa lihat letak mulutnya di mana. Jadi sambil menunggu satu kata utuh darinya masuk ke telinga kami, kami mendengarkan celoteh para ulat bulu yang saling pamer kecantikan.

Karena masih terpengaruh oleh mitos para sesepuh desa mengenai rawannya anak kecil berkeliaran saat gelap (nanti diculik kalong wewe!), aku mengajak Vido pulang begitu langit mengoranye. Hari itu kami memutuskan untuk menginap di rumah Uwak Ono lagi. Setelah membersihkan diri dan solat magrib, kami duduk-duduk di ambang pintu belakang rumah sambil menunggu makan malam. Satu lagi kebiasaan di desa yang kutularkan pada Vido adalah mengamati indahnya langit malam. Langit kota tidak akan menampilkan bintang semelimpah langit desa yang belum banyak terkontaminasi cahaya. Pada malam itu, alih-alih bertahan mendongak, Vido malah memasang headphone-nya. “Kita dengerin suara kunang-kunang, yuk,” katanya.

Oh, tentu saja aku juga penasaran dengan suara kunang-kunang! Ingin aku mengklarifikasi langsung pada mereka, apakah benar mereka berasal dari kukunya orang mati? Begitu kupakai headphone-ku, yang terdengar malah cakap suara si Kancil dan seekor anjing. Aku tahu itu anjing karena kami bisa menyaksikan dua hewan tersebut saling berhadapan beberapa meter jauhnya dari tempat kami duduk. Aku memutar lingkaran yang menempel di telingaku agar cakap kedua hewan tersebut terdengar lebih jelas. Kiranya percakapan tersebut akan terasa lebih syahdu jika dilengkapi dengan kopi dan jadah—seandainya mereka manusia.

“Marilah kita bersahabat, o, Anjing, kawan baikku. Tidakkah kau mau bersahabat denganku, peliharaan terbaru Pak Tani?” suara si Kancil.

“O, aku pikir-pikir dulu ya…” kata si Anjing.

“Aku sangat disayang oleh keluarga Pak Tani. Mereka selalu memberiku makanan yang banyak dan lezat! Lihat, tubuhku montok begini! Rambutku juga bersih dan bersinar karena mereka selalu merawatku. Tidakkah kamu ingin seperti diriku?”

“…ng… ya… aku ingin sih…” jawab si Anjing yang memang tulang rusuknya tercetak jelas pada bagian bawah tubuhnya. Kulitnya dekil lagi berkudis.

“Ah, itu bisa diatur…. Aku bisa membuat mereka menerimamu sebagai peliharaan mereka juga, asal kau mau tinggal dalam kurungan ini bersamaku! Nanti begitu mereka datang, kuusulkan pada mereka agar mau menerimamu sebagai kawanku!”

“Boong… Boong…” sahut Vido dengan suara keras. Mic ia arahkan dekat mulut. Kedua hewan itu tampak terkejut.

“Mengapa aku bisa mengerti dengan persis apa yang manusia itu katakan?” Si Anjing heran sendiri. “Selama ini aku hanya mengira-ngira dan sok berempati saja! Cih, kau telah membohongiku, Kancil!”

“Hei, Anjing, sekarang sudah bukan jamannya lagi anjing setia pada manusia! Mengapa tidak pernah terpikir olehmu emansipasi anjing?”

Si Anjing sudah keburu berlalu. Sementara Vido terbahak-bahak, aku malah kian tak enak hati. Kasihan si Kancil dihiraukan begitu. Kudekati ia. “Maaf ya, Cil…” ucapku prihatin.

“Tidak apa-apa,” jawab si Kancil, kentara usahanya untuk terlihat biasa-biasa saja, seolah yang barusan adalah wajar. “Nanti juga si Anjing kembali. Dia memang suka begitu kalau sedang mengobrol denganku. Hal biasa… Kalau lagi butuh saja, dia mendekatiku
duluan…”

Setelah jeda sebentar, si Kancil kembali ambil suara. “Hei, ngomong-ngomong apa kamu mau jalan-jalan?”

“Jalan-jalan?”

“Ya! Sepertinya kamu bukan penduduk asli sini ya? Aku jarang melihat wajahmu.”

Aku mengangguk. Wah, rupanya si Kancil ini gaul juga, sampai hapal mana wajah penduduk asli desa dan mana yang bukan! Si Kancil melanjutkan, “Sudahkah kamu menjelajahi setiap pelosok desa ini?”

Aku mengingat-ingat. Sudah tak terhitung dengan jari tangan ditambah jari kaki kunjunganku ke desa ini. Bahkan desa sebelah pun sudah pernah pula aku jelajahi! “Kayaknya sih udah.”

“Tapi kalau ke petilasan Kanjeng Nabi Sulaeman belum kan?”

Aku tercengang. Dalam buku cerita si Kancil memang ada sebuah cerita yang mengungkit-ungkit Nabi Sulaeman. Aku tak menyangka itu benar-benar ada! Di desa ini?! Kenapa Kakek tak pernah cerita?! Nabi Sulaeman pernah mampir ke Indonesia?! Kurasakan Vido ikut jongkok di sebelahku.

“Emang itu tempat apaan sih?” tanya Vido. Ia selalu tertarik pergi ke tempat baru, makanya ia bersemangat sekali saat kuajak ke desa ini.

“Ah, kau tak mau tahu…” Si Kancil mengangkat dagu lantas melengos.

“Mau kok!” tegas Vido.

Setelah adu ngotot yang cukup alot di antara Vido dan si Kancil, akhirnya si Kancil mau mengungkap juga. Suaranya terdengar nyaris bagai desisan. Sepertinya apa yang hendak diungkapnya adalah sebuah rahasia… “Di sana, para utusan Kanjeng Nabi Sulaeman berkumpul. Mereka menjaga sebagian dari harta karun beliau dalam sebuah gua yang terletak di balik sebuah air terjun. Tak seorang pun yang tahu persis di mana tempat tersebut, bahkan penduduk paling tua di desa ini sekalipun. Hanya para utusan yang tahu. Kuberitahu kalian, akulah salah satunya.”

“Terus kenapa kamu kasih tahu kita? Bukannya mestinya itu rahasia ya?” tanya Vido.

Si Kancil terlihat sebal dengan pertanyaan Vido tersebut. Sergahnya, “Karena aku tahu bahwa kalian telah ditakdirkan untuk itu! Telah dituliskan dalam kitab peninggalan Kanjeng Nabi Sulaeman, bahwa yang berhak mewarisi harta karunnya adalah ia yang mampu bercakap dengan hewan, sebagaimana Kanjeng Nabi Sulaeman sendiri. Ketika aku bertemu kalian, maka aku tahu, kalianlah orangnya! Aku telah habiskan waktu dalam hidupku hanya untuk menunggu kalian!”

Tak lama-lama aku terkesima, si Kancil lekas melanjutkan lagi, “Tapi tidak semudah itu, Kawan, jalan menuju hak atas harta warisan Kanjeng Nabi Sulaeman. Adalah medan yang kalian harus tempuh itu amat sukar. Seluruh alam rimba raya Desa Cikapayang bersatu untuk menjaga harta tersebut! Tapi aku bisa menunjukkan jalannya pada kalian, Kawan…”

Harta karun! Sejak pertama kali disebutkan, sepasang kata tersebut sudah menggugahku. Selalu kuidam-idamkan petualangan macam Indiana Jones yang kiranya musykil untuk terjadi dalam kehidupan sehari-hari anak SD di Indonesia. O, tak kusangka akhirnya hari di mana kemusykilan itu tersingkir tiba juga! Berkat pertemuan dengan si Kancil—betapa baiknya ia! Aku terenyuh. Tentunya Vido pun menginginkan hal yang sama! Kupalingkan pandangku padanya, namun malah kudengar nada mencemoohnya yang khas, “Ha, rute yang harus kita tempuh nanti pasti bakal menjebloskan kita ke dalam lubang kayak yang kamu lakuin ke gajah, atau nggak kamu bakal ngejebak kita di kali yang banyak buayanya, atau nggak di tengah jalan kamu bakal nyuguhin kita makanan yang sebenernya kotoran kerbau, atau nggak kamu bakal bikin kita kecapit kepiting, atau nggak…”

Mulutku menganga. “Vido, kenapa sih kamu kok suudzhon gitu? Kan kata Pak Arif, sebagian prasangka itu kan dosa!”

“Siapa yang berprasangka, Ghira? Itu semua kan ada di buku cerita! Bukannya kamu teh udah baca? Si Kancil itu penuh tipu daya! Rakus dan manipulatif! Kamu nggak liat apa yang tadi dia lakuin ke si Anjing?”

“Manipulatif itu apa, Vid?”

“Oh, Kawan, masak aku setega itu pada kalian? Mengapa pula kalian tega menuduhku seperti itu?” Si Kancil jelas sama tak mengertinya denganku akan ucapan Vido.

“Iya, Vido. Itu kan di buku cerita! Ini mah di dunia nyata! Beda!”

“Justru itu, Ghira… Pelajaran yang kita dapet dari buku cerita itu untuk kita pakai di dunia nyata, biarpun itu berupa cerita rakyat yang kayaknya nggak mungkin banget kejadian di jaman sekarang. Cerita tentang si Kancil ini contohnya, dari situ kita bisa belajar untuk nggak gampang ketipu, kayak yang kita alamin sekarang ini, Ghira… ” Vido mengecilkan suaranya agar tak terdengar si Kancil.

“Tapi kan beda, kancil yang di buku cerita sama yang di dunia nyata!” Aku bersikeras.

Vido berkata lagi, dengan suara yang dikecilkan, “Si Kancil tuh lagi berusaha memperdayai kita supaya dia bisa kabur. Liat aja, besok kita pasti bakal disasarin ama dia. Trus di tengah jalan dia ngacir ke mana gitu. Lagian, kamu nggak kasian sama Uwak kamu apa, udah nanem dan ngerawat susah-susah, hasilnya dirusak gitu aja sama si Kancil?”

“Tapi… Tapi…” Aku susah menerima penjelasan Vido. Kukira ia terlalu berprasangka buruk pada si Kancil malang. Lagipula, bukankah kita harus mencintai sesama makhluk hidup? O, lihat, dia begitu lucu… Matanya tampak berkaca-kaca, namun tak dapat kutangkap yang dikatakannya…

Tunggu. Aku coba bicara lagi pada si Kancil. Si Kancil tampak menjawab. Namun tak terdengar apa-apa melalui headphone-ku! “Vid, baterenya abis yah?”

Vido terdiam beberapa lama, mungkin berusaha menangkap suara para hewan lain melalui headphone-nya, sebelum akhirnya berkata, “Kayaknya iya…” Wajahnya mendadak pucat. Kedua tangannya menjambak-jambak rambut tebalnya. “Aahh… Begitu pulang nanti saya bakal dimarahin si Papi. Baterenya abis. Alatnya nggak bisa dipakai lagi. Blueprint-nya udah nggak ada…”

“Sabar… Sabar…” Aku menepuk-nepuk bahu Vido. Sementara kulihat si Kancil kocar-kacir dalam kurungannya. Langkah kaki Uwak kian mendekat. Di tangannya terhunus sebilah golok tajam. Anak Uwak, Teh Euis, mengikutinya dari belakang. Sembari membuka kurungan dengan hati-hati agar si Kancil tidak melesat kabur, dikatakan oleh Uwak pada anaknya, “Nanti abis dibersiin, langsung dibumbuin ya, Is. Biar meresap semalaman…”

Belum sempat aku berteriak “JANGAAAAAN!”, kepala mungil itu sudah hampir lepas dari tubuhnya. Di bawahnya, warna tanah makin menggelap.***


Referensi
Siswoyo, E. 1994. Dongeng Kancil 2. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Siswoyo, E. 1995. Dongeng Kancil 1. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar