Jumat, 11 Januari 2019

Kesan dan Pesan (?) Menonton Milly & Mamet

sumber
Sebenarnya teman yang mengajak menonton juga enggak begitu ngebet dengan film ini. Kami sama-sama bukan fans AADC. Di antara dua pilihan yang dia sodorkan--How to Train Your Dragon 2 dst dan Milly & Mamet--saya memilih yang kedua. Enggak begitu ingat juga kalau ternyata saya pernah mengusulkan yang kedua itu, karena ketika dia mengajak menonton untuk pertama kali judul tersebut satu-satunya film yang sedang tayang di bioskop yang saya tahu. Memang saya telah membaca ulasannya di Kompas.

Kisah keluarga muda itu menarik, ya, karena siapa tahu suatu saat saya mengalami (yakin?) sehingga film ini dapat menjadi contoh atau pelajaran, di samping kisah teman-teman sendiri. Sebenarnya saya semacam membandingkan ulasan yang telah saya baca di Kompas dengan objek ulasan itu sendiri: Milly yang bersikap dewasa, Mamet yang bisa marah juga ketika egonya terusik, sampai penampilan Isyana yang aduhai--tetapi saya belum ngefans, enggak tahu kalau nanti sore.

Film dibuka dengan mimpi Mamet dan diakhiri dengan terwujudnya mimpi itu yang walaupun lain dari bayangan namun tetap terpenuhi. Kita bisa dengan mudahnya relate dengan Mamet ketika teman-teman lama selalu tampak lebih "keren" sedang kita sendiri "begini-begini saja", bekerja sekadar untuk memenuhi tuntutan hidup dengan memendam passion dan mengesampingkan ke-hepi-an, lalu ketika kesempatan untuk mengikuti passion itu tiba ada saja masalah sehingga perlu dicari jalan tengah. 

Saya bisa menikmati film ini dari awal sampai akhir. Tiap peran yang muncul punya karakter tersendiri yang lumayan lucu. Mungkin judul film ini yang sebenarnya: Milly, Mamet, The Stand Up Comedians, & Friends (hehe, kok jadi kayak nama band, ya.) Alhamdulillah, saya dibikin mengakak beberapa kali walaupun berkali-kali selipan joke garing dan iklan terasa memperlambat. Lalu tahu-tahu saja masalah sudah dipecahkan, tangisan Dennis Adhiswara yang dilengkapi air mulut mengingatkan pada film-filmnya yang dulu--Kwaliteit 2 dan El Meler--dan cerita berguling menuju akhirnya. Solusi yang diajukan pun sejalan dengan semangat milenial. Akankah Milly dan Mamet sukses dengan usaha ******* *spoiler alert* mereka? Yang jelas solusinya bukan berupa buka stan di Car Free Day. Eh, enggak tahu ding, enggak diperlihatkan. Namanya juga film--komersial: pada suatu titik mesti diakhiri dan semua mesti happy. Namun ketika melewati pintu exit penonton mesti menyadari dengan getir bahwa kehidupannya sendiri belum berakhir.

Di luar cerita, saya terpukau secara visual. Saya tipe orang yang baru menonton bioskop bila diajak, itu juga biasanya teman yang memilihkan film. Maka jarang-jarang saya menonton film Indonesia di bioskop, lagi pula biasanya beberapa bulan lagi di TV juga tayang. Iya, kan? Namun ternyata menonton di bioskop itu memang memberikan sensasi tersendiri. Make up dan kemulusan wajah pemeran tentu tidak akan sejelas itu apabila dilihat di layar sekecil TV. Dorongan nafsu untuk body shaming sampai memuja ketampanan menowel-nowel, di samping kesadaran bahwa diri ini sendiri buruk rupa.

Secara keseluruhan, saya merasa eksekusi film ini rapi. (Alah, bahasanya, padahal jarang menonton film.) Saya tahu Ernest Prakasa selaku sutradara dan penulis film ini yang notabene komedian telah menerbitkan beberapa film yang sepertinya semua bernuansa komedi(?), bahkan juga sepertinya buku-buku tentang menjadi lucu itu sendiri. Saya menjadi penasaran untuk menelusuri karya-karyanya itu, tetapi insya Allah dapat bersabar sampai rezeki dan kesempatan datang sendiri.

Kenang-kenangan.
Dua puluh lima ribu mah worth it lah, di Transmart Buah Batu pada tengah hari dan tengah minggu dalam teater yang sudah sepi setelah tiga minggu penayangan (karena katanya mulai rilis 20 Desember 2018). Sekalian temu kangen dengan teman yang sudah dua-tiga bulan tidak dijumpai, dan sesudahnya makan junk food yang menyisakan banyak sampah. Namun semua itu ampuh memperbaiki suasana hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain