LAINNYA

Senin, 10 September 2012

Yang Ketujuh


Bundel konsep yang hendak dijadikan novel


Pada 25 Agustus 2012 aku menyelesaikan Yang Ketujuh alias novel keenam yang aku kerjakan tanpa kolaborator. Panjangnya sejauh ini 51.276 kata (bisa berubah kalau aku edit lagi) dalam format TNR 11, 0 pt, spasi 1 (116 halaman A4 dengan margin skrispi alias 3-3-4-4). Sekitar 10.000 kata aku ketik di rumah orangtua di Bandung secara tersendat-sendat, lalu 37.000-an kata aku karang di rumah bude-pakde di Jogja dengan lancar, sedang sisanya aku tuntaskan di dalam Kuda merah di sepanjang rute Jogja-Batang-Majalengka. Jika dipadatkan, total pengerjaan novel ini sekitar 1,5 minggu.

Apalah artinya Yang Ketujuh? Tujuh itu kuantitas, bukan kualitas. Tapi bagiku ini tetap merupakan sebuah pencapaian. Lebih baik menulis buruk daripada tidak menulis sama sekali. Practice makes perfect, begitu pesan di halaman buku tulis Sinar Dunia.

Bagaimanapun novel ini dapat kutuntaskan antara lain karena beberapa faktor berikut.

1. CampNaNoWriMo Agustus 2012

Sekali lagi aku harus berterima kasih pada siapapun yang menyelenggarakan ajang semacam ini. Mujarab sekali, aku betulan terpacu. Aku bahkan jadi berniat untuk mengoleksi setiap sertifikat NaNoWriMo dan CampNaNoWriMo dari tahun ke tahun.

2. Ketersediaan waktu 

Di minggu-minggu awal Agustus, aku mengerjakan novel ini secara tersendat-sendat hingga mandek sama sekali. Saat itu aku memang lagi mengurus skrispi, sehingga novel ini aku kerjakan sesempatnya. Pertengahan Agustus, urusan administratif menyangkut skrispi alhamdulillah dapat dituntaskan. Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan untuk skrispi yang berkaitan dengan orang lain, karena instansi-instansi pada tutup dalam rangka libur lebaran. Maka keluangan waktu aku isi dengan menuntaskan novel itu.

Sebelumnya aku sempat pesimis apakah aku masih bisa mengejar target. Aku pun menghitung-hitung, jika aku bisa mengetik 3.000 kata/hari maka novel ini bisa diselesaikan pada tanggal 25 sementara tenggatnya masih hampir seminggu lagi. Karena waktu luang yang tersedia memang banyak, aku bisa mengetik hingga sekitar 5.000 kata/hari.

3. Ketersediaan bahan

Biasanya aku sudah memiliki semacam konsep sebelum menggarapnya hingga jadi sebuah novel. Biasanya konsep berkembang dari sosok karakter utama. Karakter utama dalam novel ini mulai menghampiriku saat liburan pergantian tahun kemarin. Aku mulai mengumpulkan kepingan-kepingan yang ia kirimkan. Menjelang Agustus, kepingan-kepingan itu belum lengkap tapi aku merasa harus bikin novel karena momen CampNaNoWriMo. Konsep tentang novel inilah yang paling memadai, meski aku masih perlu mengimprovisasinya saat eksekusi.

4. Karakter 

Satu lagi yang menjadi semangatku dalam mengerjakan novel adalah simpatiku terhadap karakter yang lagi kugarap. Kalau buatku, karakter tidak dengan sengaja diciptakan, melainkan muncul dengan sendirinya. Barangkali ini yang disebut dengan intuisi.

Aku melihat mereka sebagai lumrahnya manusia, dengan berbagai nilai positif dan negatif berkecamuk dalam diri mereka. Kalaupun aku belum bisa menyajikan mereka secara believable, itu adalah semata-mata kekuranganku yang belum bisa mengenal mereka dengan lebih dalam.

Selain itu, melalui karakter pulalah aku menyampaikan apa yang ingin kusampaikan, entah dari pikirannya, ucapannya, maupun perilakunya, meskipun kami adalah pribadi yang berbeda dengan latar belakang masing-masing. Biasanya karakter merupakan perwujudan dari masalah yang sedang aku alami, sehingga menjadi semacam katarsis buatku untuk menuangkannya, karena aku biasanya menulis, ya, lewat tulisan. Maka kadang kala aku merasakan euforia selama beberapa hari ketika sudah menyelesaikan sebuah novel.



Gambaran umum mengenai novel ini

Sekali lagi seorang remaja yang jadi karakter utama, tidak usah protes, karena perkembangan kepribadianku memang masih belum lepas dari taraf ini. Dan yang tampak dari plot utama adalah bagaimana hubungan antara remaja tersebut, yang laki-laki, dengan seorang temannya, yang perempuan. Beberapa lagu yang terpikir olehku cocok untuk mengiringi berbagai situasi dalam novel ini antara lain...

D' Bagindaz (betul enggak sih nulisnya?) - Empat Mata
Chaseiro - Shy
Seurieus - Apanya Dong
Naif - Itulah Cinta

...meskipun aku mengerjakan novel ini sambil mendengarkan seluruh lagu Padhyangan Project (sejak Jilid 1-4 hingga Jilid Lebaran, plus lagu-lagu yang tidak termuat dalam album) secara acak. Dengan lagu-lagu sedemikian rupa, silahkan tebak saja bagaimana kira-kira jalan cerita dalam novel ini :). Yang jelas buatku novel ini lebih dari sekedar interaksi antar lawan jenis, melainkan passion. Interaksi antar lawan jenis hanya bingkai.



Proses yang kujalani

Gagasan-gagasan yang muncul di konsep boleh macam-macam, tapi aku memutuskan untuk menjadikan novel ini simpel. Tidak sepelik Yang Kelima dan Yang Keenam, tapi kurang lebih seperti Yang Ini dan dua novel lain semacamnya.

Aku telah mengerjakan 1/5 bagian novel ini, lalu vakum. Ketika hendak memulai lagi, aku membuat sinopsis yang simpel untuk novel ini. Ini berguna untuk memberiku arahan dalam mengembangkan cerita. Jadi aku fokus pada interaksi antara karakter utama dengan karakter pendukungnya. Tapi lama-lama aku jenuh dengan interaksi di antara mereka saja. Lagipula ini novel, satu plot saja tidak cukup. Aku mencari plot sampingan dengan bertanya, "bagaimana jika...", hingga mencuat satu gagasan yang aku pikir malah menekankan tema novel ini.

Selama mengetik novel ini, sering aku berpikir kalau aku mengerjakan ini hanya untuk memenuhi target, yaitu 50.000 kata dalam sebulan. Bagaimanapun yang ditekankan oleh penggagas ajang semacam NaNoWriMo adalah kuantitas, bukan kualitas. Maka aku berusaha untuk terus mengetik tanpa memedulikan betapa tidak indahnya kalimat-kalimat yang telah kubuat, bagaimana susunannya, efektif atau tidak, dan sebagainya. Aku biarkan itu. Sesekali secara tidak terduga aku menciptakan rangkaian kalimat yang menurutku bagus, bahkan ada yang menurutku sangat lucu. Tapi tidak jarang juga, aku sudah mengetik sampai setengah halaman lebih, aku malah menghapusnya, lalu menggantinya dengan tatanan kalimat yang lebih simpel.

Selama mengetik novel ini, aku berhasil untuk tidak membaca ulang apa yang telah aku tulis. Memang sesekali aku tekan "Ctrl + F", tapi sekadar untuk memperbaiki detail yang dalam ingatanku tiba-tiba muncul dan minta diganti, keburu lupa, dan bukannya membaca terus.

Akhirnya novel ini pun tertuntaskanlah. Hingga saat aku menulis ini, aku baru sekali baca ulang, itupun tidak secara mendetail. Banyak hal dalam novel ini yang baru aku sadari justru ketika novel tersebut selesai dituliskan. Hal-hal yang bahkan tidak aku rencanakan sebelumnya dalam konsep--yang ada di konsep malah tidak tergarap--tapi aku justru mensyukurinya.

Keajaiban justru terjadi saat eksekusi. Di situlah kemampuan kita terjajal. Maka jangan ragu untuk memulai, karena kamu tidak bakal mendapatkan apa-apa kecuali jika kamu telah menjalaninya.



Menurut penilaianku sendiri

Aku suka mencari di berbagai buku tentang teori atau kritik sastra mengenai bagaimana kriteria karya yang baik. Agaknya perlu latihan yang terus-menerus untuk mewujudkan yang seperti itu. Aku kira bagian dari latihan adalah dengan mengerjakan novel hingga tuntas, seperti yang aku lakukan ini, bagaimanapun hasilnya. Lalu menghimpun penilaian atas novel tersebut, baik oleh diri sendiri maupun orang lain. Lalu menulisnya ulang, terutama bagian-bagian yang bermasalah. Tapi aku sih belum sampai tahap menulis ulang, untuk karya manapun yang pernah aku hasilkan.

Sebagai contoh, aku mengerjakan novel ini hanya dengan mengandalkan pengetahuan yang sudah ada dalam kepalaku saja, tanpa melalui riset lagi. Contoh lebih spesifik, karakter dalam novel ini gandrung akan sejarah. Sekiranya ia suka mempertautkan apapun yang ia hadapi dengan sejarah. Tapi aku sendiri tidak gemar membaca buku-buku sejarah, bagaimana aku bisa mengejawantahkan itu?

Tata bahasaku dalam menyampaikan tema novel ini juga masih buruk, tapi secara umum aku bisa mengidentifikasi beberapa keberhasilan yang membuatku cukup puas dengan novel ini. Hal-hal berikut ini juga yang menjadi alasan bagiku untuk menyukai suatu karya.

1. Karakter yang bisa dibolak-balik. Karakter tidak mesti konsisten dengan apa yang ia nyatakan semula, karena begitulah manusia. Dinamis. Pelupa. Aku suka karakter yang seperti plastisin, bisa dipenyokkin sesuka hati.

2. Ada beberapa detail yang terulang hingga membentuk suatu pola. Penjelasan tentang ini bisa dibaca di buku "Teori Fiksi" oleh Robert Stanton.

3. Kejujuran. Novel ini mengusung semangat tertentu, tapi di sisi lain ada pesan agar semangat tersebut tidak keblablasan. Dengan demikian jujur berarti mempertentangkan nilai secara imbang. Ini yang aku pahami dari membaca buku "Pengantar Teori Fiksi" oleh Pujiharto.

Barangkali keberadaan hal-hal tersebut dalam novelku hanya aku sendiri yang bisa mengidentifikasi hehehe. Toh bagaimana aku memandang novel tersebut terpengaruh oleh konsep ideal novel tersebut yang bercokol dalam benakku, sedangkan orang lain hanya melihat hasilnya saja--ditambah persepsi mereka barangkali, jadi bisa saja aku terkecoh. Oleh karena itu pendapat orang lain mengenai novel ini sangat kubutuhkan, untuk mengetahui apakah hal-hal yang ingin kusampaikan melalui novel ini telah berhasil mereka dapatkan apa belum. Kalau belum, berarti masih ada masalah dalam caraku menyampaikan.

Aku tidak bisa memastikan apa latihan semacam ini kelak bisa membuatku menghasilkan novel yang berkualitas, tapi itu tidak cukup jadi alasan untuk berhenti berupaya kan?***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar