LAINNYA

Senin, 09 September 2013

Am­ba­rilé!

Ardian:

Bibe sayang. Akhirnya selesai juga saya garap komposisi-komposisi ba­ru. Waktu baru sampai di sini berapa bulan lalu, waduh, kepala ra­sa­nya amburadul. Lalu saya diam saja di apartemen teman saya, cu­man mencet-mencet piano. Kadang-kadang ke studio. Sebagian ada sih yang sudah jadi waktu ma­sih di Bandung. Sebenarnya banyak la­gi di kepala ini yang mau di­keluarkan. Tapi untuk sementara yang su­dah jadi dulu saja saya ba­gi-bagi. Minta pendapat orang-orang.

Jadi ingat. Belum lama waktu saya baru balik ke Bandung. Mungkin ba­ru beberapa bulan. Saya ikut jipnya Kang Ahéng, lalu menemukan Ka­mus Kecil Sunda – Indonesia karangan Pak M. O. Koesman di dash­board. Itu buku sudah lama sekali dari tahun 1984. Lalu saya baca-ba­ca. Ternyata waktu pagi anaknya Kang Ahéng mengerjakan PR Ba­sa Sunda di mobil. Hahaha saya juga dulu sok kitu (:suka begitu). Un­tung keburu. Lalu Kang Ahéng bilang itu buat saya saja. Nanti be­li­au beli lagi.

Duh. Bibe. Rasanya tiap kata di kamus itu bikin piano di kepala saya ja­di berisik. Membacanya enggak sesulit membaca kamus bahasa Jer­man. (Padahal dulu saya enggak senang buka kamus tapi lama-ke­la­ma­an butuh karena pergaulan.) Apalagi karena memang saya dulu sudah ak­rab sama bahasa Sunda. Banyak juga yang sama dengan ba­hasa In­do­ne­sia. Misal ada yang artinya sama, seperti “kuda”, “angin”, “ba­tu”, “ja­lan”, “sawah”, “gunung”, jsb. Tapi ada juga yang beda mi­sal­nya “ulah” dalam bahasa Indonesia berarti tingkah laku, sedangkan dalam ba­hasa Sunda berarti jangan, tidak boleh.  

Masih ingat Ambarayah Ambarilé, Bibe? Saya enggak menyangka Teh Ayum bakal pakai nama itu. Padahal saya asal celetuk saja wak­tu nimbrung obrolan soal rumah makannya itu, waktu baru mau di­di­ri­kan, sambil baca-baca kamus M. O. Koesman itu. Saya masih ingat be­berapa minggu setelah rumah makan itu jadi, saya ajak Bibe ke sa­na. Menjelang sore Bibe datang. Saya masih mengiringi Ceu Emar se­pupunya Teh Ayum nyanyi “A Foggy Day”[1]. Tapi liriknya diganti yang harusnya “a foggy day in London town” jadi “a foggy day in Pri­angan”. Terus “British Museum” jadi “Rumentang Siang[2]” ha­ha­ha. Pas sekali waktu itu kan habis hujan. Di luar masih agak men­dung. Bagus sekali Ceu Emar, apalagi ketika melagukannya seperti me­nyinden. Telinga saya serasa digigit-gigit habis itu digelitiki ke­mo­ceng. Brrrr! Untung saya enggak disuruh main lagi. Kita duduk di dekat Aduy, Andar, sama Andihi, masih ingat mereka, Bibe? Terus sa­ya pesan gurame ambarilé, khasnya rumah makan itu. Porsinya be­sar sekali. Kita makan berdua. Lihat muka Bibe seperti enggak bakal sang­gup menghabiskan sendiri hahaha. Lagian saya juga sudah ma­kan itu waktu makan siang. Memang enak sih. Cam­pur­an asin, ma­nis, asam, gurih, dan sebagainya meresap merata sam­pai ke duri-du­ri­nya. Makanya disebut ambarilé. Beberapa hari setelah sam­pai di sini saya masih terkenang-kenang meriahnya rasa gurame itu. Dan jadilah “Gurame Ambarilé”.

Begitu, Bibe. Tiap komposisi ini ada ceritanya masing-masing. Un­tuk pembuka misal. Saya terinspirasi “Aweuhan Awi Awis” (:gema bam­bu mahal) waktu anjang ke rumah teman yang punya koleksi alat mu­sik dari bambu. Ada di antaranya dari jenis bambu yang mahal. Sam­bil santai-santai saya dengar alat musik itu seperti dimainkan angin. Damai sekali. Lalu “Anggel Anggarésol” (:bantal tidak lurus) mun­cul waktu saya lagi susah tidur. “Aub Angob” (:ikut menguap)—wak­tu itu saya lagi main ke persawahan punya teman di pinggiran ko­ta. Siang terik panas sekali. Kami minum sari tebu di balé-balé. Te­pat di samping saya ada kerbau ikut berteduh juga. Saya sama meng­antuknya dengan kerbau itu waktu itu. Saya coba bikin aran­se­men­nya untuk saksofon lalu minta teman saya mainkan hahaha. Su­a­ra flute mungkin lebih mendekati ya. Tapi dalam suasana begitu ra­sa­nya enggak ada yang bisa menggantikan kesyahduan suling bambu. “Aru­la-arileu” (:berliku-liku) terpikir waktu saya menyetir ke Ta­sik­ma­laya, mau menengok saudara Ayah. Kalau bukan saya yang me­nye­tir tapi cuman duduk saja, apalagi di bangku belakang, mungkin sa­ya sudah muntah-muntah. Makanya iramanya cenderung ke swing hahaha. Jangan ikutan pusing, Bibe. Di sana juga saya sempat de­ngar se­ma­cam tembang dari rumah tetangga. Ada baitnya kira-kira be­gini “…budak leutik bisa ngapung…[3] (:anak kecil bisa melayang-la­yang) sampai bikin saya termenung-menung. “Budak kun­ti meureun,” (:anak kuntilanak mungkin) pikir saya waktu itu. Be­la­kang­an ini ketika teringat lagi momen itu saya terilhami untuk me­ma­in­kannya ulang dengan piano. Begitu juga dengan “Ngancik Enin” (:ting­gal di nenek) dan “Hayam Geus Ngampih” (:ayam pulang ke kan­dang). Itu cerita ketika saya sama adik saya harus tinggal di ru­mah ibunya Ayah. Ada seminggu lebih. Rasanya seperti berbulan-bu­lan. Waktu itu orangtua saya lagi keluar negeri. Sedang “Mapay Areuy” (:menyusuri tanaman merambat) tahu-tahu saja muncul wak­tu saya lagi meng­amati lalat naik-naik di gelas saya. Sepertinya wak­tu itu saya la­gi di Cisangkuy[4].

Ah. Banyak juga ternyata. Kapan-kapan disambung lagi ya, Bibe. Sa­ran saya sih langsung saja ke “Antaré” (:santai). Moga-moga bisa meng­obati kalau-kalau Bibe lagi capek atau bosan. Juga “Asihan”. Itu mantra supaya disayang orang. Spesial dari Ceu Emar. Beliau ju­ga yang take vocal. Coba saja didengar berulang-ulang barangkali mujarab. Hahaha.

Selamat menikmati ya Bibe.[]


Bibe:

Pernah beberapa kali aku melewati Ambarayah Ambarilé setelah kun­junganku yang pertama… sekaligus yang terakhir. Uang sakuku te­rasa berat dikeluarkan untuk makan lagi di sana. Selain itu orang­tuaku juga sepertinya tidak akan pernah mengajak aku makan di sana sam­pai kapan pun.

Memindai deretan judul track yang dikirimkan Om Yan me­ner­bang­kan­ku kembali ke masa lalu. Apalagi ketika sampai di Gurame Am­ba­rilé”. Aku masih ingat samar-samar Om Aduy yang mukanya pe­nuh jerawat, Om Andar yang rambutya gimbal, juga Om Andihi yang bongsor. Aku tidak pernah bertemu mereka lagi. Lalu setelah ke­ke­nyang­an makan ikan, dengan mobilnya kami berjalan-jalan tan­pa tu­ju­an—nganclong. Sampai ke kawasan yang cukup sepi. Per­sa­wah­an yang tinggal beberapa petak diapit perumahan dari berbagai arah. La­ngit agak gelap. Hawa lembap mendekap. Tepian sawah cukup le­bar un­tuk kami ngaleut (:jalan beriringan). Ia mencelup-celupkan ta­ngan­nya ke air yang meng­genangi padi. Memanggilku agar ikut meng­a­mati kodok yang se­dang asoy-asoyan (:maju sedikit-sedikit). Kami ju­ga sempat ngala (:memetiki) kersen. La­lu kusadari ia meng­hilang. Ter­nyata ia sudah kembali ke mobil. San­daran joknya di­re­bahkan se­ba­gian. Ia memegang buku ke­cil yang sampulnya di­dominasi war­na hijau. Tertera tulisan berwarna ku­ning di atasnya: KA­MUS KE­CIL SUNDA – INDONESIA. Me­nyam­but kehadiranku, ia ber­pa­ling se­je­nak dari bukunya lalu me­nun­juk langit. “Awang-awang ang­keub (:la­ngit mendung),” katanya. …se­karang aku sudah sampai di track ber­judul sama… “Aneh eng­gak kedengerannya? Awang-awang ang­keub?” Kukira ia sedang men­dengarkan lagu di dalam ke­pa­lanya. Ia lalu bercerita tentang ayah­nya yang doyan menulis se­su­a­tu dalam ba­hasa Sunda. Entah pu­i­si, bobodoran (:humor), sampai car­ponca­rita pondok (:cerita pen­dek). Lalu aku menyodorkan be­be­rapa tang­kai bu­nga yang ku­te­mu­kan di pinggir sawah. Ia meng­u­cap­kan terima ka­sih tapi tidak ku­bi­ar­kan tangannya mengambil. “Bu­kan buat Om,” ka­ta­ku. “Tapi buat Tan­te Ri.” …sekarang judul “An­jang ka Anjeun” (:me­ngunjungimu) ter­tera di layar ponselku… Ia ter­senyum penuh pe­ngertian. “Hm… Ta­hu gini mah dibawa ke Lem­bang aja. Lebih ba­nyak di sana bu­nga­nya…” Aku langsung me­nyam­but dengan sem­ri­ngah. “Hayuk! Ka­pan?”

Lalu ia mengantarku pulang. Sampai ke pintu depan. Walau itu ber­ar­ti ia harus memarkir mobilnya di seberang gang. Lampu di dalam ru­mah su­dah menyala. Sudah magrib waktu itu. Aku menawarinya ma­suk. Ia tersenyum sambil berkata lain kali saja. Memang ada Papa dan Ma­ma di rumah. Lalu, sudah tidak mengejutkan lagi sih se­be­tul­nya, Pa­pa senewen. Aku bisa maklum kegusaran Papa karena aku se­ring per­gi dengan laki-laki sebayanya (Om Yan lebih muda beberapa ta­­hun sih) yang belum menikah. Tapi ya aku lawan saja. Aku hanya ber­­sikap sebagaimana aku diperlakukan kan. Lalu sesudahnya Mama men­­dekatiku. Sempat kami membicarakan prasangka Papa yang bu­kan-bukan. Mama mestinya memihakku. Om Yan kan teman baik Ma­ma sejak SMA, dan lagi CLBK sama mantan pacarnya waktu di SMA. Jadi kami cuman berteman. Bahkan kadang ia mem­per­la­ku­kanku se­perti anaknya sendiri, walau memang sih ia tidak punya anak. Ja­ngan-jangan kalau ia punya anak sendiri sikapnya bakal se­me­­nye­bal­kan Papa? Ujung-ujungnya Mama menasihatiku. Budak teh meni atah adol (:ini anak ku­rang ajar banget sih), omelnya. 

Track berjudul “Aping Pangantén” (:menggandeng mempelai) meng­a­­lun. Sehabis ini “Bungah Amarwata Suta” (:gembira sekali) yang ba­giku terasa seperti nama orang. Mungkin kalau Om Yan punya anak, ia akan menamai anaknya dengan nama itu.

Toh masa itu sudah berlalu. Papa tidak sering-sering lagi meng­u­sik­ku. Per­hatiannya sekarang lebih tercurah pada Mama yang lagi ha­mil. La­gipula Om Yan sudah kembali ke Boston tanpa menggandeng istri. Ti­dak Tante Ri. Tidak siapapun. Kami jarang membicarakan itu ka­re­na aku tidak enak saja menyinggungnya. Walaupun baginya mungkin ringan sa­ja. Ia mengocehkannya dalam “Ngaprak Jodo” (:mencari jo­doh ke ma­na-mana)—kusetel ulang. Selang beberapa track di atasnya, ada track yang di­ju­duli “Am­bon” (:cinta sepihak). Aku tidak tahu kenapa aku yang se­dih. Aku bekap muka dengan ban­tal. Sampai track yang baru pertama kali ku­dengar—“Pagéto Amat” (:sehari setelah esok). Aku meng­ang­kat ke­pala. Lalu ada bonus track yang dibawakannya bersama Ceu Emar. “Di dinya”[5] (:di sana). Me­mang, ia tidak lagi di sini.

Aku merasa sangat ambarilé.[]



[1] Berdasarkan lagu “A Foggy Day” oleh Dakota Stanton
[2] Nama gedung pertunjukan kesenian di Bandung
[3] Kalau tidak salah dari pupuh Kinanti
[4] Nama kafe di Bandung yang terkenal karena yoghurtnya
[5] Sebetulnya plesetan dari lagu “Dindinha” oleh Ceumar dari album Putumayo Presents: Music from Coffee Lands II. Sama sekali bukan lagu sunda.



Ini sebetulnya catatan pembacaan yang dimodifikasi. Buku yang dibaca adalah Kamus Kecil Sunda - Indonesia (bagian huruf A doang sih), yang disusun oleh M. O. Koesman dan diterbitkan oleh Penerbit Tarate Bandung, cet. 8, 1996.

Matak hampura alurna kedodoran hehehe. Hatur nuhun sadayana anu tos maca. Sampurasuun...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar