LAINNYA

Selasa, 23 November 2010

Tobias Wolff – Say Yes


Tersebutlah kisah sepasang suami istri. Sang suami dikenal sebagai seorang suami yang berperasaan. Dia mau membantu istrinya mengerjakan pekerjaan rumah tangga. They talked about different things and somehow got on the subject of whether white people should marry black people. He said that all things considered, he thought it was a bad idea. Konflik pun dimulai. Sang istri terus menyinggung topik ini, bertanya apakah jika dia kulit hitam sang suami akan mau menikahinya. Sang suami keukeuh itu tak akan terjadi dengan mengeluarkan bermacam argumen. Sang istri hanya ingin tahu jawaban pasti dan sang suami menjawab, “tidak.” Perdebatan terhenti. Sang suami berjalan-jalan di luar sejenak untuk menenangkan pikiran. Sekembalinya ke rumah, sang suami minta maaf pada istrinya dan mengubah jawabannya. Namun istrinya telah menjadi seseorang yang asing baginya.

Pada paragraf pertama kita ditunjukkan betapa sang suami berusaha menjadi seorang suami yang berperasaan dengan membantu istrinya dalam pekerjaan rumah tangga, salah satunya adalah dengan mencuci piring bersama.

Saya merasa bisa memahami sang suami. Dia coba menjadi orang yang baik namun ia ternyata tak bisa sebaik itu—hingga mau menikahi seseorang yang berlainan ras dengannya. Bagi saya perdebatan yang sang istri angkat sekiranya tak perlu. Saya sependapat dengan sang suami, jika mana sang istri adalah kulit hitam, mesti akan lain takdir yang terjadi. Tak bermaksud untuk rasis. Saya pun punya pikiran jika saja bapak saya tidak menikahi ibu saya, tentu saya tak akan menjalani hidup yang seperti ini. Dan ini sudah takdir, sudah terjadi, tak perlu untuk diperkarakan karena takdir tak bisa diutak-atik.

Dan soal jodoh adalah pilihan. Kita punya selera masing-masing akan sesuatu. Jika kita ingin menikah dengan A, dan bukan si B, mengapa kita harus dipaksa untuk menikah dengan B? Dan ini tak mesti terkait dengan ras. Jika sang suami memang tak berminat untuk menikah dengan kulit hitam, mengapa dia harus dipaksa untuk mau? Itu bukan berarti dia rasis, saya sependapat dengannya: “I went to school with blacks, and I’ve worked with blacks and lived on the same street with blacks, and we’ve always gotten along just fine. I don’t need you coming along now and implying that I’m a racist.

Well, the husband is just me, seseorang yang berusaha untuk jadi orang baik namun tak lantas dapat menerima perbedaan. Di mata sang istri, sang suami bisa jadi seorang rasis. Dipersalahkan. Dengan demikian, saya punya keberpihakan kuat pada sang suami dan mengklaim sang istri sebagai wanita dominan nan arogan.

Selesai mencuci piring, sang suami berjalan-jalan di luar rumah. Ia melihat dua ekor anjing (?) di tempat sampah sedang mencari makan. Biasanya ia akan melempari mereka dengan batu, namun kali ini ia diamkan saja mereka. Mungkin karena dua ekor anjing itu ialah jantan dan betina, ia jadi teringat pada dirinya dan istrinya. Anjing saja bisa kompak berdua seperti itu, mengapa tidak mereka?

Pada akhirnya, sebagai seseorang yang berusaha untuk jadi orang baik,  sang suami mengalah. Kendati akibat adanya pertentangan itu, dirasakannya kemudian bahwa sang istri telah menjadi seseorang yang asing—sama seperti pada malam pertama mereka dulu. Di sinilah saya menyadari apa yang seakan hendak sang istri (atau pengarang?) sampaikan. Seberapapun kita merasa lebih aman dengan orang yang kita kenal, orang tersebut pernah jadi orang asing dalam hidup kita—sebelum kita mengenalnya, misal. Jadi mengapa kita harus tak menerima orang lain karena ia berbeda dengan kita? Memang beda tak lantas bisa disamakan dengan asing. Toh jika kita menolak sesuatu karena berlainan dengan kita, entah karena beda atau asing, lama-lama kita akan terbiasa dengannya.

Entah apa relevansi dari inti yang saya dapat barusan dengan judul cerpen ini. Mungkin say yes terhadap perbedaan? Bagaimanapun juga, menjadi terbiasa bukan berarti karena kita telah menyukainya. 
 
(dari “The Harper Anthology of Fiction” oleh Sylvan Barnet, 1990)



2 komentar: