LAINNYA

Kamis, 25 November 2010

Sekelumit Wajah Jepang Pra Restorasi Meiji

Judul : Yokohama 1 - 8 (tamat), terjemahan dari Yokohama Monogatari
Pengarang : Waki Yamato
Penerbit : PT. Elex Media Komputindo, Jakarta, 1994-1995 (cetakan pertama)

Adalah sebuah seri komik lawas yang saya temukan di rak kontrakan teman, dibeli saat harga komik Elex masih 3300 rupiah. Saya terkekeh saat di nomor pertama membaca sebuah judul di halaman awal: "Roman Yokohama". Kalau bicara soal roman umumnya di kepala ini yang terbayang adalah sebuah buku penuh teks, macam "Siti Nurbaya" itu. Jadi kalau dipikir-pikir lagi seri komik "Candy-candy" pun mungkin bisa disebut roman juga?

Cerita dalam komik ini berlatar di Yokohama, sebuah kota yang menjadi gerbang barang-barang impor maupun ekspor di Jepang, tahun 1870-1880-an. Tepatnya, pada musim gugur tahun 1875, seorang gadis yatim piatu dari gunung bernama Uno dibawa oleh seorang pengusaha kaya raya, yang adalah majikan orangtuanya, ke Yokohama. Pria bernama Tuan Kanou ini bermaksud menjadikan Uno sebagai pembantu anak bungsu perempuannya yang bernama Mariko. Meski dididik sebagai perempuan rumahan yang bertata krama, Mariko badung luar biasa. Tak disangka Uno ternyata dapat berteman akrab dengan Mariko. Inilah awal dari persahabatan mereka, yang saling mengasihi, berkorban, dan mendukung cita-cita satu sama lain, dan tak akan lekang oleh waktu hingga cerita berakhir saat pelabuhan Yokohama menjelang dibangun dan Restorasi Meiji akan segera dimulai.

Sebagai kota pelabuhan, Yokohama banyak mendatangkan orang asing. Dari ilustrasi-ilustrasi yang dibuat sang komikus, Yokohama seperti tak ada duanya dengan kota-kota di Eropa. Dengan budaya Jepang yang masih kental tentunya. Tidak hanya berdagang, ada pula orang asing yang memberi pendidikan bagi masyarakat lokal.

Sebagai anak-anak perempuan yang berpikiran maju dan terbuka pada perubahan, Mariko dan Uno memohon kepada Tuan Kanou agar diizinkan bersekolah. Dengan bantuan dari nenek tetangga sebelah bernama Amano Reika, juga setelah membungkuk-bungkuk penuh harap, dua gadis ini pun diizinkan mengikuti pendidikan yang diselenggarakan keluarga Simmons, yang kelak akan menjadi bekal yang amat berguna dalam memperoleh cita-cita mereka, di antaranya berkelana sampai ke negeri orang.

Tidak mudah jalan yang harus mereka tempuh untuk mencapainya. Apalagi mereka hidup pada jaman di mana masyarakat masih punya pandangan bahwa wanita tidak pantas untuk pergi jauh-jauh dan lebih patut tinggal di rumah saja mengurus suami dan anak. Uno sempat ditipu seorang asing yang hendak menjualnya ke Hawaii, ayah Mariko meninggal dan usahanya diwariskan ke anak sulungnya, Shuiciro, yang lebih berminat melukis daripada berbisnis, hingga akhirnya sepasang sahabat yang sudah bagai saudara ini harus berpisah. Uno menggantikan Mariko pergi ke Amerika sedangkan Mariko sendiri harus tetap tinggal di Yokohama. Karena perusahaan ayahnya di ambang kebangkrutan, Mariko terpaksa menikah dengan seorang pengusaha kaya yang dulu pernah menolongnya.

Akan jadi amat panjang nantinya kalau detail cerita ini dijabarkan. Sebagaimana roman pada umumnya, banyak tokoh lainnya berseliweran dalam cerita ini, di antaranya para pemuda ganteng yang membuat kehidupan cinta dua gadis muda ini jadi pelik, sebut saja Amano Shintaro--teman sepermainan Mariko sejak kecil yang diam-diam dengan Mariko saling menyukai, Ryusuke Kai--anak samurai yang penuh perjuangan keras agar bisa hidup, Kicho Isahaya--penerus bisnis keluarga yang wajahnya cantik dan mirip Shintaro, Toby Simmons--anak pengelola kursus Simmons yang jatuh cinta pada Uno, juga ada tokoh-tokoh lainnya seperti Rinko, anak samurai yang seorang geisha, dan Jim Roid, seorang koboi yang menolong Uno saat mencari Shintaro di Amerika.

Salah satu yang menarik dari cerita ini adalah latarnya. Saat baru ngeh akan latarnya, saya menerka-nerka, akankah ada isu kristenisasi menyelip dalam cerita ini? Misalnya karena banyak mengecap pengaruh dari Barat akhirnya Uno dan kawan-kawan menjadi kristen atau bagaimana, lalu dikejar-kejar untuk dibunuh, seperti yang pernah saya tonton sekilas dalam kartun "Samurai X". Atau apakah mereka akan terkena dampak dari pemboman dua kota industri di Jepang pada masa Perang Dunia II? Tidak ada yang seperti itu sih. Sacramento, San Fransisco, dan daerah-daerah Barat Liar di Amerika sana sempat menjadi latar atau sekedar disebut-sebut dalam cerita ini.

Alkisah, Amano Shintaro, yang tinggal membuat skripsi saja untuk lulus dari Kedokteran Harvard, hijrah ke San Fransisco untuk mengobati para imigran Jepang miskin yang mengadu nasib di sana. Saat itu di Amerika isu rasial masih gencar dan tidak ada seorang dokter kulit putih pun yang mau mengobati orang Jepang, yang sering disangka orang Cina atau orang Indian, apabila mereka sakit. Saking susahnya menjadi orang Jepang di Amerika saat itu, terutama kaum penggarap tanah, untuk membayar biaya menonton pertunjukkan teater seharga 50 sen per orang saja mereka belum tentu mampu (meski saya tidak tahu semahal apa sih 50 sen pada masa itu). Meski demikian, ada juga orang Jepang yang mapan. Tapi profesinya insinyur tambang. Kondisi demikian mengingatkan saya akan novelnya John Steinbeck, 'The Grapes of Wrath"--yang edisi Bahasa Indonesianya berjudul "Amarah"--yang juga mengisahkan tentang kaum kulit putih penggarap tanah.

Entah mengapa, cerita ini menimbulkan kesan yang cukup kuat buat saya. Meski para tokohnya mungkin agak tipikal, romansanya agak klise, dan saya membayangkan jika cerita ini dibuat versi live action-nya, mesti akan menjadi serial drama seperti "Jang Geum", "Putri Huan Zhu", atau drama Taiwan serupa yang soundtrack-nya "hou syang hou syang". Kalau kamu suka kisah roman dengan tema cinta, persahabatan, dan cita-cita berlatar belakang sejarah, bacalah seri komik ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar