Jumat, 07 Juni 2013

Manusia, Ular, dan Batu

Suatu hari seorang manusia yang tidak pedulian sedang menyusuri jalan. Sebuah benda yang ganjil di sisi jalan menarik perhatiannya. “Aku harus tahu apa ini,” ia berkata pada dirinya.
            Seiring dengan mendekatnya ia, ia melihat bahwa benda itu adalah sebuah batu yang besar dan datar.
            “Aku harus tahu apa yang ada di bawah sini,” ucapnya. Lalu ia angkat batu itu.
            Tidak lama setelah itu ia mendengar desisan yang keras, dan seekor ular besar meluncur dari lubang di bawah batu. Manusia itu menjatuhkan batu dengan terkejut. Ular bergelung, dan berkata padanya. “Sekarang aku akan membunuhmu, aku ular yang berbisa.”
            “Tapi aku telah membebaskanmu,” kata Manusia, “bagaimana bisa kau membalas kebaikan dengan kejahatan? Itu tidak masuk akal.”
            “Awalnya,” kata Ular, “kau mengangkat batu karena penasaran dan tidak tahu bagaimana akibatnya. Bagaimana bisa sekarang kau tahu-tahu menyebutnya ‘Aku telah membebaskanmu’?”
            “Kita harus berusaha untuk selalu berperilaku yang masuk akal,” gumam Manusia.
            “Berperilaku yang masuk akal ketika kau pikir itu bakal menyelamatkanmu,” kata Ular.
            “Ya,” kata Manusia. “Bodohnya aku, mengharapkan seekor ular untuk berperilaku yang masuk akal.”
            “Kalau dari ular ya, harapkanlah perilaku yang sesuai dengan ular,” kata Ular. “Toh bagi seekor ular, perilaku yang masuk akal adalah perilaku-ular.”
            “Sekarang aku akan membunuhmu,” ia melanjutkan.
            “Tolong jangan bunuh aku,” kata Manusia, “beri aku kesempatan. Kau telah mengajarkanku tentang rasa penasaran, perilaku yang masuk akal dan perilaku-ular. Sekarang kau akan membunuhku sebelum aku bisa mengamalkan pelajaran ini.”
            “Baiklah,” kata Ular, “aku akan memberimu kesempatan. Aku akan menyertaimu dalam perjalanan. Kita akan meminta makhluk yang kita temui nanti untuk memutuskan.”
            Manusia setuju, dan mereka pun memulai perjalanan. 

Sebelum lama mereka menghampiri sekawanan domba di padang. Ular berhenti, dan Manusia meratap pada Domba;
            “Domba, Domba, tolong selamatkan aku! Ular ingin membunuhku. Jika kau bisa mengatakan kepadanya untuk tidak melakukan itu, ia mau membebaskanku. Berilah keputusan yang bisa menolongku, karena aku adalah manusia, teman bagi domba.”
            Salah satu domba menjawab; “Kami dibuang ke padang ini setelah melayani manusia selama bertahun-tahun. Kami telah memberi mereka wol tahun demi tahun, dan sekarang kami tua, besok ia bakal mengambil daging kami. Itulah kemurahan hati manusia. Ular, bunuh manusia itu!”
            Ular berdompak dan mata hijaunya berkilat selaku ia bicara pada Manusia; “Beginilah temanmu melihatmu. Aku gentar memikirkan seperti apa musuhmu!”
            “Beri aku satu kesempatan satu lagi,” ratap Manusia dalam keputusasaan. “Tolonglah, mari kita tanyakan pendapat yang lain, supaya hidupku bisa diselamatkan.”
            “Aku tidak ingin berperilaku tidak masuk akal sebagaimana yang kau katakan,” kata Ular, “dan aku ingin menyesuaikan denganmu. Mari kita tanyakan yang lain bagaimana nasibmu nanti.”
            Manusia berterima kasih pada Ular dan mereka melanjutkan perjalanan.

Sekarang mereka mendatangi seekor kuda yang sendirian, berdiri dengan timpang di padang. Ular menyapanya; “Kuda, kuda, kenapa kau timpang seperti itu?”
            Kuda berkata; “Selama bertahun-tahun aku melayani manusia. Ia memberiku makanan, walaupun aku tidak minta, dan ia mengajariku untuk melayaninya. Ia bilang ini adalah gantinya makanan dan kandang. Sekarang aku terlalu lemah untuk bekerja, ia memutuskan untuk menjualku ke pejagalan. Aku timpang sebab ia pikir kalau aku berkeliaran di padang ini aku akan makan terlalu banyak rumputnya.
            “Jangan biarkan kuda ini yang memutuskan, demi Tuhan!” seru Manusia.
            “Berdasarkan perjanjian kami,” lanjut Ular, “manusia ini dan aku telah sepakat agar masalah kami diputuskan olehmu.”
            Ia meringkas persoalannya, dan Kuda berkata; “Ular, bukanlah kesanggupanku dan bukan juga tabiatku untuk membunuh manusia. Tapi aku merasa bahwa kau, sebagai ular, tidak punya pilihan selain melakukannya jika manusia ini dalam kekuasaanmu.”
            “Jika kau memberiku kesempatan sekali lagi saja,” pinta Manusia, “aku yakin ada yang bakal membantuku. Betapa sialnya diriku selama perjalanan ini, dan hanya bertemu dengan makhluk-makhluk yang menaruh dendam padaku. Ayolah kita pilih hewan yang tidak tahu-menahu dan karena itu tidak pukul rata soal permusuhan terhadap jenisku.”
            “Manusia tidak kenal ular,” kata Ular, “tapi mereka tampaknya pukul rata soal permusuhan terhadap lainnya. Tapi aku akan memberimu kesempatan satu lagi saja.”

Mereka melanjutkan perjalanan. Segera mereka melihat seekor rubah, tidur di bawah semak-semak di tepi jalan. Manusia membangunkan Rubah dengan lembut, dan berkata: “Jangan takut, saudaraku Rubah. Aku punya masalah, dan masa depanku tergantung pada keputusanmu. Ular tidak akan memberiku kesempatan lagi, jadi hanya kemurahan hatimu atau kepedulianmu yang dapat menolongku.  
            Rubah berpikir sebentar, lalu berkata; “Aku tidak yakin kalau hanya dengan kemurahan hati atau kepedulian. Tapi aku akan melibatkan diri dalam persoalan ini. Supaya bisa memutuskan aku harus bertumpu pada hal yang bukan sekadar kabar angin. Kita harus memperagakannya juga. Ayo, kita kembali ke tempat awal, dan memeriksa fakta-fakta di sana.”

Mereka kembali ke tempat di mana mereka pertama kali bertemu.
“Sekarang kita akan merekonstruksi kejadiannya,” kata Rubah; “Ular, baiknya kau ke tempatmu semula, di lubangmu di bawah batu datar.”
            Manusia mengangkat batu, dan Ular melingkar lagi di ceruk di bawahnya. Manusia menjatuhkan batu itu. Sekarang Ular terperangkap lagi, dan Rubah beralih ke Manusia, berkata; “Kita telah kembali ke awal. Ular tidak bisa keluar kecuali kau membebaskannya. Ia mengakhiri ceritanya di sini.”
            “Terima kasih, terima kasih,” kata Manusia dengan banjir air mata.
            “Tidak cukup dengan terima kasih, Saudara,” kata Rubah; “Untuk kemurahan hati dan kepedulian itu ada bayarannya.”
            “Bagaimana bisa kau memaksakan bayaran?” tanya Manusia.
            “Siapapun yang dapat menyelesaikan masalah sebagaimana aku tadi,” kata Rubah, “sebaiknya memerhatikan hal yang seperti itu. Aku kembali memintamu untuk mengupahku. Bisakah kita menyebutnya, kalau dengan kata-katamu, berperilaku ‘masuk akal’?”
            Manusia berkata; “Baiklah, datanglah ke rumahku dan aku akan memberimu ayam.”
               
Mereka pergi ke rumah Manusia. Manusia pergi ke kandang ayam miliknya, dan kembali sesaat dengan karung yang menggelembung. Rubah merebutnya dan hendak membukanya ketika Manusia berkata; “Kawan Rubah, jangan buka karungnya di sini. Aku punya tetangga manusia dan mereka sebaiknya tidak tahu kalau aku bekerja sama dengan seekor rubah. Mereka bisa membunuhmu, juga mencercaku.”
            “Itu masuk akal,” kata Rubah; “bagaimana saranmu?”
            “Kau lihat pepohonan jauh di sana?” kata Manusia, sembari menunjuk.
            “Ya,” kata Rubah.
            “Larilah beserta karung itu ke sana, dan kau akan bisa menikmati santapanmu tanpa gangguan.”
            Rubah pun berlari.
            Begitu ia mencapai pepohonan, serombongan pemburu, yang mana Manusia tahu kalau mereka bakal berada di sana, menangkapnya. Ia mengakhiri ceritanya di sini.

Dan manusia? Masa depannya masih menanti.[]





Fabel lebih dari sekadar cerita tentang hewan-hewan yang dapat bicara selayaknya manusia, dengan pelajaran moral bagi pembaca. Fabel yang baik adalah fabel yang dapat melukiskan kehidupan nyata, serta proses mental yang terjadi di dalam individu maupun masyarakat, demikian menurut Shah dalam pengantar di bukunya, Reflection. Tujuannya adalah untuk membuat manusia menyadari bagaimana dirinya dan bagaimana mereka sepatutnya. Adapun cerita ini, yang semula bertajuk The Man, the Snake, and The Stone, menunjukkan sifat manusia yang egois, tidak peka, dan tidak masuk akal terhadap kawan-kawan-“hewan”-nya. Manusia bahkan lebih licik dari hewan yang biasa dianggap licik dalam tradisi fabel: rubah. Akal yang sejatinya dimiliki manusia digunakan untuk “mengakali” makhluk lain. Manusia meminta hewan-hewan untuk berperilaku yang masuk akal, sedang ia sendiri mencurangi mereka. Dalam bukunya yang lain, The Way of Sufi, Shah mengungkapkan amanat sekaligus ironi dalam cerita ini, “Merely doint good to the evil may be equivalent to doing evil to the good.” Apabila seseorang melakukan kebaikan terhadap orang lain (yang sebetulnya jahat), ia sebaiknya tidak mengharapkan balasan berupa kebaikan juga. Jangan seperti rubah yang baik namun polos.

The Man, the Snake, and The Stone, merupakan gubahan Idries Shah yang dalam The Harper Anthology of Fiction (ed. Sylvan Barnett, 1991, HarperCollins Publishers Inc.) disebut-sebut sebagai fabel Islam. Cerita ini sebetulnya berasal dari tradisi kesufian. Sufi biasa diidentikkan dengan Islam, namun ada pendapat yang mengatakan bahwa sufi sebenarnya sudah ada sejak sebelum kehadiran Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain